Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur (2)

Dalam kata pengantar edisi London Notovitch menolak anggapan Max Muller yang menyebut mereka adalah para pedagang Yahudi. Menurut Notovitch mereka boleh jadi adalah pedagang-pedagang India yang beroleh kesempatan menyaksikan peristiwa penyaliban Issa. Hal ini dikatakan Notovitch dalam menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa pedagang-pedagang itu bertemu – di antara jutaan penduduk India – dengan orang-orang yang mengenal Issa muda yang tengah menimba ilmu. Muller juga mempertanyakan bagaimana pula orang-orang itu bisa segera memastikan bahwa Issa yang disalib adalah orang yang sama dengan Issa yang mereka kenal dulu.
Zaman dahulu tidaklah sama seperti zaman sekarang yang merupakan era informasi dimana satu peristiwa dengan cepat dapat diketahui di seluruh dunia. Pada masa itu sangat diragukan sekali bagaimana orang-orang itu mengenali Issa. Jangan-jangan Issa yang mereka kenal adalah orang yang berbeda dengan yang disalibkan Pilatus. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila nanti kita temui banyak kejanggalan-kejanggalan dalam manuskrip Himis. Pembelaan Notovitch ini sebenarnya juga tidak mampu menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa kedua pihak itu bertemu di tengah jutaan penduduk India. Seandainya perkiraan Notovitch ini benar, itu adalah sebuah faktor kebetulan yang luar biasa.
Sebagai perbandingan, kira-kira pada masa hidup Yesus hiduplah seorang filosof Yahudi yang paling terkenal, Philo dari Alexandria (±15 SM – ±50 M). Jadi dalam satu masa hiduplah dua orang terkemuka. Tetapi keduanya sangat diragukan pernah saling bertemu. Philo tidak pernah menulis tentang Yesus dalam buku-bukunya dan dalam Perjanjian Baru juga tidak ada catatan tentang Philo. Hal ini bisa dimengerti karena baik Philo maupun para penulis Perjanjian Baru hidup di zaman belum ada radio, belum ada televisi, belum ada telepon. Namun bukan berarti mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Disini saya hanya hendak mengajak pembaca membandingkan bagaimana kecilnya peluang di masa itu untuk saling berhubungan satu sama lain. Apalagi jika hal itu terjadi di India, negeri yang dipadati oleh jutaan penduduk – bahkan pada masa itu. Saya sendiri menduga bahwa penulis Himis setidaknya mempunyai atau dipengaruhi oleh sumber literatur Yahudi. Hal ini nampak dari bagaimana manuskrip Himis menuturkan cerita tentang Musa.
Kisah tentang kepangeranan Musa kemungkinan besar diambil dari kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab talmud dan targum Yahudi atau setidaknya penulis Himis pernah mendengarnya dari seorang Yahudi. Kisah kepangeran Musa bukanlah hal yang baru. Jadi keliru bila Anand Krishna memandangnya sebagai suatu temuan baru dan menarik (Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha, p.35). Nama Musa dalam bahasa Mesir, moshe artinya seorang anak. Yang menarik adalah potongan kata moshe banyak ditemukan (dan hanya ditemukan) pada nama-nama Firaun dari Dinasti ke-18, seperti Ra-moshe (“putra Ra Yang Mulia”
, Ach-moshe (Ahmose; “putra bulan,” atau “sang bulan telah lahir”
dan Toth-moshe (Thutmose; “putra Toth”
. Disini kita melihat bahwa penamaan Musa ini dilatar-belakangi oleh proses pengadopsian Musa yang dilakukan oleh putri Firaun, Bithiah [12].
