Download E-Book Bermutu dan Gratis ! Klik disini !
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘indigo children’

 Powered by Max Banner Ads 

Indigo: Kepribadian Kehidupan Lalu

January 15th, 2010 No comments

:hore: Meski istilah indigo baru muncul, fenomena itu
sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Bisa
diperkirakan, kemunculannya relatif makin banyak dari
waktu ke waktu. Mengapa?

Indigo adalah istilah yang muncul baru-baru ini saja,
walaupun fenomenanya sudah ada sejak jaman dahulu.
Cuma, bisa diperkirakan bahwa relatif kemunculannya
semakin lama semakin banyak.

Mengapa? Karena saat ini, abad 21 Masehi, waktunya
sudah sampai bagi jiwa-jiwa yang telah mencapai tahap
tertentu untuk kembali lagi ke dunia ini dan
menyelesaikan tugas mereka. Tugas mulia, tentu saja.

Dan reinkarnasi, tentu saja.

Itu kalau kita bicara dengan konteks reinkarnasi. Tapi
kita juga bisa bicara dengan konteks “ilmiah”. Yang
patut juga dipertanyakan sebenarnya. Apakah psikiatri
“ilmiah” ? Menurut saya: tidak. Para psikiater itu
cuma menganalisa berdasarkan teori-teori mereka saja.
Dan teorinya juga berdasarkan asumsi asumsi yang pada
gilirannya didasarkan pada paradigma.

Paradigma Psikiatri selalu berubah. Tanyakan kepada
psikiater yang kredibel, sudah berapa kali paradigma
ilmunya berubah sejak dipelopori oleh Sigmund Freud?

Jadi, mau tidak mau kita harus membahas dan
mengevaluasi fenomena indigo ini dari berbagai sudut.
Tidak bisa dari sudut reinkarnasi saja, tetapi juga
tidak bisa dari sudut psikiatri saja.

Psikiatri contohnya, bisa saja mendiagnosa seseorang
yang dikategorikan indigo sebagai orang yang memiliki
“kepribadian terpecah”. Bisa saja, itu hak si
psikiater, tapi tentang diagnosa seperti itu benar
atau salah adalah urusan lain.

Kepribadian terpecah cenderung bersifat patologis,
destruktif terhadap dirinya sendiri dan lingkungan.
Itu jelas berbeda dari indigo.

Menurut saya, kepribadian terpecah terjadi karena alam
sadar tidak bisa berfungsi secara normal sehingga
bawah sadar memunculkan kepribadian lain untuk
mengimbangi kepribadian sadar yang tidak kompeten
untuk menghadapi realita itu.

Tetapi ada juga kepribadian lain yang muncul di
anak-anak indigo tertentu. Kepribadian itu adalah
kepribadian yang dewasa dan dapat melihat dengan mata
batin atau mata ketiga (yang memiliki aura berwarna
ungu atau indigo). Siapakah kepribadian “dalam” ini?
Menurut saya, itu adalah kepribadian dari anak itu
sendiri dari kehidupan lalu. Ya, kita harus positif
mengatakan bahwa itu adalah reinkarnasi.

Cuma, ada yang sadar dan menerima dan menjalaninya
secara wajar seperti anak-anak indigo itu. Ada juga
yang menekannya ke bawah sadar sehingga lama-kelamaan
menjadi tertekan dan muncul menjadi berbagai penyakit,
baik fisik maupun kejiwaan.

Anggota masyarakat lainnya kebanyakan masuk kategori
kedua itu, yaitu memori-memori dari kehidupan lalu
ditekan ke bawah sadar sehingga menjadi penyakit: bisa
menyerang diri sendiri, bisa menyerang lingkungan
dekatnya dalam berbagai bentuk gangguan walaupun
biasanya tidak terlalu berat.

Kembali lagi kepada anak-anak indigo. Apakah mereka
perlu penanganan psikiater? Jawabnya ya dan tidak.
Apabila bersifat “patologis”, jelas perlu.

Tetapi sama sekali tidak perlu apabila jelas-jelas
ternyata anak-anak indigo itu bisa membantu lingkungan
dekatnya menjadi lebih rohaniah, lebih manusiawi,
lebih ikhlas dan takwa membantu sesama.

Terus terang saya bias terhadap profesi psikiatri.
Alasannya cukup kuat: menurut riset yang jelas sangat,
sangat ilmiah di AS, tingkat bunuh diri tertinggi di
kalangan berbagai profesi dipegang oleh profesi
psikiatri. That’s true! Para psikiater itu seharusnya
dibantu lho! Saya yakin anak-anak Indigo bisa membantu
para psikiater yang stress dan tidak tahu harus
berbuat apa.

Kalau misalnya topik indigo ini masih kontroversial,
bisa saja kita adakan suatu ajang adu pendapat “live”
di depan kamera televisi. Silahkan disiapkan seorang
atau beberapa anak indigo. Di sebelah sana silahkan
seorang atau beberapa psikiater yang mau memberikan
diagnosanya setelah bertanya-jawab dengan mereka.

Di sebelah sini, saya sendiri akan mendiagnosa
anak-anak itu dan -yang ini tak boleh dilupakan-
juga mendiagnosa para psikiater itu satu persatu.
Live, langsung, di depan kamera TV.

Biarlah publik menilai karena memang kita harus jujur
terhadap diri sendiri dan masyarakat luas. Kita
menilai, mengevaluasi menggunakan “ilmu” kita
masing-masing. Para psikiater dengan ilmunya, dan saya
dengan ilmu saya yang hanyalah berupa intuisi yang
dibukakan oleh Yang di Atas sana.

Penulis artikel: Leonardo Rimba

diambil dari: Tabloid Mingguan “Tokoh”
(Sisipan Bali Post, Denpasar)
15-21 Agustus 2004, No. 296/Tahun VI

Categories: Spiritualism

10 Kemampuan Tidak Umum dan Aneh Orang Indigo

October 14th, 2009 8 comments

:wow: Kehadiran orang Indigo di bumi diyakini sejak manusia pertama muncul – ini berarti semua manusia keturunan orang Indigo. Di masa awal kehidupan pra sejarah manusia hanya mengandalkan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menghadapi kekerasan alam. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi belum berkembang pesat seperti sekarang, satu-satunya cara mempertahankan diri untuk menjaga kelangsungan hidup di bumi adalah dengan menggunakan secara optimal semua anggota tubuh yang ada.

