Download E-Book Bermutu dan Gratis ! Klik disini !
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘guru meditasi’

 Powered by Max Banner Ads 

Scientific Meditation

April 14th, 2010 1 comment

Meditation is not a technique.
Meditation is a state of consciousness

~ Anna Wise

-Artikel dari Adi W. Gunawan-

Seorang rekan bertanya, “Pak, apa sih yang Bapak ajarkan di gathering QHI di Jakarta baru-baru ini? Saya lihat di facebook Bapak ada gambar gelombang otak yang ditunjukkan di layar. Lalu apa hubungannya dengan meditasi?”

Pembaca, memang benar baru-baru ini saya memberikan update pengetahuan dan teknik terapi advanced, yang saya dapatkan dari Tom Silver dan Anna Wise, kepada para alumni Quantum Hypnosis Indonesia di Jakarta. Tujuan pertemuan ini adalah selain temu kangen juga untuk saling berbagi pengalaman.

Dalam kesempatan itu saya memberikan update berupa teknik induksi instan, cara membawa klien masuk ke kondisi somnambulisme dengan sangat mudah dan cepat (bahkan bisa dikatakan tanpa menggunakan teknik apapun), teknik untuk memastikan bahwa perubahan yang dihasilkan dari proses restrukturisasi menjadi sungguh-sungguh permanen sehingga klien tidak akan bisa kembali ke pola lamanya, walaupun ia menginginkannya atau sengaja berusaha kembali ke pola itu.

Pertemuan ini diikuti oleh cukup banyak alumni. Ada yang datang dari Jakarta, Surabaya, Pontianak, Menado, Kendari, dan berbagai kota lainnya.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas mengenai materi yang diajarkan di gathering. Saya akan berbagi pengetahuan yang saya dapatkan dari Anna Wise khususnya yang berhubungan dengan meditasi.

Saya yakin Anda pasti familiar dengan meditasi. Kita sering mendengar kata meditasi namun apa sih sebenarnya meditasi? Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat saya melanglang buana, terbang ke Amerika, untuk bertemu dengan Anna Wise. Dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Sebagai seorang praktisi meditasi saya selama ini hanya menjalani latihan secara rutin seperti yang diajarkan oleh guru meditasi. Dan dari apa yang saya pelajari, baik melalui literatur maupun melalui diskusi langsung dengan para pakar meditasi, ternyata ada banyak sekali cara melakukan meditasi.
Beberapa waktu lalu saat berdikusi dengan Y.M. Uttamo Mahathera, Beliau berkata bahwa meditasi itu ibarat kita mau masuk ke dalam rumah. Masuknya bisa lewat pintu depan, pintu belakang, jendela, atap/genteng, bawah tanah, atau membobol tembok. Apapun cara yang dilakukan tujuannya sama yaitu masuk ke dalam rumah.

Cukup lama saya merenungkan apa yang Beliau sampaikan. Dan semuanya menjadi jelas dan gamblang saat saya bertemu Anna Wise di Berkeley. Melalui pelatihan intensif dan pengajaran yang ia sampaikan pada saya akhirnya saya mengerti.

Anna berkata, seperti kutipan pada awal artikel ini, “Meditation is not a technique. Meditation is a state of consciousness”. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Y.M. Uttamo Mahathera. “Dalam rumah” adalah state of consciousness atau kondisi meditatif. Dan cara untuk bisa mencapai state of consciousness bisa lewat berbagai cara atau ritual.

Hal ini ditegaskan Anna berdasarkan riset yang ia lakukan selama lebih dari 35 tahun dengan menggunakan Mind Mirror. Anna, satu-satunya pakar Mind Mirror di dunia saat ini, adalah murid yang dipercaya Maxwell Cade, psychobiologist dan biophysicist Inggris, yang mengawali penelitian hubungan antara pola gelombang otak dan kesadaran manusia, untuk meneruskan penelitiannya.

