Cara Membuat Wanita anda Orgasme berkali-kali! Free tutorial and Video! Semua Gratis!! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘Jalaluddin Rumi’

 Powered by Max Banner Ads 

Peradaban Tuhan, Peradaban Manusia, Tak Usai-usainya

August 22nd, 2009 No comments

Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu  wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap yang kau saksikan dalam kematian. Lalu mengapa harus kaupalingkan mukamu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita. Dan arahkan pandanganmu ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati terlebih dulu sebelum memperbaiki diri. Laksana sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang. (Masnawi, Jalaluddin Rumi, dari buku Reincarnation and Islam)


Pengantar

Setiap benda, wujud, atau materi yang tercipta, tentunya memiliki masa eksis keberadaannya, yaitu masa kelahiran dan kematian, kemunculan dan kemusnahan, terbit dan tenggelam. Seperti gelombang samudera yang mengalami pasang dan surut, tidak terhitung banyaknya berapa peradaban yang muncul kemudian mengalami masa kejayaan lalu sirna ditelan waktu. Bumi, alam semesta yang kita tempati saat ini, sebagai sesuatu yang tercipta tentunya memiliki masa awal penciptaan dan masa berakhirnya suatu ketika. Dalam buku Naradha bhakti Sutra, Bapak Anand Krishna menggunakan istilah kalpa untuk merujuk pada “satu masa penciptaan”. Awal dari kalpa disebut shristi, sedang akhir dari kalpa disebut pralaya (kiamat, armagedon). Bumi yang kita tempati ini tercakup dalam kalpa yang bermula pada suatu momentum dan suatu saat akan mengalami pralaya atau kiamat jika semesta ini sudah tidak bisa mempertahankan keberadaannya. Sesungguhnya kalpa kita kali ini adalah kelanjutan dari kalpa sebelumnya. Meskipun kiamat adalah akhir dari penciptaan keberadaan pada satu siklus penciptaan tertentu, namun kiamat bukanlah akhir dari segalanya. Sebab jika satu siklus penciptaan berakhir, maka akan segera diikuti dengan siklus penciptaan berikutnya.

Jadi saya yakin, sesungguhnya telah ada ribuan kali bumi seperti yang kita tempati atau justru tak terbatas  jumlahnya. Jika bumi dan semesta ini mengalami kehancuran alias kiamat, maka penciptaan baru akan dimulai lagi. Karena Tuhan tidak berawal dan berakhir, maka sifat maha mencipta yang inherent dalam wujudNya pun tidak  berawal juga tidak berakhir. Ia tak punya awal sehingga energi kreatifnya abadi di masa lalu. Ia  tak punya akhir sehingga energi kreatifnya pun abadi di masa depan. Dan berkehendak atau mencipta adalah sifat Tuhan yang maha utama. Mencipta adalah hobiNya yang tak bisa diganggu gugat, bahkan oleh diriNya sendiri. Tuhan tak pernah menganggur di masa lalu. Dan ia tak akan mengalami masa pensiun. Sebelum dunia yang kita tempati saat ini tercipta, Dia telah menciptakan dunia yang tak terbatas jumlahnya di masa lalu sebelum masa kita hari ini. Dan manusia yang hidup di bumi sekarang adalah kelanjutan dari manusia yang hidup di bumi masa lalu pada kalpa terdahulu. Jika manusia belum mengalami penyatuan dan penyucian energi murni dalam dirinya, maka ia akan terus melintasi kalpa demi kalpa sampai ia mengalami penyatuannya dengan semesta. Manusia yang tercerahkan dan moksha pada kalpa saat ini akan menjadi bahan bakar bagi penciptaan pada kalpa berikutnya.

Imajinasikanlah, bahwa Anda hidup dalam bumi di masa lalu sebelum terciptanya bumi yang Anda tempati hari ini. Dan di dalam bumi yang telah lalu, Anda naik kereta api dengan kekasih Anda sambil merokok dan minum teh dari bumi masa lalu. Bayangkanlah bagaimana bentuk tubuh manusia saat itu, bibir kekasih Anda, lentik jemarinya yang Anda belai saat itu. Mungkinkah itu terjadi? Mengapa tidak? Dalam pengetahuanNya, segalanya serba ada dan serba mungkin. Saya sering membayangkannya saat kecil, dan pikiran ini memberikan sensasi pada saya bahwa saya adalah keabadian yang tak berawal dan tak berakhir, seperti Anda semua, meskipun yang namanya tubuh ini terus mengalami kebaruan dalam proses perjalanannya. Dan pemahaman ini membuat saya bisa lagi tertawa-tawa menyaksikan kemahadahsyatan dan ketakterbatasan energi kehidupan. Dan kelahiran juga kematian adalah peristiwa kecil di dalamnya yang ditertawakan oleh keheningan yang ditingkahi berjuta-juta basa-basi keramaian.

Dalam setiap penciptaan, keberadaan membutuhkan proses untuk mengaktualisasikan potensialitasnya dalam dunia wujud. Sejak dari peristiwa dentuman besar, big bang, sebagai permulaan terbentuknya semesta (jika kita menggunakan teori itu) hingga terciptanya bumi dalam bentuknya yang masih awal dan panas, hingga munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang kita sebuat sebagai mineral, tumbuhan, hewan dan pada puncak kesadarannya sebagai manusia, maka proses aktualisasi penciptaan itu tidak bisa tidak memerlukan hukum evolusi, hukum perjalanan. Seperti dalam puisi Rumi di atas, wujud kedua adalah kelanjutan yang memperbaiki wujud yang pertama. Dan evolusi itu mencakup baik evolusi tubuh, evolusi pikiran, maupun evolusi kesadaran.

Asal Usul Manusia

Segala sesuatu berjalan dan berproses untuk mencapai penyempurnaanya. Segala sesuatu tidak bisa tercipta secara langsung dengan sendirinya seperti permainan sulap. Kehendak, dunia Ide, ketika direalisasikan dalam dunia riil harus menapaki waktu untuk melalui tahapan-tahapan sampai akhirnya mencapai tahapan yang diinginkannya. Ketika Tuhan berkehendak Kun! (jadilah!) maka  kehendaknya itu fayakun.. yang artinya tengah berproses dan akan teraktualisaisi sesuai dengan rencana keabadian (plan of logos) yang terkandung dalam kehendak itu sendiri. Dan hal itu membutuhkan waktu yang sangat panjang dan mengasyikkan.

Manusia adalah tujuan akhir penciptaan Tuhan (saya memaknai Tuhan sebagai energi keberadaan yang abadi dan tak terbatas, Logos). Karena apa? Dalam diri manusialah, Tuhan bisa menyadari diriNya sendiri. Ia bisa bercermin dalam hati manusia. Ia bisa menyaksikan ribuan sifatNya dalam pribadi manusia. Dalam bahasa Kristiani, Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citranya. Jika diijinkan, Tuhan adalah seorang narsis sejati yang sangat mencintai diriNya sendiri, cemburu pada diriNya sendiri sehingga Ia menciptakan imaji tentang keindahan saban malam, merindukan kekasihNya yang bernama manusia yang konsepnya telah ada dalam diriNya. Dan adakah yang lebih serupa ketimbang keserupaan pencinta dan kekasihnya?