Bagian terlemah dari tubuh manusia tapi memiliki kekuatan pengendalian terbesar adalah otak. Organ lembek yang harus dilindungi tulang tengkorak keras ini merupakan pusat perintah, kendali, dan pengatur keseluruhan organ tubuh dan triliyunan sel lainnya (sekitar 100 triliyun sel yang membentuk tubuh manusia).

Ketiadaan peralatan pada masa itu memaksa manusia berpikir menggunakan otaknya untuk menembus rintangan alam. Selain menciptakan peralatan sangat sederhana seperti batu pemantik api, senjata dari batu, perangkap binatang, pakaian dari kulit binatang buruan yang berbulu, dan lain sebagainya, manusia juga mengembangkan kemampuan organ tubuh terutama panca indranya.

Kekuatan daya sensor panca indra meningkat karena secara alami dibutuhkan, misalnya mata untuk melihat binatang buruan yang berada di tempat jauh, telinga untuk mendengarkan suara binatang buas yang berbahaya pada malam hari, penciuman untuk mengendus bau air di tengah padang pasir dan lain-lain. Peningkatan kekuatan daya sensor panca indra ini berlangsung terus-menerus karena sering dipergunakan, dan apabila sampai pada suatu kondisi puncak tertentu kemampuannya bisa sangat mencengangkan.

Mengindera dengan otak

Proses pengindraan dengan alat indrawi adalah kegiatan sensor informasi dengan menggunakan alat bantu. Tingkat kekuatan alat bantu, seperti mata, telinga, hidung, lidah dan kulit – yang sering disebut panca indra – sangat menentukan hasil pengindraan yang dicapai. Alat indra yang lemah atau rusak tidak bisa menghasilkan proses pengindraan yang baik. Begitu juga tingkat kemampuan sistem syaraf pusat dengan ujung-ujung syarafnya ikut menentukan proses penghantaran sinyal-sinyal listrik statis dari alat indra ke otak.

Pada orang indigo fungsi alat bantu panca indra dikurangi dan sebagai gantinya digunakan pengindraan langsung oleh otak dengan tugas sensor dibantu oleh ujung-ujung syaraf di tepi otak bagian luar. Ujung-ujung syaraf otak ini menangkap secara langsung pancaran gelombang yang mendatanginya dan mengirimkannya menjadi sinyal-sinyal listrik untuk diolah di otak.

Gelombang otak

Dalam melakukan kegiatannya otak menggunakan energi dari tubuh yang kemudian diubah menjadi energi listrik. Tegangan listrik yang dibutuhkan oleh otak untuk bekerja hanya 1/10 volt. Dengan sinyal-sinyal listrik inilah otak bekerja menerima, mengolah dan menyampaikan informasi. Semua kegiatan otak ini berlangsung di sel-sel yang jumlahnya 1 triliyun, 100 milyar sel aktif dan 900 milyar sel-sel penghubung.

Dalam melakukan kegiatannya otak memancarkan gelombang yang disebut gelombang otak. Gelombang otak ini dibedakan menurut frekuensinya, yaitu Gamma (berfrekuensi 16-100 Hz), Beta (12-19 Hz), Alpa (8-12 Hz), Theta (4-8 Hz), Delta (0,5-4 Hz) dan yang terakhir ditemukan oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A . ,dari Neuroacoustic research, bahwa masih ada gelombang otak dengan frekuensi dibawah delta, atau dibawah 0.5 hz, yakni gelombang Epsilon. Semua gelombang tadi merambat di udara dengan kecepatan cahaya sebesar 299.792,46 kilometer per detik.

Gelombang otak inilah yang ditangkap oleh sensor di otak orang Indigo sebagai pembawa informasi dan dipancarkan kembali sebagai bentuk penyampaian informasi atau perintah. Gelombang otak berfrekuensi sangat rendah, sehingga mudah dipantulkan oleh penghalang, seperti partikel debu dan akan tersebar sehingga mudah dikumpulkan. Kebanyakan otak orang Indigo bekerja di gelombang dengan frekuensi sangat rendah (Alpha ke bawah).

Kemampuan yang tidak umum dan aneh berikut ini sering dihubung-hubungkan dengan mistik. Padahal kemampuan ini murni kelebihan daya kerja otak dari manusia secara umum, hingga mampu terhubung dengan dimensi yang lebih tinggi.

1. Telepati

Telepati adalah kemampuan membaca pikiran dan perasaan manusia atau makhluk lain sering dihubungkan dengan cakra mata ketiga – cakra adalah semacam lubang hitam (black hole) pada jiwa kita – yang posisinya terletak di depan kepala (dahi). Enam kemampuan setelah ini juga mengandalkan kekuatan cakra ketiga.

Mata ketiga tersebut pada tubuh kita terletak di otak bagian depan. Secara fisik berupa ujung-ujung syaraf di kulit luar otak yang berperan sebagai sensor gelombang yang datang.

Setiap kali orang berpikir dan beremosi maka otak akan memancarkan gelombangnya. Gelombang berfrekuensi rendah ini merembet dan memantul ke sana kemari dengan kecepatan cahaya kemudian diindra oleh sensor di otak orang indigo dan diolah di otak untuk diubah menjadi sebuah gambaran.

Kemampuan membaca pikiran dan perasaan – menangkap gelombang – dimiliki hampir semua orang Indigo, termasuk juga anak-anak Indigo yang masih bayi. Sedangkan kemampuan berkomunikasi jarak jauh – mengirim gelombang – hanya dimiliki oleh orang Indigo tertentu saja.

2. Klervoyans

Kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain. Sama seperti pikiran dan perasaan yang memancarkan gelombang, setiap peristiwa di alam juga memancarkan gelombang. Gelombang tersebut dipancarkan oleh setiap makhluk yang terlibat dalam peristiwa itu, bahkan benda mati sekalipun memancarkan gelombang dari gerak elektron pada atom dan getaran molekulnya. Kemampuan ini meliputi juga kemampuan melihat benda-benda yang tersembunyi atau berada di suatu tempat yang tertutup.

