Dapatkan cara jitu menjadi LOVE and SEX MAGNET! Sudah terbukti dan sangat AMPUH! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘misteri kehidupan yesus’

 Powered by Max Banner Ads 

Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur (3)

January 15th, 2010 1 comment

Akan tetapi tidak ada petunjuk sama sekali yang dimaksud Bodasaf itu adalah Yesus. Jadi apa yang dikatakan Mirza sama sekali tidak didukung oleh bukti. Dan penemuan Mirza atas makam Yesus itu juga nampaknya merupakan hasil dari menghubung-hubungkan antara Bodasaf tadi dengan seseorang yang bernama Yuz Asaf. Sebelum Mirza menyebut-nyebut makam Yesus, seorang ahli sejarah Kashmir yang terkenal Hasan Shah pernah menulis tentang makam tersebut. Menurut Hasan, makam yang letaknya bersebelahan dengan makam Khawaja Nasiruddin itu adalah makam Yuz Asaf yang datang ke Kashmir sebagai seorang duta Mesir selama masa pemerintahan Zainul Abidin (abad 15 Masehi). Yus Asap ini kemudian meninggal dan dikuburkan di Kashmir. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yakni prasasti Takht-e-Suleman dan gaya penulisan Persia (Khat-e-Thulth) diperkirakan makam tersebut dibangun pada abad kelimabelas Masehi. Disini sudah terang sekali bahwa Yus Asap adalah manusia riil, manusia biasa yang hidup di abad pertengahan. Ia bukan Yesus dan dengan begitu makam tersebut juga adalah bukan makam Yesus.

Kisah mana yang dapat dipercaya ? Keterangan yang berbeda-beda tentang masa muda Yesus membuat kita boleh mempertanyakan kembali realibilitas dari masing-masing sumber cerita tersebut. Adakah mereka benar-benar diilhami oleh “kebenaran sejati” ? Bila ya mengapa mereka saling berkontradiksi satu dengan yang lain ? Perbedaan itu bisa kita lihat sejak dari awal cerita, yaitu bagaimana Yesus berangkat melakukan perjalanan ke Timur (atau menurut Manuel Komroff ke arah Barat yakni ke Inggris).

Dalam manuskrip Himis, Yesus dikatakan berangkat secara diam-diam dari rumah orangtuanya bersama-sama dengan para pedagang menuju negeri India. Tetapi menurut Injil Aquariannya Dowling, Pangeran Ravanna-lah yang meminta orangtua Yesus untuk mengizinkan Yesus berangkat bersama-sama dengannya. Sedang menurut Cayce lain lagi. Guru Essene Yesus-lah yang mengirimnya ke negeri India.

Keterangan yang berbeda ini sungguh mengherankan mengingat baik Dowling dan Cayce ini sama-sama mengklaim bahwa cerita mereka itu dibaca dari Catatan Akasha dan kedua-duanya adalah tokoh teras dari kalangan New Age. Persoalan menjadi semakin kompleks jika kita membandingkan lagi dengan keterangan Mirza Ghulam yang konon memperoleh wahyu paling akhir. Menurutnya, Yesus datang ke Kashmir setelah peristiwa penyaliban. Nah lho, keterangan ini sama sekali tidak terdapat dalam manuskrip Himis dan Catatan Akasha-nya Dowling dan Cayce. Jadi keterangan mana yang benar kalau begitu ?

Contoh lainnya adalah dalam hal bagaimana Yesus mencapai tingkatan Kristus. Menurut Dowling, Yesus meraihnya setelah melewati tujuh tingkatan inisiasi. Sedangkan Cayce mengatakan hal itu terjadi setelah Yesus berhasil melewati reinkarnasinya yang ketiga-belas. Manakah yang benar di antara keduanya ? Bagaimana kita harus memilih keterangan siapa yang paling benar disini ? Bisakah mereka semua dipercaya ? Kisah-kisah mereka itu bukan saja bertentangan satu dengan yang lain namun juga bertentangan secara keseluruhan dengan Injil-injil Perjanjian Baru.

