Powered by Max Banner Ads 

 Powered by Max Banner Ads 
Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur Historikal atau Fiksi ? (3)

RahasiaOtak.com



« | »

Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur (3)

Akan tetapi tidak ada petunjuk sama sekali yang dimaksud Bodasaf itu adalah Yesus. Jadi apa yang dikatakan Mirza sama sekali tidak didukung oleh bukti. Dan penemuan Mirza atas makam Yesus itu juga nampaknya merupakan hasil dari menghubung-hubungkan antara Bodasaf tadi dengan seseorang yang bernama Yuz Asaf. Sebelum Mirza menyebut-nyebut makam Yesus, seorang ahli sejarah Kashmir yang terkenal Hasan Shah pernah menulis tentang makam tersebut. Menurut Hasan, makam yang letaknya bersebelahan dengan makam Khawaja Nasiruddin itu adalah makam Yuz Asaf yang datang ke Kashmir sebagai seorang duta Mesir selama masa pemerintahan Zainul Abidin (abad 15 Masehi). Yus Asap ini kemudian meninggal dan dikuburkan di Kashmir. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yakni prasasti Takht-e-Suleman dan gaya penulisan Persia (Khat-e-Thulth) diperkirakan makam tersebut dibangun pada abad kelimabelas Masehi. Disini sudah terang sekali bahwa Yus Asap adalah manusia riil, manusia biasa yang hidup di abad pertengahan. Ia bukan Yesus dan dengan begitu makam tersebut juga adalah bukan makam Yesus.

Kisah mana yang dapat dipercaya ? Keterangan yang berbeda-beda tentang masa muda Yesus membuat kita boleh mempertanyakan kembali realibilitas dari masing-masing sumber cerita tersebut. Adakah mereka benar-benar diilhami oleh “kebenaran sejati” ? Bila ya mengapa mereka saling berkontradiksi satu dengan yang lain ? Perbedaan itu bisa kita lihat sejak dari awal cerita, yaitu bagaimana Yesus berangkat melakukan perjalanan ke Timur (atau menurut Manuel Komroff ke arah Barat yakni ke Inggris).

Dalam manuskrip Himis, Yesus dikatakan berangkat secara diam-diam dari rumah orangtuanya bersama-sama dengan para pedagang menuju negeri India. Tetapi menurut Injil Aquariannya Dowling, Pangeran Ravanna-lah yang meminta orangtua Yesus untuk mengizinkan Yesus berangkat bersama-sama dengannya. Sedang menurut Cayce lain lagi. Guru Essene Yesus-lah yang mengirimnya ke negeri India.

Keterangan yang berbeda ini sungguh mengherankan mengingat baik Dowling dan Cayce ini sama-sama mengklaim bahwa cerita mereka itu dibaca dari Catatan Akasha dan kedua-duanya adalah tokoh teras dari kalangan New Age. Persoalan menjadi semakin kompleks jika kita membandingkan lagi dengan keterangan Mirza Ghulam yang konon memperoleh wahyu paling akhir. Menurutnya, Yesus datang ke Kashmir setelah peristiwa penyaliban. Nah lho, keterangan ini sama sekali tidak terdapat dalam manuskrip Himis dan Catatan Akasha-nya Dowling dan Cayce. Jadi keterangan mana yang benar kalau begitu ?

Contoh lainnya adalah dalam hal bagaimana Yesus mencapai tingkatan Kristus. Menurut Dowling, Yesus meraihnya setelah melewati tujuh tingkatan inisiasi. Sedangkan Cayce mengatakan hal itu terjadi setelah Yesus berhasil melewati reinkarnasinya yang ketiga-belas. Manakah yang benar di antara keduanya ? Bagaimana kita harus memilih keterangan siapa yang paling benar disini ? Bisakah mereka semua dipercaya ? Kisah-kisah mereka itu bukan saja bertentangan satu dengan yang lain namun juga bertentangan secara keseluruhan dengan Injil-injil Perjanjian Baru.