3. Prekognision

Hal ini berhubungan dengan kemampuan memprediksi dan membuat peristiwa yang akan terjadi. Memprediksi peristiwa artinya menggambarkan sebuah kejadian yang akan terjadi sedangkan membuat peristiwa maksudnya menetapkan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan untuk menetapkan suatu peristiwa di masa depan termasuk kemampuan sulit yang jarang dimiliki oleh orang Indigo secara umum.

Prediksi diperoleh dengan 2 cara, yakni dengan melihat langsung kejadian yang sedang berlangsung di masa depan atau membaca dan menyimpulkan data-data yang ada di masa sekarang dan menyimpulkan sebuah kemungkinan terbesar yang akan terjadi di masa depan.

Cara pertama dilakukan dengan jalan mengembara di dimensi waktu. Rahasianya terletak pada keanehan sifat dimensi waktu. Dimensi waktu tidak berbentuk linier seperti dimensi ruang, tapi berbentukl spiral dengan arah putaran ke dalam dimensi ruang. Anda bayangkan tangga berputar berbentuk spiral di dalam sebuah gedung.

Karena arah putaran spiral dimensi waktu mengarah ke dalam dimensi ruang, maka pancaran gelombang yang dipancarkan sebuah peristiwa di masa lalu atau masa depan bukan berasal dari luar tubuh tapi dari dalam tubuh. Meskipun datangnya gelombang dari dalam tubuh diperlukan usaha lebih keras menangkap gelombang ini karena sifat dimensi waktu yang bisa melebar dan menyempit tak terbatas (tidak berhingga). Inilah yang disebut mengembara di dimensi waktu.

Namun di dalam dimensi waktu terdapat sebuah jalan pintas, yakni adanya dawai kosmik yang terletak memotong spiral waktu. Anda bayangkan sebuah lift yang memotong tegak lurus arah putaran tangga spiral tadi. Perjalanan dengan menggunakan lift pasti lebih cepat dibandingkan dengan menuruni tanggal berjalan berputar.

Pada prakteknya mengembara di dimensi waktu bagi seorang Indigo cukup dengan konsentrasi dan membayangkan suatu waktu (Tahun, bulan, tanggal, atau jam) tertentu – gambarannya bisa berupa kalender dan sebuah jam, dan melihat apa yang terjadi pada saat itu. Akan lebih mudah kalau ada orang / saksi yang diketahui terlibat pada peristiwa itu.

4. Retrokognision

Berhubungan dengan kemampuan melihat dan membuat peristiwa di masa lampau. Yang dimaksud dengan kemampuan membuat peristiwa adalah menetapkan suatu kejadian di masa lampau dan itu berpengaruh kepada masa sekarang. Hal ini juga berhubungan dengan spiral dimensi waktu. Kemampuan ini sangat jarang dimiliki oleh orang Indigo karena jarang dipergunakan.

Yang umum dilakukan oleh orang Indigo adalah melihat kejadian di masa lalu untuk menjelaskan suatu keadaan yang ada di masa sekarang. Biasanya yang dicari adalah sebab-sebab suatu kejadian, siapakah orang-orang yang terlibat dan bagaimana proses terjadinya.

5. Mediumship

Orang Indigo mempunyai kemampuan untuk menggunakan ruhnya dan ruh orang atau makhluk lain sebagai medium. Orang Indigo mampu berkomunikasi dengan ruh untuk menggali informasi.

Ruh adalah gumpalan energi hidup yang berstruktur (badan, kepala dan anggota badan ruh). Ruh menyimpan kenangan seperti halnya tubuh manusia dengan otaknya. Kenangan yang direkam oleh ruh berasal dari pengetahuan dasar yang bersifat idealis (berasal dari Sang Sumber) dan sudah ada sebelumnya serta pengalaman yang bersifat realistis hasil perjalanan selama hidup bersama tubuh.

Melihat makhluk dan berkomunikasi dengan makhluk lain yang tidak terlihat tapi berada di dimensi kita termasuk dalam kemampuan ini.

6. Psikometri

Bermakna kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengani objek apa pun. Hal ini dimungkinkan karena setiap benda terdiri dari susunan atom yang membentuk molekul. Molekul pada benda padat, gas atau cair bergetar dan getarannya menghasilkan gelombang. Molekul dan atom itu juga dapat menyimpan rekaman suatu peristiwa. Rekaman ini bisa digali dan dibaca.

7. Sugesti hipnosis

Orang Indigo yang tidak belajar hipnosis bisa menghipnosis dengan kemampuan telepatinya. Walaupun proses sugestinya berjalan lamban namun bersifat permanen dan bisa diwariskan. Contoh adalah hasil sugesti hipnosis yang dilakukan orang-orang Indigo seperti para Rasul, Nabi, wali dan orang suci lainnya. Pengaruh mereka masih terus berbekas hingga sekarang.

8. Analitik

Kecerdasan (IQ) orang Indigo rata-rata di atas 120. Kelebihan dari orang biasa adalah kemampuan analisa data secara cepat, luas dan kontinyu. Data-data yang tersebar dan acak akan dikumpulkan dan saling dihubungkan dengan cepat. Sebuah kesimpulan atau jawaban atas sebuah pertanyaan atau permasalahan bisa diperoleh oleh seorang Indigo hanya dalam waktu beberapa detik, terutama yang berhubungan dengan analisa kejadian alam. Kemungkinan ini berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan proses di otak yang lebih besar dari orang umum.

9. Telekinetik

Telekinetik artinya menggerakkan benda dari jarak jauh. Pada umumnya berhubungan kuat dengan kemampuan telepati seperti sugesti hipnosis. Merubah perilaku orang lain dengan mengubah susunan genetik pada spiral DNA dan menggerakkan sel, kelenjar atau organ tubuh dalam sistem metabolisme tubuh. Kemampuan untuk menggerakkan benda dengan massa besar tidak umum dimiliki oleh orang-orang Indigo.

10.Komunikasi dengan Tuhan

Kemampuan ini berhubungan dengan cakra mahkota pada bagian atas kepala yang merupakan pintu komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Cakra ini pada orang Indigo berwarna ungu yang sangat kuat terutama pada saat terjadi koneksi dengan Sang Sumber. Hubungan dengan makhluk-makhluk suci seperti malaikat dan dimensi lain yang lebih tinggi, juga terjadi di cakra ini.

