Mau Tahu Teknik Membesarkan Penis Cara Arab? Free Tutorial and Video: Semuanya Gratis! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘spiritual’

 Powered by Max Banner Ads 

Bahasa Sansekerta: Bahasa Para Dewa?

December 4th, 2009 2 comments

Ketika Big Bang atau Dentuman Besar terjadi pada awal terciptanya alam semesta, sebenarnya tidak ada suara apa pun yang terdengar. Konon, yang mendengar juga belum ada dan mediumnya pun juga tidak ada. Kata Big Bang dimunculkan oleh Fred Hoyle pada tahun 1950 untuk menjelaskan karakteristik alam semesta yang mulai berekspansi dengan cara seketika seperti ledakan.

Gambaran awal alam semesta ini dilihat oleh teleskop gelombang mikro milik NASA. Jika Big Bang memang terjadi, gelombang awal yang muncul pada saat itu akan menjadi gelombang mikro pada saat sekarang. Teleskop NASA menemukan gelombang mikro yang telah menempuh jarak selama hampir 14 milyar tahun cahaya. Gelombang ini muncul kira-kita 380.000 tahun setelah Big Bang, kurang lebih bagaikan 12 jam setelah kelahiran seorang bayi ke dunia.

Secara visual, hanya gelombang mikro yang terlihat melalui teleskop. Tetapi, gelombang mikro ini memiliki suara. Suara yang pada mulanya tidak terdengar, tetapi kemudian muncul dalam bentuk desisan, yang semakin lama pitch atau tinggi-rendah nada desis tersebut akan semakin menurun. Suara awal ini terdeteksi sebagai noise. Noise yang memenuhi segala spektrum sehingga mampu menciptakan struktur penciptaan pada seluruh skala dari bintang hingga galaksi. NewScientist.com mempublikasikan artikel bahwa alam semesta lahir dengan desisan dan bukan ledakan. Dalam salah satu link-nya, juga terdapat rekaman suara awal (http://www.newscientist.com/). Maka, pemahaman Injil Yohanes versi Internasional bahwa “In the beginning was the Word”, menjadi keliru. Bukan Word tetapi Sound, suara. Suara yang tidak memiliki arti tertentu, tetapi esensial dalam pembentukan alam semesta. Suara penciptaan awal alam semesta.

Para Resi jaman dahulu sudah mengetahui hal ini selama ribuan tahun. Mereka melakukan percobaan dengan elemen-elemen alam, kemudian hasil percobaan itu mereka tuliskan menjadi Veda atau Kitab Pengetahuan. Menurut Veda, suara awal penciptaan adalah AUM (OM).

Dalam peradaban Sindhu (Hindu) dijelaskan bahwa awal Penciptaan bermula dari Suara Awal AUM. AUM tidak hanya mengacu pada penciptaan, tetapi juga menjadi motor penggerak seluruh alam semesta. A adalah simbol Penciptaan Materi. U adalah simbol Pemeliharaan Energi. M adalah simbol Pendaur-ulang.

AUM ini kemudian menjadi mantra suci kebudayaan Hindu. Kata Mantra berasal dari bahasa Sansekerta Manas dan Yantra. Manas artinya, pikiran. Yantra artinya, alat. Mantra, tidak seperti yang dikenal orang sebagai jampi-jampi, mempunyai arti “alat untuk menenangkan pikiran”. Kata-kata apa pun yang bisa menenangkan pikiran manusia dapat dikategorikan sebagai Mantra. Mantra yang diucapkan berulang-ulang dalam Islam disebut Dzikir. Salah satu Dzikir yang paling umum adalah La Ila Ha Ila Allah yang artinya, tidak ada Tuhan selain Allah, atau tidak kebenaran apa pun di luar Tuhan. A-U-M sendiri dalam bahasa Arab menjadi Alif, Lam, Min. Di dalam bahasa Yahudi, Tuhan atau Kebenaran itu sendiri tidak memiliki nama. Tetapi, jika tetap harus diungkapkan, maka ungkapan yang tepat tentang Tuhan atau Kebenaran hanyalah suara yang diucapkan dalam bentuk gabungan huruf Y-H-V.

Dalam tradisi Kristen, menurut Jnaneshvara Bharati, salah satu mantra yang bisa dipakai adalah Maranatha. Kata Maranatha disebut dalam surat St. Paulus kepada umatnya di Korintus dan juga muncul di Kitab Wahyu Injil. Maranatha berasal dari bahasa Aram (bahasa pergaulan bangsa Yahudi pada masa Yesus) yang mempunyai dua arti sebagai berikut:
• mara – natha yang artinya “Tuhan datanglah”;
• maran – atha yang artinya “Tuhan telah datang”.

Dalam cerita Hindu, ketika Ia Yang Tak Bernama, tetapi memiliki tak terbatas Nama, sedang dalam tidur panjang, suara AUM yang berasal dari dalam diri-Nya sendiri yang telah membangunkan-Nya. AUM menyebabkan diri-Nya sadar akan Keberadaan-Nya sendiri. Pada saat ini, Ia pun berada dalam keadaan Turiya, keadaan keempat yang tak terjelaskan.

AUM ini yang menyebabkan seluruh alam semesta tercipta dan mulai berekspansi. Mantra AUM dianggap sebagai mantra yang tertinggi dan disebut sebagai Pranava, awal. Bahkan dalam salah satu Upanishad (pelajaran dan pengamalan kebenaran), yaitu Mandukya Upanishad, berbunyi: “AUM – kata ini adalah segalanya: masa lalu, masa kini, masa depan, bahkan melampaui waktu. Semuanya adalah AUM”.

Mandukya (dalam bahasa sansekerta berarti katak) Upanishad adalah hasil pengalaman seorang Resi yang belajar tentang rahasia Keberadaan-Nya dari seekor katak. Mandukya Upanishad ini sudah berusia ribuan tahun. Seekor katak mempunyai kemampuan lebih dibanding binatang lain, karena ia bisa hidup dalam dua dunia, yaitu air dan darat. Ia dengan mudah dapat berpindah antara kedua dunia tersebut. Kedua dunia ini oleh sang Resi tersebut sebagai lambang dari dunia materi dan dunia spiritual.

Masih di dalam Mandukya Upanishad disebutkan pula bahwa alam semesta ini terdiri atas empat keadaan:

  1. Keadaan jaga atau Jagarita: keadaan ketika seseorang bangun tidur dan melakukan kegiatan sehari-hari. Ini adalah kesadaran materi, Vaishvaanara. Pada keadaan ini manusia menggunakan panca indera dan fisiknya untuk berinteraksi dengan alam sekitarnya. Keadaan jaga adalah setara dengan suara dari huruf “A” pada AUM.
  2. Keadaan tidur dengan mimpi atau Svapna: keadaan ketika seseorang sedang bermimpi dalam tidur. Di sini kesadaran yang berkuasa adalah energi, tajas. Energi memiliki massa, tetapi tidak memiliki bobot sehingga dapat dengan mudah berubah bentuk. Dalam mimpi seseorang bisa mengalami apa pun yang ketika jaga tidak mungkin terjadi. Bahkan seseorang bisa menciptakan apa pun secara instan dalam dunia mimpinya itu. Pikiran, dalam hal ini alam bawah sadar, menjadi penguasa dari alam mimpi ini. Keadaan bermimpi adalah setara dengan suara dari huruf “U” pada AUM.
  3. Keadaan tidur tanpa mimpi atau deep sleep (Susupti): keadaan ketika seseorang tidur lelap tanpa mimpi sedikit pun. Pada saat itu yang terjadi adalah kekosongan. Ketika kesadaran materi dan energi hilang, pada saat itulah kesadaran atau prajna ini muncul. Kesadaran atau prajna adalah sebab dari keadaan jaga dan tidur bermimpi. Kedua keadaan pertama ada karena keadaan deep sleep ini. Keadaan tidur tanpa mimpi adalah setara dengan suara dari huru “M” pada AUM.
  4. Keadaan Turiya: keadaan yang tidak terjelaskan. Keadaan yang melampaui semuanya, melampaui baik-buruk, melampui ilusi-realita, melampaui krodh (amarah), melampaui kaam (nafsu), melampaui lobh (keserakahan), dan melampaui moh (keinginan duniawi).

