Powered by Max Banner Ads 

Bahasa Sansekerta: Bahasa Para Dewa?

Ketika Big Bang atau Dentuman Besar terjadi pada awal terciptanya alam semesta, sebenarnya tidak ada suara apa pun yang terdengar. Konon, yang mendengar juga belum ada dan mediumnya pun juga tidak ada. Kata Big Bang dimunculkan oleh Fred Hoyle pada tahun 1950 untuk menjelaskan karakteristik alam semesta yang mulai berekspansi dengan cara seketika seperti ledakan.

Gambaran awal alam semesta ini dilihat oleh teleskop gelombang mikro milik NASA. Jika Big Bang memang terjadi, gelombang awal yang muncul pada saat itu akan menjadi gelombang mikro pada saat sekarang. Teleskop NASA menemukan gelombang mikro yang telah menempuh jarak selama hampir 14 milyar tahun cahaya. Gelombang ini muncul kira-kita 380.000 tahun setelah Big Bang, kurang lebih bagaikan 12 jam setelah kelahiran seorang bayi ke dunia.

Secara visual, hanya gelombang mikro yang terlihat melalui teleskop. Tetapi, gelombang mikro ini memiliki suara. Suara yang pada mulanya tidak terdengar, tetapi kemudian muncul dalam bentuk desisan, yang semakin lama pitch atau tinggi-rendah nada desis tersebut akan semakin menurun. Suara awal ini terdeteksi sebagai noise. Noise yang memenuhi segala spektrum sehingga mampu menciptakan struktur penciptaan pada seluruh skala dari bintang hingga galaksi. NewScientist.com mempublikasikan artikel bahwa alam semesta lahir dengan desisan dan bukan ledakan. Dalam salah satu link-nya, juga terdapat rekaman suara awal (http://www.newscientist.com/). Maka, pemahaman Injil Yohanes versi Internasional bahwa “In the beginning was the Word”, menjadi keliru. Bukan Word tetapi Sound, suara. Suara yang tidak memiliki arti tertentu, tetapi esensial dalam pembentukan alam semesta. Suara penciptaan awal alam semesta.

Para Resi jaman dahulu sudah mengetahui hal ini selama ribuan tahun. Mereka melakukan percobaan dengan elemen-elemen alam, kemudian hasil percobaan itu mereka tuliskan menjadi Veda atau Kitab Pengetahuan. Menurut Veda, suara awal penciptaan adalah AUM (OM).

Dalam peradaban Sindhu (Hindu) dijelaskan bahwa awal Penciptaan bermula dari Suara Awal AUM. AUM tidak hanya mengacu pada penciptaan, tetapi juga menjadi motor penggerak seluruh alam semesta. A adalah simbol Penciptaan Materi. U adalah simbol Pemeliharaan Energi. M adalah simbol Pendaur-ulang.

AUM ini kemudian menjadi mantra suci kebudayaan Hindu. Kata Mantra berasal dari bahasa Sansekerta Manas dan Yantra. Manas artinya, pikiran. Yantra artinya, alat. Mantra, tidak seperti yang dikenal orang sebagai jampi-jampi, mempunyai arti “alat untuk menenangkan pikiran”. Kata-kata apa pun yang bisa menenangkan pikiran manusia dapat dikategorikan sebagai Mantra. Mantra yang diucapkan berulang-ulang dalam Islam disebut Dzikir. Salah satu Dzikir yang paling umum adalah La Ila Ha Ila Allah yang artinya, tidak ada Tuhan selain Allah, atau tidak kebenaran apa pun di luar Tuhan. A-U-M sendiri dalam bahasa Arab menjadi Alif, Lam, Min. Di dalam bahasa Yahudi, Tuhan atau Kebenaran itu sendiri tidak memiliki nama. Tetapi, jika tetap harus diungkapkan, maka ungkapan yang tepat tentang Tuhan atau Kebenaran hanyalah suara yang diucapkan dalam bentuk gabungan huruf Y-H-V.

