Mau Tahu Teknik Membesarkan Penis Cara Arab? Free Tutorial and Video: Semuanya Gratis! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘meditasi Zen’

 Powered by Max Banner Ads 

Meditasi:Timur Bertemu Barat

April 12th, 2010 No comments

Meditasi adalah jalan pintas untuk mencapai pencerahan. Ini kata para guru spiritual. Meditasi, dalam banyak tradisi, memang sangat dianjurkan. Terutama dalam Buddhisme.

Ada dua jenis meditasi, pertama Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang.

Ada pandangan yang berbeda di kalangan pengajar meditasi. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dan mahir meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka masuk ke meditasi Vipassana Bhavana. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mencapai pencerahan tidak perlu dengan melakukan meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu tapi langsung meditasi Vipassana Bhavana.

Meditasi Samatha Bhavana adalah pemusatan konsentrasi atau perhatian pada objek tertentu, misalnya napas. Ada empat puluh objek yang bisa digunakan untuk menditasi. Napas hanya salah satunya.

Tujuan dari meditasi ini adalah untuk melatih pikiran sehingga terkendali dan akhirnya diam dan hening.Saat kondisi pikiran benar-benar terpusat sangat kuat, hening, diam, dan tercerap sepenuhnya pada objek meditasi maka pada saat itu meditator mencapai kondisi jhana.

Sedangkan meditasi Vipassana Bhavana adalah meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan objektif, dan belajar dari pengalaman setiap momen. Inti dari meditasi ini adalah mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang Dengan kata lain, menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap.

Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan mana atau siapa yang benar. Apakah perlu Samatha dulu baru Vipassana ataukah tidak perlu Samatha tapi langsung Vipassana? Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah apakah sebenarnya yang terjadi dalam pikiran seseorang yang melakukan meditasi, baik itu Samatha maupun Vipassana, ditinjau dari riset di barat, dengan mengukur pola gelombang otak.

Saat belajar kepada Anna Wise, satu hal yang sangat mencerahkan saya adalah saat Beliau berkata, “Meditation is a state of consciousness, a spesific brain-wave pattern, no a technique”. Anna juga berkata bahwa, “There is state of consciousness and content of consciousness”.

Wow… ini sungguh suatu pencerahan luar biasa. Anna Wise sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur, dengan menggunakan Mind Mirror, begitu banyak pola gelombang otak orang, termasuk para master dan guru meditasi Zen.

Dari pengukuran Anna Wise didapat satu data yang sangat menarik yaitu semua master dan guru meditasi itu punya gelombang otak yang sama. Pola ini disebut dengan pola Awakened Mind (AM) yang terdiri dari beta, alfa, theta, dan delta dengan komposisi yang pas. Beta di sini adalah low beta dan hanya sedikit saja, karena hanya digunakan untuk menyadari, mengetahui, mencatat.

Alfa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Theta adalah pikiran bawah sadar dan delta adalah pikiran nirsadar.

Kita tetap membutuhkan beta, walaupun hanya sedikit saja, untuk bisa mengetahui atau menyadari apa yang sedang kita alami. Bila tidak ada beta maka kita sama sekali tidak akan tahu atau ingat yang terjadi atau alami saat meditasi.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Samatha dan Vipassana?

Meditasi Samatha, bila dilihat dari pola gelombang otak, bertujuan untuk meng-OFF-kan gelombang beta. Beta adalah gelombang pikiran sadar dan berkisar pada kisaran frekuensi 12-25 Hz. Gelombang ini aktif bila kita berpikir, memberikan penilaian (judgement) atau memberikan makna pada sesuatu, mengkritik, membuat daftar, menganalisa, atau berbicara pada diri sendiri (self talk).

High Beta, frekuensi di atas 25 Hz berhubungan dengan stress dan kecemasan. Semakin aktif high beta seseorang maka semakin “liar” pikirannya. Pikiran akan lari ke sana ke mari, melompat dari satu hal ke hal lain, tidak bisa diam, sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikendalikan. Kesulitan ini yang dialami oleh semua meditator pemula.

Banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk belajar mendiamkan pikirannya mereka namun tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermeditasi karena tidak merasakan manfaat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang mahir meng-OFF-kan pikirannya? Ini semua bergantung pada waktu dan teknik yang digunakan. Umumnya, untuk meng-OFF-kan pikiran sadar, orang menggunakan objek napas.

Pikiran dilatih untuk diam dengan cara difokuskan pada napas. Dan pada saat pikiran lari ke objek lain maka pikiran ditarik kembali ke napas dan demikian selanjutnya sampai dicapai kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi.

Sulitnya meditator mendiamkan pikirannya, selain karena aktifnya high beta, juga disebabkan tubuh yang tegang. Posisi duduk yang tidak tepat, apa lagi kalau sampai melakukan postur full lotus, membuat otot paha dan tubuh menjadi begitu tegang sehingga adalah tidak mungkin untuk bisa mencapai kondisi pikiran yang rileks.