Resi jaman dahulu bukan saja ilmuwan praktis, tetapi juga seorang psikolog ulung.

Ketiga keadaan pertama di atas dalam psikologi sekarang dikenal sebagai: Kesadaran jaga (consciousness); kesadaran alam bawah sadar (sub consciousness); kesadaran supra (super consciousness). Sementara keadaan keempat, kesadaran no-mind yang melampaui ketiga kesadaran sebelumnya tidaklah dikenal oleh pemikiran Barat, tetapi sudah dikenal dalam peradaban Timur. Keadaan keempat inilah yang disebut Pencerahan Buddha atau Kesadaran Kristus.

Hansberger, seorang ilmuwan Jerman setelah Perang Dunia Pertama, menemukan bahwa kesadaran mempunyai kaitan erat dengan frekuensi gelombang otak. Gelombang otak adalah frekuensi pancaran otak yang direkam dengan electroencephalogram (EEG). Gelombang Beta mempunyai frekuensi 14 sampai 28 siklus per detik. Ini adalah kesadaran jaga kita. Ketika kita sedang tegang, kuatir, atau sibuk dengan kegiatan yang menguras otak, maka Gelombang Beta yang mendominasi otak kita.

Gelombang berikutnya adalah Gelombang Alpha dengan panjang gelombang 8 sampai 13 siklus per detik. Pada gelombang ini seseorang masih berada dalam kesadaran jaga, tetapi dalam kondisi yang rileks, kreatif, bebas dari kekhawatiran – atau sering disebut sebagai kondisi meditatif ringan. Pada kondisi ini seseorang belum sampai pada keadaan tidur, namun pikirannya sudah tidak lagi aktif. Kondisi ini adalah kondisi netral di mana panca indera bekerja maksimal sehingga seseorang akan menjadi sangat “awas”.

Banyak latihan-latihan beladiri yang memiliki unsur meditasinya bertujuan agar orang tersebut mencapai Gelombang Alpha sehingga tubuh dapat merespons dengan cepat. Contoh: Tai Chi, Aikido, dan Ba Gua Chuan sering disebut moving zen, karena beberapa latihan-latihannya menginduksi gelombang otak untuk mencapai Gelombang Alpha. Respons tubuh dengan cara ini berbeda dibanding ketika hormon adrenalin seseorang bekerja. Seseorang yang hormon adrenalinnya sedang bekerja, maka tubuhnya juga akan merespons dengan cepat, tetapi pada saat itu hanya kesadaran binatang (insting) yang terletak di batang otak yang aktif. Kedua gelombang Beta dan Alpha adalah keadaan jagarita.

Gelombang yang sedikit lebih panjang lagi adalah Gelombang Theta yang mempunyai frekuensi dengan siklus 4-7 kali per detik. Inilah keadaan Svapna. Umumnya kondisi jaga anak-anak berada pada frekuensi ini, sementara orang-orang dewasa jarang yang berfrekuensi Theta pada kondisi jaga. Pada orang-orang dewasa, kondisi ini sering muncul menjelang tidur dan ketika sedang mengalami mimpi sehingga berhubungan langsung dengan alam bawah sadar orang tersebut. Seseorang yang sedang dalam kondisi meditatif secara mendalam, kreatifitas yang tinggi, dan reseptif terhadap hal-hal paranormal sebenarnya juga sedang mengalami Gelombang Theta. Tidak heran bila kita sering kali tidak bisa membedakan dengan tepat keadaan seseorang yang sedang bermimpi dengan seseorang yang sedang berhalusinasi. Pada saat bermimpi, seseorang mengalami REM (Rapid Eye Movement) atau mata bergerak dengan cepat.

Seseorang yang mengalami sleepwalking atau berjalan sambil tidur, gelombang otaknya pun juga berada pada tingkat ini. Tetapi, ketika bangun ia tidak ingat sama sekali apa yang telah dilakukannya, karena ia sebenarnya berada dalam alam mimpi. Seseorang yang berada dalam alam mimpi, umumnya ketika bangun tidur tidak ingat mimpi apa yang dialaminya.

Gelombang keempat adalah Gelombang Delta yang mempunyai frekuensi dengan siklus 1 – 3 per detik. Gelombang ini muncul pada saat seseorang berada dalam kondisi tidur tanpa mimpi (deep sleep) atau meditasi yang sangat dalam. Inilah keadaan susupti ketika Prajna memegang kendali.

Sampai saat ini, ilmuwan masih dapat memetakan hingga deep sleep. Tetapi, ribuan tahun yang lalu para Resi sudah mengenal hingga tahap berikutnya yang disebut Turiya. Pada saat itu, seseorang akan mempunyai gelombang otak 0 siklus per detik. Akan sangat lama bagi para ilmuwan masa kini untuk membuktikan frekuensi 0 siklus per detik. Mereka akan menganggap seseorang yang berada pada kondisi itu telah mati secara klinis. Tapi, bagi para Resi, seseorang yang mati secara klinis belumlah mencapai kondisi Turiya. Bagaikan transmiter rusak, otak tidak memancarkan frekuensi apa pun karena otak sudah tidak berfungsi. Tapi, di lain pihak, penelitian pernah membuktikan bahwa seorang Yogi dapat menurunkan frekuensi otaknya hingga hampir 0 siklus per detik. Setiap beberapa menit atau jam, otak yang kelihatannya datar mengalami spike atau lonjakan. Frekuensinya menjadi satu dibagi beberapa ratus siklus per detik, tetapi tetap belum mencapai 0.

Gelombang otak manusia hanyalah medium. Apa yang dipancarkan bersama gelombang otak tersebut bisa berlainan. Jika tiga orang yang sedang tidur bermimpi dan ketiganya berada pada gelombang yang sama, maka tidak berarti ketiga orang tersebut bermimpi hal yang sama, meskipun kadang-kadang hal tersebut bisa terjadi. Seperti modem internet pada komputer yang menggunakan kabel telpon untuk mengirimkan sinyal-sinyal berupa data-data komputer. Data-data yang dikirim melalui sinyal-sinyal pada kabel telepen itu sesungguhnya dikonversikan ke dalam bentuk suara. Demikian juga pikiran manusia menggunakan medium gelombang otak hingga mampu dialami oleh seluruh bagian tubuh.