Dalam tradisi Kristen, menurut Jnaneshvara Bharati, salah satu mantra yang bisa dipakai adalah Maranatha. Kata Maranatha disebut dalam surat St. Paulus kepada umatnya di Korintus dan juga muncul di Kitab Wahyu Injil. Maranatha berasal dari bahasa Aram (bahasa pergaulan bangsa Yahudi pada masa Yesus) yang mempunyai dua arti sebagai berikut:
• mara – natha yang artinya “Tuhan datanglah”;
• maran – atha yang artinya “Tuhan telah datang”.

Dalam cerita Hindu, ketika Ia Yang Tak Bernama, tetapi memiliki tak terbatas Nama, sedang dalam tidur panjang, suara AUM yang berasal dari dalam diri-Nya sendiri yang telah membangunkan-Nya. AUM menyebabkan diri-Nya sadar akan Keberadaan-Nya sendiri. Pada saat ini, Ia pun berada dalam keadaan Turiya, keadaan keempat yang tak terjelaskan.

AUM ini yang menyebabkan seluruh alam semesta tercipta dan mulai berekspansi. Mantra AUM dianggap sebagai mantra yang tertinggi dan disebut sebagai Pranava, awal. Bahkan dalam salah satu Upanishad (pelajaran dan pengamalan kebenaran), yaitu Mandukya Upanishad, berbunyi: “AUM – kata ini adalah segalanya: masa lalu, masa kini, masa depan, bahkan melampaui waktu. Semuanya adalah AUM”.

Mandukya (dalam bahasa sansekerta berarti katak) Upanishad adalah hasil pengalaman seorang Resi yang belajar tentang rahasia Keberadaan-Nya dari seekor katak. Mandukya Upanishad ini sudah berusia ribuan tahun. Seekor katak mempunyai kemampuan lebih dibanding binatang lain, karena ia bisa hidup dalam dua dunia, yaitu air dan darat. Ia dengan mudah dapat berpindah antara kedua dunia tersebut. Kedua dunia ini oleh sang Resi tersebut sebagai lambang dari dunia materi dan dunia spiritual.

Masih di dalam Mandukya Upanishad disebutkan pula bahwa alam semesta ini terdiri atas empat keadaan:

  1. Keadaan jaga atau Jagarita: keadaan ketika seseorang bangun tidur dan melakukan kegiatan sehari-hari. Ini adalah kesadaran materi, Vaishvaanara. Pada keadaan ini manusia menggunakan panca indera dan fisiknya untuk berinteraksi dengan alam sekitarnya. Keadaan jaga adalah setara dengan suara dari huruf “A” pada AUM.
  2. Keadaan tidur dengan mimpi atau Svapna: keadaan ketika seseorang sedang bermimpi dalam tidur. Di sini kesadaran yang berkuasa adalah energi, tajas. Energi memiliki massa, tetapi tidak memiliki bobot sehingga dapat dengan mudah berubah bentuk. Dalam mimpi seseorang bisa mengalami apa pun yang ketika jaga tidak mungkin terjadi. Bahkan seseorang bisa menciptakan apa pun secara instan dalam dunia mimpinya itu. Pikiran, dalam hal ini alam bawah sadar, menjadi penguasa dari alam mimpi ini. Keadaan bermimpi adalah setara dengan suara dari huruf “U” pada AUM.
  3. Keadaan tidur tanpa mimpi atau deep sleep (Susupti): keadaan ketika seseorang tidur lelap tanpa mimpi sedikit pun. Pada saat itu yang terjadi adalah kekosongan. Ketika kesadaran materi dan energi hilang, pada saat itulah kesadaran atau prajna ini muncul. Kesadaran atau prajna adalah sebab dari keadaan jaga dan tidur bermimpi. Kedua keadaan pertama ada karena keadaan deep sleep ini. Keadaan tidur tanpa mimpi adalah setara dengan suara dari huru “M” pada AUM.
  4. Keadaan Turiya: keadaan yang tidak terjelaskan. Keadaan yang melampaui semuanya, melampaui baik-buruk, melampui ilusi-realita, melampaui krodh (amarah), melampaui kaam (nafsu), melampaui lobh (keserakahan), dan melampaui moh (keinginan duniawi).