10 kemampuan tidak umum ini tidak semuanya dimiliki oleh semua orang Indigo. Namun apabila terus dilatih semua kemampuan akan bisa dimiliki karena pada dasarnya hal itu sudah ada pada setiap Indigo. Untuk orang yang bukan Indigo kemampuan ini juga bisa diperoleh dengan latihan keras dan disiplin, namun seringkali hambatannya juga sangat besar.

Kemampuan-kemampuan tersebut tidak lantas membuat orang Indigo berbuat semaunya dan melakukan kejahatan terhadap makhluk lain. Ingatlah ungkapan berikut ini : Kekuatan yang lebih menuntut tanggung jawab yang lebih pula. Salam damai.

sumber: wikimu.com

Categories: rahasia otak

Fenomena Anak Indigo

October 8th, 2009 No comments

:ngelamun: Banyak anak-anak istimewa lahir di milenium baru ini dengan berbagai
kelebihan supranatural. Mereka kebanyakan mempunyai kepekaan indera
keenam, melebihi anak seusianya. Anak indigo, demikian mereka biasa
disebut, ternyata mempunyai misi khusus di dunia ini. Apakah anak
indigo itu dan misi yang mereka emban ?

Beberapa waktu yang lalu, beberapa media massa ibu kota mengulas
habis seorang anak “sakti”. Gadis cilik bernama Annisa itu sangat
mengagumkan dalam menunjukkan kelebihan olah bathinnya. Bocah berusia
5 tahun tersebut begitu luar biasa menguasai bahasa asing seperti
Inggris, Arab, atau Belanda. Padahal secara informal orang tuanya
tidak pernah mengajarkan bahasa-bahasa tersebut. Bahkan kecerdasan
anak ini di atas rata-rata anak seusianya. Akibat kelebihan yang satu
ini, membuat Annisa tidak bisa sekolah secara formal seperti
kebanyakan anak. Kecerdasannya yang melebihi teman sekelasnya,
membuat dia tidak betah belajar di kelas.

Secara spiritual, Annisa juga mempunyai kelebihan. Dia sanggup
menyembuhkan berbagai penyakit. Setiap hari ada saja orang datang
untuk minta pertolongan. Jangan heran jika kemudian dia menjadi
instruktur sebuah klub meditasi. Malam-malam si kecil ini juga selalu
dilewatkan dengan ritual meditasi. Rata-rata Annisa baru tidur pukul
02.00 dini hari, setelah meditasi yang panjang. Dengan olah bathinnya
tersebut, Annisa mampu mendeteksi hawa jahat di udara. Di mana ada
hantu atau kekuatan jahat lainnya, Annisa sanggup melihatnya.

TAHAPAN ZAMAN

Annisa hanya satu contoh saja. Ada banyak anak-anak demikian yang
saat ini telah terlahir. Anak-anak dengan kemampuan seperti Annisa
bukan hal yang baru di dunia tetapi fenomenanya semakin jelas 20
tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan kemampuan anak dan
manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, diantaranya “The Sixth
Sense” dan film-film seri seperti “The X – Files”. Bahkan menurut dr.
Tubagus Erwin Kusuma Sp KJ dari klinik Prorevital, fenomena anak
dengan kepekaan indera keenam sangat wajar saat ini. Ada satu istilah
untuk menyebut anak-anak ini yaitu anak indigo (indigo children)

Mengawali penjelasannya, dr. Erwin menerangkan, nama indigo diambil
dari bahasa Spanyol. Indigo adalah warna keenam dari warna pelangi,
campuran biru dan merah tua. Lantas mengapa dinamakan anak
indigo ? “Penamaan berdasarkan warna ini diurutkan sesuai dengan
perkembangan manusia. Seperti spektrum warna pelangi, perkembangan
manusia juga ditandai dengan satu oktaf warna. Dimulai dari masa
merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu, indigo (nila) dan putih.”
Urai dr. Erwin.

Warna-warna tersebut mewakili cakra-cakra yang terdapat dalam tubuh
eterik manusia. Cakra ini semacam corong energi yang letaknya di
seluruh bagian tubuh, dari tubuh bagian bawah sampai kepala. Cakra
berwarna merah berada paling bawah dan cakra berwarna putih di bagian
paling atas atau ubun ubun kepala. Cakra ini berfungsi untuk menyerap
energi dari luar atau memancarkan energi dari dalam tubuh.

Pada awal perkembangan manusia, cakra yang paling aktif adalah cakra
berwarna merah. Pada jaman cakra merah manusia sangat aktif, manusia
masih hidup nomaden di gua-gua, makan dari daging binatang buruannya
tanpa dimasak dan sebagainya. Kebutuhan dasar manusia pada jaman
tersebut hanya seputar survival saja. Manusia masih hidup
mengandalkan insting dasar mereka. Pada masa inilah awal
diketemukannya api.

Perkembangan selanjutnya cakra tubuh manusia mulai aktif di sekitar
cakra berwarna kuning. Cakra ini terletak di bagian perut. Manusia
mulai menyadari arti penting dari movement. Kadang mereka harus
bergerak dari kampung suku yang lama membuat kampung suku yang baru.
Dalam kebutuhan bergerak ini kadang mereka harus membawa barang yang
tidak sedikit. Jaman-jaman mereka melakukan eksodus disebut jaman
kuning. Dalam jaman ini perkembangan teknologi sederhana seperti
roda mulai ditemukan, namun kecerdasan manusia belum mengalami
kemajuan berarti.

Lepas dari jaman kuning, manusia mulai memasuki masa biru. Cakra
berwarna biru yang terletak di tubuh bagian atas (antara leher dan
dada) lebih dominan. Manusia yang lahir pada jaman biru mempunyai
kelebihan pemikiran. Orang sudah mulai menggunakan nalarnya. Pada
masa biru, ilmu dan teknologi berkembang luar biasa. Bahkan boleh
dibilang jaman ini adalah jaman revolusi teknologi. Mesin-mesin mulai
bermunculan. Bola lampu, listrik atau penemuan besar yang menjadi
awal peradaban modern dunia dimulai pada masa biru. Masa ini juga
ditandai dengan lahirnya para ilmuwan semacam Einstein, Thomas Alfa
Edison, James Watt, dsbnya.

