Archive
Gelombang Otak dan The Power of Thinking

Ketika kita berpikir, merenung, berdoa atau apa pun juga aktivitas batiniah, dalam otak kita sedang berlangsung suatu proses psikodinamika , yg menghasilkan gelombang elektromagnetik, nah gelombang tersebut bisa terpancar keluar, bisa menimbulkan resonansi pada orang lain. Begitu pula halnya ketika kita beribadah ,seperti sholat, bila kita sholat dg khusyu, konsentrasi yg tinggi, maka akan tinggi pula gelombang elektromagnetiknya, yg berkorelasi dg kualitas sholat kita, penerimaan penilaian ibadah kita oleh malaikat.
Dalam salah satu Hadits ada disebutkan bahwa tingkatan sholat masing2 orang itu berbeda2 kualitasnya , tergantung ke khusyuan sholat nya , ada yg nilainya membubung tinggi sampai ke langit ke tujuh, namun ada juga yg karena kualitas nya rendah, yg disimpan saja, bagaikan kain yg dilipat ( ibadah nya tetap diterima, tapi nilai nya rendah). Sebenarnya sholat, adalah juga melatih kemampuan otak kita, khususnya bagaimana membangkitkan kemampuan2 khusus otak spt alam bawah sadar atau intuisi.
Ada beberapa macam gelombang otak yg didasarkan pada tingkatan konsentrasi atau focus pikiran kita sendiri atau kondisi fisik kita ;
- Beta 14 – 100 hertz – saat berpikir keras (menghitung atau saat stress)
- Alpha 8 – 13,9 Hz – alam bawah sadar, imajinasi dan relaksasi
- Tetha 4 – 7,9 Hz - intuisi
- Delta 0,1 – 3,9 Hz – saat tidur
Yang paling kuat resonansinya, adalah gelombang otak Alpha dan tetha, namun paling susah juga untuk bisa kita bangkitkan , dibanding gelombang beta yg kita gunakan saat berpikir sehari hari , sebagaimana hal nya susah utk berkonsentrasi. Lontaran gelombang otak Alpha dan Tetha dari pikiran kita lah yg akan menyebar ke luar, sehingga menggerakkan orang lain melakukan hal yg kita harapkan.
Bagaikan resonansi gelombang gitar yg bila sama getaran nya , akan menimbulkan resonansi bunyi pada alat musik lain nya. Begitu pula orang yang saling jatuh cinta , pandangan mata atau bahkan text sms sekalipun ,bisa menimbulkan resonansi rasa kasmaran pada yg lain nya. Hal yg sama berlaku juga antara ibu dan anak , bila seorang anak menangis, ibu nya yg walau berada di tempat yg jauh, akan merasakan resonansi rasa gelisah dari tangisan anak nya tersebut.
Hal yang sama berlaku pula bila kita berdoa dg khusyu, konsentrasi, maka doa kita akan sampai pula ke alam transedental, terdengar oleh malaikat ! Bagi seorang muslim, nilai ibadah seperti sholat, berbagai macam pula tingkatan penilaian nya, ada yg bernilai tinggi adapula yg bernilai rendah. Sholat yg asal asalan, rendah pula nilainya.
Sholat yg khusyu saat yg khusus seperti sholat Tahajud saat dini hari , akan bernilai tinggi, karena kuat pancaran gelombangnya ( gelombang alpha dan tetha saat sholat yg begitu khusyu ). Aktivitas batin yang bernilai tinggi secara transedental , memberi dampak yg positif pula bagi mereka yg melakukan nya, yg tercermin pada perilaku se hari hari nya. ( dampak ibadah pada perubahan positif perilaku seseorang atau meditasi pada sebagian yg lain )
Contoh lain , misalnya kita pergi ke tempat keramaian seperti terminal atau mall, bila dalam otak kita telah tertanam ketakutan akan kecopetan,jambret, penodong dll, maka gelombang ketakutan tersebut akan menyebar ke luar, sampai pula ke para pencopet /penodong , yg akan membuat mereka tergerak utk melakukan kejahatan pada kita.
Tapi bila sebaliknya , kita berpikiran tenang dan positif, orang2 di tempat rawan tsb sebagai orang2 baik dan tak akan melakukan kejahatan pada kita, ditambah dengan zikir & do’a,maka akan tersebar gelombang otak positif , yang akan sampai pula kepada para pelaku kejahatan tersebut dan memberikan sinyal positif yg akan menutupi niat2 jahat yg timbul pada otak mereka , sehingga kita bisa aman2 saja bila lewat ke daerah2 rawan tsb.