Injil-injil Perjanjian Baru jelas sudah teruji oleh zaman dan waktu. Mereka ditulis langsung berdasarkan keterangan para saksi mata. Jelas sekali bahwa Injil-injil Perjanjian Baru adalah sumber cerita yang otentik dan bisa dipercaya. Namun sebaliknya, semua cerita tentang “perjalanan Yesus ke negeri Timur” mengandung keterangan sejarah yang jauh dari akurat. Manuskrip Himis, misalnya, menuliskan bahwa Yesus dilahirkan pada masa setelah kehancuran Bait Allah. Dengan demikian penulis manuskrip Himis telah salah menempatkan waktu kelahiran Yesus sekitar 70 tahun ke depan ! Contoh lainnya adalah dalam Injil Aquarian dikatakan Herodes Antipas memerintah di Yerusalem. Padahal , dalam sejarah, Antipas tidak pernah memerintah di Yerusalem tetapi di Galilea. Kesalahan ini menjadi berarti sebab Dowling mengklaim bahwa Injilnya itu “benar sampai ke huruf-hurufnya”![26] Injil Aquarian juga mencatat pertemuan Yesus dengan Meng-ste. Mungkin yang dimaksud Meng-ste disini adalah filsuf besar China, Meng-tse (tse, bukan ste). Dowling jelas tidak menyadari, bahwa sebenarnya, Meng-tse meninggal pada tahun 289 SM. Perjanjian Baru, meski tidak pernah secara langsung menceritakan masa-masa lowong dalam kehidupan Yesus itu, memberikan banyak sekali keterangan bagi pembacanya mengenai latar belakang Yesus.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada petunjuk sama sekali tentang perjalanan yang dilakukan Yesus ke negeri Timur. Yesus digambarkan sebagai seorang tukang kayu (Markus 6:3) dan anak seorang tukang kayu (Matius 13:55).[27] Latar belakang pekerjaanNya sebagai tukang kayu ini jelas sekali membawa pengaruh dalam ajaran dan perumpaan-perumpaanNya, misalnya perumpamaan mendirikan rumah di atas batu dan bukan di atas pasir (Matius 7:24-27). Ditambah lagi, penduduk Nazaret, yakni kampung halaman Yesus, nampak benar sudah sangat mengenal Yesus jauh-jauh hari sebelum Yesus memulai pelayananNya. Di awal masa tiga tahun pelayananNya itu, Yesus “datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab” (Lukas 4:16). Setelah Ia selesai membaca, “semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf ?” (Lukas 4:22).

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di rumah ibadat (sinagoga) itu mengenali Yesus sebagai penduduk setempat. Faktor ini pulalah yang menyebabkan sebagian besar penduduk Nazaret tidak dapat menerima bagaimana Yesus bisa berkata-kata sedemikian indahnya. Mereka bertanya-tanya, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:2-3) Dan yang paling menentang ajaran-ajaran Yesus adalah dari kalangan pemimpin Yahudi. Mereka menuduhNya macam-macam, seperti meninggalkan Sabat (Matius 12:1-14), menghujat (Yohanes 8:58-59, 10:31-33), dan mengadakan mukjizat dengan kuasa Iblis (Matius 12:24). Namun mereka tidak pernah sekalipun melemparkan tuduhan bahwa Yesus mengajarkan atau mempraktekkan sesuatu yang dipelajari dari negeri India. Padahal bangsa Yahudi memandang ajaran-ajaran demikian sebagai ajaran sesat.

Jika memang betul Yesus pernah pergi ke negeri India untuk belajar di bawah bimbingan “para maha Buddha”, maka hal ini bisa dijadikan alasan bagi para pemimpin Yahudi itu untuk menolak klaimNya sebagai Mesias. Tetapi mereka tidak pernah memakai alasan tersebut. Mengapa ? Karena Yesus memang tidak pernah belajar dan mengajarkan apapun di luar sistem kepercayaan orang Yahudi yang berbasiskan Taurat. Penting pula untuk dicatat bahwa ketika Yesus berdiri hendak membaca di sinagoga, yang Ia bacakan adalah ayat-ayat dari Alkitab. Dan Alkitab yang sama itu pula yang memuat banyak sekali peringatan-peringatan dan pesan-pesan agar kita menghindari allah-allah palsu dan ajaran-ajaran palsu (Keluaran 20:2; 34:14; Ulangan 6:14; 13:10; 2 Raja-raja 17:35). Alkitab yang sama juga memisahkan dengan jelas antara Sang Pencipta dan ciptaanNya, berbeda dengan ajaran “Timur” yang sarat dengan unsur pantheisme.

