Powered by Max Banner Ads 

Bungkuk Karena Cedera Tulang

Jika cedera tulang datang menyerang, jangan lantas main gampang. Misalnya dengan lari ke tukang pijat atau dukun tulang. Awas, bisa-bisa malah tulang Anda mengkerut. Jangan abaikan pula TBC tulang, yang terbukti bisa bikin punggung bungkuk. Tulang, memang harus disayang.

Penyebab terbanyak tulang cedera adalah kecelakaan. Di jalan raya, kebanyakan korban adalah pengendara sepeda motor. Sementara di rumah, menurut dr. Luthfi Gatam SpOT (K-spine) dari Klinik DBC (Documentation Based Care), RS. Internasional Bintaro, Tangerang ternyata, akibat jatuh dari loteng!

Yang perlu diketahui, tak semua cedera itu berupa patah tulang. “Hanya sprain, keseleo, salah urat, ligamen alias jaringan ikat antartulang tertarik, robek sedikit hingga tampak luar membengkak, bukan patah.” Tambahan lagi, pascakecelakaan ada usaha dari tubuh kita untuk membekukan darah agar tak terjadi bengkak. Itulah sebabnya, saat atlet sepakbola cedera, tindakan pertama yang dilakukan tim medis adalah mengompres dengan es atau air dingin. Ini prinsip do no harm, jangan memperparah yang sudah parah. Jangan menciptakan masalah baru. Setelah itu temui dokter.

Yang umum dilakukan, banyak orang yang pergi ke tukang pijat atau dukun tulang. Mereka berprasangka kalau ditangani medis akan lebih lama pulih. Padahal cara ini justru mengundang bahaya. Bayangkan, jaringan tulang yang sebenarnya sudah “membeku” itu diurai lagi akibat dipijat atau ditarik. Alhasil, tubuh pun tak memiliki kesempatan memulihkan diri sendiri.

Sembuh tanpa luka parut
Pada cedera ringan, bagian sprain diistirahatkan dulu dengan dibidai, biasanya dengan kain pembalut coklat. Jadi, tak mesti digips (sering menjadi momok bagi sebagian orang). Bila tulang patah, secara alami sebenarnya bisa bersambung lagi. “Tulang dan usus adalah dua organ tubuh istimewa yang bisa pulih tanpa luka parut,” tutur Luthfi.

Masalahnya, kita menginginkan sambungan yang baik dan bisa berfungsi seperti semula dalam waktu relatif cepat. Dokter akan membius pasien hingga tenang dan lemas, supaya mudah mengembalikan tulang ke posisi yang benar. Inilah bedanya dengan tukang pijat atau dukun tulang yang melakukan tindakan tanpa bius pemati rasa. Pasien yang memberontak karena kesakitan malah dapat memperparah kondisi tulang. Bisa saja tulang tersambung, namun dalam posisi tak normal.

Tak sedikit kejadian, gara-gara keseleo lalu diurut ke dukun tulang, penderitanya malah menjadi timpang karena tungkainya “pendek sebelah”. Kadang terjadi cedera parah yang disebut dislokasi, tulang-tulang keluar dari tempurungnya. Biasanya terjadi pada pergelangan tungkai bawah atau lutut. Terjadi nyeri hebat, harus ditangani dokter kurang dari delapan jam. Bila terlambat, akan ada jaringan mati karena terputus dari aliran darah. Akibat akhirnya adalah tulang mati, terjadi pengapuran bahkan bisa diamputasi.

Bila terjadi dislokasi, dukun tulang pun biasanya langsung mengenali dan menolak menangani, menyarankan harus segera dibawa ke rumah sakit. Dislokasi mudah ditandai. Korban biasanya tak bisa berjalan sama sekali, bahkan tak bisa dipapah, sehingga harus digotong. Terjadi bengkak hebat sampai kebas di ujung kaki. Ujung-ujung dislokasi bila terjadi di pergelangan kaki, telapak dan jemari biasanya berwarna pucat, tanda darah tak lagi mengalir.

Bila patah dipicu osteoporosis (keropos tulang), bisa dilakukan kyphoplasty. Dokter melakukan pembedahan kecil dengan bius lokal untuk pembalonan dan pemakaian semen khusus tulang untuk memperbaiki strukturnya. Saat tulang patah, tubuh butuh kalsium lebih dari biasanya untuk memulihkan diri. Jadi, lebihkan asupan dari susu, teri, ceker ayam, pepaya, daun singkong. Bila perlu, dokter akan memberikan obat penguat tulang. Tak kalah penting, istirahatkan tulang dari kerja berat untuk sementara.