Lepas jaman teknologi atau masa biru, manusia mulai memasuki jaman
spiritual. Jika sebelumnya manusia hanya berkutat seputar fisik dan
otak, kini manusia mulai masuk jaman yang menuntut sesuatu yang
abstrak. Spiritual manusia mulai diasah. Cakra manusia mulai bergeser
ke atas, tepatnya di dahi. Di sinilah terletak cakra keenam manusia
yaitu cakra yang berwarna indigo. Warna indigo ini adalah percampuran
warna biru dengan merah. “Di atas satu oktaf cakra manusia masih ada
satu oktaf lagi. Di atas warna ungu, orang sering sebut ultra ungu.
Gabungan warna biru dengan merah dari oktaf warna atas inilah muncul
warna nila atau indigo, ” jelas dr. Erwin.

ANAK-ANAK ISTIMEWA

Sesuai dengan perkembangan manusia sejak awal penciptaan, kelahiran
anak indigo memang sudah menjadi sebuah kepastian. Ketika memasuki
tahun 2000 di kalender masehi, kita memasuki milenium baru. Namun
dari sudut perkembangan manusia, tahun 2000 menjadi titik tolak
memasuki new age, jaman baru. Jaman yang disebut jaman spiritual atau
jaman indigo. Para psikolog yang mendalami fenomena anak-anak indigo
seperti dr. erwin menyebut milenium ini sebagai milenium spiritual.
Seperti halnya pada jaman biru yang ditandai dengan kelahiran anak-
anak berotak cemerlang, milenium spiritual juga ditandai dengan
kelahiran anak-anak yang mempunyai kelebihan spiritual. Anak-anak
yang baru lahir ini mempunyai cakra dominan warna indigo. Sebutan
anak indigo diberikan oleh Nancy Ann Tappe, seorang psikolog yang
mendalami anak-anak demikian ini.

Karena cakra yang dominan pada bagian dahi, jika cakra tersebut
divisualkan, seolah anak indigo mempunyai mata ketiga. Namun pada
realitas spiritual, anak indigo memang mempunyai mata ketiga. Dengan
mata ketiga atau mata spiritual ini, anak indigo sering kali disebut
orang awam sebagai anak sakti. Mereka sanggup melihat masa lalu
bahkan masa depan. Dengan kemampuannya, mereka dapat melihat mahluk
atau barang yang tak kasat mata seperti ruh misalnya. Dalam istilah
ilmiah mereka mempunyai ESP (Extra Sensory Perception), yang dalam
bahasa sehari-hari kita sebut indera ke-enam.

Meski secara fisik anak indigo tidak berbeda dengan bocah-bocah
lainnya, namun secara spiritual ruh mereka telah mengalami
kematangan. Tidak heran jika mereka ini kedapatan sangat bijak.
Kadang berbicara seperti orang tua dengan hikmat luar biasa.
Menasehati orang yang lebih tua dengan kata-kata bijak yang tidak
mungkin diucapkan oleh bocah seusianya. Bahkan orang tuanya sekalipun
kalah bijak dengan anak indigo ini. Lalu kenapa ada anak terlahir
dengan kematangan spiritual melebihi orang awam ? Semua bertolak dari
proses reinkarnasi. Para psikolog yang mendalami masalah indigo
percaya, proses reinkarnasi benar-benar ada. Anak-anak indigo ini
adalah adalah ruh yang telah berkali-kali mengalami inkarnasi. Lewat
proses inkarnasi yang berulang inilah ruh-ruh mereka belajar dan
mengalami penuaan jiwa (old soul). Tidak heran jika kemudian anak-
anak dengan old soul ini sanggup melihat masa lalunya sendiri atau
kehidupan past life orang lain. Dr. Erwin mencontohkan, seorang anak
indigo telah melihat masa lalunya sebagai orang Amerika yang dahulu
meninggal karena pesawatnya jatuh.

EVOLUSI SPIRITUAL

Terlepas dari segala kelebihan anak – anak indigo, mereka diyakini
datang ke planet ini dengan membawa misi. Seperti halnya para ilmuwan
di jaman biru yang merobah dunia dengan teknologi, anak indigo akan
merombak dunia dengan terlebih dahulu menata spiritual manusia.
Seperti diketahui, dalam kehidupan beragama setiap umat mempunyai
dimensi spiritual yang dirayakan dengan cara-cara yang disebut
ritual. Ada kalanya ritual ini malah bertentangan dengan esensi /
hakekat spiritual itu sendiri seperti cinta kasih, perdamaian,
kejujuran, tolong menolong, dll. Kadang dalam ritual agama, ada
pandangan yang menghalalkan darah dari kelompok lain, mengkafirkan
orang lain, mengorbankan darah, berperang atas nama agama, dll. Di
sinilah peran anak-anak indigo untuk membereskan semua ini. Tatanan
yang tidak sesuai dengan esensi spiritual akan dirombak sampai
akhirnya muncul masa kedamaian.

Sebelum masa milenium spiritual dimulai, sebenarnya sudah lahir anak-
anak indigo. Namun jumlahnya tidak sebanyak sekarang. Mereka saat ini
berumur 30-an tahun dan sering disebut “van guard” (pendahulu).
Layaknya sebuah pasukan, van guard ini menjadi intel. Mereka membaca
keadaan dunia sebelum akhirnya lahir anak-anak indigo dalam jumlah
yang banyak di berbagai belahan bumi. Anak-anak indigo ini menjadi
pasukan “penyerang”. Dengan kematangan spiritual yang dimiliki,
meerka merombak tatanan sosial yang rusak. Perilaku umat manusia yang
mengabaikan sifat-sifat mulia Sang Pencipta perlahan-lahan akan
dikikis habis. Pekerjaan anak indigo ini akan berakhir dengan
munculnya kedamaian di seluruh bumi. Namun proses perkembangan jaman
belum usai. Anak-anak indigo hanya mempersiapkan jalan bagi munculnya
era berikutnya. Setelah keberhasilan “pasukan penyerang” ini,
muncullah anak-anak kristal (Crystal Children).

Anak kristal menjadi semacam “pasukan pendudukan”. Mereka mempunyai
kelebihan layaknya indigo children namun tidak mempunyai daya untuk
melawan. Tugas mereka adalah menjaga perdamaian dan membangun segala
sesuatu yang rusak akibat pertempuran anak indigo dengan tatanan
dunia lama. Dalam usianya yang masih sangat belia, anak kristal bijak
laksana pandita. Tidak ada kata-kata kasar, makian, umpatan yang
keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mempunyai kemampuan membangun.
Seperti van guard indigo, anak-anak kristal juga mempunyai van
guardnya sendiri. Menurut dr. Erwin, seorang anak kristal telah
terlahir di China dari seorang ibu yang terjangkit HIV/AIDS. Ajaibnya
dalam usia 6 bulan, virus HIV yang menjangkiti anak kristal ini
hilang dengan sendirinya.