Sebelum memulai penciptaan, tujuan akhir telah dibayangkan terlebih dulu olehNya. Ia menciptakan konsep manusia sejati, insan kamil, übermensch. Pada diri manusia yang telah mencapai puncak kesadaran itulah Tuhan mampu melihat wajahNya secara total. Namun sebelum mencapai bentuk fisik, pikiran, dan kesadaran manusia, berturut-turut kehidupan mengalami fase demi fase untuk menyempurnakan evolusinya. Dan itu membutuhkan waktu berjuta-juta tahun, dalam hitungan waktu fisikal pikiran. Dalam proses evolusi ini, ilmu pengetahuan modern telah menjelaskan dengan cukup baik meski masih ada unsur spekulatif di dalamnya. Dan sebelumnya, hukum evolusi ini telah dipahami dengan baik oleh para mistikus zaman dahulu dengan penyaksian langsung, knowledge by presence. Cermatilah kesaksian Jalaluddin Rumi setelah menyaksikan proses evolusi spiritualnya dalam alam meditasinya berikut ini:

Dulunya aku adalah mineral, lalu berkembang menjadi tumbuhan. Mati dari mineral aku lalu muncul sebagai binatang. Mati dari binatang aku lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti  takut kalau kematian akan merendahkanku? Kehidupan berikutnya akan menjadikanku sebagai seorang malaikat. Lalu akan berubah lagi dalam sesuatu yang tak terkatakan. Dan segala sesuatu seakan bersaksi: kepadaNya kita akan kembali.

Dalam kesaksiannya itu, Rumi menuturkan pada kita bahwa dalam tubuh manusia sesungguhnya tersimpan jejak-jejak perjalanan kehidupan dari tingkatan materi rendah, di mana kesadaran Tuhan masih “terlelap” di sana, hingga tingkatan tumbuhan, dan hewan. Ada unsur mineral dan tumbuhan dalam tubuh manusia. Ada tersisa instink-instink hewani dalam karakter manusia. Dan sesungguhnya malaikat adalah manusia yang telah mengalami penyucian jiwa sampai pada taraf tertentu sehingga setelah mati, manusia suci itu masuk ke dalam alam astral, alam cahaya, alam dewa-dewi atau alam malaikat. Bisa pula manusia itu dikatakan masuk ke dalam dimensi shambala atau sorga. Namun malaikat masih belum sepenuhnya melebur dengan Tuhan sehingga ia musti lahir kembali ke dunia satu atau beberapa kali sampai mengalami penyatuan dengan semesta.

Demikianlah makna yang terkandung dari kalimat Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah). Kalimat itu adalah dalil reinkarnasi dan evolusi yang paling banyak diucapkan oleh orang, namun jarang yang memahaminya secara holistik. Manusia tidak kembali pada sorga atau neraka, namun mereka akan kembali lagi pada dekap hangat Tuhan betapapun lama dan melelahkannya proses itu. Untuk itu, sebelum sampai pada buaian Tuhan, manusia harus mengalami proses evolusi lewat reinkarnasi berulang-ulang sampai jiwanya menyatu dengan semesta, sampai mind yang membuat dia terikat dengan hukum karma terlampaui.

Makhluk hidup yang pertama kali mampu menyadari dirinya dan sesuatu di luar dirinya secara spiritual adalah manusia yang struktur otak dan tubuhnya memungkinkannya untuk berpikir reflektif. Mampu menyadari antara aku, kau, dan dia. Beberapa saintis yang menyatakan, manusia sadar pertama itu adalah homo sapiens. Jika al-Quran menyatakan manusia pertama itu adalah Adam, sudah barang tentu Adam itu adalah homo sapiens seperti yang dimaksudkan oleh ilmuwan. Karena penyebaran hidup ini begitu luas dan beragam di seluruh wilayah bumi, tentunya Adam, homo sapiens itu  tidak hanya satu. Hal itu dibuktikan dengan beberapa penemuan fosil manusia kuno di beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia. Jadi, ada Adam di Arab, di Afrika, Cina, Australia, juga tidak ketinggalan di Nusantara. Dan setiap suku bangsa, agama dan kepercayaan yang beragam mempunyai konsep sendiri-sendiri dalam bentuk cerita mitis tentang manusia pertama sebagai nenek moyangnya. Sebagai contoh, orang India menyebut nenek moyangnya sebagai Manu. Hal itu juga didukung dengan fakta bahwa warna kulit dan bentuk tubuh manusia di beberapa tempat berbeda-beda. Meskipun, mungkin pertumbuhan kesadaran kemanusiaan di satu tempat lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain, sehingga peradaban di daerah tertentu lebih tua dan menyimpan energi yang lebih besar dibandingkan dengan tempat lain. sebagai contoh adalah peradaban India dan Persia yang sudah sangat lamanya itu. Jadi menurut saya, Adam sebagai nama tokoh historis adalah manusia pertama di dunia Arab yang telah mencapai kesadaran kemanusiaan. Namun, Adam sebagai konsep banyak jumlahnya.

Pemaknaan Kembali Kejadian Adam dalam Kitab Suci

Konsep penciptaan Adam dalam al-Quran sebenarnya adalah cerita metaforis bergaya mitis untuk menjelaskan proses kemanusiaan secara universal. Jika cerita itu diterima sebagai fakta apa adanya tentunya akan menimbulkan banyak pertanyaan dan tidak reasonable. Sebenarnya kita semua adalah Adam. Tinggalnya Adam di surga saya maknai sebagai sebuah momen ketika manusia belum mengalami kesadaran diri, belum mengalami alam dualitas yang tercipta oleh mindnya. Ia masih menyatu dengan keberadaan. Ia belum bisa membedakan: baik dan buruk, cantik dan jelek, hitam dan putih. Jadi ia belum sadar. Ia belum bebas. Baik bebas untuk bertindak baik maupun bebas berbuat jahat. Surga adalah kondisi ketika pikiran belum beroperasi dalam diri manusia.  Manusia masih lelap dalam kedamaian purbanya. Kondisi adam ketika masih berada di surga saya ibaratkan sebagai seorang anak bayi hingga masa balitanya yang belum mengenal konsep baik dan buruk. Anak kecil yang masih suka berkejar-kejaran di lapangan menikmati jiwanya yang masih belum terkutuk oleh kebebasan ketika ia mengalami masa berpikir.

Buah khuldi, atau dalam Bibel disebut sebagai buah pohon larangan saya maknai sebagai  munculnya kesadaran dalam diri manusia. Ia sudah bisa membedakan realitas karena pikiran beroperasi dalam dirinya. Bisa pula dikatakan Adam tergoda oleh pohon pengetahuan, karena pikiran, atau pengetahuanlah yang membuat orang mulai teralienasi  dari kesatuan. Ia tercampak dari surga kesatuan, surga tauhid. Dalam bahasa Albert Camus, seorang eksistensialis keturunan Aljazair yang hidup di Perancis menyatakan: manusia dikutuk untuk bebas. Namun dengan kebebasan itu pulalah manusia bisa menyusun sejarah dan peradabannya di antara tegangan kebaikan dan kejahatan.