Penelitian awal dilakukan Cade dengan melakukan pengukuran pola gelombang otak lebih dari 4.500 kali pada sangat banyak subjek penelitian. Dan hebatnya lagi Cade mengukur tidak hanya gelombang otak orang biasa namun terutama pada master, guru spiritual, yogi, dan meditator yang sangat berpengalaman.

Setelah melakukan begitu banyak pengukuran dan pembacaan pola gelombang otak akhirnya Cade menyimpulkan satu hal yang sangat penting yaitu meditasi adalah kondisi kesadaran seseorang pada suatu saat tertentu yang ditentukan oleh komposisi pola gelombang otak yang konsisten.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa tidak peduli apapun teknik meditasi yang digunakan, apakah dengan Trancendental Meditation, fokus pada napas, membaca mantra tertentu, membaca ayat suci tertentu secara berulang, melakukan gerakan tertentu, visualisasi, atau teknik lainnya, hasilnya tetap sama. Semuanya menunjukkan pola gelombang otak yang sama. Pola gelombang otak ini dinamakan dengan The Awakened Mind.

Melalui riset itu pula akhirnya berhasil disusun satu tabel yang menjelaskan mengenai hubungan subjektif dan objektif antara level relaksasi fisik, yang diukur dengan ESR dan menggunakan skala Lesh, dan pola gelombang otak yang diukur dengan menggunakan Mind Mirror.

Berdasar penelitian Anna Wise diketahui bahwa saat melakukan meditasi maka yang aktif hanya dua jenis gelombang otak yaitu alfa dan theta saja. Bisa dengan atau tanpa delta. Saat seseorang sedemikian fokus dan tercerap ke dalam objek meditasinya maka pada saat itu gelombang beta hilang. Dengan demikian ia tidak lagi bisa mendengar suara atau kejadian di sekitarnya.

Proses tercerapnya seseorang ke dalam objek meditasinya dipengaruhi oleh kerja Reticular Activating System (RAS) yang ada di batang otak. RAS ini yang mengendalikan objek dan intensitas fokus seseorang.

Pola gelombang meditasi ini, bila ditambahkan sedikit (low) beta, akan menjadi pola The Awakened Mind. Pola ini mempunyai banyak nama. Ada yang menyebutnya dengan Lucid Awareness, Sabikalpa Samadhi, Cosmic Consciousness, Fifth State, Illumination, dan Nirbikalpa Samadhi. Apapun nama yang diberikan pola gelombang otaknya sama. Semua ini tampak pada Mind Mirror.

Yang sungguh luar biasa dari hasil penelitian ini yaitu kita, dengan menggunakan Mind Mirror, selain mampu mengukur pola gelombang, juga dapat melatih per segmen pola gelombang otak.

Apa maksudnya?

Contohnya begini. Saat seseorang menutup mata dan berusaha memfokuskan pikiran pada objek meditasi maka biasanya pikiran orang akan lari ke sana ke mari. Ini yang dikenal dengan istilah Monkey Mind. Monkey Mind ini disebabkan oleh beta (medium & high) yang sangat aktif. Maka langkah awal untuk meditasi adalah bagaimana menjinakkan pikiran yang liar. Cara umum yang digunakan adalah dengan memaksa diri untuk fokus ke objek meditasi. Ternyata cara ini justru tidak efektif. Anna berhasil mengembangkan satu teknik yang mampu secara cepat menghentikan pikiran yang liar hanya dalam waktu 1 menit. Teknik ini juga yang ia bagikan kepada seorang guru meditasi Zen untuk lebih meningkatkan kualitas meditasinya. Hasilnya… sungguh luar biasa.

Nah, ini tadi yang segmen gelombang beta. Bagaimana dengan yang lain? Inilah dahsyatnya Mind Mirror. Dengan membaca hasil pengukuran awal kita akan tahu persis apa yang harus dilakukan. Bila ternyata meditator sulit menghasilkan gelombang alfa yang cukup untuk bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam maka kita bisa melatihnya dengan mudah dan cepat. Meditator harus bisa menghasilkan alfa yang cukup banyak agar bisa masuk lebih dalam.