Alkitab juga mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pengampunan, bukan pencerahan, penerangan, atau pengetahuan (gnosis). Bukanlah suatu kebetulan jika dalam setiap ucapan-ucapan dan ajaranNya, Yesus banyak sekali mengutip ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya tidak satupun ayat-ayat kitab Veda yang pernah dikutip oleh Yesus. Yesus dalam ajaran New Age Satu ketika Yesus pernah menanyakan pertanyaan seperti ini di depan murid-muridNya.”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20). Petrus, salah seorang muridNya menjawab, “Mesias dari Allah”. Jawaban Petrus ini seharusnya sudah mampu menjawab “teka-teki” siapakah Yesus. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang singkat itu. Manusia berulang-kali dalam sejarah berusaha melahirkan identitas baru buat Yesus. Yesus benar-benar begitu istimewa dan mempunyai daya-tarik yang luar biasa sehingga Ia selalu menjadi “milik” setiap kaum. Mereka selalu mengklaim bahwa Yesus adalah bagian dari sistem kepercayaan mereka. Mereka membentuk ulang Yesus dan mengubahNya sampai menjadi sosok yang diinginkan mereka.

Pada akhir abad kesembilan-belas muncul apa yang dikenal dengan ajaran Theosophy. Ajaran yang penuh dengan unsur okultisme dan mistis ini pertama kali disebar-luaskan oleh Helene Petrovna Blavatsky pada tahun 1875. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia berubah-kembang dalam tujuh piringan eksistensi: fisikal, astral, mental, dan seterusnya. Setiap tingkatan piringan ini membawa manusia semakin dekat kepada penyatuan dengan Sang Absolut (Tuhan). Kaum Theosophy ini percaya bahwa proses ini memakan waktu yang sangat lama sehingga membutuhkan reinkarnasi yang berulang-ulang. Menurut “wahyu” yang diterima oleh Blavatsky, bukan individu manusia saja yang berubah-kembang tetapi juga ras manusia itu sendiri ikut berubah-kembang. Sejauh ini sudah ada tiga ras manusia yakni Lemuria, Antlantis, dan Arya. Dalam setiap ras ini masih terdapat lagi sub-sub ras. Saat ini kita sedang berada pada ras ketiga – Arya – dan sedang memasuki sub-ras keenam dari ras Arya tersebut.

Theosophy mengajarkan pada setiap permulaan sebuah sub-ras, Maha Guru Dunia (juga dikenal sebagai Kristus, pemberi kebijakan Ilahi) turun ke dunia dan masuk ke dalam tubuh seorang yang dipilih (the chosen one) untuk membantu dan membimbing perkembangan spritual umat manusia. Kelima inkarnasi Kristus dalam lima sub-ras Arya ini adalah Buddha (di India), Hermes (di Mesir), Zoroaster (di Persia), Orpheus (di Yunani), dan Yesus (ketika Ia dibaptis di sungai Yordan).[28] Yesus digambarkan sebagai seorang Master atau orang suci yang – sama seperti Buddha, Khrisna, Zoroaster dan lainnya – membimbing umat manusia ke dalam pencerahan dan harmoni Zaman Baru atau New Age. Oleh sebab itu gerakan spritual ini dinamakan pula New Age. Landasan pemikiran Kristologi dalam New Age adalah pembedaan antara Yesus, yakni tubuh seorang manusia dengan Kristus, suatu entitas Ilahi yang berdiam di dalam tubuh tersebut.

Dalam konsep New Age ini, Yesus hanyalah manusia biasa yang menemukan pencerahan atau penerangan sempurna di negeri Timur, dan sampai kepada puncaknya Ia menjadi Kristus. Konsep ini jelas bertolak belakang dengan Perjanjian Baru yang menerangkan bahwa Ia sendiri adalah yang datang dan keluar dari Tuhan (Yohanes 8:58). Yesus dikatakan telah menyumbangkan tubuhnya untuk dipakai oleh Kristus. Annie Besant, yang menggantikan kepemimpinan Blavatsky, berkata : “Karena Ia [Kristus] membutuhkan sebuah tempat persemayaman dalam bentuk manusia, sebuah tubuh manusia. Manusia Yesus menyerahkan dirinya sebagai korban sukarela, menyerahkan dirinya tanpa pamrih kepada Tuhan Kasih, yang mengambi l tubuhNya sebagai persemayaman yang suci, dan berdiam di dalamnya selama tiga tahun masa hidup fana. “[29]