Sumber lain menyebutkan nama putri Firaun itu adalah Tarmuth [13] atau Thermuthis [14]. Ini kemungkinan adalah putri Ne-termut dalam teks Mesir kuno. Dengan diangkatnya Musa menjadi anak putri Firaun itu, otomatis Musa memiliki hak-hak yang sama dengan para pangeran-pangeran Mesir lainnya. Musa dididik dan dibesarkan menurut aturan istana. Hal ini merupakan cerita yang sudah umum di kalangan orang Yahudi bahkan sejak zaman Yesus. Coba perhatikan bagaimana Stefanus mengisahkan riwayat Musa dalam Perjanjian Baru. Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. (Kis 7:22)
Dalam kitab Sephir ha-Yasher [15] juga dikisahkan secara detil bagaimana Musa hidup dan dibesarkan di antara putra-putra raja lainnya. Bahkan di usianya yang ke-27, Musa telah diangkat menjadi raja suku bangsa Kush, sebuah suku bangsa yang hidup di belahan selatan Mesir (Nubia ?). Jadi kisah-kisah kepangeranan Musa sebenarnya sudah merupakan kisah yang umum dan lazim di kalangan bangsa Yahudi. Berikut ini saya kutip ayat-ayat dari kitab tersebut. Dan Musa tinggal di istana Firaun dan menjadi putra Bathia, putri Firaun, dan Musa dibesarkan bersama-sama anak-anak raja. (Sephir ha-Yasher 68:32) Dalam tahun kelimapuluh-lima masa pemerintahan Firaun, raja Mesir, yaitu pada tahun keseratus-limapuluh-tujuh bangsa Israel menetap di Mesir, memerintahlah Musa di negeri Kush. Musa berumur duapuluh-tujuh tahun ketika ia mulai memerintah atas negeri Kush, dan empat puluh tahun lamanya ia memerintah. (Sephir ha-Yasher 73:1-2)
Kisah-kisah kehidupan Yesus yang ganjil Masa-masa lowong kehidupan Yesus yang tidak pernah diceritakan dalam Injil, yakni mulai dari kunjungannya ke Yerusalem pada usia 12 hingga ia memulai pelayananNya di sekitar usia 30 seringkali memancing orang untuk berusaha mengisinya dengan kisah-kisah karangan mereka sendiri. Notovitch jelas bukan satu-satunya orang yang melakukan hal itu. Sejak dari abad kedua Masehi, banyak orang berusaha membuat sendiri “injil menurut mereka”. Puluhan injil gnostik bermunculan pada masa itu dengan membawa-bawa nama para rasul sebagai si pengarang, misalnya injil Petrus, injil Paulus, injil Bartolomeus, dan seterusnya. Disini saya tidak mungkin untuk menceritakannya satu per satu karena terlalu banyak, jadi baiklah kita lewati saja.
Kisah kehidupan Yesus juga tidak saja menjadi bahan cerita milik orang Kristen semata. Dari kalangan masyarakat Yahudi sendiri timbul sebuah karya tulisan derogatori berjudul Toledoth Yeshu (Kisah kehidupan Yesus). Bila ditinjau dari bahasa dan gaya penulisan yang digunakan, Toledoth Yeshu ini kira-kira ditulis pada abad ke ke-enam Masehi. Isinya kurang lebih hanya berisi parodi dan pelecehan terhadap kisah kehidupan Yesus yang sebenarnya.
Berikut ini saya sajikan penggalan awal dari Toledoth Yeshu : Pada tahun 3671 pada masa raja Jannaeus, kemalangan besar menimpa bangsa Israel ketika muncul seorang pria bermartabat rendah dari suku Yehudah bernama Yusuf Pandera. Ia tinggal di Betlehem, di Yudea. Di dekat rumahnya tinggallah seorang janda dan putrinya yang cantik dan masih perawan bernama Miriam. Miriam ini telah bertunangan dengan Yochanan, dari keturunan raja Daud, seorang yang takut akan Tuhan dan taat terhadap Torah. Suatu ketika menjelang hari Sabat, Yusuf Pandera, gagah bak seorang pahlawan dalam penampilannya memandang Miriam dengan penuh nafsu, mengetuk pintu kamar Miriam dan menipunya dengan berpura-pura menjadi tunangannya, Yochanan. Meskipun begitu, Miriam menjadi terkejut atas tingkah-laku yang tidak layak ini dan terpaksa menyerah di luar keinginannya. Setelah itu, ketika Yochanan datang menemuinya, Miriam menunjukkan keheranannya atas tingkah-laku Yochanan yang berbeda. Saat itulah mereka berdua sadar akan kejahatan yang telah dilakukan Yusuf Pandera dan kekeliruan besar yang telah dilakukan Miriam.