Iblis, ular, atau Hawa yang menggoda Adam saya maknai sebagai ego dalam diri manusia yang tersusun atas materi api. Karena ego, manusia terhempas dalam kehinaan. Namun, karena ego juga, sejarah manusia tercipta. Jadi semuanya ada gunanya. Hawa yang oleh banyak ulama dan teolog diartikan sebagai seorang wanita manja yang menggoda Adam hingga tergoda untuk makan buah laranngan itu, sebenarnya adalah hawa nafsu manusia. Karena dalam ayat lain dalam al-Quran, Tuhan memakai kata Hawa yang bermakna sebagai hawa napsu. Seperti kalimat: Wanahannafsu anil hawa (dan yang mampu menahan dirinya dari hawa napsu). Sangat  tidak adil jika wanita yang dijadikan kambing hitam, sebagai makhluk penggoda yang membangkitkan napsu sang Adam. Adam bisa saja lelaki, bisa wanita atau bahkan bisa pula banci. Bisa heteroseksual, homoseksual atau lesbian. Dalam al-Quran juga disebutkan: Tuhan mengajarkan nama-nama pada Adam. Nama-nama adalah kesadaran manusia untuk mengenali dunia semesta yang beragam sehingga muncullah ilmu pengetahuan yang beragam.

Namun saya tidak menolak konsep Adam sebagai tokoh historis, sebagai “manusia pertama”, homo sapiens pertama di wilayah Arab yang memiliki kesadaran kemanusiaan. Yang darinya kemudian melahirkan banyak keturunan, termasuk bangsa Israel dan 25 nabi bagi bangsa Arab.

Evolusi Manusia, Evolusi Peradaban

Annie Besant, seorang  Teosof, seperti yang dikutip dalam buku Reincarnation and Islam, karya Nadeer Baig Mezra, berkomentar dalam buku Introduction to Yoga: “Anda adalah pria dan wanita yang teruji, Anda telah menapaki tangga yang begitu panjang, yang memisahkan wujud Ketuhanan dalam dirimu dengan wujudNya dalam tanah liat…. Tuhan yang bermanifestasi masih “terlelap” dalam kehidupan mineral dan bebatuan. Kesadaran Tuhan menjadi lebih berkembang  dalam tumbuhan dan binatang sampai pada tahap akhir sebagai manusia. Tuhan telah mencapai apa yang tampak sebagai pencapaian akhir dalam wujudnya sebagai manusia pertama… tapi setelah berproses sedemikian lama dan tak terkira, akankah Anda tidak berproses lebih baik lagi?”

Pernyataan Besant adalah serupa dengan komentar para mistik di seluruh dunia yang memahami dan menyadari proses evolusi dirinya dalam penyaksian langsung melalui alam meditasi. Bahwa mula-mula Tuhan memanifestasikan diriNya dalam alam mineral berupa air, gas, dan materi-materi etherik. Lalu setelah alam mineral mengalami evolusi selama berjuta-juta tahun, kehidupan Ilahi memanifestasikan diri dalam bentuk tumbuhan, kemudian hewan, kemudian mencapai puncaknya ketika kehidupan dan kesadaran Ilahi memanifesasikan diri sebagai manusia. Meskipun manusia, usianya lebih muda dari ketiga bentuk kehidupan sebelumnya, namun manusialah yang menjadi penguasanya. Itulah makna ayat dalam al-Quran bahwasanya manusia ditahbiskan Tuhan sebagai khalifah, pemimpin, penguasa yang harus melestarikan kehidupan di muka bumi.

Dengan menjadi khalifah, dengan kesadarannya, manusia bisa bermain untuk mengaktualisasikan segala obsesi dan keinginannya untuk merangkai sejarah. Dan semua manusia punya hak yang sama untuk berperan dan menjadi masyhur dalam sandiwara besar yang dirancang sejak zaman asali itu. Tuhan punya kuasa, namun kuasanya itu dititipkan olehNya dalam kesadaran manusia. Permainan manusia itu yang akan menciptakan banyak peradaban, yang timbul tenggelam seperti gelombang pikiran manusia. Namun dalam permainan ini, manusia harus sadar akan jati dirinya yang tak terpisah dengan Tuhan, yang tak terpisah dengan makhluk lain di mayapada ini.

Malaikat yang tinggal di shambala iri kepada manusia dan berhasrat untuk turun ke dunia untuk bermain dalam geliat nafsu, meregang di antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi keniscayaan kehidupan. Itulah paradoksnya, manusia berproses untuk mencapai alam malaikat hingga alam Ilahi, namun malaikat sendiri tak sabar menanti gilirannya untuk turun ke dunia yang penuh napsu ini. Seorang manusia yang mengalami pensucian jiwa setelah kematiannya  akan tinggal di alam astral yang penuh kesenangan dan kemabokan untuk beberapa lamanya guna menikmati perbuatan-perbuatannya selama di dunia. Namun mereka tak punya tubuh sebagaimana manusia untuk menyempurnakan evolusinya guna bersatu dengan Tuhan—yang tidak tinggal di mana-mana namun meliputi semuanya. Jadi, betapa mahalnya harga sebuah tubuh yang kita gunakan ini hari. Untuk memperoleh tubuh seperti yang saya pakai hari ini, saya butuh waktu berjuta-juta tahun lamanya. Lalu, mengapa kita tidak mempergunakan ini tubuh untuk bermain sebaik-baiknya di dunia sekaligus akan menyempurnakan evolusi kita?

Evolusi manusia  yang bergerak menuju penyempurnaannya tak bisa tidak diikuti dengan evolusi peradaban sebagai sesuatu yang tercipta oleh tangan-tangan manusia. Dan kesadaran Tuhan selalu membimbing perjalanan peradaban ini melalui para nabi, atau avatara, yang menjadi wakilNya di dunia untuk mengarahkan perjalanan sejarah ini agar selaras dengan dharma (kebenaran universal). Para nabi menjaga kitab kehidupan agar tak cedera oleh gairah napsu manusia yang cenderung terpancar keluar, terpisah jauh dari pusat jati dirinya yang hening dan sunyata: Tuhan. Para tokoh inilah yang mengarahkan proses evolusi kehidupan biar bumi selalu layak untuk dihuni oleh sekalian makhluk yang hidup di dalamnya.

Kadang, dalam proses perjalanan dunia, muncul ketidakseimbangan yang terjadi di atas bumi. Seperti contoh, dalam kisah Ramayana, dunia masih banyak dihuni oleh makhluk-makhluk yang evolusi fisik dan kesadarannya masih kasar, makhluk-makhluk yang bisa mengancam keberadaan ras manusia. Makhluk itu dikenal sebagai sebagai kaum raksasa dan wanara. Raksasa  adalah makhluk yang evolusi fisiknya melebihi ukuran manusia, sifat alamnya sangat liar dan berkecenderungan hanibal. Wanara adalah kera yang berada dalam proses perjalanan menuju bentuk dan kesadaran manusia. Kedua makhluk itu sangat rendah kesadarannya, yang pada saat itu jumlah keduanya menyaingi keberadaan ras manusia. Lalu oleh kehidupan, diskenariokanlah sebuah perang yang akan mengurangi jumlah  kedua makhluk itu. Antara Sri Rama dan Hanuman yang berprajuritkan wanara dan Rahwana yang berprajuritkan raksasa.  Ras manusia sengaja tidak diikutkan dalam perang besar itu, agar tidak ikut musnah habitatnya. Dan agar jiwa-jiwa para wanara dan raksasa itu dalam kelahiran berikutnya bisa memakai raga manusia. Dan dunia layak dihuni kembali.

Cerita tentang raksasa ini dalam beberapa peradaban bisa ditemui. Seperti cerita raksasa Dewata Cengkar yang berperang dengan Aji saka dalam cerita pembukaan tanah Jawa. Atau raksasa Raja Baka yang berperang melawan Bandung Bondowoso. Dalam al-Quran, ada yang menengarai kaum raksasa ini adalah kaum ‘Ad yang bertubuh besar dan mampu membangun rumahnya pada dinding-dinding gunung, dan bukit sebelum dimusnahkan keberadaanya oleh Allah. Di Bibel pun sempat disebutkan tentang keberadaan makhluk itu.