Ada 4 tipe anak indigo dengan kelebihan masing-masing. Tipe pertama
adalah tipe interdimensional yakni anak indigo yang memiliki
ketajaman indera keenam. Ada pula tipe artis. Anak indigo dari tipe
ini amat menonjol di bidang seni dan sastra. Lalu tipe humanis yang
mempunyai kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya
mereka menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain. Tipe
terakhir adalah tipe konseptual. Mereka amat menonjol dalam merancang
suatu program. Misalnya dalam rangka menyelamatkan perusahaan yang
akan bangkrut atau membuat usaha baru yang booming dan mandatangkan
keuntungan finansial bagi banyak orang.

BISA DILATIH

Tapi apakah kemampuan spiritual anak indigo bisa dipelajari ? Khusus
untuk kemampuan indra keenam mereka, dr. Erwin memastikan bisa.
Menurutnya manusia diciptakan dalam 3 bagian. Pertama diciptakan
dalam bentuk ruh yang menjadi dasar kehidupan manusia. Lalu ruh ini
dibuatkan solar body (tubuh matahari). Disebut tubuh matahari karena
memang terbuat dari energi cahaya matahari. Tubuh matahari inilah
yang sebut tubuh cahaya, tubuh eterik atau tubuh halus, karena tidak
terlihat oleh mata biasa. Tubuh halus ini kemudian divisualkan dengan
tubuh kasar manusia.

Dengan menggunakan kemampuan tubuh halus, manusia bisa memperoleh
indera keenam. Dengan latihan khusus, anak biasa pun bisa memancarkan
aura indigo. Disinilah kelebihan anak indigo. Mereka secara otomatis
memancarkan aura indigo sejak lahir. Inti latihan kepekaan tubuh
halus ini selalu bermuara pada relaksasi, mengistirahatkan tubuh
kasar kita. Bisa dengan yoga, meditasi atau kegiatan sejenis. Dalam
kegiatan ini sebenarnya kita berlatih untuk mengenal diri sendiri dan
Sang Pencipta secara spiritual, tanpa terbelenggu oleh ritual
tertentu. Namun anda jangan berharap kesaktian lebih dari latihan
semacam ini karena kepekaan indera keenam seseorang tidak sama dengan
orang lain. Ada yg peka sampai bisa melihat, mendengar, ada yg bisa
meraba atau berkomunikasi melalui tulisan.

Pada anak kecil yang non indigo, sebenarnya mereka pun mempunyai
kepekaan indera keenam. Namun kepekaan ini berkurang seiring dengan
penggunaan otak kiri yang mulai intens, biasanya pada saat masuk
sekolah. Sekolah-sekolah di Indonesia mengikuti pelajaran ala Barat.
Dari awal masuk sekolah sudah diajari olahraga (otot) dan matematika
(otak). Padahal sistem pendidikan kita dulu berbeda dengan mereka.
Dahulu selain otot dan otak juga diajari kata-kata mutiara dan
samadhi (relaksasi, mengistirahatkan otot dan otak). Tujuannya tetap
menjaga kepekaan indera keenam. Itulah sebabnya kadang kala ada dukun
yang memanfaatkan anak kecil untuk mendeteksi letak mahluk halus atau
melihat perbuatan seseorang di masa lampau lewat ritual yang
dilakukan si dukun.

Dikutip dari majalah LIBERTY 11-20 April 2005

Categories: Spiritualism

Indigo Children: Berbeda tapi Bukan Aneh

October 7th, 2009 No comments

:lompat: SEPANJANG perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut saja begitu, seperti tidak
bergerak. Wajahnya pucat pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak berani
mengusik anak sulungnya.

“Saya sebenarnya heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu mendengar kabar
ibu saya meninggal. Enggak seperti anak kecil lain yang kehilangan neneknya.
Sedih ya sedih, tapi enggak gitu-gitu amat,” ujar Dewi.

BEGITU turun dari mobil, Ardi seperti terkesima melihat sesuatu di pintu masuk.
Ketika mencium jenazah neneknya, tiba-tiba ia kembali menutupi telinganya dan
tampak ketakutan. Pandangannya terus menuju ke luar pintu. Setelah itu Ardi
mengatakan kepalanya sakit, dan tidak ikut ke makam.

Menjelang tengah malam, Ardi menanyakan apakah ibunya mendengar suara petir
siang tadi. Sang ibu menjawab, “Tidak.” “Masak Mama enggak dengar, kan keras
sekali dan terus- terusan, Ma,” kata Dewi menirukan ucapan Ardi saat itu.
“Sehabis itu Ardi menceritakan semuanya,” lanjut Dewi. Selain petir, Ardi
melihat burung besar di pintu rumah sang nenek. “Burung itu enggak pergi-pergi,”
ujar Ardi seperti ditirukan Dewi.

Saat mencium neneknya, Ardi melihat sang nenek berjalan menuju sebuah gerbang.
Saat itu Ardi mendengar suara petir lagi, yang lebih keras dari sebelumnya, dan
ia menyaksikan neneknya melangkah melewati gerbang, terus berjalan menuju tempat
yang ia katakan “indah sekali”.

Peristiwa itu bukan yang pertama, sehingga Dewi dan suaminya tidak lagi terkejut
mendengar penuturan anak mereka. “Dia sering melihat macam- macam, tetapi
biasanya diam. Ia hanya mau berbicara sesudahnya, pelan-pelan dan hanya kepada
orang tertentu,” sambung Dewi.

Usia Ardi kini menjelang 10 tahun. Di sekolah ia termasuk cerdas. IQ-nya antara
125-130. “Tapi gurunya bilang ia suka bengong di kelas,” sambung Dewi. Kepada
ibunya, ia bercerita melihat macam-macam di sekolah, yang tidak bisa dilihat
orang lain, di antaranya anak tanpa anggota badan, dan ia merasa sangat kasihan.