Kemudian Yochanan datang menemui Rabbi Shimeon bin Shetah dan mengadukan masalah percabulan ini. Namun karena tidak adanya saksi mata untuk menghukum Yusuf Pandera dan Miriam yang hamil, Yochanan pergi menyingkir ke Babylonia. Miriam melahirkan anak itu dan menamainya Yehoshua, mengikuti nama saudara lelakinya. Nama ini kemudian dipelesetkan menjadi Yeshu. Pada hari kedelapan ia disunat. Ketika ia sudah cukup besar, anak laki-laki itu dibawa Miriam ke sebuah sekolah agama untuk belajar adat-istiadat Yahudi. Keakuratan Toledoth Yeshu dalam menyajikan data jelas sama sekali tidak dapat dipercaya.
Toledoth Yeshu menulis bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan raja Jannaeus yaitu pada tahun 3671 menurut kalendar Yahudi atau tahun 90 Sebelum Masehi, jadi hampir seabad sebelum kelahiran Yesus yang sebenarnya! Dalam Toledoth Yeshu setting kehidupan Yesus ini bergeser kepada zaman dinasti Hasmonea yakni pada masa pemerintahan ratu Helene (Salome). Jadi sama sekali tidak ada Herodes, tidak ada kaisar Agustus, dan tidak ada Pontius Pilatus!
Pada abad kesembilanbelas (jadi hampir bersamaan dengan Notovitch) terbit sebuah “injil” yang dinamakan The Aquarian Gospel of Jesus The Christ yang ditulis oleh seorang pendeta militer yang pernah bertugas dalam Civil War, Levi Dowling (1844-1911). Judul halaman “injil” ini menyandang kalimat demikian : “Disalin dari Kitab Kenangan Ilahi yang dikenal sebagai Catatan Akasha”. Disini, tidak seperti halnya Notovitch yang menyajikan kesimpulan berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno, Dowling mengklaim bahwa bukunya berdasarkan suatu “inspirasi” atau “penerangan” yang di kalangan kaum New Age dikenal dengan sebutan Catatan Akasha.[16]
Injil yang pertama kali diterbitkan tahun 1911 ini lebih banyak berfokus kepada pendidikan dan perjalanan Yesus. Setelah belajar dari Rabbi Hillel, Yesus menurutnya menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya dengan belajar bersama-sama para Brahma dan kaum Buddhis. Yesus dikatakan menjadi tertarik untuk belajar di negeri Timur setelah Yusuf, ayahnya, menjamu Pangeran Ravanna dari India. Selama kunjungannya, Ravanna sangat terkesan dengan Yesus kecil dan ia memohon kepada Yusuf supaya ia boleh menjadi pelindung anak kecil itu, dan supaya ia boleh membawanya ke negeri Timur dimana Yesus bisa belajar banyak ilmu dari para Brahma. Sebaliknya Yesus kecil pun menunjukkan ketertarikkannya, dan setelah berhari-hari akhirnya orangtuanya memberi izin. Maka begitulah “Yesus diterima sebagai seorang murid di sebuah kuil di Jagannath, dan disitulah ia belajar kitab Veda dan hukum Mani.”[17]
Yesus kemudian mengunjungi kota Benares di tepi sungai Gangga. Selama disana, “Yesus berusaha mempelajari seni penyembuhan Hindu, dan menjadi murid Udraka, tabib Hindu yang paling ternama“.[18] Dan Yesus “terus bersama Udraka sampai ia telah menguasai semua ilmu darinya yakni seni penyembuhan Hindu.”[19] Levi melanjutkan kisah Yesus dengan mengisahkan perjalananNya ke Tibet dimana Yesus dikatakan bertemu dengan Meng-ste, orang bijak terbesar dari negeri Timur.” Dan Yesus boleh mempergunakan seluruh manuskrip-manuskrip suci dan, dengan bantuan Meng-ste, membacanya semua.”[20] Yesus akhirnya tiba di Mesir, dan – mungkin ini adalah puncak dari masa-masa lowong itu – ia bergabung dengan “Persaudaraan Suci” di Heliopolis. Selama disana, ia berhasil melalui tujuh tingkatan inisiasi – Ketulusan, Keadilan, Iman, Kecintaan Sesama Manusia, Kepahlawanan, Kasih Ilahi, dan KRISTUS. Setelah ditahbiskan menjadi Kristus barulah Yesus kembali ke Israel dan melayani disana selama 3 tahun sebelum akhirnya menjalani penyaliban. Selain Dowling, masih ada lagi seseorang yang mengaku mampu membaca Catatan Akasha.
