Keajaiban di Guadalupe
Pada akhir tahun 1520, pasukan Spanyol di bawah komando Hernan Cortez (Spanish Conquistador) mendarat di pantai pusat kebudayaan Aztec Empire yang kini dikenal sebagai Mexico City. Cortez menaklukkan Aztec yang waktu itu dipimpin oleh penguasa terakhirnya, Montezuma. Karena ia beragama Katolik maka dalam pasukannya terdapat pula imam-iman Katolik dari Ordo Fransiskan (Ordo yang didirikan oleh St. Fransiscus de Asisi). Imam-imam ini lalu menyebarkan agama Katolik di wilayah tsb. Raja Spanyol Charles V lalu mengutus Pastor Juan de Zumarraga untuk menjadi Bishop (Uskup) setempat.
Pada suatu pagi yang dingin (9 Desember 1531) -11 tahun setelah penaklukan Aztec- seorang petani Indian separuh baya yang belum lama dibabtis, sedang berjalan menuju Gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa. Petani ini bernama asli “Elang Bernyanyi” dan setelah di-babtize menjadi Katolik, maka ia mengganti namanya menjadi Juan Diego. Juan Diego tinggal di desa Tolpetlac dekat Guauhtitlan (sekarang menjadi wilayah Mexico). Ia bergegas agar tidak ketinggalan Misa di Sabtu pagi itu.
Juan Diego berjalan melintas bukit Tepeyac menuju Tlatelolco. Ketika melintasi punggung bukit, ia mendengar suara orang menyanyi. Suara wanita rupanya. Dari tempat suara, Juan melihat awan putih dan tiba-tiba cahaya terang benderang muncul dari tengah2 awan. Juan melihat seorang wanita yang amat cantik berdiri di awan itu. Pakaiannya bersinar keemasan.
Juan Diego menunduk dalam sikap berlutut dan wanita itu berbicara dalam bahasa Aztec (Nahuatl).
“Anakku Juan Diego, kemana engkau pergi?”
“Saya dalam perjalanan menuju Gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa.”
Maria menjelaskan pada Juan Diego siapa diriNya, apa misiNya di Mexico yaitu untuk memanggil semua orang agar hidup dalam kebersatuan dan perdamaian. Maria akan membantu mereka hidup dalam masa transisi setelah penaklukan Spanyol. Maria lalu meminta bantuan Juan Diego untuk datang ke kediaman Uskup Mexico dan mengatakan padanya agar Uskup membangun sebuah Gereja di tempat Juan Diego melihat diriNya.
Petani itu lalu bergegas menuju ke kediaman Mgr. Zumarraga. Mula-mula ia ragu, menyadari dirinya hanya seorang petani Indian miskin. Menjelang malam, Juan naik lagi ke bukit dan rupanya Maria sudah ada disana menunggu Juan. Ia meminta agar Maria mengutus orang lain saja untuk menghadap Uskup, namun Maria tetap meminta agar Juan yang datang menemui Uskup Zumarraga. Maria menegaskan bahwa ia hanya menginginkan Juan Diego untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian dariNya dan untuk menyampaikan permintaan agar di tempat itu didirikan Gereja guna mengenang peristiwa tsb.
Esoknya pada hari Minggu 10 Desember 1531, setelah Misa usai Juan datang menemui Uskup dan setelah lama menunggu akhirnya ia diizinkan masuk. Uskup tentu saja tidak percaya mendengar cerita Juan. Mana mungkin seorang petani Indian miskin melihat Bunda Suci, begitu pikirnya. Juan dicecar dengan banyak pertanyaan dan pada akhirnya Zumarraga mengirim Juan untuk kembali kepada “wanita misterius” tsb dan meminta sejumlah bukti bahwa ia adalah benar-benar Bunda Suci.
Sore hari itu Juan kembali berjalan ke bukit Tepeyac dimana Maria telah menunggunya. Maria memberi kepastian bahwa besok Juan akan datang kembali ke rumah Uskup dan membawa bukti yang akan membuat Uskup itu percaya. Namun ketika Juan tiba ke rumahnya, Pamannya bernama Bernardino sakit keras. Sepanjang Senin 11 Desember ia merawat pamannya dan Juan tidak kembali lagi ke bukit Tepeyac untuk berbincang dengan Maria yang akan memberinya bukti untuk dibawa ke Mgr. Zumarraga. Bernardino merasa bhw ia sebentar lagi akan meninggal dunia dan ia meminta Juan kembali ke Tlatelolco untuk meminta agar seorang Imam datang dan memberinya sakramen bagi orang sakit. (Sakramen Perminyakan)
Selasa 12 Desember 1531, Juan pergi ke Tlatelolco, namun ia mengambil jalan memutar, menghindari bukit Tepeyac. Ketika Juan melintasi lereng, Maria datang kepadanya dan bertanya ia mau kemana. Juan menerangkan maksudnya dan alasan mengapa ia tidak menemui Maria di Tepeyac. Maria lalu meyakinkan Juan bahwa si paman saat ini telah sembuh dari sakitnya, dan kematian masih jauh dari pamannya itu.
Maria kembali mengajak Juan ke Tepeyac dan ia berkata di bukit itu Juan akan menemukan bunga mawar yang sedang mekar. Juan Diego menganggap itu mustahil karena Tepeyac adalah bukit yang amat gersang dan tidak dipernah ditumbuhi bunga. Hanya kaktus dan belukar merambat yang bisa tumbuh di bukit itu. Namun ketika mereka tiba disana, Bukit itu dipenuhi oleh mawar yang masih segar dan harum. Maria memetik mawar-mawar dan merangkainya di dalam lipatan tilma (mantel kasar yang biasa dipakai petani Indian). Mawar-mawar ini kata Maria adalah bukti yang harus disampaikan Juan pada Uskup Mexico. Katakan pada Uskup itu semua yang engkau lihat dan dengar, begitu pesan Maria pada Juan.
Ketika Juan sampai di rumah uskup, ia dihalang-halangi oleh para penjaga Uskup yang penasaran dengan apa yang dibawa Juan dalam mantelnya itu. Mereka melihat Juan seolah-olah membawa sesuatu tapi tidak dapat melihat apa yang sebenarnya di bawa Juan. Akhirnya Juan dapat bertemu dengan Uskup dan ia membuka mantelnya. Seketika itu berjatuhanlah bunga-bunga mawar ke lantai dan di bagian dalam mantel Juan Diego, tertera gambar Bunda Suci dalam pakaian wanita Indian Aztec. Dalam gambar itu Maria mengatupkan tangannya dalam sikap berdoa (namaste), rambutnya hitam terurai sampai ke bahu. Wajah Maria terlihat bulat oval, senyum merekah di bibirNya.