Pancaran resonansi gelombang otak ataupun juga perasaan dari seseorang bisa terlihat pada sorot mata atau wajah seseorang. Karena itu kita sering mengalami bila bertemu dengan seseorang yang baru, kok rasanya akrab dan ramah, atau malah sebaliknya, baru bertemu, lihat wajah nya kok nggak nyaman saja rasa nya. Itu menandakan pancaran resonansi gelombang otak yg kita terima, berbeda beda tergantung dari orang nya. Pancaran resonansi dari seorang manusia bisa bersifat positif atau negatif. Pancaran resonansi positif akan memberikan kenyamanan pada kita yg menerima nya yang akan menentukan juga persepsi kita terhadap orang tersebut.
Hal yang sama bisa terjadi pada orang lain saat bertemu dengan kita, bila kita selalu positive thinking, jiwa tenang dan hati yg tulus, orang lain pun akan merasakan kenyamanan saat bertemu kita, begitu pula kalau sebaliknya, kalau pikiran kita penuh negative thinking, hati yg gelisah, marah dan sebagainya, akan mengeluarkan sinyal gelombang yg negatif pula, sehingga membuat orang lain tak nyaman karena nya.
Sorot mata adalah salah satu bentuk tampilan dari sinyal gelombang otak kita. Pada hewan yang bermain dengan instink hal tersebut akan lebih terasa, hewan bisa memahami yang lain nya berdasar sorot matanya. Contoh sederhana kalau kita bertemu dengan anjing, lihatlah sorot matanya, kalau kita takut, anjing tersebut akan merasakan ketakutan kita, dan ia akan menyalak tambah keras atau mengejar kita. Tapi bila kita yakin, percaya diri dan berani, anjing akan bisa “membaca” juga, dan bila sorot mata kita lebih kuat, anjing tersebut akan jadi jinak atau lari. Demikianlah salah satu cara pawang binatang buas menjinakkan hewan peliharaan nya dengan beradu sorot mata, yg sebenarnya ialah menyampaikan pesan dari resonansi gelombang otak nya.
Kisah orang yg jatuh cinta pada pandangan pertama, adalah salah satu bentuk resonansi getaran jiwa yang terpancar dari sorot mata. Ingatlah saat kita muda, betapa saat kita bertemu pandang secara tidak sengaja dengan seseorang (pria-wanita), kok tiba2 hati ini bergetar dan sangat terkesan dengan pandangan pertama tersebut. Resonansi gelombang rasa cinta yang terpancar dari sorot mata, akan kita terima dengan perasaan khusus, yang kemudian akan turun ke perasaan kita. Bila terjadi dua arah itu menandakan ada kesesuaian frekuensi jiwa antara kedua orang tersebut.
Pancaran resonansi gelombang otak tersebut oleh orang Sunda disebut juga dengan istilah *Sima* orang-orang sholeh atau pancaran kharisma. Barangkali sebenarnya bukan karena pancaran gelombang otaknya saja, karena barangkali gelombang otak itu juga resonansi. Resonansi gelombang *cahaya* transedental dari Allah swt pada seorang manusia.
Syaikh Abdul Qodir Jaelani – qoddasaLlaahu sirrohu – menyebutkan seorang mukmin itu ibarat cermin. Cermin yang memantulkan Nur dari Allah. Kalau belajar ilmu bahan, peristiwa pemantulan sebenarnya bukan peristiwa pembelokan gelombang, akan tetapi energi gelombang datang diserap atom-atom yang dekat ke permukaan sehingga tambah bervibrasi kemudian dipakai untuk memancarkan gelombang balik, jadi resonansi juga.
Jadi barangkali seorang mukmin yang mendapat siraman Nur dari Allah,karena permukaan *cermin*nya bersih, Cahaya Ilmu itu bisa masuk secara maksimal kemudian menggetarkan qolbunya sehingga hidup dan memancarkan kembali kepada khalayak. Nah bila pancaran gelombang itu kuat, bisa jadi orang-orang disekitarnya meskipun cerminnya rada buram – cahaya yang masuk ke qolbu mereka tetap rada lumayan sehingga qolbu yang kaku keras oleh penyakit bisa mulai berdenyut mau hidup lagi, seperti terasa menerima *sesuatu*.