Pada saat seseorang sedang tertidur dan mengalami mimpi buruk, dia akan terbangun sambil berkeringat dingin serta jantung berdebar-debar. Apa yang hanya dialami dalam alam mimpi (kesadaran kedua), secara fisik dirasakan oleh tubuh dalam kesadaran jaga. Jadi, batas antara keempat keadaan tersebut tidak sejelas yang dikira.

Dalam alam mimpi seseorang hampir tidak bisa “berpikir”. Bahkan untuk menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi pun tidak bisa. Ketika ia menyadari dirinya sedang bermimpi, maka sebetulnya saat itu ia sedang tidak bermimpi. Svami Anand Krishna dalam ceramahnya pernah meyinggung bahwa pernyataan “Saya sedang tidur” tidak mungkin terjadi. Meskipun secara tata bahasa adalah benar, tetapi jika seseorang sedang tidur, maka ia tidak akan tahu dirinya sedang tidur. Pengetahuan bahwa dirinya tidur baru bisa disadari ketika orang tersebut sudah keluar dari tidurnya.

Kembali kepada soal vibrasi materi atau energi. Fisika Modern telah membuktikan bahwa seluruh alam semesta ini sedang bervibrasi. Alam semesta mempunyai getaran yang saling tumpang tindih dengan rentang frekuensi yang tidak terbayangkan. Karena semua adalah vibrasi dengan frekuensi tertentu, maka manipulasi elemen atau materi di alam semesta ini pun bisa dilakukan dengan frekuensi tertentu pula. Salah satu metode yang digunakan oleh para Resi adalah menggunakan simbol-simbol. Simbol-simbol dengan kombinasi tertentu dapat menciptakan hasil yang spesifik. Simbol-simbol ini kemudian dikumpulkan dan sekarang dikenal sebagai “Bahasa Sansekerta”, yang artinya “telah disempurnakan”.

Bahasa Sansekerta adalah bahasa teknik karena dirancang khusus untuk keperluan tertentu. Bahasa Sansekerta bukanlah bahasa percakapan sehari-hari. Bahkan menurut penelitian ilmuwan NASA, Badan Penerbangan Angkasa Amerika Serikat, Bahasa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang bisa diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa pemrograman komputer.

Sementara bahasa-bahasa lain membutuhkan parser (untuk memisahkan sintaksis) agar dapat dimengerti komputer dan membutuhkan karakter alfanumerik (angka dan tanda baca), Bahasa Sansekerta mampu melakukannya dengan jelas tanpa keduanya. Tidak heran selama ribuan tahun Bahasa Sansekerta dipakai sebagai bahasa tulisan dalam berbagai bidang profesi, seperti matematika, hukum, filsafat, linguistik, astronomi, kedokteran, sastra dan lain sebagainya.

Kembali kepada AUM, setiap pengucapan A-U-M dengan intonasi dan nada tertentu akan menghasilkan efek tertentu. Distorsi pada suara awal AUM menciptakan perbedaan frekuensi yang disebut Dvhani atau pola frekuensi. Perbedaan pola ini disebut Varna yang kemudian menjadi suku kata Sansekerta. Kata “warna” dalam bahasa Indonesia juga berasal dari Varna dari Bahasa Sansekerta, yang sebetulnya merujuk pada rentang frekuensi yang beraneka ragam. Setiap warna memiliki rentang frekuensi sendiri.

Dalam dunia medis saat ini terapi warna sudah mulai diterima sebagai terapi komplementer. Prinsip dasar dari terapi warna adalah agar setiap organ atau anggota tubuh bekerja pada rentang frekuensi tertentu. Jika organ tersebut frekuensi kerjanya berubah, organ tersebut akan mengalami gangguan fungsi.

Dalam terapi warna, setiap warna akan memberikan respons yang berbeda ke syaraf-syaraf otak dan dari otak diteruskan ke organ-organ tertentu yang juga beroperasi pada rentang frekuensi tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami gangguan pada ginjal dapat terbantu proses pemulihannya jika ia melihat warna oranye. Warna ini akan merangsang syaraf-syaraf di otak dan mengaktifkan hormon tertentu. Selain itu impuls-impuls tersebut akan diteruskan ke ginjal dan membuat ginjal kembali bekerja pada rentang frekuensinya sendiri.

Bahasa Sansekerta sendiri dianggap sebagai bahasa tertua dan terstruktur, karena sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan aksara pembentuknya berasal dari perbedaan frekuensi. Contohnya adalah sebagai berikut. “Aa” adalah aksara pertama dan “Ha” adalah aksara terakhir.Ketika dua aksara tersebut digabung, maka hasilnya adalah “Aham” yang artinya adalah Aku.

Dalam bahasa Yunani, awal adalah alpha dan akhir adalah omega. Tradisi Kristen mengatakan bahwa Tuhan adalah awal dan akhir. Alpha dan Omega. Di tengahnya inilah manusia. Bandingkan dengan bahasa Sansekerta yang juga mengatakan bahwa di antara Awal dan Akhir itulah “Sang Aku” (Tuhan) berada.

Contoh lain dari struktur kata pada Bahasa Sansekerta: Padartha yang artinya adalah Materi, terdiri atas dua kata, Pada artinya Kata atau Suara, serta Artha bermakna tujuan atau arti. Suara + Arti = Materi. Dalam bahasa Fisika Kuantum, bisa diartikan sebagai: vibrasi suara yang diucapkan dengan tujuan tertentu akan membentuk materi. Dan memang materi inilah yang akan mencul. Setiap vibrasi adalah energi. Setiap tujuan atau niat juga memiliki massa. Maka, yang terjadi adalah materi yang memiliki energi dan massa.

Dalam keadaan jaga, materi yang tercipta tidak akan terlihat. Tetapi, setiap energi tidak pernah musnah. Apa pun yang pernah ada, akan tetap ada dan hanya berubah bentuk. Bentuk dan komposisi bisa berubah-ubah meski substansinya tidak.

Dalam keadaan tidur bermimpi, energi (tajas) adalah dominannya. Pada saat itu, pengertian Padartha akan lebih mudah dimengerti. Suara apa pun yang muncul ditambah dengan niat tertentu akan menciptakan wujud tertentu pula secara seketika. Setiap orang pasti mengalami hal ini ketika ia sedang bermimpi.

Satu-satunya perbedaan antara orang awam dan para Resi adalah Resi sadar bahwa mereka sedang berada di alam mimpi. Tidak ada mimpi yang sedemikian buruk atau sedemikian nikmat yang dapat mempengaruhi tubuh jaga seorang Resi. Karena mereka menyadari bahwa mimpi ini pun adalah proyeksi pikiran mereka sendiri. Maka dengan sangat mudah para Resi akan dapat menghentikan atau mengubah mimpinya dengan seketika.

Sementara itu, orang awam baru menyadari bahwa mereka sedang bermimpi hanya ketika sudah bangun dari tidurnya. Orang awam akan terbawa oleh mimpinya dan jika mimpinya sangat intens, efek pada tubuh jaga akan terasa besar juga. Tubuh sedang beristirahat, jantung sedang berirama dengan normal, tetapi jika seseorang bermimpi buruk – meskipun mereka tidak ingat dengan mimpinya ketika bangun – maka jantungnya akan berdebar sedemikian kencang seperti mau meledak, napas tersengal-sengal, dan dada terasa sesak. Penelitian membuktikan bahwa serangan jantung paling sering terjadi di pagi hari. Jika terasa tidak masuk akal, ingatlah bahwa Fisika Modern memang sering “tidak masuk akal”, tetapi bisa dibuktikan.

