Sembuhkan Diri Anda dari Ejakulasi Dini ! Ayo Masbro klik disini !
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘karma’

 Powered by Max Banner Ads 

Apakah Kita Musnah Ketika Kita Mati?

August 22nd, 2009 No comments

Apa itu kematian? Ada yang menganggap kematian merupakan
kemusnahan, dimana kehidupan dan kesadaran berakhir saat badan fisik
kita berhenti berfungsi. Ada lagi yang menganggap setelah kematian
kita akan melewati bentuk kehidupan yang lain. Walaupun tidak dapat
dibuktikan tetapi banyak orang yang percaya adanya kehidupan setelah
kematian. Kepercayaan ini bisa berdasarkan agama yang dianut tetapi
juga bisa tidak berdasarkan agama. Kalau benar ada bagian dari diri
kita yang tetap hidup setelah kematian, itu berarti yang
disebut “kematian” sebenarnya adalah transisi dari satu keadaan
menjadi keadaan yang lain dan bukannya `akhir’ itu sendiri. Proses
kelahiran, perkembangan, kematangan, usia tua dan kematian merupakan
siklus yang dijumpai pada tiap-tiap tingkat di Alam ini, mulai dari
atom sampai jagad raya. Rasa takut yang mengelilingi kematian mulai
tersingkirkan kalau kita memandangnya sebagai siklus yang berulang,
dan sesungguhnya, merupakan suatu awal bagi keadaan kesadaran yang
berbeda.

Ajaran bahwa kehidupan terus berlangsung dan tidak terhenti
pada kematian badaniah, merupakan kebijaksanaan spiritual yang telah
ada semenjak dulu. Gagasan-gagasan berikut ini kami sampaikan untuk
kau pertimbangkan yang kami kutip dari ajaran spiritual yg tidak
dapat diterakan usianya, yang dikenal sebagai Theosophy.

SIAPAKAH AKU?

Dalam diri kita banyak yang secara intuitif merasa bahwa
sebenarnya kita lebih dari sekedar badan fisik belaka. Lebih dari
orang yang harus makan untuk hidup, harus tidur dan berkembang biak
untuk menjaga kelangsungan spesies manusia ini. Sangat natural kalau
kita bertanya “Siapakah aku?” dan “Apakah aku lebih dari sekedar
badan ini?”

Theosophy mengajarkan bahwa manusia lebih dari sekedar badan
fisik saja dan kita berfungsi di tiga bidang utama sebagai:

1. Suatu Spirit yang bersemayam dalam diri yang telah ada sebelum kelahiran kita dan terus ada setelah kematian.
2. Suatu jiwa/pikiran yang juga ada sebelum kelahiran dan terus ada setelah kematian.
3. Suatu badan fisik.

Pertimbangkan gagasan bahwa jiwa/pikiran merupakan proyeksi
atau “kendaraan” bagi tempat bersemayamnya Spirit. Sang jiwa
berevolusi melewati masa yang panjang dengan menyatukan pengalaman-
pengalaman, secara berangsur mencapai kualitas unggul seperti sifat
welas-asih, inteligen murni, pemahaman dan kebijaksanaan. Sifat-sifat
ini dicapai dengan menggunakan tubuh dan kepribadian baru secara
berkala. Diproposisikan bahwa perjalanan evolusi manusia membutuhkan
banyak kehidupan agar kita dapat mengembangkan seluruh potensi
manusia dan potensi spiritual kita. Dengan demikian, sangat logis
bila dikatakan kita telah berkali-kali melalui proses kelahiran dan
kematian.

Yang lebih penting adalah menyadari (pada banyak orang
kesadaran intuitif ini kuat) keberlangsungan keberadaan kita. Kita
merasakan, pada diri kita terdapat lapisan-lapisan kesadaran yang
lebih dalam. Misalnya mereka yang secara reguler berlatih meditasi
yang memungkinkan mereka mengalami kesadaran yang berbeda dengan
kesadaran sehari-hari.

BERBAGAI MEDAN KESADARAN LAINNYA

Disekeliling kita ada berbagai jenis kepadatan materi. Dengan
adanya X-ray dan televisi di masa kini, kita lebih mudah menerima
realitas adanya dunia yang tidak dapat kita lihat. Sains mempelajari
konsep, yang makin lama makin luas, tentang hakikat materi dan
hakikat energi; sains memudahkan kita menangkap gagasan adanya
daya/kekuatan baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Oleh
karena itu tidak terlalu sukar untuk membayangkan bahwa manusia
memiliki aspek-aspek atau badan-badan selain badan fisik yang
dibentuk oleh materi yang lebih halus. Misalnya, badan ether/aura
kita dapat diamati dengan tehnik fotografi Kirlian.

APA PERBEDAAN KEMATIAN DAN TIDUR?