Kaum Theosophy menolak semua anggapan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Manusia hanya dapat menyelamatkan dirinya melalui reinkarnasi yang berulang. Proses daur-hidup spritualitas ini membawa manusia jauh dan makin jauh dari piringan fisikal, sebaliknya dekat dan makin dekat menuju piringan spritual. Dalam proses ini, setiap manusia – tidak peduli dari agama atau ras mana ia berasal – mempunyai potensi untuk menjadi “Kristus”. Manusia yang secara terus-menerus mengalami proses reinkarnasi pada akhirnya akan mencapai status “Master”. Buddha, Khrisna, Zoroaster, Yesus masuk ke dalam kelompok manusia ini. Mereka telah mampu menyelesaikan dan mengakhiri proses reinkarnasi yang berulang-ulang itu dan kemudian tanpa pamrih berusaha menolong manusia-manusia lain dalam mencapai pencerahan seperti mereka.

Ajaran ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan yang berkata: “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” (Yesaya 43:11) Alkitab mengajarkan bahwa manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk memperoleh keselamatan dan bukannya melalui pencapaian penerangan atau pencerahan.

Kesimpulan Banyak sudah usaha manusia sepanjang sejarah untuk membentuk sosok Yesus menjadi sosok yang sesuai dengan angan-angan dan pemikiran mereka. Usaha ini bahkan sudah dimulai sejak zaman para rasul. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia memberi nasihat kepada kita demikian : Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. (2 Korintus 11:4)

Kisah mengenai perjalanan Yesus ke negeri India dan Tibet jelas sama sekali tidak bisa dipercaya karena:

  1. Pertama karena sumber-sumber kisah tersebut, mulai dari manuskrip Himis, injil Aquarian, dan catatan Edgar Cacye, banyak sekali mengandung ketidak-akuratan sejarah.
  2. Kedua, kisah tersebut bertentangan dengan keterangan yang terdapat di dalam Alkitab. Walaupun demikian, saya percaya bahwa berita tentang Yesus telah sampai ke negeri India dan Tibet sejak masa awal penyebaran agama Kristen.[30] Sangat mungkin terjadi bahwa beberapa orang yang menaruh minat terhadap Yesus mencoba menggubah sosok Yesus dan ajaranNya hingga sesuai dalam sudut pemikiran sistem kepercayaan mereka. Dan mungkin juga bahwa kemudian mereka menuliskannya dalam gulungan-gulungan lontar yang lalu tersebar di biara-biara di India. Seperti lazimnya yang terjadi di dunia, cerita dua senti bisa berkembang menjadi cerita lima senti. Begitu pula dengan apa yang mereka tulis tentang “Yesus” mereka. Maka itu tidaklah mengherankan apabila kita menemukan sosok Yesus yang berbeda dengan sosok Yesus yang kita kenal.

Untuk menjadi sumber cerita yang bisa dipercaya, manuskrip-manuskrip tersebut haruslah mempunyai bukti-bukti penunjang yang tidak terbantahkan seperti layaknya manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Apakah mereka juga ditulis oleh orang-orang yang terpercaya dimana kita mengenal mereka sebagai saksi mata kehadiran Yesus di muka bumi ? Justru faktor-faktor penting ini tidak dimiliki oleh manuskrip Himis. Dengan kata lain manuskrip Himis tidak memiliki otoritas seperti halnya Alkitab. Adapun Alkitab yang kita miliki telah lulus oleh ujian zaman dan waktu.