Injil-injil Perjanjian Baru jelas sudah teruji oleh zaman dan waktu. Mereka ditulis langsung berdasarkan keterangan para saksi mata. Jelas sekali bahwa Injil-injil Perjanjian Baru adalah sumber cerita yang otentik dan bisa dipercaya. Namun sebaliknya, semua cerita tentang “perjalanan Yesus ke negeri Timur” mengandung keterangan sejarah yang jauh dari akurat. Manuskrip Himis, misalnya, menuliskan bahwa Yesus dilahirkan pada masa setelah kehancuran Bait Allah. Dengan demikian penulis manuskrip Himis telah salah menempatkan waktu kelahiran Yesus sekitar 70 tahun ke depan ! Contoh lainnya adalah dalam Injil Aquarian dikatakan Herodes Antipas memerintah di Yerusalem. Padahal , dalam sejarah, Antipas tidak pernah memerintah di Yerusalem tetapi di Galilea. Kesalahan ini menjadi berarti sebab Dowling mengklaim bahwa Injilnya itu “benar sampai ke huruf-hurufnya”![26] Injil Aquarian juga mencatat pertemuan Yesus dengan Meng-ste. Mungkin yang dimaksud Meng-ste disini adalah filsuf besar China, Meng-tse (tse, bukan ste). Dowling jelas tidak menyadari, bahwa sebenarnya, Meng-tse meninggal pada tahun 289 SM. Perjanjian Baru, meski tidak pernah secara langsung menceritakan masa-masa lowong dalam kehidupan Yesus itu, memberikan banyak sekali keterangan bagi pembacanya mengenai latar belakang Yesus.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada petunjuk sama sekali tentang perjalanan yang dilakukan Yesus ke negeri Timur. Yesus digambarkan sebagai seorang tukang kayu (Markus 6:3) dan anak seorang tukang kayu (Matius 13:55).[27] Latar belakang pekerjaanNya sebagai tukang kayu ini jelas sekali membawa pengaruh dalam ajaran dan perumpaan-perumpaanNya, misalnya perumpamaan mendirikan rumah di atas batu dan bukan di atas pasir (Matius 7:24-27). Ditambah lagi, penduduk Nazaret, yakni kampung halaman Yesus, nampak benar sudah sangat mengenal Yesus jauh-jauh hari sebelum Yesus memulai pelayananNya. Di awal masa tiga tahun pelayananNya itu, Yesus “datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab” (Lukas 4:16). Setelah Ia selesai membaca, “semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf ?” (Lukas 4:22).

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di rumah ibadat (sinagoga) itu mengenali Yesus sebagai penduduk setempat. Faktor ini pulalah yang menyebabkan sebagian besar penduduk Nazaret tidak dapat menerima bagaimana Yesus bisa berkata-kata sedemikian indahnya. Mereka bertanya-tanya, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:2-3) Dan yang paling menentang ajaran-ajaran Yesus adalah dari kalangan pemimpin Yahudi. Mereka menuduhNya macam-macam, seperti meninggalkan Sabat (Matius 12:1-14), menghujat (Yohanes 8:58-59, 10:31-33), dan mengadakan mukjizat dengan kuasa Iblis (Matius 12:24). Namun mereka tidak pernah sekalipun melemparkan tuduhan bahwa Yesus mengajarkan atau mempraktekkan sesuatu yang dipelajari dari negeri India. Padahal bangsa Yahudi memandang ajaran-ajaran demikian sebagai ajaran sesat.

Jika memang betul Yesus pernah pergi ke negeri India untuk belajar di bawah bimbingan “para maha Buddha”, maka hal ini bisa dijadikan alasan bagi para pemimpin Yahudi itu untuk menolak klaimNya sebagai Mesias. Tetapi mereka tidak pernah memakai alasan tersebut. Mengapa ? Karena Yesus memang tidak pernah belajar dan mengajarkan apapun di luar sistem kepercayaan orang Yahudi yang berbasiskan Taurat. Penting pula untuk dicatat bahwa ketika Yesus berdiri hendak membaca di sinagoga, yang Ia bacakan adalah ayat-ayat dari Alkitab. Dan Alkitab yang sama itu pula yang memuat banyak sekali peringatan-peringatan dan pesan-pesan agar kita menghindari allah-allah palsu dan ajaran-ajaran palsu (Keluaran 20:2; 34:14; Ulangan 6:14; 13:10; 2 Raja-raja 17:35). Alkitab yang sama juga memisahkan dengan jelas antara Sang Pencipta dan ciptaanNya, berbeda dengan ajaran “Timur” yang sarat dengan unsur pantheisme.