Suatu hari saat belajar di rumah ia tersenyum. Ketika ditanya oleh sang ibu, ia
mengatakan ada anak persis sekali dengan dirinya. Hari berikutnya ia bercerita,
anak itu datang di sekolahnya. Ketika ditanya di mana ia tinggal, anak itu
menjawab, “Di sana,” sambil telunjuknya menunjuk ke arah atas. “Ada apa di
sana?” tanya Ardi. Anak itu menjawab, “Ada orang gede- gede buanget. Anak itu
omongnya juga medhok lho Ma, kayak aku, persis,” tutur Ardi seperti diceritakan
kembali oleh Dewi. Tentu tak ada orang lain melihat “anak itu” kecuali Ardi.

Dewi dan suaminya memahami apa yang terjadi pada Ardi dan juga adiknya. Beberapa
anggota keluarganya juga memiliki kepekaan lebih dibandingkan dengan orang
kebanyakan. Pada Ardi hal itu sudah terdeteksi saat masih bayi. “Kalau dengar
suara azan, Ardi tampak mendengarkan dengan penuh konsentrasi,” kenang Dewi.
Menjelang usia 1,5 tahun, Ardi membaca kalimat syahadat secara
sambung-menyambung seperti wirid. Sesudah bisa jalan, sebelum usia dua tahun, ia
mulai mengambil sajadah sendiri, memakai sarung sendiri dan membuat gerakan
seperti orang shalat, meskipun bukan waktu shalat.

Toh tingkah laku Ardi membuat Dewi merasa agak risau. “Ia melihat dan mendengar
apa saja yang orang lain enggak bisa lihat dan enggak bisa dengar,” katanya. Ia
tidak menceritakan situasi anaknya itu pada setiap orang di luar keluarga.
“Kalau enggak percaya bisa-bisa anak itu dianggap berkhayal,” lanjutnya.

Dewi tidak mengecap anaknya berkhayal, karena dalam beberapa hal ia juga
memiliki kepekaan itu, meski hanya sampai tingkat tertentu. “Suatu sore, sehabis
shalat, saya merasa ada bayangan putih. Ardi rupanya juga melihat karena ia
tersenyum. Dia bilang, ‘Ma, ada yang ngikutin, perempuan. Tapi orangnya baik
sekali.’ Ketika saya tanya siapa, Ardi tidak menjawab.”

Suatu hari, Dewi membaca majalah yang menulis tentang tanda-tanda anak indigo.
“Lha saya pikir kok persis sekali sama anak saya. Lalu saya berusaha menemui dr
Erwin di Klinik Prorevital.”

ANAK-ANAK dengan kemampuan seperti Ardi bukan hal yang baru di dunia, tetapi
fenomenanya semakin jelas 20 tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan
kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, di antaranya The
Sixth Sense, dan film-film seri seperti The X Files.

Menurut dr Tubagus Erwin Kusuma SpKj, psikiater yang menaruh perhatian pada
masalah spiritualitas, anak-anak seperti itu semakin muncul di mana-mana di
dunia, melewati batas budaya, agama, suku, etnis, kelompok, dan batas apa pun
yang dibuat manusia untuk alasan-alasan tertentu.

Fenomena itu menarik perhatian banyak pihak, karena dalam paradigma psikologi
manusia, anak-anak itu dianggap “aneh”. Pandangan ini muncul karena selama ini
kemanusiaan telanjur dianggap sebagai hal yang statis, tak pernah berubah.
“Padahal, semua ciptaan Tuhan selalu berubah,” ujar dr Erwin.

Sebagai hukum, masyarakat cenderung memahami evolusi tapi hanya untuk yang
berkaitan dengan masa lalu. “Fenomena munculnya anak-anak dengan kemampuan
seperti itu merupakan bagian dari evolusi kesadaran baru manusia, yang secara
perlahan muncul di bumi, terutama sejak awal milenium spiritual sekitar tahun
2000 yang disebut Masa Baru, The New Age, atau The Aquarian Age. Semua ini
merupakan wujud kebesaran Allah,” tegas Erwin.

Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi batinnya tua (old
soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua.
Sering kali ia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti
tata cara maupun prosedur yang ada. Kebanyakan anak indigo juga memiliki indra
keenam yang lebih kuat dibanding orang biasa. Kecerdasannya di atas rata-rata.

Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini
merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang
memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah “anak indigo”
atau indigo children juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor
terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.

Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan
artinya untuk menandai kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku Understanding
Your Life Through Color. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar
perangai manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater Dr McGreggor di
San Diego University.

Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada
hampir 80 persen aura anak-anak yang lahir setelah tahun 1980. Warna itu
menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi maupun pada deretan vertikal
cakra, dalam bahasa Sansekerta disebut cakra ajna, yang terletak di dahi, di
antara dua alis mata.

“Itulah mata ketiga,” ujar dr Erwin. The third eye itu, menurut dia, berkaitan
dengan hormon hipofisis (pituary body) dan hormon epificis (pineal body) di
otak. Dalam peta klasifikasi yang dibuat Nancy, manusia dengan aura dominan nila
dikategorikan sebagai manusia dengan intuisi dan imajinasi sangat kuat.

“Letak indigo ada di sini,” jelas Tommy Suhalim sambil menjalankan perangkat
teknologi pembaca aura, aura video station (AVS). Alat yang protipenya dibuat
oleh Johannes R Fisslinger dari Jerman tahun 1997 ini lebih canggih dibandingkan
perangkat teknologi serupa yang ditemukan Seymon Kirlian tahun 1939, dan Aura
Camera 6000 yang dibuat Guy Coggins tahun 1992 berdasarkan Kirlian Photography.

Tom menunjukkan titik berkedip berwarna nila tua, sangat jelas di antara kedua
mata Vincent Liong (19). Murid kelas dua tingkat SLTA di Gandhi International
School itu sudah menulis buku pada usia 14 tahun dan bukunya diterbitkan oleh
penerbit terkemuka di Indonesia. Buku Berlindung di Bawah Payung itu merupakan
refleksi, berdasarkan kejadian sehari- hari yang sangat sederhana.