Dalam hal ini biarkan kitab-kitab tersebut bersaing dengan Alkitab. Saya hendak menutup tulisan ini dengan meminjam perkataan Rabbi Gamaliel : “Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap.”[31] (Contributed by: Armen Rizal, Last Updated: April 2000)

Catatan Kaki

1 La vie inconnue de Jisus Christ diterbitkan oleh Ollendorf di Paris tahun 1894. Tiga terjemahan yang terpisah tiba di Amerika bulan Mei tahun itu, masing-masing diterbitkan oleh Macmillan di Washington; oleh G. W. Dillingham, di New York; dan oleh Rand, McNally & Co., di Chicago. Sebuah terjemahan Italia oleh R. Giovannini muncul di tahun yang sama dan sebuah versi Jerman, Die Luecke im Leben Jesu, dicetak tahun itu juga. Edisi London diterbitkan oleh Hutchinson pada tahun 1895. Pada tahun 1926 Dillingham kembali menerbitkan buku itu di New York, tetapi dengan hak cipta bertanggalkan tahun 1890! Sebuah versi Spanyol hasil terjemahan A. G. de Araujo Jorge terbit di Rio de Janeiro di tahun 1909.
2 Nicolas Notovitch, The Life of Saint Issa, dikutip oleh Joseph Gaer, The Lore of the New Testament (Boston: Little Brown and Co., 1952), 118.
3 Nicolas Notovitch, dikutip oleh Per Beskow, Strange Tales About Jesus (Philadelphia: Fortress Press, n.d.), 59.
4 Nicolas Notovitch, ed. The Life of Saint Issa, dalam Elizabeth Clare Prophet, The Lost Years of Jesus (Livingston, MT: Summit University Press, 1987), 218.
5 Ibid., 219.
6 Ibid., 222-23.
7 Ibid., 245-46.
8 Max Muller, “The Alleged Sojourn of Christ in India,” The Nineteenth Century 36 (1894):515f., dikutip oleh Edgar J. Goodspeed, Modern Apocrypha (Boston: Beacon Press, 1956, 10.
9 Ibid., 11.
10 J. Archibald Douglas, “The Chief Lama of Himis on the Alleged ‘Unknown Life of Christ’” The Nineteenth Century (April 1896) 667-77, dikutip dalam Prophet, 36-37.
11 Goodspeed, 13.
12 Targum ad loc. ; Sanhedrin 19b; Pirkey Rabbi Eliezer 48
13 Yov’loth 47:5
14 Josephus, Antiquities 2:9:5
15 Sephir Ha-Yasher atau Kitab Kebenaran adalah sebuah kitab yang hilang. Kitab ini ada disebut dua kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam Yosua 10:13 dan II Samuel 1:18. Keberadaan kitab ini sendiri tidak diketahui sampai kira-kira pada tahun 1750 terbit sebuah terjemahan Inggris atas sebuah manuskrip Ibrani kuno yang ditemukan di Gazna, Persia. Sephir Ha-Yasher yang saya gunakan adalah sebuah terjemahan Inggris tahun 1840 yang diterbitkan oleh J.H Parry & Co. Salt Lake City.
16 Kaum New Age percaya bahwa bumi ini diselubungi oleh medan spiritual Akasha yang mana mempengaruhi dorongan hati dan pikiran setiap manusia. Dengan begitu medan ini dipercaya pula menyimpan seluruh catatan sejarah umat manusia.
17 Dowling, The Aquarian Gospel of Jesus the Christ (London: L. N. Fowler & Co., 1947), 48.
18 Ibid., 50.
19 Dowling, dikutip oleh Gaer, 134.
20 Dowling, Aquarian Gospel, 66.
21 Philip J. Swihart, Reincarnation, Edgar Cayce, and the Bible (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1978), 18.
22 Anne Read, Edgar Cayce: On Jesus and His Church (New York: Warnera Books, 1970), 70.
23 Dr Lewis Spencer The Mystical life of Jesus, American Rosicrucian Series, Supreme Grand Lodge Am.
24 H , Spencer The Secret Doctrines of Jesus , Supreme Grand Lodge of Amorc, California America, 1954 (Edition keenam)
25 Mirza Ghulam Ahmad Sat Bachan Qadian, 1895 p. 164.
Lihat pula Mirza Ghulam Ahmad Masih Hidustan Mein Qadian 1899 p. 3. dan Mirza Ghulam Ahmad Alhuda Qadian 1902 26 Dowling, Aquarian Gospel, 12.
27 Menurut keterangan St. Justin (138-161 M), Yesus adalah seorang pembuat bajak dan kuk. (Contra Tryph., 88)
28 H. P. Blavatsky, The Secret Doctrine (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1966), 168-89.
29 Annie Besant, Esoteric Christianity (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1953), 90-91.
30 The Malankara (Indian) Orthodox Church : A Historical Perspective. Oleh His Eminence Metropolitan Dr. Paulos Mar Gregorios.
31 Kisah Para Rasul 5:38
Categories: Bizzare Phenomena

Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur (1)

January 13th, 2010 No comments

Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menemukan sebuah buku agama Buddha di perpustakaan sekolah saya yang menyinggung bagaimana Yesus menghabiskan masa mudanya dengan bermeditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spritualitas dari dunia Timur.