Bahasa Sansekerta diperkirakan telah berusia minimal antara 4000-7000 tahun dan menjadi dasar dari banyak bahasa-bahasa klasik di Eropa seperti Yunani, Latin dan Romawi. Tidak mengherankan jika Bahasa Sansekerta digunakan dalam kitab Veda (Pengetahuan) yang sering dianggap sebagai kitab suci dari peradaban Hindu.

Aksara-aksara yang digunakan dalam Bahasa Sansekerta disebut Devnagari (bahasa atau tulisan para Dewa). Dewa atau Malaikat, sesungguhnya, adalah elemen-elemen dasar pembentuk materi. Melalui Bahasa Sansekerta, seseorang dapat berinteraksi langsung dengan elemen-elemen alam. Karena seluruh aksara berasal dari variasi frekuensi, maka mantra-mantra Sansekerta yang disuarakan dengan benar akan menciptakan vibrasi tertentu dan mempengaruhi semua tingkat fisik, emosi, mental, energi, dan spiritual. Bahkan, menilik teori Fisika Modern di atas, vibrasi tertentu akan dapat menciptakan materi, meski untuk mewujudkannya dibutuhkan energi yang luar biasa besar.

Bahasa Sansekerta sendiri mengalami beberapa kali perubahan tata bahasa. Tata bahasa disebut sebagai vyakarana, yang arti harafiahnya “analisa yang dibedakan”. Tata bahasa terakhir Sansekerta dibuat oleh Panini pada 1300 SM (ada yang menyebut 500 SM) yang menjadi tata bahasa terpendek, tetapi terlengkap di seluruh dunia. Panini menyebut tata bahasa ini sebagai Ashtadhyayi. Dalam 4000 ayat-ayat pendeknya, beliau menunjukkan bagaimana kerja Bahasa Sansekerta dan kombinasi yang bisa muncul baik arti maupun efeknya secara filosofis.

Ilmuwan NASA telah membuktikan bahwa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang dapat mengekspresikan setiap kondisi yang ada di alam semesta dengan jelas. Dengan struktur bahasa yang sempurna, Bahasa Sansekerta dapat dan telah digunakan sebagai Bahasa Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence.

Rigg Briggs, seorang peneliti NASA, menjelaskan bahwa struktur Panini bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis tanpa perlu menggunakan karakter alfanumerik yang sekarang dipakai dalam semua bahasa tingkat tinggi komputer. Bahasa tingkat tinggi artinya, bahasa yang menyerupai bahasa manusia dan merupakan jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer). Bahasa tingkat tinggi ini berkebalikan dengan bahasa mesin (bahasa tingkat rendah) pada komputer yang terdiri atas kombinasi biner: 0 dan 1 (open and close positions).

Penelitian-penelitian tentang bagaimana aturan-aturan Panini dapat diterapkan dalam software sedang dilakukan di banyak tempat seperti Akademi Penelitian Sansekerta dan Siddhaganga Mutt di Karnataka. Bahkan dalam linguistik, aturan ini pun dapat diterapkan karena aturan Panini juga melingkupi aktivitas otak dan cara kerja suara manusia. Contoh, lebih mudah mengatakan jagat + naatha sebagai jagannaatha (dalam Bahasa Sansekerta) atau abd-ul + rahman sebagai abd-ur-rahman (dari Bahasa Semit) – keduanya mengikuti aturan fonetik Panini. Hal ini juga berarti bahwa bahasa Semit pun berasal dari Sansekerta. Diperkirakan sebagian besar bahasa-bahasa kuno di bumi seperti bahasa Persia, Yunani, Teutonic, dan Celtic berasal dari Sansekerta.

Setiap mekanisme tata bahasa dalam Bahasa Sansekerta sudah disempurnakan. Setiap penjelasan tentang kondisi emosi serta berbagai kondisi lainnya sudah baku dan tidak mengalami perubahan selama ribuan tahun. Bahasa Sansekerta tidak mengalami penambahan kata baru karena semuanya sudah ada, termasuk materi apa pun di muka bumi sudah ada istilahnya. Jika para Resi sudah mengetahui tentang sistem ucapan manusia yang canggih ini pada ribuan tahun yang lalu, maka para ilmuwan Barat baru menyadarinya pada abad ini.

Tetapi, bahasa peninggalan dari Sindhu tidak saja muncul di India dan melebar ke Eropa. Di Indonesia peradaban yang mirip sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bahasa Indonesia akarnya berasal dari Melayu dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Tetapi, bahasa-bahasa daerah di Indonesia banyak yang berasal dari bahasa Sansekerta. Contoh, varna di Indonesia dikenal sebagai warna; Bhumi menjadi bumi; dev menjadi dewa/dewi; jiiva menjadi jiwa, dan lain sebagainya.

Bahasa Daerah Jawa tidak menggunakan huruf alfabet a-z, tetapi menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka yang masing-masing mempunyai arti filsafatnya. Bahasa Jawa dan Bali menggunakan aksara yang sama meskipun dengan pengucapan yang berbeda. Aksara-aksara ini mempunyai kemiripan dengan aksara-aksara bahasa Telugu yang digunakan di India Selatan.

Hal-hal seperti ini menunjukkan ketinggian suatu budaya di mana suatu kata tidak terbentuk oleh sekedar alfabet, tetapi aksara dengan lafal yang berirama, mempunyai vibrasi, dan arti tertentu. Satu pepatah bahasa Jawa yang menggambarkan keadaan ini berbunyi: “Basa iku busananing Bangsa”, yang artinya budi pekerti seseorang atau suatu bangsa akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya

Bandingkan dengan alfabet Romawi yang kita pakai sekarang (huruf a sampai z) di mana lafal serta penggunaannya tidak konsisten. Sayangnya, kedalaman budaya lokal Indonesia telah dianggap kadaluarsa oleh sebagian orang-orang Indonesia padahal dunia Barat justru mulai melakukan penelitian mendalam terhadapnya.

*) Tulisan ini diambil dari buku berjudul “Sains dan Spiritualitas”, terbitan PT One Earth Media, 2006, karya Roy B. Efferin — seorang yang menekuni dunia Sains, Spiritualitas, dan Aikido.

Untuk berkenalan lebih jauh dengan sang penulis silahkan kunjungi: http://www.facebook.com/roy.b.efferin

NYHMWMYU7Z2T

Categories: Spiritualism

Apa itu Zen?

November 7th, 2009 No comments

Inayat Khan tells a Hindu story of a fish who went to a queen fish and asked: “I have always heard about the sea, but what is this sea? Where isit?” The queen fish explained:  “You live, move and have your being in the sea.  The sea is within you and without you, and you are made of sea, and you will  end in sea. The sea surrounds you as your own being.”

Fishes live in rivers and lakes and are not aware of it. Humans live in the realm of Tao and are oblivious of it.” People live in the sea of Zen, yet do not know the nature of Zen.

Apa itu Zen?

Suatu saat Inayat Khan menceritakan sebuah cerita Hindu tentang seekor ikan yang pergi menemui ratu ikan dan bertanya: “Saya sudah sering mendengar tentang yang namanya lautan, tapi apakah lautan ini? Dimanakah itu lautan?”