Resi jaman dahulu bukan saja ilmuwan praktis, tetapi juga seorang psikolog ulung.

Ketiga keadaan pertama di atas dalam psikologi sekarang dikenal sebagai: Kesadaran jaga (consciousness); kesadaran alam bawah sadar (sub consciousness); kesadaran supra (super consciousness). Sementara keadaan keempat, kesadaran no-mind yang melampaui ketiga kesadaran sebelumnya tidaklah dikenal oleh pemikiran Barat, tetapi sudah dikenal dalam peradaban Timur. Keadaan keempat inilah yang disebut Pencerahan Buddha atau Kesadaran Kristus.

Hansberger, seorang ilmuwan Jerman setelah Perang Dunia Pertama, menemukan bahwa kesadaran mempunyai kaitan erat dengan frekuensi gelombang otak. Gelombang otak adalah frekuensi pancaran otak yang direkam dengan electroencephalogram (EEG). Gelombang Beta mempunyai frekuensi 14 sampai 28 siklus per detik. Ini adalah kesadaran jaga kita. Ketika kita sedang tegang, kuatir, atau sibuk dengan kegiatan yang menguras otak, maka Gelombang Beta yang mendominasi otak kita.

Gelombang berikutnya adalah Gelombang Alpha dengan panjang gelombang 8 sampai 13 siklus per detik. Pada gelombang ini seseorang masih berada dalam kesadaran jaga, tetapi dalam kondisi yang rileks, kreatif, bebas dari kekhawatiran – atau sering disebut sebagai kondisi meditatif ringan. Pada kondisi ini seseorang belum sampai pada keadaan tidur, namun pikirannya sudah tidak lagi aktif. Kondisi ini adalah kondisi netral di mana panca indera bekerja maksimal sehingga seseorang akan menjadi sangat “awas”.

Banyak latihan-latihan beladiri yang memiliki unsur meditasinya bertujuan agar orang tersebut mencapai Gelombang Alpha sehingga tubuh dapat merespons dengan cepat. Contoh: Tai Chi, Aikido, dan Ba Gua Chuan sering disebut moving zen, karena beberapa latihan-latihannya menginduksi gelombang otak untuk mencapai Gelombang Alpha. Respons tubuh dengan cara ini berbeda dibanding ketika hormon adrenalin seseorang bekerja. Seseorang yang hormon adrenalinnya sedang bekerja, maka tubuhnya juga akan merespons dengan cepat, tetapi pada saat itu hanya kesadaran binatang (insting) yang terletak di batang otak yang aktif. Kedua gelombang Beta dan Alpha adalah keadaan jagarita.

Gelombang yang sedikit lebih panjang lagi adalah Gelombang Theta yang mempunyai frekuensi dengan siklus 4-7 kali per detik. Inilah keadaan Svapna. Umumnya kondisi jaga anak-anak berada pada frekuensi ini, sementara orang-orang dewasa jarang yang berfrekuensi Theta pada kondisi jaga. Pada orang-orang dewasa, kondisi ini sering muncul menjelang tidur dan ketika sedang mengalami mimpi sehingga berhubungan langsung dengan alam bawah sadar orang tersebut. Seseorang yang sedang dalam kondisi meditatif secara mendalam, kreatifitas yang tinggi, dan reseptif terhadap hal-hal paranormal sebenarnya juga sedang mengalami Gelombang Theta. Tidak heran bila kita sering kali tidak bisa membedakan dengan tepat keadaan seseorang yang sedang bermimpi dengan seseorang yang sedang berhalusinasi. Pada saat bermimpi, seseorang mengalami REM (Rapid Eye Movement) atau mata bergerak dengan cepat.

Seseorang yang mengalami sleepwalking atau berjalan sambil tidur, gelombang otaknya pun juga berada pada tingkat ini. Tetapi, ketika bangun ia tidak ingat sama sekali apa yang telah dilakukannya, karena ia sebenarnya berada dalam alam mimpi. Seseorang yang berada dalam alam mimpi, umumnya ketika bangun tidur tidak ingat mimpi apa yang dialaminya.