Sensasi ini bisa kita rasakan bila bertemu dengan orang-orang yang sholeh yang hatinya benar-benar murni sehingga pancarannya kuat, bukan sekadar orang yang pengetahuan agamanya banyak tapi hatinya keras. Pernah ada kisah pada suatu majelis pengajian. Pas sedang asyik pembahasan tiba-tiba ada orang yang masuk mesjid lalu sholat. Sang ustadz mendadak berhenti. Padahal orang yang baru sholat itu tidak dikenal dan penampilannya biasa-biasa saja. Tapi sang ustadz terpana sekali ketika orang itu sholat. Kemudian setelah orang itu keluar, sang ustadz penasaran siapa orang itu. Ternyata ada yang menjelaskan bahwa orang itu sang ketua DKM yang rendah hati namun suka banyak menolong orang lain. Wah ternyata resonansi gelombangnya sampai bisa memukau sang Ustadz yang barangkali tidak kalah juga resonansi gelombangnya.
Berikut tambahan tulisan tentang power of thinking yg dikutip dari blog nya Badroni Yuzirman The Power of Thinking. Just Thinking, Not Doing The Power of Thinking.
Saya sudah sering mendengar istilah ini. Cuma belum ‘ngeh’ benar sampai suatuketika saya mengikuti pelatihan Mind Management tahun2002 lalu. Di pelatihan itu saya diajari bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan memikirkannnya saya. O ya? Adalah Pak RB Sentanu yang membawa ilmu ini dan mengembangkannya di
Indonesia. Pelatihan itu sendiri banyak mempraktekkan teknik meditasi visual didukung oleh audio. Tapi yang menarik sekaligus kontroversial menurut saya adalah, dia mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan memikirkannya saja, tanpa usaha. Doing-less. What an idea!
Sebagai seorang yang selalu tertarik dengan ide-idebaru, apalagi yang berguna untuk pertumbuhan bisnisdan pribadi, saya pun mencoba mempraktekkannya. Dan alhamdulillah berhasil! Ternyata, tanpa saya sadari,saya telah mempraktekkan ilmu ini di masa lalu tanpa disengaja.
Berikut ini adalah beberapa cerita hasil dari mempraktekkan ilmu ini secara sengaja maupun tidak sengaja:
Waktu masih berdagang di Tanah Abang, saya dan istri ingin sekali dapat supplier dari salah satu produk dijual saat itu. Produk tersebut selama ini didapat dari tangan ketiga dengan harga mahal. Saya selalu memikirkan bagaimana caranya supaya dapat produk inidari tangan pertama. Produk ini sendiri didistribusikan secara tertutup kepada jaringan tertentu yang sulit ditembus. Saya tidak tahu di manasumbernya. Suatu hari, datanglah seorang perempuan etnis Cina berusia setengah baya dengan bahasa Cina mendatangi toko saya. Dibantu oleh seorang penterjemah, dia menawarkan produk yang selama ini saya cari. Kaget dan setengah tidak percaya, saya minta dia mengulangi penawarannya. Ternyata benar. Dia membuat produk itu di Cina dan membawanya langsung ke Indonesia.Harganya? Setengah dari harga yang saya dapatkan selama ini. Singkat cerita saya ambil produknya.
Penasaran, saya bertanya bagaimana dia bisa sampai ditoko kami dan hanya menawarkan ke toko saya saja. Dia menjawab, begitu turun dari kendaraan umum langsung berjalan ke arah toko saya tanpa menoleh ke toko lainnya. Saya hampir tidak percaya, tapi ini adalah kenyataan. Saya hanya memikirkannya saja. Tiba-tiba,subhanallah, yang saya pikirkan selama ini datang begitu saja di hadapan saya.
Sampai sekarang saya masih tidak percaya dengan kejadian ini. Masih banyak lagi sebenarnya cerita mengenai The Power of Thinking ini yang saya alami, seperti bagaimana saya memikirkan mendapatkan penghasilan setahun dalam sebulan, bagaimana bekerja dari rumah saja dengan hasil yang tidak kalah dengan di toko, bagaimana bekerja sedikit alias malas tapi hasil banyak. Semua itu terwujud dari keberanian saya memikirkan sesuatu yang saya inginkan. Itu saja. Dan saya tidak peduli bagaimana caranya. Itu kuasa Tuhan. Saya yakin Dia akan tunjukkan jalannya kepada saya. Saya percaya saja.