Sang ratu ikan menjelaskan: “Kamu hidup, bergerak dan berada didalam laut itu sendiri. Laut itu ada didalam kamu dan juga diluar kamu, kamu terbuat  dari laut, dan kamu akan berakhir di laut. Laut itu menyelimuti seluruh keberadaan kamu.”

Ikan hidup di sungai dan dilaut namun tidak sadar akan hal itu. Manusia hidup akan Tao dan juga tidak sadar akan hal itu. Orang-orang hidup dalam lautan Zen, namun tidak sadar akan hakekat sifat Zen.

Film: Zen Quotes and Wise Sayings (Kutipan kata-kata bijak Zen)

sumber: storiesofwisdom.com, credit goes to Johhny Lone @ wer1family.com

Categories: Spiritualism

Bertuhan dengan Marah

September 4th, 2009 No comments

Ditulis oleh Komaruddin Hidayat
Jumat, 07 Agustus 2009 07:35
Tulisan ini pernah dimuat di koran Seputar Indonesia, Jumat 7 Agustus 2009
http://www.uinjkt.ac.id

DALAM suatu forum dialog antarumat beragama,saya pernah membagi tiga pertanyaan untuk dijawab secara tertulis di awal ceramah saya.

Pertama, apakah Tuhan yang kita imani dan kita sembah itu sama atau berbeda, mengingat kita memeluk agama yang berbeda.Kedua,bumi yang kita tempati dan matahari yang setia memancarkan cahaya itu milik Tuhan agama siapa? Ketiga, mengingat setiap umat beragama meyakini dan mengharapkan nantinya masuk surga, apakah setiap agama memiliki surga dan neraka masing-masing ataukah surga dan neraka itu hanya satu untuk semua manusia?

Setelah jawaban terkumpul, cukup menarik jawaban peserta. Dari sekitar dua ratus peserta yang mayoritasnya beragama Islam, terlihat bahwa mereka menjawab Tuhan mereka tidak sama. Ketika ditanya bumi ini disediakan Tuhan untuk pemeluk agama yang mana, jawaban mulai problematik.Begitu pun ketika diskusi menyangkut surga dan neraka, jawaban juga terbelah.

Ada yang berpandangan, setiap pemeluk agama nantinya akan disediakan surga dan neraka masing-masing, sehingga tidak perlu ancammengancam dengan neraka terhadap umat beragama yang berbeda. Ada pula jawaban yang menyebut surga dan neraka itu satu untuk semuanya,dan mereka yang berbeda keyakinan agama dipandang tersesat dan kafir sehingga ancamannya neraka. Saya membahas problem di atas semata dari analisis psikologi beragama, bukan pembahasan filsafat dan akidah agama.

Karena psikologi, yang saya ingin dengarkan dan pahami adalah bagaimana pandangan dan sikap seseorang memandang orang lain dengan keyakinan yang berbeda. Dengan demikian saya ingin mengenal lebih lanjut mengapa seseorang begitu toleran dan ramah dalam beragama, dan mengapa ada orang yang beragama serta bertuhan dengan mudah marah melihat orang yang berbeda agama. Bahkan mereka itu dianggap dan diposisikan sebagai musuh yang mesti dihancurkan, meskipun tidak saling kenal dan tidak mengganggu dalam kehidupan sosialnya.

Mungkin karena diskusi berlangsung lintas agama, berbagai jawaban terhadap tiga pertanyaan di atas tidak muncul secara bebas dan transparan, agar tidak menyinggung perasaan umat lain. Tetapi ketika dibahas dalam forum kecil sesama mereka sendiri,mulai kelihatan lebih jelas sikap aslinya. Di antaranya ada orang yang beragama dan bertuhan disertai sikap marah. Hatinya tidak rela melihat bumi ini dihuni dan dimakmurkan oleh umat yang berbeda keyakinan agama.

Tidak rela melihat orang lain lebih maju dan sejahtera di bumi Tuhan yang dia imani dan dia sembah. Namun karena kenyataannya penduduk bumi ini sangat beragam bahasa, budaya, dan agamanya, dan itu tidak mungkin dihilangkan, maka suasana batin dalam beragama selalu disertai kemarahan. Beragama dan bertuhan dengan marah.Kalau berdoa selalu dipanjatkan, ya Tuhan, hancurkanlah mereka yang kafir, tak ada tempat paling layak bagi mereka kecuali neraka.

Ya Tuhan, mereka itu musuh-musuh kami, juga musuh-Mu, berilah kami kekuatan iman dan keberanian untuk berperang menghadapi mereka. Lebih baik kami mati membela kemuliaan-Mu dan agama-Mu daripada kami hidup terhina tanpa makna.

Membela Tuhan dengan Bom?

Dalam berbagai kesempatan, sering saya mendengarkan ceramah seorang ustaz, bahwa Tuhan itu Mahaagung dan Mahakaya, tidak memerlukan belas kasih dan pertolongan manusia.Kebaikan dan kejahatan yang dilakukan manusia tidak akan mengurangi keagungan dan kebesaran-Nya.

Begitu pun kejahatan yang diperbuat manusia tak akan mengurangi sifat-Nya yang rahmandan rahim. Tuhan menciptakan semua ini dan mengirim rasul-Nya semata karena kasih-Nya pada manusia untuk memakmurkan bumi, menciptakan bayang-bayang surgawi di dunia.Karena itu,asma Tuhan yang selalu dikenalkan dan agar selalu disebut dan diingat oleh manusia adalah Dia Yang Pengasih dan Penyayang.

Siapa pun yang mencintai Tuhan dan berakhlak dengan sifat-sifat ilahi hendaknya menjadi pribadi penyebar damai dan kasih sayang untuk lingkungannya. Pribadi yang berkualitas sifat ilahi itu dalam Alquran sering dimisalkan dengan kata “cahaya” dan “air”.Bagi masyarakat padang pasir tatkala Alquran diturunkan, cahaya dan air benar-benar dirasakan sebagai penerang dan sumber kehidupan paling nyata. Tatkala cahaya datang,kegelapan akan terhalau.

Ketika air datang, maka sekitar menjadi subur.Cahaya dan air sifatnya melimpah dan memberi tanpa diskriminasi dan preferensi. Memberi tanpa minta imbalan kembali. Begitulah Alquran menggambarkan misi ajaran Nabi Muhammad yang disebarkan untuk seluruh manusia. Jadi, sejak awal mula para Rasul itu adalah figur-figur pembangun peradaban dan sangat membenci penindasan. Menindas dan membunuh orang yang tidak dalam posisi menyerang adalah kesalahan dan dosa besar.

Karena itu, sangat bertentangan dengan nalar sehat, dengan hukum negara, dengan nurani masyarakat, dengan ajaran agama, mereka yang meledakkan bom dengan dalih membela Tuhan dan membela agama.Tuhan tidak perlu dibela. Kalau ingin membela Tuhan caranya adalah menyebarkan kasih, mencerdaskan,menyejahterakan, dan menunjukkan jalan kebenaran dengan cara yang benar.

Ketika dulu rakyat Nusantara ditindas oleh penjajah, maka dibenarkan mengangkat senjata melawan mereka. Ketika rakyat Palestina dibantai oleh tentara Israel dan tanahnya direbut, mereka dibenarkan melawan dengan senjata. Begitu pun perlawanan dan keberanian tentara Vietnam sangat mengagumkan ketika melawan tentara Amerika yang ingin menguasai tanah dan rakyat di sana.