Dalam kisah Mahabharata, dunia dipenuhi oleh para saintis sakti, yang tergabung dalam polaritas kelompok Pandawa dan Kurawa. Dunia menjadi terancam dengan perlombaan bersenjata. Lalu oleh Sri Krishna, dirancanglah sebuah perang besar antara dua kekuatan besar itu di medan Kuruksetra untuk mengurangi jumlah ksatria yang melebihi batas itu. Dan tak lebih dari dua minggu, perang itu selesai, dan prosers evolusi kehidupan bisa berjalan lagi dengan tenang. Sehingga dunia kembali aman, dihuni oleh orang-orang yang mulai memperhatikan kekayaan batin yang ada dalam dirinya masing-masing.

Demikian pula hikmah yang terkandung dalam kisah Nuh yang membawa serta banyak hewan, masing-masing sepasang dalam bahteranya, sebelum banjir besar menenggelamkan semuanya. Nuh ingin melestarikan makhluk-makhluk lain di muka bumi agar tidak musnah keberadaannya. Agar  wajah dunia tetap indah dengan penghuni yang beraneka. Bisa dikatakan, Nuh adalah seorang ekolog, pencinta alam yang memiliki wawasan tentang proses evolusi.

Penutup

Demikianlah proses evolusi manusia, yang mengalami berbagai perubahan, baik perubahan fisik, jiwa, maupun kesadaran. Manusia tidak bisa mengalami perubahan sebelum mengalami kematian dari bentuknya yang pertama. Kematian manusia adalah prasyarat untuk mencapai perubahan yang lebih baik dalam proses reinkarnasi berikutnya. Tumbuhan adalah kematian dari bentuk mineral. Hewan adalah kematian dari bentuk tumbuhan. Manusia adalah kematian dari bentuk hewan. Dan tak berlebihan jika dikatakan, bahwa Tuhan adalah kematian manusia dari egonya, hawa nafsunya. Hal ini senada  dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Syamsuddin Tabriz, guru spiritual dari Jalaluddin Rumi:

Kau hanya bisa menyaksikan malam tatkala mentari telah tenggelam. Apakah sekali-kali bulan pernah hilang pada saat matahari terbenam? Apa yang kau lihat sebagai tenggelam sesungguhnya terbit bersinar di tempat lain.  Sesungguhnya tanah kuburan tempat tubuhmu disemayamkan hanyalah penjara yang sempit. Tapi  itulah satu-satunya penjara yang membuatmu merdeka. Biji apakah yang tidak berkembang menjadi ribuan biji saat ia dikuburkan dalam tanah? Apa pula yang membuatmu ragu tentang biji kemanusiaan yang akan selalu berkembang di hari menjelang? (Syamsuddin Tabriz, Reincarnation and Islam)

Kematian terjadi kapan saja, setiap saat. Dan kematian yang paling sulit dialami oleh manusia adalah kematian ego sempitnya, hawa nafsunya. Karena egonya ini, manusia harus mengalami reinkarnasi berulang kali. Dalam banyak ajaran tasawuf dan kebatinan, manusia dianjurkan untuk “mati” selagi hidup: Muutu qabla mawtikum (matilah sebelum kematianmu). Atau dalam ajaran mistik Jawa yang menyatakan: Mati sajeroning urip, urip sajeroning pati (mati di dalam hidup dan hidup dalam kematian). Yang dimaksud dengan kematian di atas adalah kematian ego rendah kita yang tercipta oleh pikiran liar manusia yang membeda dalam dualitas, ego yang terpisah, dan ego yang membuat kita tidak bisa menyatu dengan keberadaan yang tak terbatas. Hidup dalam kematian adalah hidup dalam ketiadaan, keheningan yang menjadi istana Tuhan yang tidak di mana-mana, namun hadir di mana-mana.

Matilah, karena Tuhan ada dalam kematian ego kita. Namun  setelah kita mati dari ego kita, sesungguhnya kita baru bisa dikatakan mengalami kehidupan sejati, kehidupan dalam kebebasan sejati, yang selaras dengan alam semesta. Sebuah tindakan dalam “ketiadaan” adalah tindakan yang tanpa pilihan. Karena itu, tidak mengakibatkan penyesalan dalam pikiran kita.

Nyanyian Evolusi

Jangan pergi lagi Sayangku….., seperti dulu ketika Kau melepaskan jiwaku dari dekapMu. Tinggal dan menetaplah dalam hatiku biar bisa kudekap selalu diriMu ketika angin dan dingin udara malam hari menggetarkan tulang-tulang rapuhku. Agar menetes keringatku di hamparan putih bersalju. Hingga bisa kunyalakan salju itu dengan namaMu yang Kaumantikkan dalam jiwaku.

Datanglah selalu Sayang……, dalam hatiku, agar tak bisa lagi jiwa berpaling muka dari wajah senduMu. Agar tak terbagi lagi rasa cinta yang akan membuatMu cemburu. Agar kaki-kaki kecil ini tak lagi berlari-lari seperti kanak-kanak di atas lumpur halaman kala hujan menjelang. Agar hanya tersedia satu alasan penolakan ketika mereka mengajakku berkencan selain denganMu. Apa dan siapapun itu.

Agar bermakna pekerjaanku sebab Kaulah yang kutuju ketika harus pulang ke rumah saat senjakala memerah, dan nyayian janjiMu menyucikan jiwaku dari debu-debu kelahiran dan kematian yang menyaput pandanganku.

Aku setia padaMu sayangku….., dan akan kujaga kuncup bunga rindu yang Kautanam di ladang hatiku sepanjang perjalananku. Akan kuabadikan bunga rindu ini dengan sembahyang dan puasa penantianku. Dan dengan pengorbanan diriku sampai jiwaku merasuk dalam kuncup bunga ini. Kuncup dari pohon yang Kau tanam di padang hatiku. Hanya satu pohon, keesaanMu, yang selalu bernyanyi untukku saat jiwa sedang sendiri dan sedih: bahwa dalam cinta, semua yang sepertinya terpisah sesungguhnya menyatu.

Walau di dunia ini tanaman ini tak berbuah, walau serbuk sari tiada pernah kawin dengan putiknya, namun akan kujaga selalu tanaman ini, bunga rinduMu ini. Akan kusiraminya dengan darah yang mengalir dari urat nadiku. Supaya tumbuh dan tumbuh bunga rahasia ini, tanpa ada satu mata pun yang menyaksikannya. Sampai tunasnya terus menjulur menembus dinding-dinding daging dan bertahan dibakar terik cahaya, sebab bunga ini adalah anak cahaya, anakMu juga. Tunas bunga ini akan terus melentik sampai menembus tujuh lapis langit kesadaranku. Sampai malaikat dan iblis pun segan dan berhasrat merebutnya untuk dijadikan anak angkatnya. Hingga para bidadari pun iri melihat keindahannya. Hingga terhenti aliran sungai di surga karena takzim padanya. Hingga padam seketika api neraka dan sejuk suasananya karena menyaksikan mahkota-mahkotanya yang merah menggoda. Hanya Kaulah yang berhak memetiknya dari tangkai kecilnya, duhai Pujaku. Karena Dikaulah yang menanam di hamparan keluasan hatiku.

