Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur (1)

Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menemukan sebuah buku agama Buddha di perpustakaan sekolah saya yang menyinggung bagaimana Yesus menghabiskan masa mudanya dengan bermeditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spritualitas dari dunia Timur.
Hal ini sangat menarik bagi saya sebab Perjanjian Baru tidak ada mengisahkan hal tersebut. Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Allah.
Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru. Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ? Pertanyaan ini memenuhi pemikiran saya di masa itu. Untuk menjawab hal tersebut ternyata adalah sangat mudah. Alkitab menyediakan jawabannya ! Saya menemukan jawaban tersebut dalam Injil Markus 6:1-6a. Dan apa yang saya tulis waktu itu mungkin adalah salah satu karya apologetika saya yang pertama. Tidak saya sangka saya harus mengulanginya lagi sepuluh tahun kemudian. Semuanya ini saya lakukan sebab rasul Petrus pernah berpesan demikian dalam I Petrus 3:15-16. “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan ! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang memnita pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah-lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka tersebut.” (I Petrus 3:15-16)
Apa yang mendorong saya untuk menulis kembali adalah karena terbitnya sebuah buku berjudul “Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha” karangan Anand Krishna. Apa yang saya tulis disini bukan merupakan resistansi atau penolakan terhadap apa yang dipahami dan dipercaya oleh Anand Krishna. Saya percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai interpretasi masing-masing dan bukan pula hak saya untuk memaksakan pembaca mana interpretasi yang paling benar.
Yang saya lakukan melalui tulisan ini adalah pertama untuk meluruskan hal-hal yang bersifat kontradiktif terhadap apa yang telah tertulis dalam Alkitab dan kedua untuk menyampaikan fakta sejarah dengan sebenar-benarnya. Saya sangat setuju dengan hal yang terpikir oleh Anand Krisha bahwa bangsa Indonesia berhak atas “the best available source” dan yang paling otentik. Kenyataannya adalah jarang sekali ada orang mau menulis mengenai hal ini. Oleh sebab itu sekarang-lah saatnya bangsa Indonesia dibukakan matanya. Tetapi masalahnya adalah “the best available source” tidak identik dengan sumber yang paling otentik. Disini kita harus pandai-pandai memilah mana sumber yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Mana yang merupakan karya isap jempol dan mana yang bukan. Dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk menulis ini.
Kisah Kehidupan Saint Issa Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de Jesus pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut.
Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India – sekarang Kashmir). Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.
Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut “tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali,” dan ia harus menyusun “semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut”.[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar. Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa “Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina.”[3]
Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut : Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]
Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahma “mengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka.“[5]
Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini. Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. “Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci.” Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia.”[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari.
Menurut manuskrip Himis ini, mendekati akhir tahun ketiga pengajaran Issa di Israel, Pilatus menjadi begitu khawatir akan popularitas Issa yang menyebar bak jamur di musim hujan sehingga ia menyuruh salah seorang mata-matanya untuk melemparkan tuduhan terhadap Issa. Issa kemudian dipenjara dan disiksa oleh para prajurit supaya mengakui apa yang mereka tuduhkan itu. Para ulama Yahudi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Issa. Issa tetap dikenakan tuduhan dan Pilatus menjatuhkan hukuman mati terhadapnya. Menjelang matahari terbenam penderitaan Issa berakhir. Jiwanya meninggalkan tubuhnya, kembali berkumpul dengan keilahiannya. Sementara itu Pilatus menjadi takut karena perbuatannya itu dan menyerahkan jenazah orang suci itu kepada orangtuanya, yang kemudian menguburkannya di dekat tempat penyaliban itu.
