Konser Musik Brainwave

Sobat-sobat pernah menonton konser musik yang memperdengarkan musik meditasi yang telah diberikan simulasi gelombang otak? Nah pada hari Rabu 9 september 2009 kemaren Kang Didi Agephe temannya admin Rahasia Otak mengadakan konser bertajuk “Awakening: 999 Meditation Concert“. Acara akbar ini dilaksanakan di Salihara. Bukan hanya simulasi gelombang otak saja, video clip yang tampil pada background layar juga telah disisipi dengan pesan-pesan subliminal. Wah meriah sekali konsernya sob! Kang Didi telah memberitahu admin Rahasia Otak mengenai konser ini sejak akhir tahun 2008 kemaren. Berikut liputan konser tersebut oleh harian Kompas
Pada mulanya adalah air. Gambar air beriak memenuhi layar lebar di latar panggung. Para pemain musik dengan sejumlah instrumen diterpa sinar biru, serupa warna air.
Lalu, pelan-pelan, terdengar suara air bergemericik. Air itu kemudian berkecipak, lantas menggerojok seperti dituang dalam bak. Semua bebunyian air itu bertautan, saling menyahut, seakan dipermainkan dalam irama teratur. Sesekali iramanya mengalun pelan.
Para penonton diajak menelisik berbagai bunyi air yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari. Dalam irama diulang-ulang, bebunyian itu menciptakan kesadaran akan dunia air yang bening, tenang, dan teduh. Begitu terseret masuk ke dalamnya, kita segera larut dalam kedamaian.
Repertoir berjudul ”Water” itu membuka pentas ”Awakening: 999 Meditation Concert” oleh Diddi Agephe dan kelompok Prabbu Shatmata di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (9/9) malam. Kelompok ini didukung Diddi Agephe (komposer, keyboard, soundscape), Bintang Indrianto (bas), Epi Martison (perkusi), Nanang Hape (rebab, sitar, vokal), Ammir Agephe (perkusi), dan Yuyun (vokal).
Pertunjukan menampilkan repertoir selama hampir dua jam, sebagian besar karya Diddi. Semua nomor itu diramu dengan memanfaatkan bebunyian dari alam (seperti air, udara, api, dan tanah) dan dipadukan dengan suara elektronik dari software synthesizer serta suara instrumen musik tradisional Nusantara. Ramuan itu diperkaya lagi dengan memasukkan khazanah vokal dari Tibet, Mongolia, Arab, dan Jawa.
Hampir semua repertoir menghadirkan suasana semesta. Ambil contoh lagi nomor ”Fire” atau ”Manipura”. Berbeda dengan repertoir ”Water” yang penuh kedamaian, repertoir ini justru menyuguhkan suasana menggelora. Berangkat dari komposisi hasil racikan suara api, seperti suara retakan kayu terbakar atau desau api menjilat-jilat, penonton diajak masuk untuk menyelami gelora yang dinamis dalam diri masing-masing.
Pada nomor ”New Earth” dihadirkan ramuan irama dari berbagai bunyi elemen tanah. Suara-suara itu disisipi bacaan tartil Al Quran yang indah. Keselarasan antara semua unsur itu melahirkan keheningan. Dalam hening, kita dirangsang untuk menemukan diri sendiri.
Frekuensi
”Awakening: 999 Meditation Concert” akhirnya mengajak kita semua untuk mengambil jeda sejenak dari rutinitas hidup. Bebunyian, irama, suasana, juga panduan visual di layar, semuanya mengepung kesadaran yang merangsang kita untuk mengunjungi relung-relung diri sendiri. Kita dipertautkan kembali dengan diri sendiri, semesta, dan kesadaran akan Tuhan.
Tidak terlalu berlebihan jika Diddi Agephe menyebut pentas itu sebagai musik meditasi. Soalnya, berbagai bebunyian dalam pertunjukan itu memang diselaraskan dengan frekuensi atau gelombang alpha, delta, dan theta yang menuntun otak manusia untuk meningkatkan kesadaran spiritual. Penonton mudah larut dalam irama musik, memperoleh rasa damai, tenang, bahkan beberapa orang tampak mengantuk atau malah sempat terlelap sejenak.
”Organ-organ tubuh manusia, seperti otak, jantung, atau hati, punya gelombang sendiri-sendiri. Saya berusaha menyelaraskan komposisi bunyi pada gelombang itu sehingga bisa merangsang penonton untuk merasakan gerak energinya sendiri,” kata Diddi, sang komposer.
Pada nomor ”Anahata” atau Udara, misalnya, dia mengajak penonton untuk berkonsentrasi merasakan cakra jantung di dada. Di tengah alunan musik mirip embusan angin lembut, penonton diminta memegang jantung masing-masing. Diddi lantas menuntun mereka untuk lebih santai, membebaskan diri, dan merasakan energi diri sendiri.
Pentas ini bagaikan undangan bagi siapa saja untuk melakukan perjalanan ke dalam diri. Kita dipacu untuk melampaui riuh-rendah rutinitas hidup, lantas membuka bagian-bagian spiritual dalam diri kita yang selama ini mungkin kerap terabaikan.
Musik meditasi
Diddi Agephe menekuni musik dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan IKIP Negeri Jakarta. Dia juga belajar pada sejumlah musisi kontemporer, jazz, dan seniman tradisional di Tanah Air. Selama ini dia lebih dikenal lewat musik untuk film dan sinetron, dan sering manggung bersama sejumlah musisi dan penyanyi.
Sejak tahun 1987, dia tertarik menekuni musik meditasi dengan belajar dari sana-sini. Dia merancang komposisi musik untuk kebutuhan meditasi dengan brainwave dan innervoice. Karya- karyanya kemudian memang menyempal dari tren musik umum atau pop, dan lebih kental dengan nuansa spiritual.
Dalam berkarya, lelaki gundul ini membebaskan diri dari batasan musik. Dia bebas menggali kekuatan bunyi dari berbagai instrumen. Pada pentas di Salihara malam itu, misalnya, dia memanfaatkan instrumen bekas, seperti kaleng bekas wadah kerupuk atau pelek ban mobil.
Sumber: Kompas diambil dari liputan berjudul: air, udara, tanah dan api









Pak apakah ada musik untuk otak tengah anak-anak