Gelombang keempat adalah Gelombang Delta yang mempunyai frekuensi dengan siklus 1 – 3 per detik. Gelombang ini muncul pada saat seseorang berada dalam kondisi tidur tanpa mimpi (deep sleep) atau meditasi yang sangat dalam. Inilah keadaan susupti ketika Prajna memegang kendali.

Sampai saat ini, ilmuwan masih dapat memetakan hingga deep sleep. Tetapi, ribuan tahun yang lalu para Resi sudah mengenal hingga tahap berikutnya yang disebut Turiya. Pada saat itu, seseorang akan mempunyai gelombang otak 0 siklus per detik. Akan sangat lama bagi para ilmuwan masa kini untuk membuktikan frekuensi 0 siklus per detik. Mereka akan menganggap seseorang yang berada pada kondisi itu telah mati secara klinis. Tapi, bagi para Resi, seseorang yang mati secara klinis belumlah mencapai kondisi Turiya. Bagaikan transmiter rusak, otak tidak memancarkan frekuensi apa pun karena otak sudah tidak berfungsi. Tapi, di lain pihak, penelitian pernah membuktikan bahwa seorang Yogi dapat menurunkan frekuensi otaknya hingga hampir 0 siklus per detik. Setiap beberapa menit atau jam, otak yang kelihatannya datar mengalami spike atau lonjakan. Frekuensinya menjadi satu dibagi beberapa ratus siklus per detik, tetapi tetap belum mencapai 0.

Gelombang otak manusia hanyalah medium. Apa yang dipancarkan bersama gelombang otak tersebut bisa berlainan. Jika tiga orang yang sedang tidur bermimpi dan ketiganya berada pada gelombang yang sama, maka tidak berarti ketiga orang tersebut bermimpi hal yang sama, meskipun kadang-kadang hal tersebut bisa terjadi. Seperti modem internet pada komputer yang menggunakan kabel telpon untuk mengirimkan sinyal-sinyal berupa data-data komputer. Data-data yang dikirim melalui sinyal-sinyal pada kabel telepen itu sesungguhnya dikonversikan ke dalam bentuk suara. Demikian juga pikiran manusia menggunakan medium gelombang otak hingga mampu dialami oleh seluruh bagian tubuh.

Pada saat seseorang sedang tertidur dan mengalami mimpi buruk, dia akan terbangun sambil berkeringat dingin serta jantung berdebar-debar. Apa yang hanya dialami dalam alam mimpi (kesadaran kedua), secara fisik dirasakan oleh tubuh dalam kesadaran jaga. Jadi, batas antara keempat keadaan tersebut tidak sejelas yang dikira.

Dalam alam mimpi seseorang hampir tidak bisa “berpikir”. Bahkan untuk menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi pun tidak bisa. Ketika ia menyadari dirinya sedang bermimpi, maka sebetulnya saat itu ia sedang tidak bermimpi. Svami Anand Krishna dalam ceramahnya pernah meyinggung bahwa pernyataan “Saya sedang tidur” tidak mungkin terjadi. Meskipun secara tata bahasa adalah benar, tetapi jika seseorang sedang tidur, maka ia tidak akan tahu dirinya sedang tidur. Pengetahuan bahwa dirinya tidur baru bisa disadari ketika orang tersebut sudah keluar dari tidurnya.

Kembali kepada soal vibrasi materi atau energi. Fisika Modern telah membuktikan bahwa seluruh alam semesta ini sedang bervibrasi. Alam semesta mempunyai getaran yang saling tumpang tindih dengan rentang frekuensi yang tidak terbayangkan. Karena semua adalah vibrasi dengan frekuensi tertentu, maka manipulasi elemen atau materi di alam semesta ini pun bisa dilakukan dengan frekuensi tertentu pula. Salah satu metode yang digunakan oleh para Resi adalah menggunakan simbol-simbol. Simbol-simbol dengan kombinasi tertentu dapat menciptakan hasil yang spesifik. Simbol-simbol ini kemudian dikumpulkan dan sekarang dikenal sebagai “Bahasa Sansekerta”, yang artinya “telah disempurnakan”.