Tiga hari kemudian gubernur itu memerintahkan para prajuritnya untuk memindahkan jenazah Issa untuk dikuburkan di lain tempat. Ia khawatir kuburan Issa akan menjadi tempat ziarah yang ramai. Hari berikutnya orang-orang menemukan kuburan itu terbuka dan kosong. Seketika itu pula kabar burung menyebar bahwa Hakim Agung telah mengirim malaikat-malaikatnya membawa jenazah Issa dimana Roh Tuhan pernah bersemayam dalam dirinya semasa hidupnya.[7]
Selanjutnya, beberapa pedagang dari Palestina yang singgah di India bertemu dengan sekelompok orang tertentu yang mengenali Issa sebagai seorang murid biasa yang mempelajari bahasa Sansekerta dan Pali selama masa mudanya di India. Pedagang-pedagang itu lalu menceritakan bagaimana kematian Issa di tangan Pilatus. Dan bila cerita ini disimpulkan, kisah kehidupan Saint Issa ditulis dalam sebuah gulungan lontar – oleh penulis tidak dikenal – kira-kira tiga atau empat tahun kemudian. Gulungan lontar inilah yang ditemukan oleh Notovitch di Biara Himis. Setelah dikerjakan oleh Notovitch, Kisah kehidupan Saint Issa – demikian ia menyebutnya – mengandung 244 paragraf pendek yang tersusun ke dalam 14 bab.
Reaksi awal terhadap Notovitch Penerbitan buku Notovitch ini keruan saja mendapatkan reaksi yang keras dari banyak pihak. Kritikus yang pertama kali mengecam Notovitch adalah F. Max Muller, seorang orientalis senior dari Universitas Oxford. Muller adalah seorang pecinta filosofi Timur dan pernah tinggal di India selama beberapa tahun. Pada bulan Oktober 1894, Muller menulis The Nineteenth Century, sebuah paper akademistik yang berisi penolakan terhadap temuan Notovitch. Muller menelurkan empat argumen yang patut disimak :
Pertama, Muller mengatakan bahwa manuskrip tua semacam itu seharusnya terdapat dalam Kanjur dan Tanjur yakni katalog atau daftar yang mencantumkan seluruh karya literatur Tibet. Kenyataannya, manuskrip yang dimaksud Notovitch sama sekali tidak tercantum dalam katalog tersebut dan sama sekali tidak dikenal sebelumnya.
Kedua, Muller menolak pendapat Notovitch tentang asal mula manuskrip itu. Ia menanyakan bagaimana para pedagang Yahudi itu secara kebetulan bertemu, di antara jutaan penduduk India, orang-orang yang mengenal Issa sebagai seorang murid biasa, dan tambah lagi “bagaimana orang-orang yang mengetahui Issa itu bisa segera mengenali ia sebagai orang yang sama dengan yang baru saja dibunuh Pilatus.”[8]
Ketiga, Muller menunjukkan sebuah surat dari seorang wanita Inggris (bertanggal 29 Juni 1894) yang mengunjungi Biara Himis dan menanyakan tentang Notovitch di hadapan 800 lama biara tersebut. Tulisnya, “tidak ada satu kata kebenaran pun dari seluruh cerita itu ! Tidak pernah ada orang Rusia disini. Tidak ada cerita tentang Kristus sama sekali !”[9]
Keempat, Muller mempertanyakan kebebasan Notovitch dalam mengedit dan menyusun ulang tiap-tiap ayat sekehendak hatinya yang mana hal ini tidak akan dilakukan oleh seorang sarjana literatur. Dalam hal ini memang Notovitch bukanlah seorang sarjana literatur.
J. Archibald Douglas, seorang professor di Government College di Agra, India, juga penasaran dengan temuan Notovitch ini. Ia mengambil jatah liburan tiga bulan dengan mengadakan perjalanan ke Biara Himis dengan mengikuti rute yang digunakan Notovitch. Ia menerbitkan catatan perjalanannya itu dengan judul The Nineteenth Century (Juni 1895), yang kebanyakan berisi interview dengan kepala lama di biara tersebut. Sang lama mengaku bahwa ia telah menjadi kepala lama selama 15 tahun, yang berarti semestinya ia adalah kepala lama yang dijumpai Notovitch waktu itu. Namun kepala lama itu mengatakan bahwa selama 15 tahun itu, ia tidak pernah menjumpai seorang Eropa dengan kaki patah mencari pertolongan di biaranya (menurut Notovitch saat itu ia tengah menderita patah kaki dan berusaha mencari pertolongan terdekat).