Theosophy mengajarkan bahwa kematian dan tidur tidak jauh
berbeda. Ketika tidur, kesadaran kita untuk sementara menjauh dari
tubuh fisik, tetapi kita tetap menjalani petualangan emosional dan
mental, yang seringkali dapat kita ingat saat kita terbangun. Dalam
mimpi, kita sampai pada alam kesadaran yang berbeda dengan alam
kesadaran kita sehari-hari.

Pertimbangkan gagasan ini, dengan kematian fisik, kesadaran
kita memulai perjalanannya menempuh dunia-dunia lain yang lebih luhur
dari yang mungkin kita jumpai saat kita tidur. Karena waktu kita
tidur kesadaran kita masih terikat dengan kesadaran tubuh-fisik dan
kita dapat kembali ke tubuh-fisik kita ini. Dengan kematian, ikatan
dengan tubuh-fisik putus secara permanen; para clairvoyant dapat
melihat daya kehidupan (life force) meninggalkan tubuh melalui ubun-
ubun/mahkota kepala dalam bentuk aliran sinar perak yang halus atau
sering disebut sebagai pita perak (silver cord).

APA YANG TERJADI SAAT KEMATIAN?

Ajaran kekal menyatakan bahwa setelah kematian fisik kita pergi
menuju dunia cahaya dimana kita kita semakin terbebas karena secara
bertahap kesadaran terlepas dari ikatan getaran materi fisik yang
padat. Dunia cahaya ini menginterpenetrasi (menembus) dunia fisik.
Kemudian jiwa mengalami proses pemurnian sebelum dapat memasuki
kedalaman dan kebahagiaan ilahi sesuai dengan perbuatannya di dunia
fisik.

Selama kehidupan di bumi sebagaian besar dari kita beridentifikasi
dengan hasrat-hasrat dunia fisik. Dinyatakan bahwa hasrat-hasrat ini
tidak hilang begitu saja setelah kematian badan, bahkan dapat
mengalami intensifikasi. Namun hasrat-hasrat ini harus ditanggalkan
sebelum jiwa dapat memulai tahap lanjut perjalanannya. Analogi
berikut kami berikan untuk memudahkan pemahaman. Ketika garam
ditambang dari air laut, air laut menguap dan meninggalkan residu,
yang belumlah merupakan garam murni. Agar garam menjadi murni,
partikel-partikel yang kotor harus dibuang. Inilah yang terjadi saat
jiwa meninggalkan tubuh fisik. Jiwa kita harus dimurnikan terlebih
dahulu. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk proses pemurnian
tersebut, terlebih bila emosi-emosi yang bersangkutan bersifat
intens, sangat kuat dan tidak konstruktif. Kita tidak bisa sekonyong-
konyong menjadi sempurna setelah kematian, karena perjalanan manusia
membutuhkan banyak kehidupan. Rasa takut, kerinduan-kerinduan,
kebahagiaan dan kedukaan kita tetap bersemayam dalam jiwa kita dan
emosi-emosi ini perlu dipahami dalam kehidupan setelah kematian.
Proses pemurnian berlangsung secara gradual dan dalam keadaan
kebebasan baru ini jiwa/pikiran akan mulai menghargai dunia-bercahaya
tempat ia tinggal sekarang. Dikatakan bahwa akhirnya kita akan
terbangun dalam keadaan bahagia-seperti-surga, penuh dengan
kenyamanan dan penghargaan dimana tidak ada rasa sakit dan kedukaan,
hanya ada kebahagiaan dan rasa kesejahteraan.

Penting diingat bahwa kita menciptakan pengalaman “surga” nanti lewat
kehidupan sekarang ini. Apa yang memotivasi hidup kita? Apakah kita
hanya menyibukkan diri dengan hal-hal sepele kehidupan sehari-hari
ataukah kita berpikir lebih mendalam? Apakah kita mementingkan diri
sendiri ataukah kita menolong orang lain? Apakah kita mudah marah
ataukah kita lebih tenang dan terfokus, dibantu oleh saat-saat
refleksi yang tenang dan meditasi? Kalau kita dapat mengkultivasikan
pelatihan yang tepat, dinyatakan bahwa setelah kematian fisik proses
transisi kita ke dunia “surgawi” akan lebih mudah. Bagaimana kita
menjalani kehidupan sekarang akan menentukan bentuk kehidupan yang
akan kita alami setelah kematian.

Terdapat berbagai sudut pandang yang berbeda-beda tentang berapa
lama kita akan tinggal di alam surga ini. Tetapi antara satu individu
dan lainnya rentang waktunya akan berbeda dan tidak dapat diukur
dengan waktu duniawi, karena keadaan di alam surga tidak terkait
dengan waktu seperti yang kita kenal. Setelah kita beristirahat penuh
dan diperbaharui, ajaran theosophy menyatakan bahwa kita akan kembali
merasakan dorongan untuk mengalami dunia materi. Kemudian kita akan
mengalami proses dilahirkan dalam badan fisik dan memulai siklus
kembali, tertarik dengan keadaan yang kita buat sendiri.