Alkitab juga mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pengampunan, bukan pencerahan, penerangan, atau pengetahuan (gnosis). Bukanlah suatu kebetulan jika dalam setiap ucapan-ucapan dan ajaranNya, Yesus banyak sekali mengutip ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya tidak satupun ayat-ayat kitab Veda yang pernah dikutip oleh Yesus. Yesus dalam ajaran New Age Satu ketika Yesus pernah menanyakan pertanyaan seperti ini di depan murid-muridNya.”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20). Petrus, salah seorang muridNya menjawab, “Mesias dari Allah”. Jawaban Petrus ini seharusnya sudah mampu menjawab “teka-teki” siapakah Yesus. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang singkat itu. Manusia berulang-kali dalam sejarah berusaha melahirkan identitas baru buat Yesus. Yesus benar-benar begitu istimewa dan mempunyai daya-tarik yang luar biasa sehingga Ia selalu menjadi “milik” setiap kaum. Mereka selalu mengklaim bahwa Yesus adalah bagian dari sistem kepercayaan mereka. Mereka membentuk ulang Yesus dan mengubahNya sampai menjadi sosok yang diinginkan mereka.

Pada akhir abad kesembilan-belas muncul apa yang dikenal dengan ajaran Theosophy. Ajaran yang penuh dengan unsur okultisme dan mistis ini pertama kali disebar-luaskan oleh Helene Petrovna Blavatsky pada tahun 1875. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia berubah-kembang dalam tujuh piringan eksistensi: fisikal, astral, mental, dan seterusnya. Setiap tingkatan piringan ini membawa manusia semakin dekat kepada penyatuan dengan Sang Absolut (Tuhan). Kaum Theosophy ini percaya bahwa proses ini memakan waktu yang sangat lama sehingga membutuhkan reinkarnasi yang berulang-ulang. Menurut “wahyu” yang diterima oleh Blavatsky, bukan individu manusia saja yang berubah-kembang tetapi juga ras manusia itu sendiri ikut berubah-kembang. Sejauh ini sudah ada tiga ras manusia yakni Lemuria, Antlantis, dan Arya. Dalam setiap ras ini masih terdapat lagi sub-sub ras. Saat ini kita sedang berada pada ras ketiga – Arya – dan sedang memasuki sub-ras keenam dari ras Arya tersebut.

Theosophy mengajarkan pada setiap permulaan sebuah sub-ras, Maha Guru Dunia (juga dikenal sebagai Kristus, pemberi kebijakan Ilahi) turun ke dunia dan masuk ke dalam tubuh seorang yang dipilih (the chosen one) untuk membantu dan membimbing perkembangan spritual umat manusia. Kelima inkarnasi Kristus dalam lima sub-ras Arya ini adalah Buddha (di India), Hermes (di Mesir), Zoroaster (di Persia), Orpheus (di Yunani), dan Yesus (ketika Ia dibaptis di sungai Yordan).[28] Yesus digambarkan sebagai seorang Master atau orang suci yang – sama seperti Buddha, Khrisna, Zoroaster dan lainnya – membimbing umat manusia ke dalam pencerahan dan harmoni Zaman Baru atau New Age. Oleh sebab itu gerakan spritual ini dinamakan pula New Age. Landasan pemikiran Kristologi dalam New Age adalah pembedaan antara Yesus, yakni tubuh seorang manusia dengan Kristus, suatu entitas Ilahi yang berdiam di dalam tubuh tersebut.

Dalam konsep New Age ini, Yesus hanyalah manusia biasa yang menemukan pencerahan atau penerangan sempurna di negeri Timur, dan sampai kepada puncaknya Ia menjadi Kristus. Konsep ini jelas bertolak belakang dengan Perjanjian Baru yang menerangkan bahwa Ia sendiri adalah yang datang dan keluar dari Tuhan (Yohanes 8:58). Yesus dikatakan telah menyumbangkan tubuhnya untuk dipakai oleh Kristus. Annie Besant, yang menggantikan kepemimpinan Blavatsky, berkata : “Karena Ia [Kristus] membutuhkan sebuah tempat persemayaman dalam bentuk manusia, sebuah tubuh manusia. Manusia Yesus menyerahkan dirinya sebagai korban sukarela, menyerahkan dirinya tanpa pamrih kepada Tuhan Kasih, yang mengambi l tubuhNya sebagai persemayaman yang suci, dan berdiam di dalamnya selama tiga tahun masa hidup fana. “[29]