Aku tak akan berpaling lagi, Sayangku. Dan bimbinglah kaki dan tangan bayangan yang penuh mimpi ini dengan ratusan pesona dari satu namaMu. Hingga kaki dan tubuhku ini serasa tak menginjak tanah yang pura-pura mencintaiku itu. Melayanglah aku dengan tarikan napasMu, seperti layang-layang yang Kautarik dan Kaudekatkan pada genggamMu. Sampai tak ada benang jarak lagi antara Kau dan aku. Hingga perangkap kata pun sirna. Hingga gantian Kau yang akan mendekapku dengan mesra di buaianMu rapat-rapat. Kau ayun diriku lembut-lembut sampai aku tidur tanpa mimpi dalam jemari lembut cintaMu, lelap di atas ranjang mawar keabadianMu.

Author:  Salahuddien Gz.

Categories: Spiritualism

Sebuah Refleksi Tentang Reinkarnasi

August 22nd, 2009 4 comments

Pengantar

Cukup banyak buku telah ditulis dan diterjemahkan berkenaan dengan tema reinkarnasi, baik pengkajian secara ilmiah maupun pengalaman pribadi tentangnya. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam dan Nasrani sepertinya terhenyak. Tentu saja karena tema reinkarnasi tidak populer—untuk tidak mengatakan tidak ada—dalam dua agama besar di Indonesia ini. Lalu yang meyakini reinkarnasi, atau yang memang ada bibit keyakinan berupa pertanyaan-pertanyaan mendasar berkaitan dengan konsep eskatologis pun membolak-balik halaman demi halaman kitab suci guna menelisik dan menginterpretasi kembali teks-teks agama yang “sepertinya” menyembunyikan ajaran reinkarnasi di balik ayat-ayat yang menggunakan kata-kata metaforis dan bersayap. Mereka memaknai kembali apa itu alam barzakh, hari berbangkit, sorga, pahala dan dosa, hari pengadilan, dan neraka, bahkan sampai pada pemaknaan kembali hakekat Tuhan Yang Maha Adil.

Banyak yang menentang, namun tidak sedikit yang menerimanya. Yang menerima reinkarnasi menyuguhkan teks-teks yang diyakini berhubungan dengan reinkarnasi dan penafsiran yang sesuai dengan prinsip keadailan Ilahi, sedangkan yang menolak, menyuguhkan teks-teks yang menceritakan kekalnya sorga, kekalnya neraka, adanya hari pengadilan sebelum jatuhnya ketentuan, apakah manusia masuk ke dalam sorga atau neraka. Di antara dua keyakinan itu, yang manakah yang disebut dengan “keyakinan”? Tentu saja, pada hemat saya, dalam masalah hidup yang fundamental, tidak mungkin dua keyakinan—yang menerima dan yang menolak—sama-sama benar. Karena kita hidup pada bumi yang sama, dan hukum alam yang mengaturnya harus sama pula, tiada pernah berubah. Lalu keyakinan manakah yang benar?

Jika hal itu berkenaan dengan prinsip hidup fundamental—seperti reinkarnasi—tentunya tak ada aturan, hukum yang berbeda bagi masing-masing individu. Tidak mungkin, reinkarnasi dialami oleh penganut Hindu dan Budha sementara umat Islam dan Nashrani tidak mengalaminya, karena mereka meyakini konsep itu tidak ada dalam kitab suci mereka. Seperti halnya hukum gravitasi, di mana-mana pun berlaku sama.

Spiritualitas menuntut kejujuran dalam berproses menuju kebenaran sejati. Dan saya yakin, keyakinan kita pada konsep-konsep keagamaan yang biasa kita pegang sesungguhnya berasal dari warisan yang kita warisi dari orang tua dan lembaga kegamaan yang telah ada sejak kita lahir. Orang tua dan lembaga agama harus kita akui, masih sedikit yang bisa mengajarkan agama secara rasional dan berdasarkan pengalaman langsung dalam keberagamaan dan spiritual. Dan konsep-konsep itu telah tertanam dalam diri kita menjadi mind set sebagai hasil pengkondisian yang tidak memberikan pilihan pada kita selain agama yang dipercaya sebagai satu-satunya yang benar.

Bagi saya, keyakinan adalah sesuatu yang harus kita alami dan kita sadari dalam kesempurnaan kekinian. Karena kebenaran yang kita hadapi selalu saja terjadi dalam kekinian. Jika dalam al-Quran Tuhan menyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri, dan tidak ada sesuatu di luar Tuhan, tentunya sorga dan neraka pun ada di dalam Tuhan bukan? Berada dalam kekinian. Berada dalam diri kita. Tuhan bukan masa lalu, juga bukan masa depan. Dan esok belum terjadi, kalaulah esok terjadi tentulah itu dialami dalam kekinian. Dan masa lalu hanyalah memori, yang ketika tersimpan dalam memori otak manusia, maka urusannya adalah lupa dan ingat. Namun, masa lalu dan masa depan sesungguhnya tersimpan dalam kekinian yang abadi (eternal now). Dan yang bisa melampaui waktu, baik esok hari atau kemarin hari, adalah fakultas dalam diri kita yang saya sebut sebagai kesadaran. Kesadaran melampaui ruang dan waktu.

Dalam kesadaran, segalanya tercakup di situ. Melampaui dualitas baik buruk, kelahiran dan kematian. Dan kesadaran hanya bisa dialami dalam pengalaman yang serba baru. Tuhan yang bersemayam dalam diri kita itu adalah kesadaran. Yang terus bekerja tiada henti-hentinya. Dalam al-Quran Dia menyatakan, “Setiap hari Ia selalu sibuk.” Kesadaran tak pernah tidur, namun selalu terjaga dalam nurani manusia.  Kesadaran adalah saksi yang menyaksikan permainan dualitas pikiran kita.

Karena itu, keyakinan kita yang belum menyentuh wilayah kesadaran, belum sampai pada tahapan haqqul yaqin, sesungguhnya masih terbuka kemungkinan untuk berubah, meskipun kita menyebutnya itu sebagai keyakinan atau sebagai keimanan. Demikian pula dengan konsep reinkarnasi. Mungkin kita menolak reinkarnasi, karena pemahaman pada agama kita berbeda dengan ajaran reinkarnasi, berbeda dengan konsep kekalnya sorga, kekalnya neraka, tempat kembalinya semua umat manusia. Namun jika kita menolak konsep reinkarnasi, apakah kita bisa membuktikan bahwa konsep kita yang paling absah, bisa dinalar, bisa dialami, dan disadari? Bagaimana dengan kesaksian orang yang mengaku pernah lahir sebelum kehidupannya saat ini. Jadi, pada hemat saya, kebenaran itu harus disadari dan dialami sendiri, dirasakan. Pertama-tama kita perlu membuka ruang nalar untuk memahami tanpa kesinisan terlebih dulu, karena kita pun tak bisa membuktikan bahwa keyakinan kita yang benar, kita menyatakan benar karena “agama” atau pemimpin lembaga keagamaan kita menyatakan itu benar dan “sesuai” dengan “nash” agama.

Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang lahir di Timur: Hindu, Budha, Tao, faham Kebatinan, atau bahkan Kejawen. Jika Krishna, Budha, Lao Tse menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu Muhammad, Yesus, Musa “tidak” menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu apa dengan demikian para orang suci itu berbeda pandangan atas hukum alam yang seharusnya satu dan sama adanya?

Mengapa Manusia Perlu Mengalami Reinkarnasi?