BUKTI-BUKTI EXISTENSI YANG BERLANJUT

Walaupun sulit dibuktikan adanya kelanjutan kesadaran manusia
diluar badan fisik, bukti-bukti konsep ini semakin meluas lewat
penelitian dalam disiplin sains yang ketat terhadap ESP (Extra Sensoy
Perception/Indera ke-6) dan out-of-body-experience/pengalaman-diluar-
tubuh. Apa yang dapat disebut sebagai bukti empiris dari konsep
reinkarnasi, atau banyak kehidupan berkali-kali, diberikan lewat
memori sejumlah subyek tentang kehidupan lain mereka di masa lalu.
Walaupun sulit untuk membuktikan semua kasus ini secara obyektif,
namun pada beberapa subyek telah dapat dibuktikan dengan nyata dan
ilmiah.

PENGALAMAN HAMPIR-MATI (NEAR-DEATH EXPERIENCES/NDE)

Yang paling relevan belakangan ini adalah testimoni dari
ratusan subyek yang menglami “mati klinis”, kasus-kasus ini di
kumpulkan dan dipublikasikan oleh sejumlah peneliti, antara lain: Dr.
Raymond Moody, Dr. Elizabeth Kuebler-Ross, dan penulis Australia Dr.
Cherie Sutherland.

Pengalaman orang-orang yang telah dihidupkan kembali dan
menceritakan kejadian yang mereka alami selama mereka mati secara
klinis amat mirip dengan yang dijumpai pada literatur theosophy. Bagi
kebanyakan orang, pengalaman mereka yang pertama adalah melewati
ruangan panjang atau terowongan gelap sebelum kesadaran mereka
kembali terfokus dan mereka menyadari diri mereka dalam “badan”
spiritual. Dari sini mereka mengawasi secara terpisah bagaimana badan
fisik mereka sedang dihidupkan kembali – misalnya, di ruang operasi
atau ketika diselamatkan dari tabrakan mobil. Banyak yang menemukan
diri mereka dalam alam cahaya dan kebebasan dimana mereka bertemu
dengan “makhluk bercahaya/beings of light” yang melambangkan
pemahaman dan cinta kasih sempurna. Biasanya mereka juga merasakan
kedamaian dan kesejahteraan yang mendalam. Seringkali orang-orang ini
mengalami pemutaran ulang dari kehidupan mereka dan mengerti bahwa
mereka harus kembali ke dunia fisik untuk menuntaskan urusan-urusan
yang belum diselesaikan dalam inkarnasi yang sekarang.

Kebanyakan dari mereka yang enggan kembali, bersaksi bahwa
pengalaman NDE mereka telah mengubah kehidupan mereka secara radikal.
Mereka tidak lagi takut mati, menyadari walaupun mereka sangka mereka
telah mati, keberadaan mereka tetap berlangsung dalam keadaan lain.
Orang-orang ini kembali pada kesadaran fisik mereka dengan hasrat
untuk menumbuh kembangkan cinta kasih bagi orang lain. Mereka juga
menghargai pentingnya mempelajari dan mengembangkan kebijaksanaan
lewat pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini.

PERTOLONGAN PADA SAAT KEMATIAN

Satu saran penting yang diberikan oleh pelajar ilmu
Kebijaksanaan adalah pada saat seseorang menghadapi sakratul maut,
mereka yang hadir dapat menolong jiwa yang tengah berangkat ini
dengan membiarkan terjadinya transisi dalam atmosphere setenang dan
sedamai mungkin. Sebuah langkah besar telah diambil belakangan ini
dengan pendirian yayasan perawatan (rumah sakit khusus) dimana pasien
yang sekarat menerima perawataan penuh cinta kasih dan kepercayaan
dari staff yang dilatih secara khusus.

HARUSKAH KITA BERDUKA?

Bayangkan bagaimana rasanya menyelip keluar dari tubuh dengan
tenang, barangkali keluar dari rasa sakit yang menghujam tubuh, dan
menemukan dirimu bebas, bahkan agak terpana pertamanya – dan
barangkali tidak menyadari bahwa alam kesadaran yang baru kau masuki
bukanlah alam fisik yang biasa kau hadapi. Diterangkan dalam buku The
Tibetan Book of the Dead dan dalam naskah-naskah lain dengan subyek
sejenis, bahwa penyesuaian diri bagi yang meninggal akan dipersulit
jikalau mereka yang mencintai orang yang meninggal memperpanjang
kedukaan dan kesedihan mereka. Sangat alami untuk bersedih dan
psikolog modern setuju bahwa tidak sehat kalau kita menekan duka cita
kita. Tetapi bagi mereka yang memandang bahwa kematian merupakan
bagian dari siklus kelahiran-kematian yang biasa bagi sang jiwa, dan
percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, mereka ini dapat
membuktikan bahwa kedukaan mereka banyak berkurang. Bagi mereka,
kematian dipandang sebagai proses siklik reguler dan mereka tidak
begitu takut menghadapi masa depan yang tidak jelas dari orang-orang
yang mereka cintai.