Edgar Cayce mengaku telah membaca 16000 catatan sepanjang hidupnya dimana 5000 di antaranya berbicara tentang agama. Dari catatan Akasha inilah Cayce mengisahkan masa-masa lowong kehidupan Yesus. Manusia yang kita kenal sebagai Yesus, kata Cayce, mempunyai 29 inkarnasi sebelumnya. “Ini termasuk seorang pemuja matahari, pengarang Kitab Kematian (Mesir Kuno), dan Hermes. Yesus juga adalah Zend (ayah Zoroaster), Amilius (seorang penduduk Atlantis), dan figur-figur sejarah masa lampau lainnya.”[21] Inkarnasi lain termasuk adalah Adam, Yusuf, Yosua, Henokh, dan Melkisedek. Jiwa ini belum menjadi “Kristus” hingga inkarnasi ketiga-belasnya sebagai Yesus dari Nazaret.
Alasan mengapa Yesus mesti melalui begitu banyak inkarnasi adalah bahwa ia – sebagaimana makhluk manusia lainnya mempunyai “hutang karma” (dosa) yang harus dibayar. Lanjutnya, Yesus mendapat pendidikan yang luas. Sebelum usia 12 tahun, ia telah belajar seluruh hukum Yahudi. “Mulai usia 12 hingga 15 atau 16 tahun, ia belajar ilmu kenabian dari Judy, seorang guru Essene di rumah sang guru di Karmel. Kemudian Yesus memulai pendidikannya di luar negeri, mula-mula di Mesir untuk beberapa waktu, lalu ke India selama tiga tahun, dan terakhir ke Persia. Dari Persia ia dipanggil pulang ke Yudea karena Yusuf wafat, selanjutnya pergi ke Mesir untuk menyelesaikan persiapannya sebagai seorang guru.”[22] Selama pendidikannya itu, Yesus belajar dari banyak guru di antaranya Kahjian di India, Junner di Persia, dan Zar di Mesir. Ia juga mempelajari ilmu penyembuhan, pengontrolan cuaca, telepati, perbintangan, dan ilmu-ilmu cenayang lainnya. Ketika pendidikannya selesai, ia kembali ke negeri asalnya dimana ia melakukan “mukjizat-mukjizat” dan mengajar orang banyak selama tiga tahun.
Kisah lain mengenai kehidupan Yesus juga dipublikasikan oleh sebuah organisasi Freemason bernama Rosicrucian AMORC (USA). Organisasi ini mengklaim menyimpan tradisi dan ajaran-ajaran kuno dari Persaudaraan Essene yang eksis di Palestina antara abad kedua Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Dr. Lewis Spencer, pimpinan Rosicrucian untuk Amerika Utara dan Selatan, dalam bukunya, The Mystical Life of Jesus, menuliskan kisah kehidupan Yesus pada masa-masa lowong itu. Ia mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak mati di kayu salib tetapi jatuh pingsan dan tersadar dari pingsannya itu ketika berada di dalam kubur. Ia kemudian dengan diam-diam pergi ke sebuah tempat persembunyian di Galilea [23].
Ia naik ke surga bukan dalam bentuk fisik tetapi melalui pengalaman mistis dan kejiwaan. Ia kemudian dikuburkan di Gunung Karmel (Palestina). Jenazahnya tersimpan di dalam sebuah kubur selama beberapa abad hingga akhirnya dipindahkan ke sebuah makam rahasia, yang dijaga dan dilindungi oleh saudara-saudara Essene-Nya.[24] S
atu lagi kisah tentang Yesus yang bersumber dari kaum Freemason adalah buku yang berjudul Crucifixion by An Eye Witness. Dalam kata pembukaannya tertulis : Ini adalah sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris dari sebuah salinan kuno berbahasa Latin dari sebuah surat yang ditulis tujuh tahun setelah peristiwa penyaliban oleh seorang teman dekat Yesus di Yerusalem kepada seorang saudara Essene di Alexandria.