Gambar di dalam tilma itu masih tetap dijaga hingga kini, dalam warna-warna yang indah dan tidak memudar setelah sekian abad berlalu.
Uskup Zumarraga jatuh berlutut. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Uskup menangis dan berdoa mohon ampunan dari Bunda Suci karena ketidakpercayaannya. Lalu Uskup mengambil mantel itu dan meletakkannya di dalam kapel. Malam itu Juan menginap di keuskupan, dan sepanjang malam ia bercerita mengenai apa yang ia alami terutama pesan-pesan dari Bunda Maria. Akhirnya di Bukit Tepeyac didirikanlah sebuah Basilika dan hingga sekarang Basilika itu dikunjungi lebih dari 10.000 orang peziarah setiap tahunnya.
Ini ada hal yang menarik ttg artifact tsb:
Tahun 1979, Dr. Philip Callahan seorang ilmuwan dari Universitas Florida melakukan penelitian yang mendalam mengenai gambar yang tertera di tilma Juan Diego. Dr. Callahan adalah seorang pelukis, fotografer dan penulis ilmiah. Ia membuat foto dengan amat teliti menggunakan sinar infra red. Ia ingin tahu bahan-bahan yang digunakan dalam gambar yang tua itu. Hasilnya ia tuangkan dalam kalimat berikut ini:
“Bahannya memang asli berwarna biru gelap dan jelas bukan dilukis atau bukan hasil potret. Kepala Bunda Suci dari Guadalupe ini merupakan ekspresi yang amat artistik.”
Setelah diadakan penelitian yang mendetail dari tiap jengkal gambar tsb, didapatkan hasil ini:
Di mata kanan Maria nampak 3 sosok yang amat kecil, setelah diteliti dengan mikroskop, 3 sosok itu adalah gambar Juan Diego, yang ditemani penerjemah Uskup bernama Juan Gonzales dan sosok yang ketiga adalah Uskup Zumarraga sendiri.
Mukjizat2 sering terjadi di sekitar tilma yang “dicap” dengan gambar Maria, terutama penyembuhan Ilahi bagi mereka yang sakit keras. Sehari setelah Juan Diego menyerahkan mawar2 dan tilma itu, ia bersama Mgr. Zumarraga mendatangi bukit Tepeyac. Sebenarnya Juan ingin sekali pulang dan menengok pamannya di rumah. Ia teringat kata2 Maria bhw pamannya sudah sembuh dari sakit keras. Pamannya memang sembuh dari sakitnya, dan ia sendiri mendapat penglihatan Maria. Pada Bernardino, paman Juan Diego, Maria menyebut diriNya sebagai Bunda Suci dari Guadalupe. Semenjak saat itulah gambar Maria yang mengenakan pakaian wanita Indian Aztec dijuluki sebagai Maria Guadalupe
Inilah gambar Artifactnya. Berupa gambar yang “dicetak” secara ajaib pada tilma (kain mantel sederhana yang biasa digunakan oleh penduduk Indian Aztec).

Sumber: “Messenger” karya Alice Mulvey, diterjemahkan oleh admin Rahasia Otak







my life is for GOD’S WORKS