MEMPERSIAPKAN KEMATIAN KITA SENDIRI

Ketika bayi akan dilahirkan, kita mempersiapkan diri untuk
persalinan. Karena kita semua akan mati maka kita dapat juga menolong
diri kita sendri mempersiapkan transisi ini,. Seluruh proses akan
dipermudah kalau kita menjalani kehidupan yang melibatkan aspek-aspek
manusia yang lebih dalam.

· Tersedianya Informasi Tentang Kematian

Banyak buku tersedia, buku-buku yang mengupas peristiwa-peristiwa
menjelang, selama dan setelah kematian dialami. Beberapa didasarkan
pada pengamatan yang masuk akal tentang proses kematian; buku lainnya
adalah catatan mereka yang mengalami kematian dan kembali hidup.
Lainnya lagi seperti literatur theosophy, merupakan pencatatan ajaran
dari abad ke abad melewati waktu yang tak terukur tentang kematian
dan alam setelah dunia fisik.

· Belajar Beradaptasi

Kematian merupakan perubahan besar, jadi kita harus mempersiapkan hal-
hal sangat berbeda. Kita dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik
kalau kita mempelajari atau secara sadar meningkatkan kemampuan
adaptasi terhadap hal-hal yang baru.

· Menemukan Diri Kita Yang Sejati

Konsekuensi penting dari kematian adalah kita harus menyesuaikan
perasaan akan siapa dan apakah diri kita. Umumnya, dalam kehidupan
sehari-hari kita beridentifikasi dengan badan, perasaan, insting,
emosi, dan pikiran-dari-otak kita. Tetapi, pada saat atau segera
setelah kematian, kita harus menyesuaikan identitas-diri kita. Hal
ini akan merupakan shock kecuali bila kita telah bersiap-siap
sebelumnya. Meditasi secara reguler dapat menolong kita untuk
berhubungan dengan Diri kita yang sejati dan memudahkan transisi ini.

· Refleksi Diri Setiap Hari

Dikatakan bahwa pada saat kematian, kehidupan yang baru kita lalui
lewat didepan mata kita seperti film yang diputar ulang. Kita dapat
mempersiapkan diri terhadap pengalaman ini dengan merefleksikan
kegiatan kita dan peristiwa yang kita alami hari ini tiap malam,
usahakan memandangnya secara tidak berpihak seakan dari kacamata
orang lain. Hal ini juga akan meningkatkan kemampuan kita menghadapi
perubahan-perubahan hidup. Menulis diary merupakan gagasan yang baik
untuk mencatat impresi kita dan evaluasi terhadap apa yang kita alami
sehari-hari.

· Menetapkan Kerangka Pikiran yang Melampaui (Transending) Kehidupan
Sehari-hari

Afirmasi atau mantra tertentu dapat mengarahkan proses ini. Beberapa
orang merasa terangkat lewat kalimat di bawah ini :

Hidup tersembunyi, bergetar pada setiap atom,
Cahaya tersembunyi, bersinar pada setiap makhluk,
Cinta kasih tersembunyi, merengkuh semua dalam kesatuan,
Semoga setiap makhluk yang merasa satu denganmu,
Menyadari bahwa mereka satu dengan yang lainnya.

Orang-orang dari beragam tradisi memberikan reaksi yang berbeda pada
kutipan sejenis. Misalnya kaum Nasrani, memilih untuk berfokus pada
doa atau rosario.

· Mempertimbangkan Kehidupan dalam Konteks yang Lebih Luas

Jika gagasan yang diberikan dalam leaflet ini bermakna bagimu, akan
sangat membantu kalau kita melihat bahwa hidup kita yang sekarang
hanyalah merupakan satu tahap dari siklus besar keberadaan diri kita,
merupakan sebuah inkarnasi dari banyak inkarnasi sebelumnya, dan
seluruh inkarnasi ini diatur oleh Hukum Karma atau Hukum
Kesetimbangan. Siapa kita sekarang ditentukan oleh tindakan dan
pikiran kita di kehidupan-kehidupan yang lalu. Bagaimana kita
berpikir dan bertindak setiap hari menentukan kualitas kehidupan
setelah kematian kita dan juga menentukan kehidupan kita pada
inkarnasi mendatang.