Hal ini sangat menarik bagi saya sebab Perjanjian Baru tidak ada mengisahkan hal tersebut. Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Allah.

Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru. Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ? Pertanyaan ini memenuhi pemikiran saya di masa itu. Untuk menjawab hal tersebut ternyata adalah sangat mudah. Alkitab menyediakan jawabannya ! Saya menemukan jawaban tersebut dalam Injil Markus 6:1-6a. Dan apa yang saya tulis waktu itu mungkin adalah salah satu karya apologetika saya yang pertama. Tidak saya sangka saya harus mengulanginya lagi sepuluh tahun kemudian. Semuanya ini saya lakukan sebab rasul Petrus pernah berpesan demikian dalam I Petrus 3:15-16. “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan ! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang memnita pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah-lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka tersebut.” (I Petrus 3:15-16)

Apa yang mendorong saya untuk menulis kembali adalah karena terbitnya sebuah buku berjudul “Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha” karangan Anand Krishna. Apa yang saya tulis disini bukan merupakan resistansi atau penolakan terhadap apa yang dipahami dan dipercaya oleh Anand Krishna. Saya percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai interpretasi masing-masing dan bukan pula hak saya untuk memaksakan pembaca mana interpretasi yang paling benar.

Yang saya lakukan melalui tulisan ini adalah pertama untuk meluruskan hal-hal yang bersifat kontradiktif terhadap apa yang telah tertulis dalam Alkitab dan kedua untuk menyampaikan fakta sejarah dengan sebenar-benarnya. Saya sangat setuju dengan hal yang terpikir oleh Anand Krisha bahwa bangsa Indonesia berhak atas “the best available source” dan yang paling otentik. Kenyataannya adalah jarang sekali ada orang mau menulis mengenai hal ini. Oleh sebab itu sekarang-lah saatnya bangsa Indonesia dibukakan matanya. Tetapi masalahnya adalah “the best available source” tidak identik dengan sumber yang paling otentik. Disini kita harus pandai-pandai memilah mana sumber yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Mana yang merupakan karya isap jempol dan mana yang bukan. Dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk menulis ini.

Kisah Kehidupan Saint Issa Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de Jesus pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut.

Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India – sekarang Kashmir). Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.

Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut “tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali,” dan ia harus menyusun “semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut”.[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar. Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa “Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina.”[3]

Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut : Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]

Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahmamengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka.“[5]

Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini. Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. “Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci.” Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia.”[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari.

Menurut manuskrip Himis ini, mendekati akhir tahun ketiga pengajaran Issa di Israel, Pilatus menjadi begitu khawatir akan popularitas Issa yang menyebar bak jamur di musim hujan sehingga ia menyuruh salah seorang mata-matanya untuk melemparkan tuduhan terhadap Issa. Issa kemudian dipenjara dan disiksa oleh para prajurit supaya mengakui apa yang mereka tuduhkan itu. Para ulama Yahudi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Issa. Issa tetap dikenakan tuduhan dan Pilatus menjatuhkan hukuman mati terhadapnya. Menjelang matahari terbenam penderitaan Issa berakhir. Jiwanya meninggalkan tubuhnya, kembali berkumpul dengan keilahiannya. Sementara itu Pilatus menjadi takut karena perbuatannya itu dan menyerahkan jenazah orang suci itu kepada orangtuanya, yang kemudian menguburkannya di dekat tempat penyaliban itu.