Bahasa Sansekerta adalah bahasa teknik karena dirancang khusus untuk keperluan tertentu. Bahasa Sansekerta bukanlah bahasa percakapan sehari-hari. Bahkan menurut penelitian ilmuwan NASA, Badan Penerbangan Angkasa Amerika Serikat, Bahasa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang bisa diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa pemrograman komputer.

Sementara bahasa-bahasa lain membutuhkan parser (untuk memisahkan sintaksis) agar dapat dimengerti komputer dan membutuhkan karakter alfanumerik (angka dan tanda baca), Bahasa Sansekerta mampu melakukannya dengan jelas tanpa keduanya. Tidak heran selama ribuan tahun Bahasa Sansekerta dipakai sebagai bahasa tulisan dalam berbagai bidang profesi, seperti matematika, hukum, filsafat, linguistik, astronomi, kedokteran, sastra dan lain sebagainya.

Kembali kepada AUM, setiap pengucapan A-U-M dengan intonasi dan nada tertentu akan menghasilkan efek tertentu. Distorsi pada suara awal AUM menciptakan perbedaan frekuensi yang disebut Dvhani atau pola frekuensi. Perbedaan pola ini disebut Varna yang kemudian menjadi suku kata Sansekerta. Kata “warna” dalam bahasa Indonesia juga berasal dari Varna dari Bahasa Sansekerta, yang sebetulnya merujuk pada rentang frekuensi yang beraneka ragam. Setiap warna memiliki rentang frekuensi sendiri.

Dalam dunia medis saat ini terapi warna sudah mulai diterima sebagai terapi komplementer. Prinsip dasar dari terapi warna adalah agar setiap organ atau anggota tubuh bekerja pada rentang frekuensi tertentu. Jika organ tersebut frekuensi kerjanya berubah, organ tersebut akan mengalami gangguan fungsi.

Dalam terapi warna, setiap warna akan memberikan respons yang berbeda ke syaraf-syaraf otak dan dari otak diteruskan ke organ-organ tertentu yang juga beroperasi pada rentang frekuensi tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami gangguan pada ginjal dapat terbantu proses pemulihannya jika ia melihat warna oranye. Warna ini akan merangsang syaraf-syaraf di otak dan mengaktifkan hormon tertentu. Selain itu impuls-impuls tersebut akan diteruskan ke ginjal dan membuat ginjal kembali bekerja pada rentang frekuensinya sendiri.

Bahasa Sansekerta sendiri dianggap sebagai bahasa tertua dan terstruktur, karena sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan aksara pembentuknya berasal dari perbedaan frekuensi. Contohnya adalah sebagai berikut. “Aa” adalah aksara pertama dan “Ha” adalah aksara terakhir.Ketika dua aksara tersebut digabung, maka hasilnya adalah “Aham” yang artinya adalah Aku.

Dalam bahasa Yunani, awal adalah alpha dan akhir adalah omega. Tradisi Kristen mengatakan bahwa Tuhan adalah awal dan akhir. Alpha dan Omega. Di tengahnya inilah manusia. Bandingkan dengan bahasa Sansekerta yang juga mengatakan bahwa di antara Awal dan Akhir itulah “Sang Aku” (Tuhan) berada.

Contoh lain dari struktur kata pada Bahasa Sansekerta: Padartha yang artinya adalah Materi, terdiri atas dua kata, Pada artinya Kata atau Suara, serta Artha bermakna tujuan atau arti. Suara + Arti = Materi. Dalam bahasa Fisika Kuantum, bisa diartikan sebagai: vibrasi suara yang diucapkan dengan tujuan tertentu akan membentuk materi. Dan memang materi inilah yang akan mencul. Setiap vibrasi adalah energi. Setiap tujuan atau niat juga memiliki massa. Maka, yang terjadi adalah materi yang memiliki energi dan massa.

Dalam keadaan jaga, materi yang tercipta tidak akan terlihat. Tetapi, setiap energi tidak pernah musnah. Apa pun yang pernah ada, akan tetap ada dan hanya berubah bentuk. Bentuk dan komposisi bisa berubah-ubah meski substansinya tidak.