Dalam buku itu ditulis jelas bahwa Yesus adalah seorang anggota dari Persaudaraan Essene. Ia ditolong dari penyalibannya dalam keadaan pingsan dan saudara-saudara Essene-nya itu membawaNya ke sebuah tempat yang aman. Nicodemus, seorang tabib, memberikan pengobatan dengan teknik pembalsaman untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita Yesus. Setelah sembuh, Yesus diam-diam meninggalkan Yerusalem menuju ke suatu tempat di Bukit Zaitun. Enam bulan setelah itu Yesus akhirnya meninggal dunia dengan tenang di Palestina. Masih banyak lagi kisah-kisah kehidupan Yesus di luar Alkitab yang belum diceritakan disini dan apabila diceritakan semua akan membuat tulisan ini jadi begitu panjangnya.
Memang hasrat manusia untuk mengetahui kehidupan masa muda Yesus seolah-olah tidak pernah mau padam. Tidak kurang sampai abad terakhir ini masih ada orang yang berusaha untuk menyingkapnya. Seorang penulis bernama Manuel Komroff pada tahun 1953 mengadakan penelitian untuk majalah American Weekly. Ia menyajikan suatu ringkasan dari kumpulan legenda-legenda Inggris abad pertengahan yang mengisahkan tentang kunjungan Yesus ke Inggris pada masa mudaNya! Tetapi tidak banyak orang yang menanggapi hasil penelitiannya tersebut.
Makam Yesus di Kashmir Pada tahun 1891, Mirza Ghulam menyatakan dirinya Imam Mahdi. Gerakan spritualnya ini kelak kita kenal sebagai ajaran Ahmaddiyah. Ia mengajarkan bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali adalah dalam wujud manusia lain yang mempunyai karakteristik spritual yang sama denganNya. Ia mengatakan bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib tetapi melarikan diri ke Khasmir untuk mengajarkan Injil kepada keturunan 10 suku Israel yang hilang. Semuanya ini diceritakan Mirza dalam buku-bukunya Fatah-i-Islam, Tauzih-e-Maram dan Azala-e-Auham (1891). Mirza kemudian mengatakan telah menemukan makam Yesus menurut wahyu yang diperolehnya. Anehnya mula-mula ia mengatakan di Galilea, lalu di Tripoli, lalu di Suriah dan terakhir dikatakan di Srinagar, Khasmir.[25] Ratusan orang berbondong-bondong pergi ke Jalan Khanyar di Srinagar untuk melihat makam yang dikatakan Mirza itu. Mirza lebih jauh menyatakan bahwa Yesus memakai nama Yuz Asaf selama keberadaanNya di India. Hal ini menjadi semakin menarik karena Mirza menghubungkan nama ini dengan Yod Asaf, yang tidak lain tidak bukan menurutnya adalah Buddha Gautama.
Ketika Buddha mencapai penerangan dan pencerahan sempurna, sesuai dengan tradisi Buddhis Lalitavastara, ia menjadi seorang Bodhisatva. Yod Asaf adalah pelesetan dari Bod Asaf, pelafalan Bodhisatva dalam bahasa Arab. Bagaimana kata Bod Asaf berasal bisa kita telusuri demikian.
Kisah tentang Buddha Gautama pada satu masa sampai juga ke Timur Tengah (mungkin pada abad kedua). Kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mansur, para sarjana Arab dari perguruan Al Mukafah banyak sekali menerjemahkan tulisan-tulisan dalam bahasa Pali, Sansekerta, dan Persia ke dalam bahasa Arab, di antaranya adalah kisah tentang Buddha. Seiring berlalunya waktu, kisah tentang Buddha ini akhirnya kembali lagi ke negeri asalnya India, tetapi dalam bentuk lain. Nama-nama para tokohnya sudah berganti dengan nama-nama berbau Arab dan cerita-cerita di dalamnya juga sedikit banyak berubah.
Dalam seluruh karya tulis sarjana-sarjana Arab seperti kitab Marroj-ul-Zahab (956 M) karangan Al Masudi, kitab Al Fahrist (988 M) karangan Ibn Nadim, Friq Bain ul Fariq (1023 M) karangan Bullazori dan Mufatih-ul-Alum karangan Al Khawarzamis, nama Buddha telah diarabkan menjadi Bodasaf atau Yud Asab. Ia diceritakan sebagai seorang pangeran atau nabi India yang diutus Tuhan untuk mengajarkan kebajikan. Makam Bodasaf terletak di Kushangar di Gorakhpur, India. Kata Kushangar ini juga telah diarabkan menjadi Qashmir atau Kashmir.
