Tiga hari kemudian gubernur itu memerintahkan para prajuritnya untuk memindahkan jenazah Issa untuk dikuburkan di lain tempat. Ia khawatir kuburan Issa akan menjadi tempat ziarah yang ramai. Hari berikutnya orang-orang menemukan kuburan itu terbuka dan kosong. Seketika itu pula kabar burung menyebar bahwa Hakim Agung telah mengirim malaikat-malaikatnya membawa jenazah Issa dimana Roh Tuhan pernah bersemayam dalam dirinya semasa hidupnya.[7]

Selanjutnya, beberapa pedagang dari Palestina yang singgah di India bertemu dengan sekelompok orang tertentu yang mengenali Issa sebagai seorang murid biasa yang mempelajari bahasa Sansekerta dan Pali selama masa mudanya di India. Pedagang-pedagang itu lalu menceritakan bagaimana kematian Issa di tangan Pilatus. Dan bila cerita ini disimpulkan, kisah kehidupan Saint Issa ditulis dalam sebuah gulungan lontar – oleh penulis tidak dikenal – kira-kira tiga atau empat tahun kemudian. Gulungan lontar inilah yang ditemukan oleh Notovitch di Biara Himis. Setelah dikerjakan oleh Notovitch, Kisah kehidupan Saint Issa – demikian ia menyebutnya – mengandung 244 paragraf pendek yang tersusun ke dalam 14 bab.

Reaksi awal terhadap Notovitch Penerbitan buku Notovitch ini keruan saja mendapatkan reaksi yang keras dari banyak pihak. Kritikus yang pertama kali mengecam Notovitch adalah F. Max Muller, seorang orientalis senior dari Universitas Oxford. Muller adalah seorang pecinta filosofi Timur dan pernah tinggal di India selama beberapa tahun. Pada bulan Oktober 1894, Muller menulis The Nineteenth Century, sebuah paper akademistik yang berisi penolakan terhadap temuan Notovitch. Muller menelurkan empat argumen yang patut disimak :

Pertama, Muller mengatakan bahwa manuskrip tua semacam itu seharusnya terdapat dalam Kanjur dan Tanjur yakni katalog atau daftar yang mencantumkan seluruh karya literatur Tibet. Kenyataannya, manuskrip yang dimaksud Notovitch sama sekali tidak tercantum dalam katalog tersebut dan sama sekali tidak dikenal sebelumnya.

Kedua, Muller menolak pendapat Notovitch tentang asal mula manuskrip itu. Ia menanyakan bagaimana para pedagang Yahudi itu secara kebetulan bertemu, di antara jutaan penduduk India, orang-orang yang mengenal Issa sebagai seorang murid biasa, dan tambah lagi “bagaimana orang-orang yang mengetahui Issa itu bisa segera mengenali ia sebagai orang yang sama dengan yang baru saja dibunuh Pilatus.”[8]

Ketiga, Muller menunjukkan sebuah surat dari seorang wanita Inggris (bertanggal 29 Juni 1894) yang mengunjungi Biara Himis dan menanyakan tentang Notovitch di hadapan 800 lama biara tersebut. Tulisnya, “tidak ada satu kata kebenaran pun dari seluruh cerita itu ! Tidak pernah ada orang Rusia disini. Tidak ada cerita tentang Kristus sama sekali !”[9]

Keempat, Muller mempertanyakan kebebasan Notovitch dalam mengedit dan menyusun ulang tiap-tiap ayat sekehendak hatinya yang mana hal ini tidak akan dilakukan oleh seorang sarjana literatur. Dalam hal ini memang Notovitch bukanlah seorang sarjana literatur.

J. Archibald Douglas, seorang professor di Government College di Agra, India, juga penasaran dengan temuan Notovitch ini. Ia mengambil jatah liburan tiga bulan dengan mengadakan perjalanan ke Biara Himis dengan mengikuti rute yang digunakan Notovitch. Ia menerbitkan catatan perjalanannya itu dengan judul The Nineteenth Century (Juni 1895), yang kebanyakan berisi interview dengan kepala lama di biara tersebut. Sang lama mengaku bahwa ia telah menjadi kepala lama selama 15 tahun, yang berarti semestinya ia adalah kepala lama yang dijumpai Notovitch waktu itu. Namun kepala lama itu mengatakan bahwa selama 15 tahun itu, ia tidak pernah menjumpai seorang Eropa dengan kaki patah mencari pertolongan di biaranya (menurut Notovitch saat itu ia tengah menderita patah kaki dan berusaha mencari pertolongan terdekat).

