Aromaterapi tak Sekadar Wewangian
:wow: “Di dunia Barat, pengobatan dengan aromaterapi sudah mendapat tempat
di kalangan ilmuwan sejak tahun 1930-an. Berdasarkan penelitian,
berbagai minyak aroma dari bunga-bungaan dan kayu-kayuan memang
memiliki sifat terapeutis dan psikoterapeutis.”
ALUNAN musik mengalir lembut di ruang spa Hotel Holiday Inn Bandung.
Dua perempuan tengkurap dipijat dua petugas spa pada dipan yang
berdampingan. Sementara sekujur tubuh diolesi minyak beraroma wangi,
wajah mereka menghadap ke bawah dipan yang berlubang seukuran wajah.
Sambil punggung dipijat, indra penciuman mereka kebagian juga
menghirup aroma enak yang menguap dari sebuah wadah berisi air panas
yang sudah ditetesi minyak asiri, minyak yang disuling dari bunga
melati alias jasmine. Serasa belum cukup wangi, ramuan ditambahi
lagi beberapa kelopak bunga mawar merah yang memancarkan wangi sedap
menerpa wajah kedua perempuan tersebut.
Itulah gaya relaksasi perempuan masa kini. Pijat tak cukup di rumah.
Pijat juga tak identik lagi dengan badan bau olesan minyak kelapa
atau balsam berbau tajam. Pijat tak menjadikan perempuan minder
karena bau sesudahnya. Beres pijat, kita bisa keluar rumah dengan
aroma wangi dari seluruh tubuh, mulai dari ujung kaki hingga rambut.
Lilis, salah seorang petugas spa di Holiday Inn Bandung mengakui,
pemijatan dengan menggunakaan aromaterapi merupakan jenis relaksasi
yang paling banyak dicari. Rasa enak dan wangi itu juga yang membuat
Elis Masliana (32) sudah beberapa tahun belakangan tak pernah
melepaskan aromaterapi sebagai bagian dari gaya hidupnya. Untuk
mendapatkan “rasa enak”, meminjam istilah Elis, semula ibu dari 3
anak ini rajin pergi ke sebuah tempat spa di Bandung. Ya, relaksasi
dengan menggunakan harum-haruman tidak lepas dari tempat spa.
Umumnya tempat spa memang menggunakan aromaterapi sebagai salah satu
alternatif perawatan kecantikan dan kesehatan bagi pelanggan.
Sampai suatu ketika Elis berjalan-jalan di sebuah mal dan mendapati
bahwa produk aromaterapi tidak semahal yang biasa ia peroleh dalam
bentuk layanan jasa di tempat spa. Ia membeli beberapa produk dan
mencobanya sendiri di rumah.
“Ternyata lebih enak melakukannya di rumah. Lagi pula bisa lebih
murah jadinya,” tutur Elis.
Akhir-akhir ini, perawatan kecantikan dan penjagaan kesehatan
melalui aromaterapi memang sudah semakin diketahui masyarakat luas.
Sesuai namanya, aromaterapi bukan sekadar pemijatan untuk
mengendurkan otot-otot tubuh. Juga tidak sekadar menawarkan aroma
untuk memanjakan indra penciuman kita, melainkan memang bertujuan
memberikan terapi bagi kesehatan dan kecantikan.
Manajer klub spa Holiday Inn, Dadang Ramdani mengemukakan,
aromaterapi yang diperoleh dari hasil penyulingan dari bunga-
bungaan, biji-bijian, dan kayu-kayuan semakin dipercaya pelanggan
mampu merawat kecantikan, juga untuk menjaga tubuh tetap
sehat. “Tetapi jangan salah, aromaterapi bukan untuk menyembuhkan,
melainkan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat,” kata Dadang.
Hal sama dikemukakan Laguna Spa Manager Sheraton Bandung Hotel
& Towers, Joy Roy Oscar Rumatar. “Aromaterapi di tempat spa kami
memberikan efek kesegaran dan relaksasi. Aromaterapi memang bekerja
untuk menstimulai hormon. Perasaan relaks sudah tercipta saat
konsumen memasuki ruangan spa karena kami juga menggunakan
aromaterapi yang dibakar,” kata Joy.
Aromaterapi sebagai obat pun digunakan oleh Ny. Nin (40) untuk
anaknya yang menderita asma. “Hasilnya bagus, anak saya tak lagi
sering kambuh setelah saya sering membakar aromaterapi di rumah,
terutama aromaterapi eucalyptus,” katanya.