· Visualisasikan Diri Kita Satu dengan Semesta

Bayangkan dirimu disirami dengan cahaya putih muni, yang bersirkulasi
di seluruh semesta, mengalir melaluimu dan menyatukanmu dengan semua
bentuk kehidupan, Seluruh tradisi spiritual besar mengacu pada
keadaan bersatu yang fundamental, kesatuan atau keseluruhan, esensi
spiritual umum yang melingkupi seluruh kehidupan.

PERJALANAN YANG PALING HEBAT

Supaya kita dapat secara penuh menghargai ajaran tentang
kematian, sangat penting kita mempertimbangkan konsep bahwa kita
tengah mengadakan perjalanan. Menurut ajaran kekal, kita merupakan
percikan individual dari sang Api Tunggal, sang Sumber darimana kita
berasal dan kemana kita akan menuju. Kita telah menjalani berbagai
kehidupan; kita telah menghadapi berbagai kematian. Dan akhirnya jiwa
kita akan kembali pada sang Sumber Agung atau pada sang Spirit/Roh
yang bersemayam dalam diri kita.

Jika gagasan-gagasan yang kita jabarkan di sini tampak logis,
maka masuk akal pula kalau kita memandang bahwa aspek fisik dari
perjalanan kita akan memberikan kesempatan mendapatkan berbagai
pengalaman; pengalaman-pengalaman ini akan kita murnikan dan kita
gabungkan dengan pengalaman-pengalaman dari kehidupan sebelumnya
demikian juga dengan dunia emosional dan dunia mental kita, sehingga
kita akan memiliki kapasitas dan kekuatan yang lebih besar untuk
melanjutkan perjalanan kita. Jadi kita sendirilah yang membangun
surga kita; surga bukan sesuatu yang abadi tetapi merupakan sebuah
periode untuk mengasimilasikan kehidupan yang baru kita lalui dengan
akumulasi pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan juga untuk
memberikan jiwa kita kesempatan beristirahat. Tiap-tiap kehidupan di
bumi membawa kita lebih dekat dengan akhir perjalanan, diakhir
perjalanan inilah jiwa individual telah mampu membebaskan diri dari
siklus kelahiran dan kematian. Dalam buku The Light of Asia karya Sir
Edwin Arnold dilukiskan dengan indah bahwa jiwa kita akan mengikuti
contoh-contoh Mereka-yang-Telah-Mencapai-Pencerahan dan bagaikan
sebutir embun, `menyelip kembali kedalam lautan yang bercahaya’,
akhirnya satu dengan Sumber Ilahi.

LEAFLET TEOSOFI LAINNYA YANG DISARANKAN SEBAGAI BACAAN LANJUTAN:

· REINCARNATION
Have we been here before?

· KARMA
The Universal Law of Harmony

· RELEASE INTO LIGHT
Meditations for Those Who Mourn

BUKU-BUKU YANG DISARANKAN SEBAGAI BACAAN LANJUTAN:

· THE MIRROR OF LIFE & DEATH
Laurence J. Bendit

· WHEN WE DIE
Geoffrey Farthing

· ON DEATH AND DYING
Dr. Elizabeth Kuebler-Ross

· LIFE AFTER LIFE
Dr. Raymond Moody

· THROUGH DEATH TO REBIRTH
James S. Perkins

· A PRACTICAL GUIDE TO DEATH AND DYING
John White

· OUR LAST ADVENTURE
E. Lester Smith

· DEATH AND AFTER
Annie Besant

· THROUGH THE GATEWAY OF DEATH
Geoffrey Hodson

· A MATTER OF PERSONAL SURVIVAL
Michael Marsh

· WITHIN THE LIGHT
Dr. Cherie Sutherland

· TRANSFORMED BY THE LIGHT
Dr. Cherie Sutherland

diupload oleh admin rahasiaotak.com dari leaflet Teosofi, grup yang pernah diikuti oleh admin pada 2005 lalu dan pertama kali diupload ke milis mayapada

Categories: Spiritualism

Yoga: Suatu Studi dan Praktek

August 16th, 2009 No comments

Transformasi-diri dan pertumbuhan spiritual merupakan konsep penting
dalam filsafat agama manapun. Transformasi-diri dan pertumbuhan
spiritual juga merupakan konsep praktis, karena realisasinya
melibatkan pengintegrasian dan pengharmonisan aspek emosional,
mental dan spiritual dari hakikat kita. Salah satu cara yang dipilih
oleh banyak orang pada transformasi-dalam/Inner transformation adalah
melalui displin yoga.

Di masa ini banyak orang yang penuh pertimbangan berminat
mempelajari berbagai bentuk yoga dan merasakan hasrat mendalam untuk
menemukan ketenangan-dalam/Inner peace atau mencapai pertumbuhan
spiritual. Jadi mari kita lihat lebih jelas apakah yoga ini, apa
artinya, apa saja yg dilakukannya, dan bagaimana kita
mempraktekkannya sebagai jalan menuju pemenuhan-pemahaman-dir/Self Realization.