Demikian pula dengan gelombang theta dan delta. Jadi, pertama-tama kita “break down” dan kita latih per segmen. Setelah bisa mengotak-atik tiap segmen gelombang otak, bisa meningkatkan dan menurunkan tiap segmen secara sadar (sengaja) baru kita menggabungkan empat segmen gelombang otak dan dengan mudah kita mencapai kondisi meditatif yang dalam dan kalau perlu menghasilkan gelombang The Awakened Mind.

Oh ya, ada satu lagi pola gelombang di atas The Awakened Mind yaitu The Evolved Mind. Sangat jarang ada orang yang bisa mencapai level ini. Pola ini berhubungan dengan pencapaian dan perkembangan spiritual seseorang.

Untuk bisa masuk ke kondisi meditatif maka, menurut Anna Wise, yang pertama harus bisa dilakukan adalah dengan merilekskan tubuh. Jika tubuh tidak rileks maka pikiran juga akan sangat sulit rileks. Jika pikiran tidak bisa rileks maka gelombang otak yang aktif dominan adalah beta.

Mengapa kita perlu merilekskan tubuh terlebih dahulu? Karena lebih mudah merilekskan tubuh daripada pikiran. Dan karena tubuh dan pikiran saling terhubung dan mempengaruhi maka dengan merilekskan tubuh kita juga membuat pikiran menjadi rileks. Rileksasi tubuh ada hubungannya dengan postur tubuh saat kita melakukan meditasi. Jika postur tubuh salah maka akan sangat mengganggu.

Kedalaman kondisi meditasi tidak ditentukan oleh berapa lama seseorang telah bermeditasi. Anna pernah mengukur gelombang otak seorang klien yang telah meditasi selama 12 (dua belas) tahun konsisten tiap hari 1 jam. Hasilnya? Sama sekali tidak bisa masuk. Setelah dibimbing oleh Anna hanya dalam waktu 30 menit klien ini bisa masuk dengan sangat dalam ke kondisi menditatif yang ia inginkan selama ini.

Dengan bekal pengetahuan dan pelatihan yang saya dapatkan dari Anna Wise saya sekarang bisa masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam dengan cepat. Dan sekarang saya baru bisa mengerti dan merasakan nikmatnya melakukan meditasi.

Dengan pengetahuan yang didapat dari Anna Wise ibaratnya kita bisa melakukan copy paste kondisi meditatif yang telah dicapai seorang master, yang telah melakukan meditasi bertahun-tahun, kepada seorang pemula dengan sangat mudah.

Sudah tentu ini dilakukan dengan mengotak-atik pola gelombang otak seseorang untuk bisa menghasilkan pola gelombang otak seperti yang dihasilkan master itu.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, dll

>>>> Pesan sponsor: untuk mendapatkan meditasi yang mendalam, bisa dengan menggunakan bantuan tools berupa simulasi gelombang otak. click here for details <<<<

:rate

 

Categories: rahasia otak

Meditasi:Timur Bertemu Barat

April 12th, 2010 No comments

Meditasi adalah jalan pintas untuk mencapai pencerahan. Ini kata para guru spiritual. Meditasi, dalam banyak tradisi, memang sangat dianjurkan. Terutama dalam Buddhisme.

Ada dua jenis meditasi, pertama Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang.

Ada pandangan yang berbeda di kalangan pengajar meditasi. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dan mahir meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka masuk ke meditasi Vipassana Bhavana. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mencapai pencerahan tidak perlu dengan melakukan meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu tapi langsung meditasi Vipassana Bhavana.

Meditasi Samatha Bhavana adalah pemusatan konsentrasi atau perhatian pada objek tertentu, misalnya napas. Ada empat puluh objek yang bisa digunakan untuk menditasi. Napas hanya salah satunya.