Tetapi ketika bom diledakkan di Indonesia,yang merupakan negeri dengan penduduk muslim terbesar, tempat melaksanakan ajaran Islam tak ada halangan suatu apa pun, sungguh itu suatu tindakan kriminal melawan kemanusiaan dan pesan dasar agama. Lebih menyedihkan lagi adalah para korban itu juga penduduk Indonesia yang muslim yang mesti menanggung ekonomi keluarganya. Mesti mencarikan nafkah dan biaya untuk pendidikan anakanaknya.

Orang asing yang jadi korban juga sahabat warga Indonesia. Makanya sangat sulit dan absurd ketika kemarahan itu diberi label sebagai pembelaan terhadap Tuhan dan kemuliaan Islam. Secara psikologis mereka itu pribadi yang hidupnya gelisah, mengalami disorientasi nilai, muatan informasi pada jaringan sarafnya terkena virus doktrin yang menyesatkan, tak ubahnya narkoba yang menghancurkan nalar sehatnya,sehingga tindakannya bisa tak terduga.

Untuk itu pendekatannya tidak cukup hanya dari segi keamanan. Perlu melibatkan sosok-sosok yang dicintai dan disegani, terutama orang tua, istri, dan anak-anaknya. Seperti digambarkan dalam film, salah satu cara efektif untuk menangkap musuh adalah melalui mediator anak atau istri tercinta. Ketika itu ternyata tidak mempan, maka semakin membuktikan bahwa otak para teroris itu memang sudah rusak.

Doktrin utamanya hanyalah menghancurkan siapa pun yang dia anggap musuh.Tuhan yang mereka yakini dan persepsikan adalah Tuhan yang lemah sehingga perlu dibantu dengan paksa siapa yang tidak menyembah-Nya. Tuhan yang mereka yakini bukan Tuhan sumber kasih dan sayang, melainkan Tuhan yang haus darah korban, persis seperti dewa kuno yang selalu minta pengorbanan nyawa manusia.

Mereka itu ingin mengatur-atur Tuhan Mahaagung dan Mahakasih oleh nalar dan nafsunya yang sakit dan sempit karena sudah terkena virus permusuhan pada siapa pun yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu para teroris itu juga mengacau dan menghancurkan usaha-usaha kemanusiaan dan intelektual para anak bangsa dan ormas besar yang ada, misalnya Muhammadiyah dan NU, yang tak henti-hentinya memperjuangkan Islam yang ramah, damai dan cerdas untuk memajukan bangsa ini. Namun semua itu jadi berantakan karena sabotase mereka.

Belum lagi hubungan antara Indonesia- Malaysia juga terlukai akibat gembong teroris dari negeri jiran itu. Dilihat dari segi apa pun para teroris itu ternyata hanya menghancurkan usaha-usaha mulia para ulama Indonesia, para diplomat, pengusaha dan pemerintah.(*)

Categories: Spiritualism

Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah?

September 4th, 2009 No comments

Sudah lama aku tidak bertemu Mbah Maridjan, dikarenakan aku harus pergi ke
luar kota menuntut ilmu. Setelah gempa di Jogja yang membikin hati miris itu,
pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh pulang. Aku segera
teringat Mbah Maridjan, bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering
mengajari aku filsafat Jawa.

Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau tidak
ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah,
sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga
Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2
begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil beratapkan daun kelapa dan damen
( batang padi kering). Setelah dekat, kulihat Mbah Maridjan yang sedang
menyalakan rokok lintingannya. Baunya menyengat, tetapi segar apalagi
ditambah suasana sore yang semilir.

” Mbah, Mbah, bagaimana ini Mbah, musibah datang silih berganti, sepertinya
sudah waktunya kita melakukan tobat nasional. Mbah Maridjan malah tenang2
saja”

” Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi musibah. Ini
hanya kejadian alam biasa Le.”

” Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita,
sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah.”

” Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le”

Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini.

” Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?”

” Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya tidak
dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah,
ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi”

” Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan.”

” Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa, yang
dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu, itu
kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari
surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis disuruh menghormati Adam,
suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis itu pinter, ya dia nggak mau, dia
hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya
Iblis dilaknat. Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena
homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa,
jangan pula salahkan umatnya kalau kekanak2an. ”

Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir
sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. Sungguh2 gila Mbah
Maridjan ini, berani2nya menggoyang tahta diktatur Tuhan.

” Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus lebih banyak
berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.”

” Hahahahahaha…………………..”

Mbah Maridjan tertawa terkekeh2, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan
pandangan lucu kepadaku.

” Kamu ini Le, produk jaman modern koq berpikirnya idiot kaya gitu. Kalau
banyak orang berdosa, dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia.
Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan baik, menjadi
bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta ampunlah kepada
manusia2, berhenti korupsi, bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim piatu,
jalankan negara dengan jujur dan bersih. Itu yang namanya mohon ampun,
kalau mohon ampunnya cuma sama Tuhan, kamu malah akan ditertawakan
sama Dia.”

” Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari
derita ini.”

” Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri, kamu
boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau kamu tidak
memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang Jepang, kena gempa
mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan
gempa. Lihat orang Belanda, kena banjir banding mereka itu, tapi mereka
bangkit, bikin dam2 raksasa, sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir.
Lihat orang2 Eropa, dikaruniai penyakit pes, sampai separuh penduduknya
mati, tapi mereka memperbaiki diri, dan hidup sehatlah mereka sekarang.
Bencana itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.”

Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu bisa
membolak-balik perpektif. Dan dia sudah berani mempermainkan syaraf
otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku.

“Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam dengan
sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia ini. Kitalah yang
telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.”

Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat
itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya.

” Oalah Le, kalau mau jujur sih. Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh
manusia yang egosentris, akhirnya manusia tambah kelihatan egois.
Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan
antroposentrismu, kuno sekali cara berpikirmu Le. Manusia itu bagian alam Le,
bukan penguasa alam.”

” Ya biarin Mbah, pandangan antroposentris kan lebih baik daripada percaya
hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai Plered, Kebo Kiai
Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.”

” Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul itu kan
cuman mitos Le, para kawulo cilik seperti kita ini kan sering ditipu sama para
penggede2 istana. Raja2 Mataram jaman dulu malu karena di Segoro Lor (Laut
Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara
Portugis, jadi mereka menghibur diri dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul,
seolah2 mereka masih menguasai Segoro Kidul (Samudra Hindia= red),
memperistri penguasa Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi
Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho
mbodhoni wong mesisan.”

Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro
Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini.

” Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus bergerak
Mbah.”

” Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. Kamu yang
masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan orang
dari sikap fatalis menghadapi musibah. Sudah sana, belajar yang bener, santri
kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus,
pangertene mbladhus. Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat
guna dan tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun
harus kau pelajari, dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa
dipelajari.”

Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh
sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu.

” Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini akan benar2
jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan, banyak
itu sepanjang kaki Merapi.”

Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung
memikirkan apa maksud kata2 Mbah Maridjan yang terakhir tadi.