Masih berdasar riset Anna Wise, untuk bisa merilekskan pikiran, menurunkan beta dengan cepat, bisa dilakukan dengan merilekskan tubuh terlebih dahulu. Ada teknik spesifik yang Beliau kembangkan untuk bisa mendiamkan pikiran dalam waktu yang sangat singkat.

Saat seseorang telah mampu meng-OFF-kan pikiran sadarnya (gelombang beta) maka pada saat itu ia telah masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam. Jadi, meditasi sebenarnya adalah gelombang otak yang terdiri dari alfa, theta, dan atau tanpa delta. Di sini tampak jelas bahwa beta tidak dibutuhkan untuk meditasi. Justru beta perlu dihilangkan.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Vipassana?

Dari pengalaman saya pribadi adalah cukup sulit atau bahkan tidak mungkin bisa melakukan pengamatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, atau sensasi fisik yang muncul saat pikiran sadar masih sangat aktif. Apalagi jika yang aktif adalah high beta.

Jelas sangat sulit melakukan pengamatan jika piranti yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau observasi, yaitu pikiran sadar, masih sangat aktif dan sibuk sendiri.

Yang diamati dalam meditasi Vipassana, khususnya pada aspek bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, sebenarnya berasal dari pikiran bawah sadar dan nirsadar.

Dari pikiran bawah sadar biasanya muncul memori atau ingatan mengenai kejadian tertentu, yang berasal dari pengalaman di kehidupan saat ini, dan biasanya berisi muatan emosi dengan intensitas yang tinggi, baik positif maupun negatif.

Jadi, saat memori ini muncul, baik dalam bentuk gambar atau film, maka sebenarnya pada saat yang sama emosi yang berhubungan dengan memori ini juga aktif. Sedangkan dari pikiran nirsadar akan muncul memori dan emosi yang berasal dari kehidupan lampau.

Itulah sebabnya adalah sangat penting bagi seorang meditator untuk tidak masuk ke dalam pengalaman itu, karena biasanya mengandung emosi yang intens, dan cukup hanya mengetahui, menyadari, mencatat, dan mengingatnya ketika lenyap atau hilang.

Meditator tidak larut ke dalamnya. Akan sangat riskan bila meditator masuk ke dalam pengalaman itu, terutama jika pengalaman itu mengandung emosi negatif yang intens, misalnya akibat dari trauma masa lalu.

Jika sampai terjadi hal ini maka meditator akan mengalami kembali kejadian atau pengalaman itu. Istilah teknisnya revivification dan akan berdampak negatif pada kondisi mental dan emosinya.

Kemampuan untuk bisa menjadi pengamat (observer) dan tidak masuk ke dalam objek yang diamati hanya bisa dicapai bila pengendalian diri kita baik dan juga pikiran sadar (baca: beta) tidak terlalu aktif dan tidak memberikan penilaian atau penghakiman.

Saat kita mampu melihat atau hanya menjadi pengamat maka kita telah mampu melakukan disosiasi sehingga tidak dipengaruhi emosi yang melekat pada suatu memori. Saat kita mampu tenang hanya menyadari, mencatat, dan mengingat kejadian atau pengalaman yang muncul, maka kita akan tahu dan sadar bahwa kita bukanlah pengalaman atau emosi kita. Pengalaman atau emosi itu muncul dan tenggelam/hilang. Dan saat kita memberi jarak atau memisahkan diri dari pengalaman atau emosi itu maka mereka tidak bisa mempengaruhi diri kita.

Banyak yang berpikir, “Jika tidak ada beta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan insight atau mengerti?”

Insight atau kebijaksanaan yang sesungguhnya berasal dari theta atau pikiran bawah sadar. Kedalamam meditasi ditentukan oleh kedalaman theta yang berhasil kita capai. Theta adalah tempat terjadinya koneksi spiritual paling dalam. Saat seseorang berada dalam deep theta maka ia akan merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang luar biasa.

Pikiran bawah sadar mempunyai proses berpikir sendiri yang terpisah dari pikiran sadar. Jadi, saat kita bermeditasi Vipassana, saat pikiran sadar yang tidak terlalu aktif, maka informasi atau insight yang berasal dari pikiran bawah sadar akan naik, melalui jembatan alfa, ke pikiran sadar (beta) dan kita menyadari atau tahu (ingat) informasi ini.

Jadi, yang dilakukan oleh meditator yang bertahun-tahun melakukan meditasi Samatha sebenarnya adalah persiapan untuk awakening atau pencerahan. Para meditator ini biasanya, setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, berhasil mengembangkan pola gelombang otak Awakened Mind.