Waspadai TBC tulang
Tampak luar, pasien dokter ahli tulang sekilas tak bermasalah. Kebanyakan mengalami cummulative trauma disease yang mengenai bantalan tulang belakang, yang memicu terjadinya deformitas, kelainan bentuk sosok tubuh. Gejala awalnya adalah perkaratan – umumnya disebut pengapuran – tulang belakang, sendi-sendi bahu, lutut, panggul. Para pekerja perlu memperhatikan postur tubuh saat bekerja, sebab bisa memicu terjadinya deformitas ini.

Perkaratan intinya adalah kerusakan pada tulang rawan sendi, pelapis ujung tulang yang berfungsi sebagai bantalan dan peredam kejut bila dua ruang tulang berbenturan saat sendi digerakkan. Bila tekanan terlalu berat, tuang rawan ini akan terkikis menipis hingga tak lagi berfungsi. Persendian terasa kaku dan nyeri. Gangguan ini bisa diatasi dengan fisioterapi, dibantu dengan pengurangan bobot tubuh dan penggunaan pelindung lutut.

Deformitas yang paling berat adalah kifosis (berasal dari bahasa Yunani, kyphos yang berarti punuk). Kifosis sering dihubungkan dengan skoliois, tulang belakang melengkung menyamping. Baru disebut kifosis bila lengkungnya lebih dari 40o. Jika lebih dari 50o dianggap tak normal. Kifosis ringan mungkin belum disadari karena nyaris tak menimbulkan keluhan kecuali rasa lelah, punggung nyeri, serta kaku yang awalnya dianggap wajar akibat kegiatan harian.

Secara umum dikenal tiga jenis kifosis. Pertama, congenital kyphosis, kelainan bawaan sejak di rahim ibu yang harus diatasi sedini mungkin, sebelum berusia 10 tahun.

Kedua, postural kyphosis yang paling banyak ditemui (pada remaja putri) dan biasa disebut “bungkuk udang”. Jarang menyebabkan nyeri dan tak menimbulkan gangguan saat dewasa. Mengatasinya dengan memperkuat otot perut dan lutut yang membuat tubuh lebih nyaman.

Ketiga, Scheuermann’s khyphosis (diambil dari nama radiolog Denmark yang pertama kali menandainya). Banyak terjadi di usia belasan tahun terutama pada remaja pria yang terlalu kurus. Bisa mempengaruhi tulang punggung atas dan bawah (panggul). Gerak tertentu bisa memicu nyeri dan akhirnya tak kuat duduk atau berdiri lama. Bisa diatasi dengan memakai brace (rompi penyangga batang tubuh), latihan memperkuat tulang belakang, dan pemberian obat antiradang pereda nyeri.

Ada banyak pemicu kifosis. Di Indonesia, pemicu terbanyak adalah infeksi, terjangkit virus atau bakteri, terutama Mycobacterium tuberculosis (TBC) yang menyerang tulang belakang. “Di rumah sakit umum, terutama ditemui pasien TBC tulang belakang (Spondylitis tuberculosa alias pott’s paraplegia) dengan rentang usia 2 – 70 tahun,” ujar Luthfi yang juga bertugas di RSU Fatmawati, Jakarta.

TBC tulang bisa dialami mantan pasien TBC paru yang tak menuntaskan pengobatannya, atau terinfeksi bakteri TBC tanpa menunjukkan gejala. Bakteri TBC yang “tertidur” itu mengikuti aliran darah dan menyerang dengan tenaga berlebih saat daya tahan tubuh melemah. Bakteri berkembang biak umumnya di ujung pembuluh, terutama di tulang belakang, menggerogoti badan tulang belakang, membentuk kantung nanah yang bisa menyebar sepanjang otot pinggang sampai daerah lipat paha.

Kantung nanah dan badan tulang belakang yang hancur memicu tulang belakang “jatuh”, condong ke depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan saraf-saraf sekitar tulang belakang yang mengurus tungkai bawah, sehingga gejalanya bisa kesemutan, kebas, bahkan lumpuh. Badan tulang belakang condong ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol di belakang, nyeri bila tertekan. Inilah yang disebut gibbus (punuk). Bahaya terberat adalah kelumpuhan tungkai bawah, karena penekanan batang saraf di tulang belakang.