Apa itu Yoga?

Kata “Yoga,” berasal dari terminologi Sansekerta seperti
halnya “yoke” dalam bahasa Inggris berarti “menyatukan” dan
mengimplikasikan persatuan aspek pribadi kita dengan Sumber Ilahiah
darimana kita berasal. Jadi Yoga dapat diartikan sebagai transformasi
hakikat pribadi kita agar lebih responsif terhadap Diri-dalam/Inner
self, dan transformasi ini akan mengarahkan kita pada pencapaian
kebersatuan kesadaran-diri (at-one-ment) dengan esensi ilahi atau
spiritual: Prinsip Yang Maha Tunggal dalam semesta. Yoga mengacu pada
penyatuan diri yang lebih rendah dengan Diri yang lebih tinggi dan
juga pada cara-cara untuk mencapai penyatuan tersebut. Jadi Yoga
merupakan studi mendalam sekaligus merupakan disiplin pragmatis.

Unsur apa saja yang dilibatkan dalam Yoga?

Ada berbagai sistem yang berbeda dalam mempelajari yoga, tapi
kesemua metodenya melibatkan disiplin-diri dan penjelajahan-diri.
Semua sistem ini mengenali keabsahan pelatihan dasar tertentu :
pengendalian tubuh melalui postur dan pernafasan yang tepat;
pengendalian emosi dan pikiran; meditasi dan kontemplasi. Dalam tiap
pelatihan yoga unsur-unsur esensial tadilah yang dilibatkan.

Kebanyakan praktisi yoga menganggap Yoga Sutra dari Patanjali
sebagai buku pegangan yang paling penting. “Delapan anggota” atau
delapan aspek yoga, yang digarisbawahi oleh Patanjali dipertimbangkan
sebagai panduan seluruh bentuk pelatihan yoga. “Anggota” yang pertama
dikenal sebagai “yama” atau pelatihan pengekangan-diri dan yama yang
pertama disebut “ahimsa” atau tidak menyakiti makhluk lain. Dikatakan
bahwa ahimsa merupakan jantungnya disiplin yoga.

Buku pegangan yoga yang lain adalah naskah agung Hindu,
Bhagavad Gita. Mempelajari karya ini merupakan harga tak ternilai
bagi pelajar pemula.

Di bawah ini kami berikan penjabaran beberapa bentuk yoga
yang terkenal, namun perlu diingat bahwa tiap-tiap sistem yang
disebutkan di sini melibatkan banyak hal dalam hidup yang disiplin
dan pelatihan yang teratur, lebih dari yang bisa diberikan dalam
ulasan singkat ini.

Hatha Yoga

Kebanyakan yoga yang populer di dunia Barat adalah dua bentuk
yoga, salah satunya dikenal dengan Hatha Yoga. Sistem ini memberi
perhatian pada postur tubuh dan pengendalian pernafasan. Seringkali
orang melupakan bahwa sistem ini juga melibatkan pelatihan meditasi.
Jadi walaupun Hatha Yoga menitikberatkan pada pelatihan tubuh fisik,
sesungguhnya pelatihan tadi adalah untuk memungkinkan tubuh merespons
dorongan Kehadiran Ilahi dalam diri. Ketika tubuh didisiplinkan,
tubuh tidak lagi gelisah, kegelisahan ini merupakan gangguan saat
meditasi. Banyak praktisi menekankan nilai therapeutik (penyembuhan)
dari Hatha Yoga, karena kalau dilatih dengan baik akan meningkatkan
kesejahteraan fisik. Keadaan tubuh yang baik menunjang pertumbuhan
spiritual.

Mantra Yoga

Sistem Mantra Yoga sangat populer belakangan ini, dengan
merapalkan (chanting) kalimat suci atau kata-kata pemujaan dan
konsentrasi terpusat. Sistem ini melibatkan pengetahuan kekuatan
okultik dari suara. Tujuan dari Mantra Yoga adalah menyelaraskan
sifat pribadi dengan nada gelombang kesadaran yang jauh lebih tinggi
dan lebih halus sifatnya dari kesadaran sehari-hari (kesadaran waktu
kita bangun). Tujuan puncaknya adalah agar individu dapat “mendengar”
Suara Ilahi dalam-diri kita, bukan melalui telinga atau mekanisme
fisik melainkan melalui indera super kita.