Ketika ditanya apakah ia tahu tentang buku-buku di dalam biara-biara Buddha di Tibet yang mengisahkan kehidupan Issa, ia menjawab “Saya tidak pernah mendengar adanya manuskrip yang memuat nama Issa, dan saya yakin dan mengatakannya dengan jujur bahwa yang seperti itu tidak pernah ada. Saya telah menanyakannya kepada lama senior kami di biara lain di Tibet, dan mereka tidak tahu menahu tentang buku atau manuskrip yang memuat nama Issa.”[10] Ketika kutipan buku Notovitch dibacakan kepada lama tersebut, ia menanggapinya, “Bohong, bohong, bohong, semuanya bohong !”[11] Interview tersebut ditulis dan disaksikan oleh sang lama, Douglas, dan seorang penerjemah dan distempel dengan cap resmi biara.
Kredibilitas Notovitch keruan saja menjadi rusak gara-gara investigasi Douglas tersebut. Waktu penulisan manuskrip Himis Manuskrip Himis menurut perkiraan Notvitch ditulis 3 atau 4 tahun setelah peristiwa penyaliban (±30 M). Ini berarti manuskrip Himis ditulis jauh lebih awal daripada keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang rata-rata ditulis 3 atau 4 dekade kemudian. Kapan manuskrip Himis ditulis sebenarnya jauh dari kepastian. Perkiraan Notovitch sama sekali tidak didukung bukti historis apa pun. Meski begitu dari isi manuskrip Himis itu sendiri kita bisa memperkirakan kapan ia ditulis. Manuskrip Himis menceritakan bahwa Issa lahir di tengah-tengah masa penjajahan kerajaan Romawi.
Dalam manuskrip itu juga disebutkan secara jelas bagaimana bangsa penjajah itu menghancurkan Bait Allah-nya orang Israel dan bagaimana mereka memperbudak bangsa Israel. Dan pada satu masa datanglah para penyembah berhala dari negeri Roma di seberang lautan. Mereka menaklukan bangsa Ibrani dan menunjuk dari antara mereka pemimpin militer untuk memerintah mereka di bawah wewenang Kaisar. Mereka menghancurkan bait suci, mereka memaksa penduduknya untuk berhenti memuja Allah mereka yang tidak kelihatan itu, dan memaksa mereka untuk mengadakan korban persembahan untuk para berhala. Para bangsawan dipaksa untuk menjadi prajurit, perempuan-perempuan dipisahkan dari suaminya, dan masyarakat kelas bawah dijadikan budak, ribuan jumlahnya dikirim ke seberang lautan. (The Life of Saint Issa 3:8-10) Nah di tengah-tengah masa penderitaan inilah Issa justru dilahirkan, demikian menurut manuskrip Himis. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa peristiwa penghancuran Bait Allah di Yerusalem terjadi pada tahun 70 Masehi. Sedangkan pengusiran bangsa Israel dari Palestina (yang juga disertai dengan perbudakan) oleh otoritas Romawi baru dimulai setelah diberangusnya pemberontakan Bar Koseba pada tahun 135 Masehi. Jadi dengan demikian penulis Himis jelas telah salah menempatkan kejadian. Ia telah menggeser frame waktu masa hidup Issa tujuh sampai sepuluh dekade ke depan ! Disini kita menemukan kejanggalan. Apakah penulis Himis tidak tahu bahwa Yesus lahir sebelum Bait Allah dihancurkan ? Apakah ia juga tidak tahu bahwa Yesus berulang-kali keluar masuk Bait Allah untuk mengajar ? Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa di masa hidupnya Yesus telah meramalkan tentang kehancuran Bait Allah (Bd. Mat 24:1-2, Mrk 13:1-2, Luk 21:5-6)
Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa manuskrip Himis paling awal ditulis pada abad kedua Masehi. Jadi tidak benar bahwa manuskrip itu ditulis 3 atau 4 tahun sesudah peristiwa penyaliban. Sumber cerita manuskrip Himis : sumber Yahudi ? Penulis Himis mengakui bahwa sumber cerita yang ia (atau mereka ?) tulis berasal dari para pedagang yang baru saja tiba dari Israel.