Tak menular
Kabar baiknya, TBC tulang tak menular seperti TBC paru. Namun, Luthfi Gatam mengingatkan, “Kini, semua bisa terkena TBC, termasuk kalangan sosial ekonomi dan berpendidikan tinggi. Penyebab pastinya belum diketahui, tapi diperkirakan karena hidup yang serba instant, dari makanan cepat saji yang banyak mengandung hormon pertumbuhan juga pencemaran.”

Luthi memberi contoh dua pasien wanitanya yang berasal dari latar belakang berbeda. “Dokter, saya mau diapakan saja asal punggung saya kembali normal. Suami telah mengancam akan menceraikan saya,” tutur dr. Lutfi Gatam menirukan keluhan pasiennya, wanita berusia 27 tahun dari masyarakat menengah bawah. Punuk di punggung membuat si wanita “mengkerut” dari tinggi 160 cm menjadi 150 com. Dari pemeriksaan ketahuan bahwa ia telah berpunuk selama dua tahun, dengan 90o kebungkukan. Pemicunya TBC tulang. Satu-satunya pilihan pemulihan adalah bedah.

Akan tetapi, risiko terberat dari pembedahan adalah lumpuh. Luthfi berkonsultasi dengan sejumlah dokter bedah tulang dari berbagai negara. Semuanya tak menyarankan tindakan pembedahan. Tapi dengan keyakinan dan keahliannya, Luthfi menempuh jalan berisiko itu. “Mau?” begitu ia bertanya ke pasiennya yang dijawab dengan mantap, “Mau!” Bedah pun dilaksanakan. Besi penyangga tulang belakang ditanam. Lumpuhkah wanita tadi? Tidak. Sang suami pun menerima kembali sang istri yang kini pulih ke tinggi normalnya.

Untuk menjaga kondisi, si pasien tadi mesti patuh minum obat penguat daya tahan tubuh agar, TBC-nya tak kambuh, dan menghindari mengangkat barang berat untuk menjaga keadaan tulang punggungnya. Prestasi ini disajikan dalam konferensi internasional dokter ahli tulang beberapa waktu lalu di Bali.

Pasien lainnya adalah direktris bank usia 40-an tahun yang datang setelah dua minggu lumpuh. Riwayatnya, tiga bulan pertama ia sulit berjalan, dalam enam bulan penyakitnya bertambah parah hingga lumpuh. Keluhan awalnya adalah nyeri pinggang, lalu menyebar ke dada, kesemutan dari tungkai atas sampai telapak, akhirnya kebas. Sosoknya gemuk, jauh dari kesan penderita TBC yang dulu kita kenal – kurus kering berpunggung melengkung.

Di tahap awal, dokter melakukan pemeriksaan dan diagnosis. Pada pemeriksaan fisik, pasien diminta membungkuk mulai batas pinggang. Jika memang menderita kifosis, lengkung punggung atas akan makin jelas. Berikutnya, pemeriksaan persarafan untuk melihat kemungkinan gangguan seperti kelemahan, kelumpuhan, perubahan kepekaan penginderaan di bawah garis kebungkukan. Lalu dirontgen untuk memperjelas pengamatan dan pengukuran tingkat keparahan kebungkukan untuk memastikan jenis kifosis.

Bila lengkung berkisar 45 – 75o, biasanya dokter menyarankan penggunaan brace. Jika lebih dari 75o, disarankan tindakan bedah. Tujuannya untuk mengurangi derajat kebungkukan dengan memperkuat dan mempertaut ruas tulang belakang yang tak normal, menjaga gerak dan kegiatan yang tak memperberat beban tulang belakang selamanya, dan meredakan keluhan di punggung yang muncul sebelum bedah dilakukan.

Bila perlu, dilakukan uji kemampuan paru-paru untuk memastikan adanya gangguan pernapasan. Jika diduga ada gangguan tumor, infeksi, atau saraf, dilakukan juga pemeriksaan MRI. Pada pasien kedua ini Luthfi melakukan pembedahan untuk menyedot nanah yang mengisi ruas tulang belakangnya. Untuk mencegah kekambuhan, diberi obat dan disarankan untuk mengubah gaya hidup, termasuk mengurangi bobot tubuh dan menyantap menu bergizi sehat dan seimbang. Makanan untuk penyakit infeksi tak ada pantangan karena justru ia harus menjaga asupan makanan bergizi untuk mempertahankan daya tahan tubuh melawan virus. Alhasil, dalam setahun, kondisi si pasien memulih.

sumber: intisari-online


 Powered by Max Banner Ads