Reinkarnasi adalah suatu relitas yang bisa kita sadari dengan kepekaan kesadaran kita sehari-hari. Kematian adalah sesuatu yang terjadi setiap hari. Bahkan kematian adalah hakekat yang melandasi segala sesuatu. Kematian adalah kepastian yang melebihi hidup itu sendiri. Bahwa cahaya selalu lahir dalam rahim kegelapan. Anda mati dari diri Anda kemarin dan lahir kembali menjadi diri Anda saat ini.

Kesalahan terbesar manusia sebenarnya ketika mereka merasa terpisah dari Tuhan. Jika kita merasa Tuhan berada “di sana”, tentunya perasaan tersebut sebetulnya telah membatasi kemahaadaan dan kemahaesaan Tuhan. Karena itu, setiap konsep yang dibangun dari perasaan terpisah tentunya  akan menghasilkan sikap selalu menyesal, sikap inferior, suatu sudut pandang, bahwa ada sebuah kekuasaan di luar diri kita yang sewenang-wenang dalam menentukan nasib kita, dan kita tak punya pilihan dengan kehendak-Nya. Sementara dalam al-Quran, Tuhan menyatakan: Tiada daya dan upaya selain dengan-Nya? Bahwa energi Tuhan berada dalam diri kita. Bahwa sifat-sifat Tuhan terkandung dalam diri manusia. Dan dalam ayat lain di al-Quran, Tuhan menyatakan: Sesungguhnya kehinaan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan tangan-tangan mereka sendiri. Hanya manusia saja yang belum menyadarinya. Manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Tuhan hanya memfasilitasinya. Termasuk kondisi seseorang yang menderita hidupnya ketika lahir di dunia tentu tidak bisa terlepas dari semangat ayat di atas.

Demikianlah, reinkarnasi adalah realitas sehari-hari, adalah konsep perubahan yang terus berjalan untuk menuju penyempurnaannya. Reinkarnasi, perubahan dan penyempurnaan jiwa itu adalah suatu keniscayaan yang tetap ada meskipun semua orang di dunia tidak meyakininya. Bulan akan tetap ada meskipun semua orang buta meniadakannya. Nah, realitas hanya bisa menjadi keyakinan jika kita menyadari saat mengalaminya, jika kita menyaksikan sendiri diri kita di masa lalu. Dan dari situ, reinkarnasi tidak hanya sekedar konsep yang perlu diperdebatkan, namun ia adalah realitas, keberadaan yang harus dan pasti suatu saat akan disadari oleh setiap jiwa. Jika kita telah mengalami dalam kesadaran reinkarnasi maka konsep itu pun berhenti dan menjadi keyakinan yang kuat.

Akan tetapi, pada tahap awal, kita perlu memahami reinkarnasi secara nalar. Karena, meskipun nalar seringkali ragu dan terjebak dalam dualitas, namun pemahaman sesuatu dengan nalar yang benar tentunya akan memudahkan kita untuk mendekatkan kita pada keyakinan akan reinkarnasi. karena jika kita terbuka dengan konsep reinkarnasi, maka pikiran yang kita proyeksikan pada diri kita di masa lalu, tentang kejadian di masa lalu suatu saat mungkin akan kita tangkap kenyataannya dalam alam meditasi, berupa insight atau sebuah gambaran dalam pikiran kita.

Energi yang menyusun alam semesta ini satu adanya di tengah kebhinnekaannya yang luar biasa. Dalam perbedaan wujud yang luar biasa banyak, sesungguhnya ada energi yang sama yang membuat semuanya ini maujud. Di dalam setiap materi terdapat energi yang mewujudkannya, dan energi bisa mengambil bentuk berupa materi. Yang non wujud berada dalam yang wujud, dan yang wujud akan kembali, dan menyimpan sesuatu yang non wujud. Ada  dua nama Tuhan dalam Islam yang mungkin belum banyak kita perhatikan: Al-Dzahir dan Al-Bathin. Jadi Allah adalah yang nampak sekaligus yang tidak nampak, dzahir dan batin. Membatasi Allah hanya pada sesuatu yang tidak nampak justru akan membatasi kemahaadaan Allah, seakan-akan Allah berada di awang-awang dan tidak hadir dalam dunia wujud. Pandangan semacam itu akan mengakibatkan orang menjadi idealis. Sementara jika kita membatasi Allah sebagai sesuatu yang lahir saja, maka kita akan terjebak pada pandangan materialis. Seakan-akan hanya yang maujud saja, hanya yang positif saja yang nyata, padahal kita pun mempunyai dunia batin, kesadaran, yang tidak dzahir namun “ada”.

Secara sederhana, kita, dan bahkan anak kecil pun akan bertanya, dari manakah asal-usulnya? Dari manakah asal usul keberadaan itu? jika kita menjawabnya secara berurutan, tentunya jawaban terakhir itu akan sampai kepada ketiadaan. Jawaban terakhirnya akan sampai pada pikiran yang menyerah karena tidak mampu menjangkaunya. Nah, yang tak mampu diperkirakan dalam pikiran itu kita menyebutnya sebagai Tuhan. Banyak para mistikus yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Ketiadaan yang merengkuh, yang mengandung segala macam keberadaan, dalam konsepsi mistik Jawa, Tuhan disebut suwung hamengku ana (ketiadaan yang mengandung keberadaan). Dalam pertanyaan-pertanyaan filsafat, seringkali dikatakan bahwa yang “ada” berasal dari yang “tiada”. Namun, bagaimana yang “tidak ada” bisa melahirkan yang “ada”? Oleh karena itu, mereka pun berkesimpulan bahwasanya anatara “ada” dan “tiada” itu sama saja. Kata para Budha, yang ada ini sesungguhnya tiada, maya belaka.

Namun, “ada” atau “tiada”, itulah yang sejati, yang nyata. Yang sempurna. Yang membuat semuanya tidak sempurna adalah pikiran kita yang menilai. Karena penilaian adalah kerja pikiran. Untuk sampai pada kenyataan dan hakekat sesungguhnya, para master dan para sufi menganjurkan kita untuk melampaui ego, mind kita, dan ketika kita berdisiplin diri untuk melampaui ego, tidak terikat pada pikiran yang membonceng keinginan, kita tentu akan sampai pada realitas yang melampaui segala macam pikiran, yang melampaui segala macam penilaian. Dan aneka macam ritul, meditasi, adalah sebuah latihan pendisiplinan diri untuk memupus ego kita yang tercipta dari pikiran liar (nafsu) kita sehari-hari. Pada tahap awal, pikiran adalah jalan untuk memahami kenyataan, namun ia juga sekaligus menjadi hijab yang membuat kita terhalang dalam menyatukan diri dengan kenyataan yang sejati.