Bhakti Yoga

Bhakti Yoga adalah jalan pengabdian. Sistem ini menekankan
cinta kasih, penyerahan-diri pada Spirit Ilahi atau Yang Tertinggi.
Seringkali kita menemui personifikasi Yang Tertinggi dalam bentuk-
bentuk tertentu pada individu yang mengambil jalan ini. Hal ini bisa
berupa inkarnasi ilahi/avatar seperti halnya Kristus, Krishna, Baba,
Babaji, ataupun gambaran mental dari Ilahi secara personal. Sistem
ini sering disebut sebagai yoga Nasrani, tapi sistem ini juga kita
jumpai dalam berbagai agama dimana ditekankan penyerahan diri pribadi
dan pengabdian sebagai tujuan ideal. Bhakti yoga adalah jalan yang
telah menolong banyak orang dalam pendakian ke puncak gunung
penyatuan spiritual. Seperti contoh yang diberikan oleh para santa-
santo/para nabi/para maha rishi/para wali dimana untuk mendaki lebih
tinggi ke arah Ilahi, maka kehidupan pribadi harus diserahkan pada
Kehidupan Ilahi secara mutlak. Oleh karenanya jalan ini adalah jalan
yang tepat bagi orang-orang yang bersifat pengabdi/bhakti, yang
dengan gembira melenyapkan diri mereka pada Yang Maha Tinggi.

Karma Yoga

Sesuai dengan namanya, yoga ini melibatkan karma (=tindakan).
Tujuan dari Karma Yoga adalah mencapai persatuan dengan Yang Maha
Tinggi melalui tindakan yang benar, yaitu tindakan yang dilakukan apa
adanya tanpa mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah
jalan bagi mereka yang digerakkan oleh rasa simpati, dan welas-asih
terhadap orang-orang yang menderita. Jalan ini adalah bagi mereka
yang dengan semangat berusaha meringankan beban penderitaan dan
kesedihan orang lain. Jalan ini menekankan kemurnian motif tanpa
dinodai oleh kepentingan pribadi. Melalui tindakan altruistik,
pengikut Karma Yoga akan sampai pada pemahaman kehidupan yang lebih
mendalam dan menjadi lebih dekat dengan Kehidupan Ilahi yang dijumpai
pada semua makhluk.

Jnana Yoga

Kalau Bhakti Yoga menggunakan jalan pengabdian dan Karma Yoga
menggunakan jalan tindakan, maka ada juga jalan lewat ilmu
pengetahuan Jalan ini dikenal dengan sebutan Jnana Yoga (sering
dieja “Gnana”); tujuannya adalah untuk mewujudkan kebenaran hidup.
Kata “jnana” terdengar familier, mirip dengan kata “gnosis”. Arti
kedua kata tersebut sama yaitu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud
di sini bukannya pengetahuan external tentang benda-benda melainkan
pengetahuan alam realitas. Guru agung Jnana Yoga, Shankaracharya, si
bijak dari India, menuliskan karyanya yang berjudul “Viveka
Chudamani”. Karyanya ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.
Secara harafiah berarti “permata puncak dari diskriminasi” namun
viveka dapat juga berarti “insight” atau bahkan “kebijaksanaan”.
Svami Shankaracharya membedakan antara mereka yang ingin memiliki dan
mereka yang ingin mengetahui. Di puncaknya hanya ada satu hal untuk
diketahui yaitu sang Diri Tunggal yang identik dengan Tuhan, Alloh,
Causa Prima atau Brahman, sebagai satu-satunya Sumber segala bentuk
keberadaan, seperti yang dikenal dalam filsafat Vedanta, yang menjadi
dasar dari Jnana Yoga.

Raja Yoga

Terkadang disebut sebagai bentuk yoga yang paling tinggi,
Raja Yoga – The Science of The Kings/Ilmu para raja – menggabungkan
aspek-aspek utama dari sistem yoga lainnya. Jalan ini menggunakan
disiplin dan pelatihan untuk memurnikan emosi, meluaskan intelek dan
mengendalikan tiap komponen hakikat kita dibawah kehendak (will).
Tujuan yoga ini adalah mengurangi dan akhirnya menghilangkan
identifikasi dengan personalitas sehingga timbul kesadaran bahwa Diri
Kekal kita itu identik dengan Hidup Ilahi Yang Tunggal.

Azas Raja Yoga dapat kita jumpai dalam aphorisme/perumpamaan
(“sutra”) dari Patanjali, yang karyanya telah diterjemahkan dalam
bahasa Inggris lengkap dengan komentar dan ulasan.Dalam perumpamaan
Patanjali terdapat langkah-langkah untuk mempersiapkan diri pada yoga
sejati berikut dengan latihan-latihannya. Untuk mempersiapkan diri,
kita harus bertindak benar dalam pikiran, perkataan dan perbuatan;
menjalankan kehidupan moral, dan mengekspresikan prinsip-prinsip etis
fundamental yang dijumpai di semua agama besar. Untuk melatihnya kita
harus melakukan introspeksi-diri dengan teratur secara berkala;
caranya adalah dengan menutup kesadaran dari panca indera kita
sehingga kesadaraan kita bisa bebas dari gangguan dunia untuk
sementara waktu. Ini sesuai dengan tujuan Raja yoga agar kita
mempersiapkan transisi dari kesadaran eksternal menuju pada kesadaran
internal.