Kaum Theosophy menolak semua anggapan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Manusia hanya dapat menyelamatkan dirinya melalui reinkarnasi yang berulang. Proses daur-hidup spritualitas ini membawa manusia jauh dan makin jauh dari piringan fisikal, sebaliknya dekat dan makin dekat menuju piringan spritual. Dalam proses ini, setiap manusia – tidak peduli dari agama atau ras mana ia berasal – mempunyai potensi untuk menjadi “Kristus”. Manusia yang secara terus-menerus mengalami proses reinkarnasi pada akhirnya akan mencapai status “Master”. Buddha, Khrisna, Zoroaster, Yesus masuk ke dalam kelompok manusia ini. Mereka telah mampu menyelesaikan dan mengakhiri proses reinkarnasi yang berulang-ulang itu dan kemudian tanpa pamrih berusaha menolong manusia-manusia lain dalam mencapai pencerahan seperti mereka.

Ajaran ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan yang berkata: “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” (Yesaya 43:11) Alkitab mengajarkan bahwa manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk memperoleh keselamatan dan bukannya melalui pencapaian penerangan atau pencerahan.

Kesimpulan Banyak sudah usaha manusia sepanjang sejarah untuk membentuk sosok Yesus menjadi sosok yang sesuai dengan angan-angan dan pemikiran mereka. Usaha ini bahkan sudah dimulai sejak zaman para rasul. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia memberi nasihat kepada kita demikian : Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. (2 Korintus 11:4)

Kisah mengenai perjalanan Yesus ke negeri India dan Tibet jelas sama sekali tidak bisa dipercaya karena:

  1. Pertama karena sumber-sumber kisah tersebut, mulai dari manuskrip Himis, injil Aquarian, dan catatan Edgar Cacye, banyak sekali mengandung ketidak-akuratan sejarah.
  2. Kedua, kisah tersebut bertentangan dengan keterangan yang terdapat di dalam Alkitab. Walaupun demikian, saya percaya bahwa berita tentang Yesus telah sampai ke negeri India dan Tibet sejak masa awal penyebaran agama Kristen.[30] Sangat mungkin terjadi bahwa beberapa orang yang menaruh minat terhadap Yesus mencoba menggubah sosok Yesus dan ajaranNya hingga sesuai dalam sudut pemikiran sistem kepercayaan mereka. Dan mungkin juga bahwa kemudian mereka menuliskannya dalam gulungan-gulungan lontar yang lalu tersebar di biara-biara di India. Seperti lazimnya yang terjadi di dunia, cerita dua senti bisa berkembang menjadi cerita lima senti. Begitu pula dengan apa yang mereka tulis tentang “Yesus” mereka. Maka itu tidaklah mengherankan apabila kita menemukan sosok Yesus yang berbeda dengan sosok Yesus yang kita kenal.

Untuk menjadi sumber cerita yang bisa dipercaya, manuskrip-manuskrip tersebut haruslah mempunyai bukti-bukti penunjang yang tidak terbantahkan seperti layaknya manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Apakah mereka juga ditulis oleh orang-orang yang terpercaya dimana kita mengenal mereka sebagai saksi mata kehadiran Yesus di muka bumi ? Justru faktor-faktor penting ini tidak dimiliki oleh manuskrip Himis. Dengan kata lain manuskrip Himis tidak memiliki otoritas seperti halnya Alkitab. Adapun Alkitab yang kita miliki telah lulus oleh ujian zaman dan waktu.

Dalam hal ini biarkan kitab-kitab tersebut bersaing dengan Alkitab. Saya hendak menutup tulisan ini dengan meminjam perkataan Rabbi Gamaliel : “Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap.”[31] (Contributed by: Armen Rizal, Last Updated: April 2000)