Dalam keadaan tidur bermimpi, energi (tajas) adalah dominannya. Pada saat itu, pengertian Padartha akan lebih mudah dimengerti. Suara apa pun yang muncul ditambah dengan niat tertentu akan menciptakan wujud tertentu pula secara seketika. Setiap orang pasti mengalami hal ini ketika ia sedang bermimpi.

Satu-satunya perbedaan antara orang awam dan para Resi adalah Resi sadar bahwa mereka sedang berada di alam mimpi. Tidak ada mimpi yang sedemikian buruk atau sedemikian nikmat yang dapat mempengaruhi tubuh jaga seorang Resi. Karena mereka menyadari bahwa mimpi ini pun adalah proyeksi pikiran mereka sendiri. Maka dengan sangat mudah para Resi akan dapat menghentikan atau mengubah mimpinya dengan seketika.

Sementara itu, orang awam baru menyadari bahwa mereka sedang bermimpi hanya ketika sudah bangun dari tidurnya. Orang awam akan terbawa oleh mimpinya dan jika mimpinya sangat intens, efek pada tubuh jaga akan terasa besar juga. Tubuh sedang beristirahat, jantung sedang berirama dengan normal, tetapi jika seseorang bermimpi buruk – meskipun mereka tidak ingat dengan mimpinya ketika bangun – maka jantungnya akan berdebar sedemikian kencang seperti mau meledak, napas tersengal-sengal, dan dada terasa sesak. Penelitian membuktikan bahwa serangan jantung paling sering terjadi di pagi hari. Jika terasa tidak masuk akal, ingatlah bahwa Fisika Modern memang sering “tidak masuk akal”, tetapi bisa dibuktikan.

Bahasa Sansekerta diperkirakan telah berusia minimal antara 4000-7000 tahun dan menjadi dasar dari banyak bahasa-bahasa klasik di Eropa seperti Yunani, Latin dan Romawi. Tidak mengherankan jika Bahasa Sansekerta digunakan dalam kitab Veda (Pengetahuan) yang sering dianggap sebagai kitab suci dari peradaban Hindu.

Aksara-aksara yang digunakan dalam Bahasa Sansekerta disebut Devnagari (bahasa atau tulisan para Dewa). Dewa atau Malaikat, sesungguhnya, adalah elemen-elemen dasar pembentuk materi. Melalui Bahasa Sansekerta, seseorang dapat berinteraksi langsung dengan elemen-elemen alam. Karena seluruh aksara berasal dari variasi frekuensi, maka mantra-mantra Sansekerta yang disuarakan dengan benar akan menciptakan vibrasi tertentu dan mempengaruhi semua tingkat fisik, emosi, mental, energi, dan spiritual. Bahkan, menilik teori Fisika Modern di atas, vibrasi tertentu akan dapat menciptakan materi, meski untuk mewujudkannya dibutuhkan energi yang luar biasa besar.

Bahasa Sansekerta sendiri mengalami beberapa kali perubahan tata bahasa. Tata bahasa disebut sebagai vyakarana, yang arti harafiahnya “analisa yang dibedakan”. Tata bahasa terakhir Sansekerta dibuat oleh Panini pada 1300 SM (ada yang menyebut 500 SM) yang menjadi tata bahasa terpendek, tetapi terlengkap di seluruh dunia. Panini menyebut tata bahasa ini sebagai Ashtadhyayi. Dalam 4000 ayat-ayat pendeknya, beliau menunjukkan bagaimana kerja Bahasa Sansekerta dan kombinasi yang bisa muncul baik arti maupun efeknya secara filosofis.

Ilmuwan NASA telah membuktikan bahwa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang dapat mengekspresikan setiap kondisi yang ada di alam semesta dengan jelas. Dengan struktur bahasa yang sempurna, Bahasa Sansekerta dapat dan telah digunakan sebagai Bahasa Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence.