Sebelum terciptanya alam semesta, sebelum dunia wujud maujud dalam ranah ruang dan waktu, maka yang ada hanyalah ketiadaan yang menyimpan segala macam peristiwa dalam pikiran murninya. Tuhan, yang adalah keheningan, ketiadaan abadi-Nya itu sendiri, ingin agar Dia dikenali, agar kekayaan batin-Nya diketahui dan disaksikan-Nya sendiri. Oleh karena itu, Dia lalu berkehendak untuk mewujudkan pikiran-Nya ke dalam dunia wujud. Sifat pertama dan yang utama dari Tuhan adalah kehendak. Dan kehendak ini muncul dari pikiran murni-Nya. Ia ingin melihat wujud-Nya yang abstrak memakai wadag. Dalam beberapa literatur tasawuf kita sering mendengar bahwa Tuhan menciptakan alam semesta agar dia bisa dikenali oleh diri-Nya sendiri pula. Atau, seperti yang sering diungkapkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, Tuhan ingin menciptakan Manusia agar ada yang bilang, ada yang memuji-Nya. Dan sesungguhnya yang memuji dan mengenali-Nya adalah diri-Nya sendiri juga. Kita bisa merasakan dan memahami konsep di atas dengan sebuah contoh tentang seorang pelukis yang ingin mengekspresikan ide lukisannya dalam pikirannya ke dalam sebuah kanvas. Ide pelukis itu bisa kita ibaratkan sebagai pikiran Tuhan, dan lukisan di atas kanvas itu kita ibaratkan sebagai ciptaan yang lahir dari kehendak sang pelukis itu sendiri. Atau seperti benih sebuah tanaman, yang menyimpan akar, dahan, ranting, dedaunan, dan buah, dalam potensialitas dirinya sendiri. Dan benih itu harus ditanam dalam tanah, harus berproses untuk mendapatkan kesempurnaan seperti yang telah dikandung dalam benih tanaman itu.

Sebelum menciptakan semesta, Tuhan menciptakan prototipe kesadaran sejati diri-Nya yang akan mengejawantah dalam tubuh manusia utama  (insan kamil). Dalam Islam tasawuf, prototipe itu disebut sebagai nur muhammad. Atau energi murni sebelum mengejawantah dalam perwujudannya sebagai tokoh historis bernama Muhammad bin Abdullah, nabi yang lahir di kota Makkah itu. Dan  nur Muhammad itu sebetulnya ada dalam setiap ciptaan, karena segala macam ciptaan itu sesungguhnya adalah dari napas-Nya pula. Yang membedakan hanyalah tingkat keasadaran ciptaan itu akan jati dirinya yang tak terpisah dari Tuhan. Yang sesungguhnya tak terbatas dan omni present, hadir di mana-mana. Nur Muhammad mengalami beberapa fase dalam dunia untuk mencapai kesadaran tertingginya sebagai insan kamil, sebagai Muhammad. Dalam beberapa literatur agama, kebatinan, juga ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwasanya alam semesta terbentuk sebelum manusia seperti yang kita lihat sekarang ini, semesta tercipta sebelum adanya manusia yang memiliki kesadaran diri dan benda-benda maujud di dunia. Bahkan ketika proses itu sudah sampai pada manusia, kesadarannya masih harus terus berproses dan mengalami peningkatan dalam beberapa kelahiran hingga sampai pada kesadaran tunggal, kesadaran semesta seperti yang dimiliki oleh nabi Muhammad. Setiap nabi sesungguhnya pun tidak serta merta menjadi seorang nabi. Mereka dulunya pun berproses sebagaimana kita, babak belur dulu sebelum mencapai kesempurnaan sejati. Seperti kata Nietzsche yang juga memahami konsep insan kamil, puncak kebudayaan adalah berdiam diri dari naluri-naluri liar.

Dalam beberapa kesempatan, Muhammad seringkali menyatakan, Ana basyarum mitslukum (sesungguhnya aku ini seperti kalian semuanya). Yang membedakan hanya tingkatan kesadarannya saja, bahwasanya Muhammad telah mencapai kesadaran paripurna dalam kelahirannya yang terakhir. Dalam suatu kesempatan, Muhammad pernah mengatakan bahwa dalam dirinya terkandung jiwa Ibrahim. Atau dalam doa tahiyyat akhir ketika shalat, pujian kepada Muhammad selalu dihubungkan dengan pujian kepada Ibrahim. Sementara itu, kita masih berproses untuk mencapai kesadaran Muhammad. Dan kita saat ini sedang berproses ke sana. Kita akan dan pasti akan mencapainya. Suatu saat. Dan kelahiran para nabi, para wali, dan para master adalah untuk memberikan contoh kepada manusia tentang Tuhan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan dalam tubuh manusia. Muhammad pernah bilang, Ana Ahmad bilaa mim. Yang artinya sesungguhnya dialah Tuhan yang maujud. Atau seperti kata Yesus, Tiada seseorang pun bisa sampai pada Bapa tanpa melalui Aku. Jadi, sesungguhnya itulah pentingnya para nabi, para wali, para mursyid yang mengetahui betul apa yang harus kita lakukan dalam proses perjalanan kita menuju kesempurnaan sejati.

Keberadaan para master itu ditulis dalam al-Quran: Dan di antara keduanya, ada batas, dan di atas tempat tertinggi, A’raaf itu, ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. (7:46)

Ayat di atas menyiratkan pengetian bahwa, orang yang berdiri di tempat tertinggi itu adalah Para nabi yang melampaui dualitas, baik buruk, sorga neraka, kebaikan atau kejahatan. Dan para master itu sangat mengenal cici-ciri manusia yang masih terjebak pada dualitas baik dan buruk, karena sesungguhnya para master itu telah melewati, telah melampaui apa yang belum dilampaui oleh dua golongan tadi. Saat orang menjadi nabi, menjadi master, sesungguhnya dia hanyalah menjadi penyaksi, syahid, yang terus terjaga dalam keseimbangan. Yang selalu waspada layaknya Budha di antara peristiwa-peristiwa dunia yang hilir mudik terus berganti.

Life is Just a Game, be Joyful….

Lalu kita mungkin bertanya, untuk apa penciptaan ini terjadi? Untuk apa kita harus lahir di dunia? Untuk apa Tuhan memendarkan, memerincikan diri-Nya, mengembangkan diri-Nya dalam alam yang bhinneka ini? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus terbetik dalam diri kita supaya kita bisa melewatkan hidup ini dengan keyakinan, dan tidak berputus asa atau pun jumawa. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits qudsi, Tuhan adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Ia menciptakan semesta agar diri-Nya dikenali. Jika Tuhan tanpa ciptaan, siapa yang bisa menyebutnya sebagai Tuhan? Tuhan tanpa manusia, tentu Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Jadi ada unsur game dalam penciptaan ini. Tuhan ingin bermain-main dengan diri-Nya sendiri agar tidak masyghul dalam kesunyian-Nya. Dalam diri-Nya, terkandung kesadaran murni yang mengandung segala macam potensialitas yang Dia kehendaki agar teraktualisasi dalam sejarah. Baik itu potensi kebaikan maupun kejahatan, baik itu potensi malaikati maupun potensi syaithani.

Itulah misteri Tuhan yang tiada seorang pun bisa memecahkannya. Kehendak-Nya begitu misteri. Dan karena Dia dan kehendak-Nya adalah misteri, maka ciptaannya yang mengandung energi-Nya pun misteri. Namun, ketika kita berbicara tentang Tuhan, yang harus disadari adalah, kita tak pernah terpisah dari-Nya. Kita ada di dalam-Nya. Dan Dia ada di dalam diri kita. Sehingga, ketika kita membenci atau memuji-Nya, sesungguhnya rasa benci dan pujian itu akan kembali pada kita sendiri.