Namun meditasi Samatha, walaupun telah lama dilakukan, walaupun telah berhasil mencapai pola Awakened Mind, tidak mampu memfasilitasi pencapaian pencerahan.

Mengapa? Karena meditasi Samatha sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik. Kondisi kesadaran ini selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan melatih meditasi Vipassana karena Vipassana sebenarnya adalah content-based meditation atau meditasi berdasarkan isi.

Yang dimaksud dengan isi, selain sensasi fisik yang dirasakan, juga adalah konten dari pikiran bawah sadar dalam bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang muncul, dirasakan, atau dialami pada saat meditasi berlangsung, pada momen here and now.

Contoh yang paling populer adalah koan dalam meditasi Zen. Saat seorang master Zen bertanya pada muridnya, “Bagaimana bunyinya bila tepuk tangan dilakukan hanya dengan satu tangan?”, maka pada saat itu sang master memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab bila si murid hanya menggunakan pikiran sadar atau beta.

Saat berpikir keras untuk menemukan jawabannya maka pikiran murid yang terlatih akan begitu fokus, dan ini sebenarnya adalah meditasi Samatha, akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan, yang berasal dari pikiran bawah sadarnya, yang mampu memfasilitasi tercapainya pencerahan.

Ini bukan meditasi dengan “pikiran kosong”. Sebaliknya, ini adalah meditasi dengan konten yang sangat spesifik yang dilakukan oleh praktisi dengan kondisi pikiran yang telah disiapkan dengan sangat baik dan hati-hati sekali, dengan menggunakan teknik yang spesifik.

Pembaca, setelah membaca sejauh ini, jika anda bermeditasi, teknik mana yang akan anda gunakan? Samatha atau Vipassana? Semua saya kembalikan pada diri anda sendiri. Saat bermeditasi kenalilah diri anda sendiri. Anda akan tahu apakah anda akan langsung ke Vipassana ataukah perlu melatih Samatha dulu.

Dan yang paling penting adalah anda perlu belajar di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang berpengalaman. Hanya duduk dan memperhatikan napas memperhatikan pikiran belum tentu bisa disebut meditasi. Meditasi, seperti yang didefisinikan oleh Anna Wise adalah kondisi kesadaran spesifik bukan sekedar teknik.

Jika anda telah melakukan meditasi sekian lama namun belum bisa masuk atau mengalami kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik itu maka meditasi anda bisa dibilang belum berhasil.

Anna Wise pernah membantu seorang kliennya, seorang meditator. Keluhan klien ini adalah walaupun ia telah meditasi Samatha selama 12 tahun non stop, setiap hari 1 jam, ia masih belum bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam.

Saat dilihat pola gelombang otaknya, dengan menggunakan Mind Mirror, tampak bahwa selama 12 tahun meditasi klien ini tidak bisa mendiamkan pikirannya. Hal ini tampak dari high beta yang sangat aktif saat ia melakukan meditasi.

Dengan teknik yang spesifik Anna berhasil membantu klien ini mendiamkan pikirannya sehingga menjadi tenang dan hening dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh sayang bila ketekunan selama 12 tahun ini ternyata tidak berbuah hasil seperti yang diinginkan.

Selamat bermeditasi……….

Author: Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Categories: Mind, Body and Soul

Meditasi Kristiani

March 20th, 2010 No comments

:beer:  Banyak yang menilai mang Ucup ini adalah Kristen yang murtad moso
sih umat Kristen mo diajakin samedi, bahkan mengucapkan mantra
segala macem, emangnya mang Ucup sekarang ini udah alih agama jadi
penganut aliran kejawen begitu ? Tidak, hanya mereka yang menilai
saya demikian, mereka itu sebenarnya kagak nyaho alias ora ngerti
makna dari samedi maupun mantra tsb.

Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sansekerta atau dalam
bahasa Ibrani = hagah. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb
diterjemahkan sebagai Meditation dan dalam bahasa Indonesia =
merenungkan. Dalam Alkitab sendiri tercantum 20 kata meditasi. Yosua
1:8 … but you shall meditate in it day and night – Mazmur 1:1-2
blessed is the man… And in His law he meditates day and night.

Rasul Paulus sendiri mengusulkan Timotius untuk melakukan meditasi 1
Tim 4:15 “Meditate upon these things….”; dalam bahasa Yunani =
meletao (to meditate).

Jadi tidak bisa dipungkiri, bahwa meditasi itu alkitabiah. Meditasi
tertua yang diketahui dilakukan oleh orang Kristen pada abad ke
empat adalah meditasi “Lectio Divina” = Pembacaan Suci.