Rigg Briggs, seorang peneliti NASA, menjelaskan bahwa struktur Panini bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis tanpa perlu menggunakan karakter alfanumerik yang sekarang dipakai dalam semua bahasa tingkat tinggi komputer. Bahasa tingkat tinggi artinya, bahasa yang menyerupai bahasa manusia dan merupakan jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer). Bahasa tingkat tinggi ini berkebalikan dengan bahasa mesin (bahasa tingkat rendah) pada komputer yang terdiri atas kombinasi biner: 0 dan 1 (open and close positions).

Penelitian-penelitian tentang bagaimana aturan-aturan Panini dapat diterapkan dalam software sedang dilakukan di banyak tempat seperti Akademi Penelitian Sansekerta dan Siddhaganga Mutt di Karnataka. Bahkan dalam linguistik, aturan ini pun dapat diterapkan karena aturan Panini juga melingkupi aktivitas otak dan cara kerja suara manusia. Contoh, lebih mudah mengatakan jagat + naatha sebagai jagannaatha (dalam Bahasa Sansekerta) atau abd-ul + rahman sebagai abd-ur-rahman (dari Bahasa Semit) – keduanya mengikuti aturan fonetik Panini. Hal ini juga berarti bahwa bahasa Semit pun berasal dari Sansekerta. Diperkirakan sebagian besar bahasa-bahasa kuno di bumi seperti bahasa Persia, Yunani, Teutonic, dan Celtic berasal dari Sansekerta.

Setiap mekanisme tata bahasa dalam Bahasa Sansekerta sudah disempurnakan. Setiap penjelasan tentang kondisi emosi serta berbagai kondisi lainnya sudah baku dan tidak mengalami perubahan selama ribuan tahun. Bahasa Sansekerta tidak mengalami penambahan kata baru karena semuanya sudah ada, termasuk materi apa pun di muka bumi sudah ada istilahnya. Jika para Resi sudah mengetahui tentang sistem ucapan manusia yang canggih ini pada ribuan tahun yang lalu, maka para ilmuwan Barat baru menyadarinya pada abad ini.

Tetapi, bahasa peninggalan dari Sindhu tidak saja muncul di India dan melebar ke Eropa. Di Indonesia peradaban yang mirip sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bahasa Indonesia akarnya berasal dari Melayu dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Tetapi, bahasa-bahasa daerah di Indonesia banyak yang berasal dari bahasa Sansekerta. Contoh, varna di Indonesia dikenal sebagai warna; Bhumi menjadi bumi; dev menjadi dewa/dewi; jiiva menjadi jiwa, dan lain sebagainya.

Bahasa Daerah Jawa tidak menggunakan huruf alfabet a-z, tetapi menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka yang masing-masing mempunyai arti filsafatnya. Bahasa Jawa dan Bali menggunakan aksara yang sama meskipun dengan pengucapan yang berbeda. Aksara-aksara ini mempunyai kemiripan dengan aksara-aksara bahasa Telugu yang digunakan di India Selatan.

Hal-hal seperti ini menunjukkan ketinggian suatu budaya di mana suatu kata tidak terbentuk oleh sekedar alfabet, tetapi aksara dengan lafal yang berirama, mempunyai vibrasi, dan arti tertentu. Satu pepatah bahasa Jawa yang menggambarkan keadaan ini berbunyi: “Basa iku busananing Bangsa”, yang artinya budi pekerti seseorang atau suatu bangsa akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya

Bandingkan dengan alfabet Romawi yang kita pakai sekarang (huruf a sampai z) di mana lafal serta penggunaannya tidak konsisten. Sayangnya, kedalaman budaya lokal Indonesia telah dianggap kadaluarsa oleh sebagian orang-orang Indonesia padahal dunia Barat justru mulai melakukan penelitian mendalam terhadapnya.

*) Tulisan ini diambil dari buku berjudul “Sains dan Spiritualitas”, terbitan PT One Earth Media, 2006, karya Roy B. Efferin — seorang yang menekuni dunia Sains, Spiritualitas, dan Aikido.

Untuk berkenalan lebih jauh dengan sang penulis silahkan kunjungi: http://www.facebook.com/roy.b.efferin

NYHMWMYU7Z2T


 Powered by Max Banner Ads