Dalam al-Quran seringkali disebutkan bahwasanya hidup ini tak lain hanyalah permainan dan senda gurau (laibun wa lahwun). Jika Tuhan menciptakan dunia ini sebagai arena permainannya, maka, tak ada pilihan bagi kita untuk bermain dan menikmati permainan itu. Permainan baik dan buruk, cinta dan benci, protagonis dan antagonis yang membentuk sebuah cerita dalam sejarah. Hegel, seorang spiritualis dari Jerman menganggap bahwa, sejarah adalah otobiografi Tuhan, atau Tuhan bukan hanya yang memiliki sejarah, namun Dia adalah sejarah itu sendiri. (Hegel; Reason in History;1953)

Dan dalam permainan, game itu, pasti ada aturan permainannya. Aturan itu tak pernah berubah, abadi selamanya. Dalam Islam, aturan yang tak pernah berubah itu disebut sebagai Sunnatullah, bangsa Timur menyebutnya sebagai hukum karma, dan ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai hukum kausalitas. Secara sederhana hukum itu oleh nenek moyang kita diungkapkan dalam sebuah kata-kata indah: siapa yang  menanam dia yang akan menuai, siapa yang berhutang dia harus mengembalikan. Sunntullah itu tak bisa dilanggar oleh siapa pun bahkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan taat kepada aturan yang berada dalam diri-Nya sendiri. Hukum karma itulah yang membuat kita harus bereinkanasi terus menerus. Hukum permainan hidup itulah yang menciptakan rantai samsara, jika kita belum melampauinya dan menyatu dengan sang pemilik permainan: Tuhan. Tuhan yang ruh murni-Nya dikandung oleh para nabi dan para master selalu dalam kesadaran murninya, ketika bermain di muka bumi. Mereka sadar akan kekuatan maya hidup. Mereka telah melampaui samsara, rantai kelahiran dan kematian, dan mereka turun ke dunia untuk bermain, untuk memberikan contoh pada manusia bagaimana menikmati hidup, menunjukkan sebuah cara bagaimana manusia harus kembali ke haribaan-Nya.

Tuhan ingin agar ciptaan-Nya yang pada awal-awal terbentuknya semesta bermula sebagai makhluk sederhana serupa mineral dalam air dan bebatuan, mengalami penyempurnaan fisik dan kesadaran sehingga bisa mengenal diri-Nya, dalam wujud manusia melalui hukum evolusi. Dalam diri manusialah, kesadaran Tuhan mulai nampak. Manusia mampu memikul pikiran Tuhan yang mengandung dualitas baik dan buruk. Itulah maksud ayat dari al-Quran, bahwasanya amanat (kesadaran) Allah telah ditawarkan pada gunung, laut, dan makhluk lainnya, namun mereka semua menolaknya, karena kesadaran mereka belum mencukupi untuk menerimnaya, dan manusialah yang mampu mengemban amanat-Nya. Kata Tuhan selanjutnya, bahwa manusia benar-benar bodoh dan zalim. Makna sesungguhnya adalah bahwa, Dia menertawakan diri-Nya sendiri. Imajinasikanlah, betapa lucunya ketika  Tuhan mengutuk dan membodoh-bodohkan manusia yang merupakan tujuan akhir penciptaan-Nya sendiri. Dia telah memendarkan diri-Nya dari tingkatan tanah liat menuju kesadaran tertinggi dalam wujud manusia. Dia mengutuki dan menertawakan manusia untuk—suatu saat—didekap-Nya kembali karena kerinduan-Nya yang akut dalam penantiannya pada si anak hilang, yang juga adalah diri-Nya sendiri pula.

Jadi reinkarnasi adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh Tuhan. Dan Tuhan tidak akan berhenti bermain, dia tak akan berhenti mencipta karena itulah sifat-Nya yang utama. Lalu mengapa kita harus terlalu serius memikirkan hidup? Hidup ini misteri dan sebuah misteri tetap akan menjadi misteri. Selamilah dan nikmatilah misteri itu. Karena Tuhan ingin melihat manusia bergembira. Tuhan ingin agar manusia memahami hakekat-Nya. Dan reinkarnasi akan terus dialami manusia sampai manusia mengenal kesejatian Tuhan.  Dan untuk itu, dia akan selalu mengutus wakil-Nya, untuk berbicara atas nama-Nya. Seperti sabda Krisna kepada arjuna di medan Kuruksetra:  Jika Dharma (kebenaran, aturan kehidupan) terancam, maka Aku akan turun kembali ke dunia untuk menegakkannya  dari masa ke masa (Bhagavadgita).

Mengapa Islam Tidak Terlalu Jelas Berbicara tentang Reinkarnasi?

Jika ditilik dari tingkat kesadaran umat yang dihadapi oleh nabi Muhammad masih dalam tingkatan jahiliyyah (kesadaran rendah), dan mempertimbangkan asas manfaat kalau seandainya ajaran reinkarnasi disampaikan pada masyarakat awam seperti itu, maka sepertinya nabi Muhammad “menunda” atau “menyamarkan” faham reinkarnasi dalam ungkapan-ungkapan metaforis dan implisit? Karena Nabi Muhammad pernah berkata pada para sahabatnya:

Al-Quran disampaikan dalam tujuh dialek; dan dalam setiap dialek ada makna luar dan makna dalamnya. (Hadits Nabi)

Atau dalam salah satu kesempatan, beliau menyatakan:

Aku menerima dua macam pengetahuan dari Utusan Tuhan (Jibril): salah satu darinya kuajarkan pada orang-orang dan jika saja pengetahuan yang satunya lagi kuajarkan pada mereka, tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka (membingungkan mereka-pen.) (Hadits Nabi)

Lalu, pertanyaannya, jika ajaran-ajaran Muhammad yang rahasia dan belum waktunya disampaikan pada saat itu seperti mungkin reinkarnasi belum pernah sampai pada kita, lalu pada siapakah ajaran rahasia itu disampaikan. Ada beberapa orang yang mempercayai, bahwa ajaran sejati Nabi Muhammad itu diwarisi oleh Hazrat Ali. Karena Muhammad pernah bilang:

Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya.

Dan, dari Hazrat Ali, kemudian pemahaman itu terwariskan kepada para sufi. Karena dalam genealogi tarekat tasawuf, hampir semuanya dari Muahammad langsung turun kepada Hazrat Ali.

Salah satu sufi dari banyak sufi yang telah sampai pada pengalaman reinkarnasi adalah Jalaluddin  Rumi. Ia sempat menyatakan dalam catatannya yang rahasia:

Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.

Dari sini, saya mencurigai bahwasanya nabi Muhammad masih belum menyingkap reinkarnasi dengan jelas pada umatnya saat itu, karena tingkat kesadaran masyarakat Arab pada saat itu masih belum memungkinkan jika ajaran itu diterima oleh mereka, sehingga ayat-ayat al-Quran cenderung mengungkapkan reinkarnasi dengan bahasa-bahasa simbolis. Seperti ayat berikut ini:

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan  siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup (Q.S. 3:27)

Jika Muhammad menyampaikan dengan terbuka ajaran reinkarnasi pada zaman jahiliyyah kala itu, bisa jadi masyarakat pada saat itu akan bermalas-malasan berusaha dalam meningkatkan kesadaran spiritualnya karena sangat mungkin mereka beranggapan, bahwa, hidup tidak hanya saat ini, dan bisa diperbaiki pada hari esok. Masyarakat  Arab pada saat itu harus diberikan peraturan yang sangat ketat agar mereka mau  berdisiplin. Pada hemat saya, Muhammad pun “terpaksa” berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya ketika beliau berbicara tentang hidup sesudah mati, hari kiamat, hari pengadilan, dan sorga-neraka.

*Salahuddien Gz, mantan mahasiswa Filsafat UGM  th. 1995-2000. Bekerja freelance sebagai penerjemah dan editor buku-buku sastra, spiritualitas, dan filsafat. Tinggal di Pondok Labu Jakarta Selatan.

Baca related artikel: Islam dan Reinkarnasi

Categories: Spiritualism