Tujuan dari meditasi ini adalah untuk melatih pikiran sehingga terkendali dan akhirnya diam dan hening.Saat kondisi pikiran benar-benar terpusat sangat kuat, hening, diam, dan tercerap sepenuhnya pada objek meditasi maka pada saat itu meditator mencapai kondisi jhana.

Sedangkan meditasi Vipassana Bhavana adalah meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan objektif, dan belajar dari pengalaman setiap momen. Inti dari meditasi ini adalah mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang Dengan kata lain, menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap.

Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan mana atau siapa yang benar. Apakah perlu Samatha dulu baru Vipassana ataukah tidak perlu Samatha tapi langsung Vipassana? Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah apakah sebenarnya yang terjadi dalam pikiran seseorang yang melakukan meditasi, baik itu Samatha maupun Vipassana, ditinjau dari riset di barat, dengan mengukur pola gelombang otak.

Saat belajar kepada Anna Wise, satu hal yang sangat mencerahkan saya adalah saat Beliau berkata, “Meditation is a state of consciousness, a spesific brain-wave pattern, no a technique”. Anna juga berkata bahwa, “There is state of consciousness and content of consciousness”.

Wow… ini sungguh suatu pencerahan luar biasa. Anna Wise sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur, dengan menggunakan Mind Mirror, begitu banyak pola gelombang otak orang, termasuk para master dan guru meditasi Zen.

Dari pengukuran Anna Wise didapat satu data yang sangat menarik yaitu semua master dan guru meditasi itu punya gelombang otak yang sama. Pola ini disebut dengan pola Awakened Mind (AM) yang terdiri dari beta, alfa, theta, dan delta dengan komposisi yang pas. Beta di sini adalah low beta dan hanya sedikit saja, karena hanya digunakan untuk menyadari, mengetahui, mencatat.

Alfa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Theta adalah pikiran bawah sadar dan delta adalah pikiran nirsadar.

Kita tetap membutuhkan beta, walaupun hanya sedikit saja, untuk bisa mengetahui atau menyadari apa yang sedang kita alami. Bila tidak ada beta maka kita sama sekali tidak akan tahu atau ingat yang terjadi atau alami saat meditasi.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Samatha dan Vipassana?

Meditasi Samatha, bila dilihat dari pola gelombang otak, bertujuan untuk meng-OFF-kan gelombang beta. Beta adalah gelombang pikiran sadar dan berkisar pada kisaran frekuensi 12-25 Hz. Gelombang ini aktif bila kita berpikir, memberikan penilaian (judgement) atau memberikan makna pada sesuatu, mengkritik, membuat daftar, menganalisa, atau berbicara pada diri sendiri (self talk).

High Beta, frekuensi di atas 25 Hz berhubungan dengan stress dan kecemasan. Semakin aktif high beta seseorang maka semakin “liar” pikirannya. Pikiran akan lari ke sana ke mari, melompat dari satu hal ke hal lain, tidak bisa diam, sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikendalikan. Kesulitan ini yang dialami oleh semua meditator pemula.

Banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk belajar mendiamkan pikirannya mereka namun tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermeditasi karena tidak merasakan manfaat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang mahir meng-OFF-kan pikirannya? Ini semua bergantung pada waktu dan teknik yang digunakan. Umumnya, untuk meng-OFF-kan pikiran sadar, orang menggunakan objek napas.

Pikiran dilatih untuk diam dengan cara difokuskan pada napas. Dan pada saat pikiran lari ke objek lain maka pikiran ditarik kembali ke napas dan demikian selanjutnya sampai dicapai kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi.

Sulitnya meditator mendiamkan pikirannya, selain karena aktifnya high beta, juga disebabkan tubuh yang tegang. Posisi duduk yang tidak tepat, apa lagi kalau sampai melakukan postur full lotus, membuat otot paha dan tubuh menjadi begitu tegang sehingga adalah tidak mungkin untuk bisa mencapai kondisi pikiran yang rileks.