Yoga & Meditasi

Meditasi merupakan bagian penting di setiap bentuk yoga.
Patanjali menekankan pentingnya pengendalian pikiran dan penenangan
untuk mencapai transendensi pikiran, lewat Raja yoga, Patanjali
meramunya dalam 3 langkah: konsentrasi, meditasi dan kontemplasi.
Pada prakteknya 3 langkah ini saling tumpang tindih tapi dalam yoga
sutra sengaja dituliskan terpisah untuk memudahkan studi.

Yoga dimulai dengan konsentrasi. Mengapa? Karena pikiran kita
selalu bergerak, liar dan tidak mau tinggal diam. Pikiran kita
dipenuhi dengan berbagai kenangan, memory dan berbagai keinginan
untuk menjadi atau untuk memiliki; pikiran sangat mudah terganggu
oleh hal-hal sepele. Oleh karena itu kita mulai dengan berkonsentrasi
pada hal-hal yang sederhana seperti misalnya sebuah benda atau sebuah
gagasan, dan membiarkan konsentrasi kita pada benda tersebut semakin
intens terserap olehnya, dan kita menolak memberikan perhatian bagi
hal-hal lainnya. Kalau pikiran mulai berkeliaran, dengan lembut
kembalikan konsentrasi pada benda tersebut.

Setelah mampu menguasai konsentrasi, langkah selanjutnya
adalah meditasi. Meditasi dijabarkan sebagai aliran pikiran yang
teratur dan terus-menerus terhadap sebuah obyek, misalnya sebuah
bunga, salib, cakra, nafas, atau kualitas yang tidak dapat terlihat
(misalnya, nama baik seorang Guru Agung/kata-kata Ilahiah lainnya),
gagasan abstrak, atau objek lainnya yang kita pilih sendiri. Proses
ini lebih mendalam dari sekedar konsentrasi dan mengarah menuju
keadaan dimana kita masuk menyadari bahkan menjadi apa yang kita
pikirkan dan konsentrasikan tadi. Ini melibatkan upaya menembus imaji
dan bentuk untuk dapat mengidentifikasikan diri dengan kehidupan
dalam obyek yang dipilih tadi.

Selanjutnya diikuti dengan proses kontemplasi. Dalam tahap
ini kita tidak lagi tertarik pada sebiah obyek, sebuah gagasan atau
seseorang, tetapi kita membawa pikiran kita pada keadaan ketenangan
absolut. Harus diperhatikan bahwa keadaan ini bukanlah keadaan pasif
melainkan keadaan dengan kesadaran positif; sebuah ketenangan yang
memberikan perasaan utuh dan kedamaian yang dinamis. Keadaan ini
tidak melampaui kesadaran, namun mentransformasi individu, dan
memberikan ketenangan sejati serta kepastian-dalam yang secara
praktis akan banyak membantu kehidupan kita sehari-hari. Dalam tahap
kontemplasi ini, amat mungkin kita mencapai pencerahan dan insight
dari Diri Spiritual dan perasaan menyebar akan kesatuan kehidupan
akan terwujudkan.

Tujuan Yoga

Semua bentuk disiplin/sistem Yoga merupakan jalan yang
mengarahkan indivdu mencapai persatuan dengan Atman/Spirit Tertinggi.
Persatuan ini disebut “Samadhi” dalam naskah-naskah yoga, “Kesadaran
Krishna” dalam Krishna Consciousness Movement, “Satori” dalam Zen
Buddhisme, “Kesadaran Kristus” dalam mistisisme
Nasrani, “Manunggaling Kawula Gusti” dalam Kejawen, dll. Apapun juga
istilah yang digunakan hal ini berarti pembebasan spirit individual
dari kesadaran sehari-hari dan Memasuki getaran-kebahagiaan Sang
Sumber yang dilambangkan secara indah lewat kalimat, “Sang butir
embun telah pulang pada lautan cahaya yang bersinar”.

BAHAN BACAAN LANJUTAN YANG DISARANKAN

o An Introduction to Yoga by Annie Bessant
o Seven Schools of Yoga by Ernest Wood
o Application of Yoga to Daily Life by Ianthe Hoskins
o Raja Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Hatha Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Integral Yoga by Haridas Chaudhuri
o The Science of Yoga by I.K. Taimni
o A Student’s Companion to Patanjali by Roger Worthington
o Yoga: The Art of Integration by Rohit Mehta
o The Universal Yoga Tradition by Radha Burnier
o Initiation into Yoga by Sri Krishna Prem
o A History of Yoga by Vivian Worthington
o Yoga: The Technology of Ecstasy by George Feurstein
o Viveka Chudamani translated by Mohini M Chatterji
o The Pinnacle of Indian Thought by Ernest Wood

Sumber note: Booklet Teosofi
Categories: Spiritualism