Powered by Max Banner Ads 

Meditasi Kristiani

:beer:  Banyak yang menilai mang Ucup ini adalah Kristen yang murtad moso
sih umat Kristen mo diajakin samedi, bahkan mengucapkan mantra
segala macem, emangnya mang Ucup sekarang ini udah alih agama jadi
penganut aliran kejawen begitu ? Tidak, hanya mereka yang menilai
saya demikian, mereka itu sebenarnya kagak nyaho alias ora ngerti
makna dari samedi maupun mantra tsb.

Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sansekerta atau dalam
bahasa Ibrani = hagah. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb
diterjemahkan sebagai Meditation dan dalam bahasa Indonesia =
merenungkan. Dalam Alkitab sendiri tercantum 20 kata meditasi. Yosua
1:8 … but you shall meditate in it day and night – Mazmur 1:1-2
blessed is the man… And in His law he meditates day and night.

Rasul Paulus sendiri mengusulkan Timotius untuk melakukan meditasi 1
Tim 4:15 “Meditate upon these things….”; dalam bahasa Yunani =
meletao (to meditate).

Jadi tidak bisa dipungkiri, bahwa meditasi itu alkitabiah. Meditasi
tertua yang diketahui dilakukan oleh orang Kristen pada abad ke
empat adalah meditasi “Lectio Divina” = Pembacaan Suci.

Meditasi tsb dibagi dalam empat tahapan:

  • Lectio = membaca Alkitab
  • Meditatio = merenungkannya sambil bermeditasi
  • Oratio = mengucapkannya
  • Contemplatio = menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah untuk bisa menyatu dengan Dia

Orang dapat mencapai derajat meditasi tertinggi apabila mereka sudah
dapat meleburkan dirinya dengan Sang Pencipta menjadi satu atau
manunggal yang lebih dikenal juga sebagai satori, zen, dhyana, fana
bi´l-fana” dan hal ini sebenarnya sudah tercantum dalam Alkitab.

Meditasi Kristen harus dibedakan dengan meditasi lain yang dilakukan
oleh para penganut kebatinan maupun agama-agama lainnya. Meditasi
Kristen itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah
(theosentris), sedangkan meditasi Zen tertuju pada penyatuan diri
dengan kekuatan semesta melalui pencerahan batin (antroposentris).

Meditasi bisa dibagi dalam dua tingkatan

  1. tingkatan pertama ialah ialah mengisolir sang aku dengan cara penyendirian ini disebut “En-stase”
  2. tingkat kedua yang disebut “Ex-tase” keluar dari sang aku

Apabila sang aku sudah keluar, atau sudah mencapai tingkat ex-tase,
maka raga kita dengan mudah di isi oleh yang lain, entah itu oleh
roh kudis seperti halnya dalam pertunjukan “Kuda lumping” dsb-nya
ataukah akan di isi oleh Roh Kudus tergantung kepada siapa kita
memusatkan diri kita.

Oleh sebab itulah juga banyak umat Kristen berpandangan negatif
terhadap meditasi, karena adanya kekhawatiran dimana pada saat jiwa
kita di kosongkan roh kudis lah yang akan masuk!

Memang harus diakui bahwa meditasi dengan cara mengosongkan pikiran
akan bisa mencapai satu tingkatan sehingga mampu menangkis segala
macam godaan duniawi, bahkan sampai melupakan pancainderanya
sendiri, walaupun demikian ia tidak akan berdaya untuk menyebabkan
turunnya berkat dari Allah.

Sebab iman kepada Tuhan bukanlah merupakan hasil prestasi kerja
manusia oleh konsentrasi pikiran dan olah rasa melalui meditasi,
melainkan anugerah dari Tuhan itu sendiri. Dan anugerah itu
diturunkan dan diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan, jadi bukannya
dari hasil usaha manusia itu sendiri entah itu melalui meditasi atau
cara apapun juga.

Perkataan “Mantra” itu diserap dari bahasa Sansekerta (Man =
berpikir; manas = pikiran) dan “Tra” = alat, jadi kalau
diterjemahkan secara bebas kata Mantra itu sama seperti juga “alat
untuk mengingat”.

Dan sebagai mantera yang diucapkan maupun di ingat secara berulang-
ulang oleh umat Kristen bukannya “Om Mani Padme Hum” melainkan
Firman Allah.

Kita bisa mendapatkan ketenangan melalui meditasi, karena kita akan
bisa melupakan kekhawatiran maupun problem sehari-hari kita dan
sebagai gantinya kita berusaha untuk mengingat Firman Allah dengan
mengucapkan Firman tsb secara berulang-ulang. Semakin sering kita
merenungkan firman Allah (baca Mantra), semakin tidak perlu kita
khawatir. Itulah ucapan Mantra nya dari umat Kristen.

Seperti juga yang diucapkan oleh Daud dalam doanya “Let the words of
mouth and the MEDITATION of my heart Be acceptable in Your sight, “O
Lord, my strength and my redeemer.” Mazmur 19:14 Mudah-mudahan
Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN,
gunung batuku dan penebusku.

Rick Warren, penulis buku The Purpose-Driven Life,
menulis: “Kekhawatiran adalah apabila Anda memikirkan sebuah masalah
berulang-ulang. Akan tetapi apabila Anda merenungkan firman Allah
berulang-ulang, itu berarti Anda bermeditasi. Maka jika Anda bisa
merasa khawatir, berarti Anda pun bisa bermeditasi!”

Semakin sering kita merenungkan firman Allah, semakin tidak perlu
pula kita khawatir. Dalam Mazmur 23, Daud merenungkan Sang Gembala
Agung, sehingga ia tidak merasa khawatir. Di kemudian hari, Allah
memilih Daud untuk menggembalakan umat-Nya (Mazmur 78:70-72). Allah
memakai orang-orang yang dengan jujur berkata, “Tuhan adalah
gembalaku”

Pada saat berdoa kita berbicara kepada Allah sedangkan pada saat
kita bermeditasi Allah berbicara kepada kita.

Dan tanyalah kepada diri sendiri kapankah Anda terakhir kalinya mau
meluangkan waktu sejenak khusus untuk mendengarkan suara-Nya Dia
yang lembut dan penuh kasih ?

Maranatha
Mang Ucup

Sumber: email dari mang Ucup alias Jusuf Randy bertanggal 22 Maret 2006, judul aslinya: Yuk Samedi dan Bermantra – ria!


 Powered by Max Banner Ads