Ketika ditanya apakah ia tahu tentang buku-buku di dalam biara-biara Buddha di Tibet yang mengisahkan kehidupan Issa, ia menjawab “Saya tidak pernah mendengar adanya manuskrip yang memuat nama Issa, dan saya yakin dan mengatakannya dengan jujur bahwa yang seperti itu tidak pernah ada. Saya telah menanyakannya kepada lama senior kami di biara lain di Tibet, dan mereka tidak tahu menahu tentang buku atau manuskrip yang memuat nama Issa.”[10] Ketika kutipan buku Notovitch dibacakan kepada lama tersebut, ia menanggapinya, “Bohong, bohong, bohong, semuanya bohong !”[11] Interview tersebut ditulis dan disaksikan oleh sang lama, Douglas, dan seorang penerjemah dan distempel dengan cap resmi biara.

Kredibilitas Notovitch keruan saja menjadi rusak gara-gara investigasi Douglas tersebut. Waktu penulisan manuskrip Himis Manuskrip Himis menurut perkiraan Notvitch ditulis 3 atau 4 tahun setelah peristiwa penyaliban (±30 M). Ini berarti manuskrip Himis ditulis jauh lebih awal daripada keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang rata-rata ditulis 3 atau 4 dekade kemudian. Kapan manuskrip Himis ditulis sebenarnya jauh dari kepastian. Perkiraan Notovitch sama sekali tidak didukung bukti historis apa pun. Meski begitu dari isi manuskrip Himis itu sendiri kita bisa memperkirakan kapan ia ditulis. Manuskrip Himis menceritakan bahwa Issa lahir di tengah-tengah masa penjajahan kerajaan Romawi.

Dalam manuskrip itu juga disebutkan secara jelas bagaimana bangsa penjajah itu menghancurkan Bait Allah-nya orang Israel dan bagaimana mereka memperbudak bangsa Israel. Dan pada satu masa datanglah para penyembah berhala dari negeri Roma di seberang lautan. Mereka menaklukan bangsa Ibrani dan menunjuk dari antara mereka pemimpin militer untuk memerintah mereka di bawah wewenang Kaisar. Mereka menghancurkan bait suci, mereka memaksa penduduknya untuk berhenti memuja Allah mereka yang tidak kelihatan itu, dan memaksa mereka untuk mengadakan korban persembahan untuk para berhala. Para bangsawan dipaksa untuk menjadi prajurit, perempuan-perempuan dipisahkan dari suaminya, dan masyarakat kelas bawah dijadikan budak, ribuan jumlahnya dikirim ke seberang lautan. (The Life of Saint Issa 3:8-10) Nah di tengah-tengah masa penderitaan inilah Issa justru dilahirkan, demikian menurut manuskrip Himis. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa peristiwa penghancuran Bait Allah di Yerusalem terjadi pada tahun 70 Masehi. Sedangkan pengusiran bangsa Israel dari Palestina (yang juga disertai dengan perbudakan) oleh otoritas Romawi baru dimulai setelah diberangusnya pemberontakan Bar Koseba pada tahun 135 Masehi. Jadi dengan demikian penulis Himis jelas telah salah menempatkan kejadian. Ia telah menggeser frame waktu masa hidup Issa tujuh sampai sepuluh dekade ke depan ! Disini kita menemukan kejanggalan. Apakah penulis Himis tidak tahu bahwa Yesus lahir sebelum Bait Allah dihancurkan ? Apakah ia juga tidak tahu bahwa Yesus berulang-kali keluar masuk Bait Allah untuk mengajar ? Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa di masa hidupnya Yesus telah meramalkan tentang kehancuran Bait Allah (Bd. Mat 24:1-2, Mrk 13:1-2, Luk 21:5-6)

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa manuskrip Himis paling awal ditulis pada abad kedua Masehi. Jadi tidak benar bahwa manuskrip itu ditulis 3 atau 4 tahun sesudah peristiwa penyaliban. Sumber cerita manuskrip Himis : sumber Yahudi ? Penulis Himis mengakui bahwa sumber cerita yang ia (atau mereka ?) tulis berasal dari para pedagang yang baru saja tiba dari Israel.

Categories: Bizzare Phenomena