Author: Muhammad Amin
Diambil dari bukunya yang berjudul “Ziarah ke Makam Tuhan”. Sobat bisa download buku kumpulan cerpen-nya di bagian free download kami

Categories: Spiritualism

Sebuah Refleksi Tentang Reinkarnasi

August 22nd, 2009 4 comments

Pengantar

Cukup banyak buku telah ditulis dan diterjemahkan berkenaan dengan tema reinkarnasi, baik pengkajian secara ilmiah maupun pengalaman pribadi tentangnya. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam dan Nasrani sepertinya terhenyak. Tentu saja karena tema reinkarnasi tidak populer—untuk tidak mengatakan tidak ada—dalam dua agama besar di Indonesia ini. Lalu yang meyakini reinkarnasi, atau yang memang ada bibit keyakinan berupa pertanyaan-pertanyaan mendasar berkaitan dengan konsep eskatologis pun membolak-balik halaman demi halaman kitab suci guna menelisik dan menginterpretasi kembali teks-teks agama yang “sepertinya” menyembunyikan ajaran reinkarnasi di balik ayat-ayat yang menggunakan kata-kata metaforis dan bersayap. Mereka memaknai kembali apa itu alam barzakh, hari berbangkit, sorga, pahala dan dosa, hari pengadilan, dan neraka, bahkan sampai pada pemaknaan kembali hakekat Tuhan Yang Maha Adil.

Banyak yang menentang, namun tidak sedikit yang menerimanya. Yang menerima reinkarnasi menyuguhkan teks-teks yang diyakini berhubungan dengan reinkarnasi dan penafsiran yang sesuai dengan prinsip keadailan Ilahi, sedangkan yang menolak, menyuguhkan teks-teks yang menceritakan kekalnya sorga, kekalnya neraka, adanya hari pengadilan sebelum jatuhnya ketentuan, apakah manusia masuk ke dalam sorga atau neraka. Di antara dua keyakinan itu, yang manakah yang disebut dengan “keyakinan”? Tentu saja, pada hemat saya, dalam masalah hidup yang fundamental, tidak mungkin dua keyakinan—yang menerima dan yang menolak—sama-sama benar. Karena kita hidup pada bumi yang sama, dan hukum alam yang mengaturnya harus sama pula, tiada pernah berubah. Lalu keyakinan manakah yang benar?

Jika hal itu berkenaan dengan prinsip hidup fundamental—seperti reinkarnasi—tentunya tak ada aturan, hukum yang berbeda bagi masing-masing individu. Tidak mungkin, reinkarnasi dialami oleh penganut Hindu dan Budha sementara umat Islam dan Nashrani tidak mengalaminya, karena mereka meyakini konsep itu tidak ada dalam kitab suci mereka. Seperti halnya hukum gravitasi, di mana-mana pun berlaku sama.

Spiritualitas menuntut kejujuran dalam berproses menuju kebenaran sejati. Dan saya yakin, keyakinan kita pada konsep-konsep keagamaan yang biasa kita pegang sesungguhnya berasal dari warisan yang kita warisi dari orang tua dan lembaga kegamaan yang telah ada sejak kita lahir. Orang tua dan lembaga agama harus kita akui, masih sedikit yang bisa mengajarkan agama secara rasional dan berdasarkan pengalaman langsung dalam keberagamaan dan spiritual. Dan konsep-konsep itu telah tertanam dalam diri kita menjadi mind set sebagai hasil pengkondisian yang tidak memberikan pilihan pada kita selain agama yang dipercaya sebagai satu-satunya yang benar.

Bagi saya, keyakinan adalah sesuatu yang harus kita alami dan kita sadari dalam kesempurnaan kekinian. Karena kebenaran yang kita hadapi selalu saja terjadi dalam kekinian. Jika dalam al-Quran Tuhan menyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri, dan tidak ada sesuatu di luar Tuhan, tentunya sorga dan neraka pun ada di dalam Tuhan bukan? Berada dalam kekinian. Berada dalam diri kita. Tuhan bukan masa lalu, juga bukan masa depan. Dan esok belum terjadi, kalaulah esok terjadi tentulah itu dialami dalam kekinian. Dan masa lalu hanyalah memori, yang ketika tersimpan dalam memori otak manusia, maka urusannya adalah lupa dan ingat. Namun, masa lalu dan masa depan sesungguhnya tersimpan dalam kekinian yang abadi (eternal now). Dan yang bisa melampaui waktu, baik esok hari atau kemarin hari, adalah fakultas dalam diri kita yang saya sebut sebagai kesadaran. Kesadaran melampaui ruang dan waktu.

Dalam kesadaran, segalanya tercakup di situ. Melampaui dualitas baik buruk, kelahiran dan kematian. Dan kesadaran hanya bisa dialami dalam pengalaman yang serba baru. Tuhan yang bersemayam dalam diri kita itu adalah kesadaran. Yang terus bekerja tiada henti-hentinya. Dalam al-Quran Dia menyatakan, “Setiap hari Ia selalu sibuk.” Kesadaran tak pernah tidur, namun selalu terjaga dalam nurani manusia.  Kesadaran adalah saksi yang menyaksikan permainan dualitas pikiran kita.

Karena itu, keyakinan kita yang belum menyentuh wilayah kesadaran, belum sampai pada tahapan haqqul yaqin, sesungguhnya masih terbuka kemungkinan untuk berubah, meskipun kita menyebutnya itu sebagai keyakinan atau sebagai keimanan. Demikian pula dengan konsep reinkarnasi. Mungkin kita menolak reinkarnasi, karena pemahaman pada agama kita berbeda dengan ajaran reinkarnasi, berbeda dengan konsep kekalnya sorga, kekalnya neraka, tempat kembalinya semua umat manusia. Namun jika kita menolak konsep reinkarnasi, apakah kita bisa membuktikan bahwa konsep kita yang paling absah, bisa dinalar, bisa dialami, dan disadari? Bagaimana dengan kesaksian orang yang mengaku pernah lahir sebelum kehidupannya saat ini. Jadi, pada hemat saya, kebenaran itu harus disadari dan dialami sendiri, dirasakan. Pertama-tama kita perlu membuka ruang nalar untuk memahami tanpa kesinisan terlebih dulu, karena kita pun tak bisa membuktikan bahwa keyakinan kita yang benar, kita menyatakan benar karena “agama” atau pemimpin lembaga keagamaan kita menyatakan itu benar dan “sesuai” dengan “nash” agama.

Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang lahir di Timur: Hindu, Budha, Tao, faham Kebatinan, atau bahkan Kejawen. Jika Krishna, Budha, Lao Tse menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu Muhammad, Yesus, Musa “tidak” menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu apa dengan demikian para orang suci itu berbeda pandangan atas hukum alam yang seharusnya satu dan sama adanya?

Mengapa Manusia Perlu Mengalami Reinkarnasi?

Reinkarnasi adalah suatu relitas yang bisa kita sadari dengan kepekaan kesadaran kita sehari-hari. Kematian adalah sesuatu yang terjadi setiap hari. Bahkan kematian adalah hakekat yang melandasi segala sesuatu. Kematian adalah kepastian yang melebihi hidup itu sendiri. Bahwa cahaya selalu lahir dalam rahim kegelapan. Anda mati dari diri Anda kemarin dan lahir kembali menjadi diri Anda saat ini.