Supaya tidak salah kaprah dan menimbulkan kontroversi, tulisan saya tidak bermaksud untuk mempromosikan suatu ide yang mendewakan pikiran. Bukan sama sekali.Menurut saya pikiran itu adalah doa. Tuhan sangat terlibat dalam proses ini. Seratus persen!
Buku rujukan: Piece of Mind oleh Sandy macGregor, Gramedia. Diambil dari hdmessa.wordpress.com, judul asli: Teori Gelombang Otak dan The Power of Thinking
Gelombang Suara Mampu Bangkitkan Kekuatan Tersembunyi

Sebuah penelitian metafisika di Amerika menemukan metode modern untuk membangkitkan kekuatan Supranatural. Benarkah kekuatan tersembunyi itu bisa dibangkitkan tanpa mantera…?
Tak dapat dipungkiri, suara, nyanyian, atau gelombang suara dalam ritmik tertentu mampu mempengaruhi emosional manusia. Seseorang bisa tenang saat dirinya mendengarkan sebuah lagu. Namun, ada orang yang sektika berubah menjadi gundah dan gelisah akibat mendengarkan lagu. Oleh karena itu jangan heran jika dalam kondisi tertentu, manusia bisa menangis, tertawa, bahkan meledak emosinya karena mendengar sebuah nyanyian. Seseorang juga bisa nekad membunuh karena emosionalnya (alam bawah sadarnya) mendadak terpengaruh akibat dari sebuah tembang yang didengarnya.
Seorang anak belasan tahun nekad mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di dalam kamarnya. Tak jelas, apa yang melatarbelakangi aksi bunuh diri itu. Sebab beberapa jam sebelum ditemukan tergantung, anak itu terlihat tak memiliki masalah. Sorenya ia masih terlihat bermain sepak bola dengan teman-teman sebayanya. Ia nampak ceria, begitu tutur teman-teman korban. Satu petunjuk tertulis pada secarik kertas yang ditulis sebelum korban menghabisi nyawanya sendiri. Pesan terakhir dari korban itu hanya bertuliskan, jika si ibu ingat pada korban, putarlah lagu-lagu dari group musik Slank. Ini kisah nyata yang terjadi beberapa bulan lalu di Jawa Tengah.
Penelitian tentang irama lagu, bunyi-bunyian atau yang kemudian disebut gelombang suara sebenarnya telah lama dilakukan di Amerika. Hasilnya sungguh mencengangkan, ternyata gelombang suara mampu mempengaruhi emosional manusia. Bahkan sejak dalam kandungan, emosional jabang bayi bisa dipengaruhi oleh nyanyian yang dibawakan ibunya. Bahkan secara tegas penelitian itu menyatakan; berbagai irama yang dihasilkan oleh musik-musik klasik memiliki gelombang suara yang terbaik untuk membentuk emosional calon bayi.
Tak hanya itu, penelitian di Negeri Paman Sam ini juga berhasil membuktikan betapa gelombang suara yang diset pada frekwensi tertentu mampu membangkitkan hidden energy seseorang. Penelitian ini kemudian dikenal sebagai penelitian Metafisik Spiritual. Dengan mendengarkan gelombang suara pada frekwensi yang terprogram, seseorang bisa masuk ke alam bawah sadarnya (alpha, theta dan delta), tetapi masih dalam kontrol kesadaran. Pada saat itu seseorang mampu melakukan berbagai kegiatan yang tak mungkin bisa dilakukan pada saat dirinya dalam kesadaran penuh (beta). Fenomena ini di Indonesia lazim disebut orang dengan nama kesurupan, trance.
Alih-alih, penelitian orang asing itu sebenarnya mencoba mengilmiahkan berbagai fenomena trance yang banyak mereka lihat di negeri ini atau kawasan Asia Tenggara pada umumnya. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya banyak orang asing yang merasa takjub saat mereka melihat orang Indonesia yang bertubuh kebal, atau bahkan bisa meragasukma hanya dengan melantunkan bait-bait mantera atau doa khusus. Bahkan mereka juga kagum saat para penari Bali memperagakan tariannya yang diakhiri dengan melakukan penusukan pada perut. Atau Kuda Lumping yang memakan beling pada saat pertunjukan tengah berlangsung dan Seni Debus yang mempertunjukkan seni yang benar-benar sensasional.