Masih berdasar riset Anna Wise, untuk bisa merilekskan pikiran, menurunkan beta dengan cepat, bisa dilakukan dengan merilekskan tubuh terlebih dahulu. Ada teknik spesifik yang Beliau kembangkan untuk bisa mendiamkan pikiran dalam waktu yang sangat singkat.

Saat seseorang telah mampu meng-OFF-kan pikiran sadarnya (gelombang beta) maka pada saat itu ia telah masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam. Jadi, meditasi sebenarnya adalah gelombang otak yang terdiri dari alfa, theta, dan atau tanpa delta. Di sini tampak jelas bahwa beta tidak dibutuhkan untuk meditasi. Justru beta perlu dihilangkan.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Vipassana?

Dari pengalaman saya pribadi adalah cukup sulit atau bahkan tidak mungkin bisa melakukan pengamatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, atau sensasi fisik yang muncul saat pikiran sadar masih sangat aktif. Apalagi jika yang aktif adalah high beta.

Jelas sangat sulit melakukan pengamatan jika piranti yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau observasi, yaitu pikiran sadar, masih sangat aktif dan sibuk sendiri.

Yang diamati dalam meditasi Vipassana, khususnya pada aspek bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, sebenarnya berasal dari pikiran bawah sadar dan nirsadar.

Dari pikiran bawah sadar biasanya muncul memori atau ingatan mengenai kejadian tertentu, yang berasal dari pengalaman di kehidupan saat ini, dan biasanya berisi muatan emosi dengan intensitas yang tinggi, baik positif maupun negatif.

Jadi, saat memori ini muncul, baik dalam bentuk gambar atau film, maka sebenarnya pada saat yang sama emosi yang berhubungan dengan memori ini juga aktif. Sedangkan dari pikiran nirsadar akan muncul memori dan emosi yang berasal dari kehidupan lampau.

Itulah sebabnya adalah sangat penting bagi seorang meditator untuk tidak masuk ke dalam pengalaman itu, karena biasanya mengandung emosi yang intens, dan cukup hanya mengetahui, menyadari, mencatat, dan mengingatnya ketika lenyap atau hilang.

Meditator tidak larut ke dalamnya. Akan sangat riskan bila meditator masuk ke dalam pengalaman itu, terutama jika pengalaman itu mengandung emosi negatif yang intens, misalnya akibat dari trauma masa lalu.

Jika sampai terjadi hal ini maka meditator akan mengalami kembali kejadian atau pengalaman itu. Istilah teknisnya revivification dan akan berdampak negatif pada kondisi mental dan emosinya.

Kemampuan untuk bisa menjadi pengamat (observer) dan tidak masuk ke dalam objek yang diamati hanya bisa dicapai bila pengendalian diri kita baik dan juga pikiran sadar (baca: beta) tidak terlalu aktif dan tidak memberikan penilaian atau penghakiman.

Saat kita mampu melihat atau hanya menjadi pengamat maka kita telah mampu melakukan disosiasi sehingga tidak dipengaruhi emosi yang melekat pada suatu memori. Saat kita mampu tenang hanya menyadari, mencatat, dan mengingat kejadian atau pengalaman yang muncul, maka kita akan tahu dan sadar bahwa kita bukanlah pengalaman atau emosi kita. Pengalaman atau emosi itu muncul dan tenggelam/hilang. Dan saat kita memberi jarak atau memisahkan diri dari pengalaman atau emosi itu maka mereka tidak bisa mempengaruhi diri kita.

Banyak yang berpikir, “Jika tidak ada beta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan insight atau mengerti?”

Insight atau kebijaksanaan yang sesungguhnya berasal dari theta atau pikiran bawah sadar. Kedalamam meditasi ditentukan oleh kedalaman theta yang berhasil kita capai. Theta adalah tempat terjadinya koneksi spiritual paling dalam. Saat seseorang berada dalam deep theta maka ia akan merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang luar biasa.