**
AROMATERAPI sebenarnya sudah dikenal bangsa dengan peradaban yang
sangat maju pada zaman dahulu, yaitu oleh bangsa Mesir, Yunani, dan
Romawi kuno. Pada peradaban ketiga bangsa ini, telah dikenal minyak
aroma, kini disebut minyak asiri. Mereka mengambil sendiri sari dari
tumbuhan-tumbuhan ini untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari
rasa nyeri, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga untuk pijat,
dan mandi.
Di dunia Barat, pengobatan dengan aromaterapi sudah mendapat tempat
di kalangan ilmuwan sejak tahun 1930-an. Berdasarkan penelitian,
berbagai minyak aroma dari bunga-bungaan dan kayu-kayuan memang
memiliki sifat terapeutis dan psikoterapeutis.
Di Indonesia sendiri, menurut Dani (panggilan Dadang Ramadani),
aromaterapi baru mulai dikenal tahun 90-an. Bali lah yang menjadi
kota pertama tempat aromaterapi diperkenalkan. Saat itu, Dani
sendiri masih bekerja di Bali.
Itulah pula sebabnya, produk aromaterapi yang berasal dari Pulau
Dewata masih menjadi primadona bagi sebagian besar pencinta
aromaterapi. Nila Dewi Hanafi, agen produk aromaterapi “Bali Tangi”
di Bandung membenarkan, semakin banyak perempuan yang menyukai
perawatan kecantikan dan kesehatan dengan menggunakan aromaterapi.
Dari pengalaman pribadinya, Nila bercerita bahwa aromaterapi memang
terasa sekali manfaat bagi kesehatan dan kecantikannya. ” Untuk
wanita sibuk dan tak sempat melakukan aromaterapi melalui pemijatan,
bisa dilakukan hanya dengan cara menghirup udara beraroma terapi,”
kata Nila. Cara tersebut bisa dilakukan dengan membakar aromaterapi
yang berbentuk dupa. Penjelasan kerja aromaterapi dijelaskan oleh
Dr. Alan Huch, neuorolog yang juga Direktur Pusat Penelitian Bau dan
Rasa di Chicago, Amerika. Menurut Huch, bau-bauan memang memunyai
pengaruh langsung terhadap otak. Aroma yang dihirup hidung akan
melalui silia atau bulu-bulu halus dalam hidung. Bau-bauan diubah
silia menjadi impuls listrik yang dipancarkan ke otak. Impulse ini
lalu mencapai sistem limbis, yaitu bagian dari otak yang berkaitan
dengan mood (suasana hati), emosi, dan ingatan.
**
SETIAP jenis aroma menghasilkan efek berbeda. Jasmine atau melati
misalnya, menyejukkan, memberikan keseimbangan pikiran, meningkatkan
gairah seksual, kepekaan, kehangatan, keterbukaan, relaksasi, dan
menghaluskan kulit.
Sedangkan lavender berguna untuk menenangkan, rasa nyaman,
keterbukaan, keyakinan, cinta kasih, mengurangi sakit kepala, stres,
frustrasi, mengobati kepanikan, meredam histeria, serta mengobati
insomnia.
Dua aromaterapi di atas merupakan produk yang paling disukai
perempuan, terbukti dengan penjualan laris jenis aroma tersebut.
Selain itu, aromaterapi yang mengandung green tea (teh hijau),
termasuk produk favorit pula. Sebenarnya ada puluhan jenis
aromaterapi lainnya seperti bergamot, champaka, clove (cengkeh),
cajeput (kayu putih), eucalyptus, masing-masing dengan aroma yang
khas dan kegunaan berbeda.
Namun Nila mengingatkan, kendati tergila-gila pada aromaterapi, ada
saatnya perempuan harus menghentikan hobinya tersebut, yaitu saat
hamil. “Dikhawatirkan akan berpengaruh pada janin yang dikandung,”
kata Nila.
Aromaterapi juga bahkan sudah merambah pada perawatan yang lebih
intim kaum perempuan, yaitu perawatan vagina. Perawatan ini
dilakukan dengan cara penguapan melalui tungku pembakar. (Uci Anwar)
***
Sumber: Pikiran Rakyat