Dengan kata lain, sebenarnya, Penelitian Metafisik Spiritual di Amerika itu sama dengan meditasi yang dilakukan di Indonesia. Mereka hanya merubah metode menjadi ilmiah, tidak lagi menggunakan mantera, menyan atau semedi dalam goa. Mereka menggunakan pembangkitan dengan cara mendengarkan gelombang suara pada frekwensi yang sebelumnya telah diprogram. Tujuannya tak lain, untuk mempercepat proses pembangkitan indera ke-enam.
Perhatikan folklore, pada masa lalu, para Warok Ponorogo acap menggunakan madat pada saat mereka hendak melakukan ritual. Suatu upaya untuk mempercepat bersatunya cipta, rasa dan karsanya. Tapi segala hal berbau klenik itu tak dipergunakan para peneliti di Amerika. Mereka hanya perlu mendengarkan sebuah gelombang suara dari headphone. Dan, hasilnya sama dengan orang-orang sakti di negeri ini, mereka bisa kebal senjata, bisa menerawang masa depan bahkan bisa juga meragasukma.
Menurut para peneliti Metafisik dari negara Paman Sam, mantra adalah sebait kata yang jika dibaca dengan ritmik tertentu dapat menimbulkan gelombang suara yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar dan keyakinan seseorang. Mereka kemudian mengadaptasi mantera menjadi sebuah gelombang suara yang mampu mempengaruhi kerja otak manusia diambang kesadaran. System ini kemudian mereka sebut dengan nama Alfa-theta mind program. Sebagai catatan, alam bawah sadar seseorang bekerja 24 jam sehari.
Alfa-theta mind program ini dilakukan dengan cara relaksasi diri dimana pada kondisi tersebut manusia dapat menyelaraskan gelombang pikiranya dengan gelombang alam semesta sehingga apabila hubungan atau vibrasi telah terjadi dengan gelombang mikrokosmik alam tersebut maka manusia tersebut dapat mewujudkan apapun yang diinginkan. Baik itu keinginan meningkatkan kemampuan supranatural (metafisika), keinginan untuk menjadi orang sakti atau ingin kaya raya.
Di masa lalu, bahkan masih acap terdengar sampai belakangan ini khususnya di pedesaan, kidungan Rumeksa Ing Wengi yang dilantunkan dengan tepat dan benar mampu membuat si pelantun beserta seluruh keluarganya terhindar dari marabahaya. Baik berupa gangguan makhluk halus, penyakit atau orang yang akan berbuat jahat. Sayangnya, apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita ini menjadi dogma semata. Tak banyak yang mau melakukan penelitian dengan cara akademik. Alhasil kesaktian nenek moyang kita pun punah digilas kemajuan teknologi.
Menilik fenomena diatas, tak ada salahnya jika kita mulai mengadaptasi teknologi tersebut. Agus Hendra Jaya, 45 tahun, adalah salah seorang yang berusaha mengkolaborasikan Alfa-theta mind program dengan berbagai pengatahuan spiritual di negeri ini. Berbekal pengetahuannya di dunia musik dan metafisika, Agus mantan personel group musik Modulus Band mengembangkan metode ini. Dari hasil penelitian panjangnya itu ia telah menghasilkan beberapa Compact Disk (CD) yang mampu membangkitkan energi metafisik seseorang. Misalnya sebuah gelombang suara yang ia dapatkan dari penelitian seorang Amerika. Setelah diadaptasikan dengan kapasitas otak orang Indonesia terbentuk sebuah CD yang bisa membangkitkan indera ke-enam seseorang.
Dijelaskan Agus, gelombang suara yang didengarkan menggunakan headphone masuk ke telinga lalu mempengaruhi pikiran, hati dan alam bawah sadar seseorang. Sambil mendengarkan CD tersebut seseorang bisa membayangkan apapun, seperti meragasukma, menerawang, menyembuhkan diri sendiri atau memelet seseorang. Sebab menurut Agus, kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika kita percaya bahwa kita mampu maka kita pasti mampu. Tapi jika kita percaya kita tidak mampu maka kita tidak pernah mampu.