Catatan Kaki

1 La vie inconnue de Jisus Christ diterbitkan oleh Ollendorf di Paris tahun 1894. Tiga terjemahan yang terpisah tiba di Amerika bulan Mei tahun itu, masing-masing diterbitkan oleh Macmillan di Washington; oleh G. W. Dillingham, di New York; dan oleh Rand, McNally & Co., di Chicago. Sebuah terjemahan Italia oleh R. Giovannini muncul di tahun yang sama dan sebuah versi Jerman, Die Luecke im Leben Jesu, dicetak tahun itu juga. Edisi London diterbitkan oleh Hutchinson pada tahun 1895. Pada tahun 1926 Dillingham kembali menerbitkan buku itu di New York, tetapi dengan hak cipta bertanggalkan tahun 1890! Sebuah versi Spanyol hasil terjemahan A. G. de Araujo Jorge terbit di Rio de Janeiro di tahun 1909.
2 Nicolas Notovitch, The Life of Saint Issa, dikutip oleh Joseph Gaer, The Lore of the New Testament (Boston: Little Brown and Co., 1952), 118.
3 Nicolas Notovitch, dikutip oleh Per Beskow, Strange Tales About Jesus (Philadelphia: Fortress Press, n.d.), 59.
4 Nicolas Notovitch, ed. The Life of Saint Issa, dalam Elizabeth Clare Prophet, The Lost Years of Jesus (Livingston, MT: Summit University Press, 1987), 218.
5 Ibid., 219.
6 Ibid., 222-23.
7 Ibid., 245-46.
8 Max Muller, “The Alleged Sojourn of Christ in India,” The Nineteenth Century 36 (1894):515f., dikutip oleh Edgar J. Goodspeed, Modern Apocrypha (Boston: Beacon Press, 1956, 10.
9 Ibid., 11.
10 J. Archibald Douglas, “The Chief Lama of Himis on the Alleged ‘Unknown Life of Christ’” The Nineteenth Century (April 1896) 667-77, dikutip dalam Prophet, 36-37.
11 Goodspeed, 13.
12 Targum ad loc. ; Sanhedrin 19b; Pirkey Rabbi Eliezer 48
13 Yov’loth 47:5
14 Josephus, Antiquities 2:9:5
15 Sephir Ha-Yasher atau Kitab Kebenaran adalah sebuah kitab yang hilang. Kitab ini ada disebut dua kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam Yosua 10:13 dan II Samuel 1:18. Keberadaan kitab ini sendiri tidak diketahui sampai kira-kira pada tahun 1750 terbit sebuah terjemahan Inggris atas sebuah manuskrip Ibrani kuno yang ditemukan di Gazna, Persia. Sephir Ha-Yasher yang saya gunakan adalah sebuah terjemahan Inggris tahun 1840 yang diterbitkan oleh J.H Parry & Co. Salt Lake City.
16 Kaum New Age percaya bahwa bumi ini diselubungi oleh medan spiritual Akasha yang mana mempengaruhi dorongan hati dan pikiran setiap manusia. Dengan begitu medan ini dipercaya pula menyimpan seluruh catatan sejarah umat manusia.
17 Dowling, The Aquarian Gospel of Jesus the Christ (London: L. N. Fowler & Co., 1947), 48.
18 Ibid., 50.
19 Dowling, dikutip oleh Gaer, 134.
20 Dowling, Aquarian Gospel, 66.
21 Philip J. Swihart, Reincarnation, Edgar Cayce, and the Bible (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1978), 18.
22 Anne Read, Edgar Cayce: On Jesus and His Church (New York: Warnera Books, 1970), 70.
23 Dr Lewis Spencer The Mystical life of Jesus, American Rosicrucian Series, Supreme Grand Lodge Am.
24 H , Spencer The Secret Doctrines of Jesus , Supreme Grand Lodge of Amorc, California America, 1954 (Edition keenam)
25 Mirza Ghulam Ahmad Sat Bachan Qadian, 1895 p. 164.
Lihat pula Mirza Ghulam Ahmad Masih Hidustan Mein Qadian 1899 p. 3. dan Mirza Ghulam Ahmad Alhuda Qadian 1902 26 Dowling, Aquarian Gospel, 12.
27 Menurut keterangan St. Justin (138-161 M), Yesus adalah seorang pembuat bajak dan kuk. (Contra Tryph., 88)
28 H. P. Blavatsky, The Secret Doctrine (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1966), 168-89.
29 Annie Besant, Esoteric Christianity (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1953), 90-91.
30 The Malankara (Indian) Orthodox Church : A Historical Perspective. Oleh His Eminence Metropolitan Dr. Paulos Mar Gregorios.
31 Kisah Para Rasul 5:38

Posted by on 15/01/2010.

Tags: , , , , ,

Categories: Bizzare Phenomena

« | »




Recent Posts


Pages