Meditasi tsb dibagi dalam empat tahapan:

  • Lectio = membaca Alkitab
  • Meditatio = merenungkannya sambil bermeditasi
  • Oratio = mengucapkannya
  • Contemplatio = menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah untuk bisa menyatu dengan Dia

Orang dapat mencapai derajat meditasi tertinggi apabila mereka sudah
dapat meleburkan dirinya dengan Sang Pencipta menjadi satu atau
manunggal yang lebih dikenal juga sebagai satori, zen, dhyana, fana
bi´l-fana” dan hal ini sebenarnya sudah tercantum dalam Alkitab.

Meditasi Kristen harus dibedakan dengan meditasi lain yang dilakukan
oleh para penganut kebatinan maupun agama-agama lainnya. Meditasi
Kristen itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah
(theosentris), sedangkan meditasi Zen tertuju pada penyatuan diri
dengan kekuatan semesta melalui pencerahan batin (antroposentris).

Meditasi bisa dibagi dalam dua tingkatan

  1. tingkatan pertama ialah ialah mengisolir sang aku dengan cara penyendirian ini disebut “En-stase”
  2. tingkat kedua yang disebut “Ex-tase” keluar dari sang aku

Apabila sang aku sudah keluar, atau sudah mencapai tingkat ex-tase,
maka raga kita dengan mudah di isi oleh yang lain, entah itu oleh
roh kudis seperti halnya dalam pertunjukan “Kuda lumping” dsb-nya
ataukah akan di isi oleh Roh Kudus tergantung kepada siapa kita
memusatkan diri kita.

Oleh sebab itulah juga banyak umat Kristen berpandangan negatif
terhadap meditasi, karena adanya kekhawatiran dimana pada saat jiwa
kita di kosongkan roh kudis lah yang akan masuk!

Memang harus diakui bahwa meditasi dengan cara mengosongkan pikiran
akan bisa mencapai satu tingkatan sehingga mampu menangkis segala
macam godaan duniawi, bahkan sampai melupakan pancainderanya
sendiri, walaupun demikian ia tidak akan berdaya untuk menyebabkan
turunnya berkat dari Allah.

Sebab iman kepada Tuhan bukanlah merupakan hasil prestasi kerja
manusia oleh konsentrasi pikiran dan olah rasa melalui meditasi,
melainkan anugerah dari Tuhan itu sendiri. Dan anugerah itu
diturunkan dan diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan, jadi bukannya
dari hasil usaha manusia itu sendiri entah itu melalui meditasi atau
cara apapun juga.

Perkataan “Mantra” itu diserap dari bahasa Sansekerta (Man =
berpikir; manas = pikiran) dan “Tra” = alat, jadi kalau
diterjemahkan secara bebas kata Mantra itu sama seperti juga “alat
untuk mengingat”.

Dan sebagai mantera yang diucapkan maupun di ingat secara berulang-
ulang oleh umat Kristen bukannya “Om Mani Padme Hum” melainkan
Firman Allah.

Kita bisa mendapatkan ketenangan melalui meditasi, karena kita akan
bisa melupakan kekhawatiran maupun problem sehari-hari kita dan
sebagai gantinya kita berusaha untuk mengingat Firman Allah dengan
mengucapkan Firman tsb secara berulang-ulang. Semakin sering kita
merenungkan firman Allah (baca Mantra), semakin tidak perlu kita
khawatir. Itulah ucapan Mantra nya dari umat Kristen.

Seperti juga yang diucapkan oleh Daud dalam doanya “Let the words of
mouth and the MEDITATION of my heart Be acceptable in Your sight, “O
Lord, my strength and my redeemer.” Mazmur 19:14 Mudah-mudahan
Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN,
gunung batuku dan penebusku.

Rick Warren, penulis buku The Purpose-Driven Life,
menulis: “Kekhawatiran adalah apabila Anda memikirkan sebuah masalah
berulang-ulang. Akan tetapi apabila Anda merenungkan firman Allah
berulang-ulang, itu berarti Anda bermeditasi. Maka jika Anda bisa
merasa khawatir, berarti Anda pun bisa bermeditasi!”

Semakin sering kita merenungkan firman Allah, semakin tidak perlu
pula kita khawatir. Dalam Mazmur 23, Daud merenungkan Sang Gembala
Agung, sehingga ia tidak merasa khawatir. Di kemudian hari, Allah
memilih Daud untuk menggembalakan umat-Nya (Mazmur 78:70-72). Allah
memakai orang-orang yang dengan jujur berkata, “Tuhan adalah
gembalaku”

Pada saat berdoa kita berbicara kepada Allah sedangkan pada saat
kita bermeditasi Allah berbicara kepada kita.

Dan tanyalah kepada diri sendiri kapankah Anda terakhir kalinya mau
meluangkan waktu sejenak khusus untuk mendengarkan suara-Nya Dia
yang lembut dan penuh kasih ?

Maranatha
Mang Ucup

Sumber: email dari mang Ucup alias Jusuf Randy bertanggal 22 Maret 2006, judul aslinya: Yuk Samedi dan Bermantra – ria!

Categories: Spiritualism