Menurut Agus, untuk mengaplikasikan penemuan baru ini tidaklah sulit. Seseorang hanya membutuhkan sebuah CD Player dengan headphone steereo. Dengan itu kita bisa memutar sebuah CD dengan spesifikasi gelombang suara tertentu. Misalnya CD yang diprogram untuk meragasukma. Dengan ketekunan, keyakinan dan parah diri pada Tuhan maka seseorang dalam waktu relatif singkat dapat merasakan perubahan keadaan yang disebut sensasi rasa. Meski tubuhnya terduduk di dalam kamar, namun jiwa, roh dan rasanya dapat pergi ke mana pun ia mau.
Lebih jauh dijelaskan Agus, gelombang suara pada CD tersebut diset pada frekwensi khusus. Misalnya pada tingkatan Delta (Deep sleep/tidur nyenyak), frequency range-nya 0,5Hz-4Hz. Theta, Drowsiness (ambang akan terlelap), frequency range-nya 4Hz-8Hz. Alpha, Relaxed but alert (rileks dengan mata terpejam), frequency range-nya 8Hz-14Hz. Dan Beta, Highly alert and focused (keadaan sadar penuh), frequency range-nya 14Hz-30Hz. “Frequency range tersebut diperlukan untuk menyelaraskan otak kita,” tutur Agus.
Meski begitu, diakui Agus CD yang ia program itu hanya sebuah alat, keberhasilan dari alat itu sepenuhnya tergantung pada keyakinan seseorang. Sebab kemampuan bawah sadar seseorang dapat bekerja sesuai dengan besarnya keyakinan yang dimiliki. Selain itu, sebagai manusia yang beriman, kita percaya sepenuhnya bahwa segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu pun dengan pemikiran kita, alam bawah sadar kita sepenuhnya dikuasai oleh kekuasaan Tuhan. Jadi semakin kita dekat dengan Tuhan, maka semakin terpenuhilah segala keinginan kita.
Penulis artikel: Eka Supriatna, diambil dari mystys.wordpress.com
Ikhlas Dengan Teknologi Gelombang Otak

Suara musik lembut yang sesekali diwarnai suara gemericik air sungai dan kicau burung mengalun perlahan di ruang seluas 50 meter persegi. Sementara 25 peserta training MindFocus dengan posisi duduk bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Setelah 15 menit, seorang trainer mempersilakan para peserta membuka mata. Beberapa peserta menunjukkan rasa puas atas exercise yang baru saja mereka lakukan.
Suasana itu merupakan bagian dari training The Braiwave Management Training, yang diselenggarakan Katahati Institute Jakarta, di Hotel Equator, akhir pekan lalu.
“Teknik rileksasi merupakan bagian pembelajaran mencapai ikhlas dengan teknologi,” kata Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute.
Menurut Sentanu, untuk meraih keikhlasan sebenarnya sederhana. Tetapi, karena setiap individu biasanya berpikir secara sophisticated dan rumit, maka kesederhanaan ikhlas sulit dicerna.
“Ikhlas itu aktivasi hati, sehingga untuk memahaminya kita harus mengistirahatkan pikiran dan mulai berlatih menggunakan hati. Dengan kata lain memindahkan kesadaran kita dari otak ke hati,” ujar Sentanu.
Dijelaskannya, untuk mencapai ikhlas, Katahati Institute memperkenalkan teknologi ikhlas. Teknologi ini berisi program aplikasi praktis ilmu pengetahuan modern untuk melatih, mengukur, membuktikan dan memproduksi tingkat keikhlasan hati sesorang.
Teknologi yang dipergunakan merupakan hasil penggabungan kekuatan budaya timur dan barat serta ilmu pengetahuan terkini. Misalnya Neuroscience, Quantum Physics, Evolutionary Biologi, Chaos Theory, Brain Science of The Mind, serta tuntunan bijak filsafah hidup dan tauhid keagamaan.
Dalam pelatihan, Katahati Institute memberikan dua tahapan. Pertama, pelatihan tentang MindFocus brainwave management atau pengelolaan gelombang energi otak. Pelatihan tahap pertama ini untuk meraih keikhlasan melalui otak dan pikiran.
Pelatihan tahap kedua, disebut HeartFocus heartwave management. Yang ini lebih menekan pengelolaan gelombang energy jantung. Tujuannya untuk meraih keikhlasan melalui jantung dan perasaan.
“Metode ini untuk membongkar akar terdalam dari nafsu yang terpuaskan, keinginan untuk menang sendiri, keresahan, ketakutan dan kepalsuan hati,” jelas Sentanu
sumber: detikBandung Selasa, 18/11/2008