Pikiran bawah sadar mempunyai proses berpikir sendiri yang terpisah dari pikiran sadar. Jadi, saat kita bermeditasi Vipassana, saat pikiran sadar yang tidak terlalu aktif, maka informasi atau insight yang berasal dari pikiran bawah sadar akan naik, melalui jembatan alfa, ke pikiran sadar (beta) dan kita menyadari atau tahu (ingat) informasi ini.

Jadi, yang dilakukan oleh meditator yang bertahun-tahun melakukan meditasi Samatha sebenarnya adalah persiapan untuk awakening atau pencerahan. Para meditator ini biasanya, setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, berhasil mengembangkan pola gelombang otak Awakened Mind.

Namun meditasi Samatha, walaupun telah lama dilakukan, walaupun telah berhasil mencapai pola Awakened Mind, tidak mampu memfasilitasi pencapaian pencerahan.

Mengapa? Karena meditasi Samatha sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik. Kondisi kesadaran ini selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan melatih meditasi Vipassana karena Vipassana sebenarnya adalah content-based meditation atau meditasi berdasarkan isi.

Yang dimaksud dengan isi, selain sensasi fisik yang dirasakan, juga adalah konten dari pikiran bawah sadar dalam bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang muncul, dirasakan, atau dialami pada saat meditasi berlangsung, pada momen here and now.

Contoh yang paling populer adalah koan dalam meditasi Zen. Saat seorang master Zen bertanya pada muridnya, “Bagaimana bunyinya bila tepuk tangan dilakukan hanya dengan satu tangan?”, maka pada saat itu sang master memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab bila si murid hanya menggunakan pikiran sadar atau beta.

Saat berpikir keras untuk menemukan jawabannya maka pikiran murid yang terlatih akan begitu fokus, dan ini sebenarnya adalah meditasi Samatha, akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan, yang berasal dari pikiran bawah sadarnya, yang mampu memfasilitasi tercapainya pencerahan.

Ini bukan meditasi dengan “pikiran kosong”. Sebaliknya, ini adalah meditasi dengan konten yang sangat spesifik yang dilakukan oleh praktisi dengan kondisi pikiran yang telah disiapkan dengan sangat baik dan hati-hati sekali, dengan menggunakan teknik yang spesifik.

Pembaca, setelah membaca sejauh ini, jika anda bermeditasi, teknik mana yang akan anda gunakan? Samatha atau Vipassana? Semua saya kembalikan pada diri anda sendiri. Saat bermeditasi kenalilah diri anda sendiri. Anda akan tahu apakah anda akan langsung ke Vipassana ataukah perlu melatih Samatha dulu.

Dan yang paling penting adalah anda perlu belajar di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang berpengalaman. Hanya duduk dan memperhatikan napas memperhatikan pikiran belum tentu bisa disebut meditasi. Meditasi, seperti yang didefisinikan oleh Anna Wise adalah kondisi kesadaran spesifik bukan sekedar teknik.

Jika anda telah melakukan meditasi sekian lama namun belum bisa masuk atau mengalami kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik itu maka meditasi anda bisa dibilang belum berhasil.

Anna Wise pernah membantu seorang kliennya, seorang meditator. Keluhan klien ini adalah walaupun ia telah meditasi Samatha selama 12 tahun non stop, setiap hari 1 jam, ia masih belum bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam.

Saat dilihat pola gelombang otaknya, dengan menggunakan Mind Mirror, tampak bahwa selama 12 tahun meditasi klien ini tidak bisa mendiamkan pikirannya. Hal ini tampak dari high beta yang sangat aktif saat ia melakukan meditasi.

Dengan teknik yang spesifik Anna berhasil membantu klien ini mendiamkan pikirannya sehingga menjadi tenang dan hening dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh sayang bila ketekunan selama 12 tahun ini ternyata tidak berbuah hasil seperti yang diinginkan.

Selamat bermeditasi……….

Author: Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Categories: Mind, Body and Soul