Pergulatan pemikiran yang muncul dalam tulisan-tulisannya kemudian seperti
datang dari pemikiran orang bijak, dan menjadi bahan pembicaraan. Pemilihan
angle-nya tidak biasa, dan hampir tidak terpikir bahkan oleh orang dewasa yang
menekuni bidang itu. Belakangan ia banyak menulis soal spiritual, namun tetap
dilihat dalam konteks ilmiah dan rasional.

Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia tulis-menulis, Vincent
tidak terlalu berminat dengan beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya
yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti apa yang diingini anaknya
yang ber-IQ antara 125-130 ini. “Dia keras kepala. Kemarin ia tidak mau ikut
ujian matematika,” sambung Liong, ayahnya.

Vincent mengaku “takut” pada matematika sejak kecil, tapi mengaku disiplin pada
aturan mainnya sendiri. “Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu
sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi karena dalam realitas
sosial berbeda,” tegas Vincent.

Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya sejak bayi. Waktu SD, Vincent
biasa bergaul dengan gurunya, dan orang-orang setua gurunya. Pertanyaannya
banyak dan sangat kritis. “Saya langganan dipanggil guru bukan hanya karena anak
itu sulit. tetapi juga karena karangan-karangannya membuat guru-gurunya kagum,”
ujar Ny Ina.

Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan pengamatan dan referensi pada
usia SD. “Di rumah ia membawa ensiklopedi yang besar- besar itu ke kamarnya,”
ujar Ny Ina. “Kamarnya kayak kapal pecah. Tidurnya dini hari karena menulis,”
sambung Liong. “Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan formalnya
dulu, karena bagaimanapun itu sangat penting,” lanjut Liong.

“PENDIDIKAN formal sangat penting karena anak-anak indigo harus membumikan ‘ilmu
langitnya’ untuk kebaikan manusia. Bukan sebaliknya,” ujar Rosini (40). Ia
menganjurkan, agar anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda itu tidak
dieksploitasi oleh orangtua dan lingkungannya untuk mencari nomor togel atau
menjadi dukun atau klenik. “Bukan itu misi anak-anak indigo,” tegas Rosi.

Anak-anak itu sebenarnya punya mekanisme pertahanannya sendiri. Annisa,
misalnya. Gadis kecil berusia 4,5 tahun ini tiba-tiba berbicara dalam bahasa
Inggris beraksen Amerika begitu ia bisa bicara pada usia 2,5 tahun. Padahal
orangtuanya tidak berbahasa Inggris dengan baik. Meski tampak menggemaskan,
dalam banyak hal ia berbicara dan bersikap seperti orang dewasa, bahkan menyebut
dirinya “orang Amerika” karena “datang dari Amerika”. Nisa menyebut ibunya,
Yenny bukan dengan panggilan mama.

Kemampuan melihat dan mendengar Nisa sangat tajam pada pukul 23.00 sampai dini
hari. Tetapi kalau secara sengaja diminta memperlihatkan kemampuannya, ia akan
menolak dengan tidak memperlihatkan kemampuan itu sehingga ia tampak seperti
anak-anak lainnya,” ujar Yenny. Kata sang ibu, Nisa tidak mudah bersalaman
dengan orang. Ia seperti tahu orang yang suka pergi ke dukun atau memakai jimat.
Namun sebagai anak-anak Nisa juga suka menyanyi dan bermain.

Jenis dan kemampuan anak indigo bermacam-macam. Meski memiliki kepekaan yang
kuat, kepekaan mendengar dan melihat sesuatu yang tidak didengar dan dilihat
orang kebanyakan, berbeda-beda gradasinya.

Menurut Lanny Kuswandi, fasilitator program relaksasi di Klinik Prorevital,
mengutip dr Erwin, “Ada tipe humanis, tipe konseptual, tipe artis, dan tipe
interdimensional. Pendekatan terhadap mereka juga berbeda-beda,” sambungnya.

Namun karena dianggap “aneh”, tak jarang diagnosisnya keliru dan penanganannya
lebih bersandar pada obat-obatan. “Ada anak indigo yang dianggap autis, ADHD
(Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun ADD (Attention Deficit
Disorder). Padahal tanda-tandanya berbeda,” sambung Erwin. Kekeliruan semacam
ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli menganggap anak-anak itu menderita
“gangguan” yang harus dihilangkan.

“Saya beberapa kali pergi ke psikolog dan psikiater,” ujar Rosini. Profesional
di suatu perusahaan swasta terkemuka itu suatu saat dalam hidupnya merasa sangat
terganggu oleh suara-suara itu. Orangtuanya juga merasa anaknya “aneh” karena
kerap memberi tahu peristiwa yang akan terjadi, tetapi menolak mengakui
kemampuan anak itu.

“Dalam tes yang dibuat oleh mereka, saya dinyatakan sehat. Tidak ada gangguan
apa pun,” sambung Rosini. Sebaliknya, ia melihat psikolog dan psikiater yang
melakukan tes terhadap dirinyalah yang bermasalah. Ia juga pernah mencoba
mencari paranormal untuk membuang kemampuannya itu, meski suara-suara itu
mengatakan “jangan”.

Akhirnya Rosi berdamai dengan dirinya dan mengembalikan kemampuannya sebagai
wujud kebesaran Allah SWT, dengan berusaha untuk terus mendekatkan diri pada
Sang Pencipta. Karena itu ia ingin membantu orangtua dengan anak-anak indigo
agar anak- anak itu tidak melewati masa pencarian yang rumit seperti dirinya.

Indigo children, menurut Erwin, bukan fenomena terakhir, karena akan lahir
anak-anak yang disebut sebagai crystal children. “Anak-anak dengan warna dasar
aura, bening dan lengkap. Mereka lahir dari orangtua yang spiritual.”

Mungkin Cita (9) termasuk anak itu. Keluarganya, sampai nenek-neneknya,
spiritualis. Ia bisa melihat sinar dan malaikat di rumah ibadah, khususnya
ketika orang-orang sedang berdoa. Ini hanya salah satu kemampuan “melihat” milik
anak yang selalu mendapat rangking di sekolah itu. Cita tahu kapan hujan akan
turun hari itu dan sebaliknya, meskipun mendung sudah menggantung.

“Ia menjadi teman dan penasihat kami, bapak-ibunya. Di sekolah, di keluarga
besar kami, terasa ia menebarkan aura kedamaian dan kebahagiaan. Anak itu sangat
tenang dan pemaaf,” ujar ibunya, Ny Dita. (MH)

Categories: Spiritualism