Kesalahan terbesar manusia sebenarnya ketika mereka merasa terpisah dari Tuhan. Jika kita merasa Tuhan berada “di sana”, tentunya perasaan tersebut sebetulnya telah membatasi kemahaadaan dan kemahaesaan Tuhan. Karena itu, setiap konsep yang dibangun dari perasaan terpisah tentunya  akan menghasilkan sikap selalu menyesal, sikap inferior, suatu sudut pandang, bahwa ada sebuah kekuasaan di luar diri kita yang sewenang-wenang dalam menentukan nasib kita, dan kita tak punya pilihan dengan kehendak-Nya. Sementara dalam al-Quran, Tuhan menyatakan: Tiada daya dan upaya selain dengan-Nya? Bahwa energi Tuhan berada dalam diri kita. Bahwa sifat-sifat Tuhan terkandung dalam diri manusia. Dan dalam ayat lain di al-Quran, Tuhan menyatakan: Sesungguhnya kehinaan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan tangan-tangan mereka sendiri. Hanya manusia saja yang belum menyadarinya. Manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Tuhan hanya memfasilitasinya. Termasuk kondisi seseorang yang menderita hidupnya ketika lahir di dunia tentu tidak bisa terlepas dari semangat ayat di atas.

Demikianlah, reinkarnasi adalah realitas sehari-hari, adalah konsep perubahan yang terus berjalan untuk menuju penyempurnaannya. Reinkarnasi, perubahan dan penyempurnaan jiwa itu adalah suatu keniscayaan yang tetap ada meskipun semua orang di dunia tidak meyakininya. Bulan akan tetap ada meskipun semua orang buta meniadakannya. Nah, realitas hanya bisa menjadi keyakinan jika kita menyadari saat mengalaminya, jika kita menyaksikan sendiri diri kita di masa lalu. Dan dari situ, reinkarnasi tidak hanya sekedar konsep yang perlu diperdebatkan, namun ia adalah realitas, keberadaan yang harus dan pasti suatu saat akan disadari oleh setiap jiwa. Jika kita telah mengalami dalam kesadaran reinkarnasi maka konsep itu pun berhenti dan menjadi keyakinan yang kuat.

Akan tetapi, pada tahap awal, kita perlu memahami reinkarnasi secara nalar. Karena, meskipun nalar seringkali ragu dan terjebak dalam dualitas, namun pemahaman sesuatu dengan nalar yang benar tentunya akan memudahkan kita untuk mendekatkan kita pada keyakinan akan reinkarnasi. karena jika kita terbuka dengan konsep reinkarnasi, maka pikiran yang kita proyeksikan pada diri kita di masa lalu, tentang kejadian di masa lalu suatu saat mungkin akan kita tangkap kenyataannya dalam alam meditasi, berupa insight atau sebuah gambaran dalam pikiran kita.

Energi yang menyusun alam semesta ini satu adanya di tengah kebhinnekaannya yang luar biasa. Dalam perbedaan wujud yang luar biasa banyak, sesungguhnya ada energi yang sama yang membuat semuanya ini maujud. Di dalam setiap materi terdapat energi yang mewujudkannya, dan energi bisa mengambil bentuk berupa materi. Yang non wujud berada dalam yang wujud, dan yang wujud akan kembali, dan menyimpan sesuatu yang non wujud. Ada  dua nama Tuhan dalam Islam yang mungkin belum banyak kita perhatikan: Al-Dzahir dan Al-Bathin. Jadi Allah adalah yang nampak sekaligus yang tidak nampak, dzahir dan batin. Membatasi Allah hanya pada sesuatu yang tidak nampak justru akan membatasi kemahaadaan Allah, seakan-akan Allah berada di awang-awang dan tidak hadir dalam dunia wujud. Pandangan semacam itu akan mengakibatkan orang menjadi idealis. Sementara jika kita membatasi Allah sebagai sesuatu yang lahir saja, maka kita akan terjebak pada pandangan materialis. Seakan-akan hanya yang maujud saja, hanya yang positif saja yang nyata, padahal kita pun mempunyai dunia batin, kesadaran, yang tidak dzahir namun “ada”.

Secara sederhana, kita, dan bahkan anak kecil pun akan bertanya, dari manakah asal-usulnya? Dari manakah asal usul keberadaan itu? jika kita menjawabnya secara berurutan, tentunya jawaban terakhir itu akan sampai kepada ketiadaan. Jawaban terakhirnya akan sampai pada pikiran yang menyerah karena tidak mampu menjangkaunya. Nah, yang tak mampu diperkirakan dalam pikiran itu kita menyebutnya sebagai Tuhan. Banyak para mistikus yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Ketiadaan yang merengkuh, yang mengandung segala macam keberadaan, dalam konsepsi mistik Jawa, Tuhan disebut suwung hamengku ana (ketiadaan yang mengandung keberadaan). Dalam pertanyaan-pertanyaan filsafat, seringkali dikatakan bahwa yang “ada” berasal dari yang “tiada”. Namun, bagaimana yang “tidak ada” bisa melahirkan yang “ada”? Oleh karena itu, mereka pun berkesimpulan bahwasanya anatara “ada” dan “tiada” itu sama saja. Kata para Budha, yang ada ini sesungguhnya tiada, maya belaka.

Namun, “ada” atau “tiada”, itulah yang sejati, yang nyata. Yang sempurna. Yang membuat semuanya tidak sempurna adalah pikiran kita yang menilai. Karena penilaian adalah kerja pikiran. Untuk sampai pada kenyataan dan hakekat sesungguhnya, para master dan para sufi menganjurkan kita untuk melampaui ego, mind kita, dan ketika kita berdisiplin diri untuk melampaui ego, tidak terikat pada pikiran yang membonceng keinginan, kita tentu akan sampai pada realitas yang melampaui segala macam pikiran, yang melampaui segala macam penilaian. Dan aneka macam ritul, meditasi, adalah sebuah latihan pendisiplinan diri untuk memupus ego kita yang tercipta dari pikiran liar (nafsu) kita sehari-hari. Pada tahap awal, pikiran adalah jalan untuk memahami kenyataan, namun ia juga sekaligus menjadi hijab yang membuat kita terhalang dalam menyatukan diri dengan kenyataan yang sejati.

Sebelum terciptanya alam semesta, sebelum dunia wujud maujud dalam ranah ruang dan waktu, maka yang ada hanyalah ketiadaan yang menyimpan segala macam peristiwa dalam pikiran murninya. Tuhan, yang adalah keheningan, ketiadaan abadi-Nya itu sendiri, ingin agar Dia dikenali, agar kekayaan batin-Nya diketahui dan disaksikan-Nya sendiri. Oleh karena itu, Dia lalu berkehendak untuk mewujudkan pikiran-Nya ke dalam dunia wujud. Sifat pertama dan yang utama dari Tuhan adalah kehendak. Dan kehendak ini muncul dari pikiran murni-Nya. Ia ingin melihat wujud-Nya yang abstrak memakai wadag. Dalam beberapa literatur tasawuf kita sering mendengar bahwa Tuhan menciptakan alam semesta agar dia bisa dikenali oleh diri-Nya sendiri pula. Atau, seperti yang sering diungkapkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, Tuhan ingin menciptakan Manusia agar ada yang bilang, ada yang memuji-Nya. Dan sesungguhnya yang memuji dan mengenali-Nya adalah diri-Nya sendiri juga. Kita bisa merasakan dan memahami konsep di atas dengan sebuah contoh tentang seorang pelukis yang ingin mengekspresikan ide lukisannya dalam pikirannya ke dalam sebuah kanvas. Ide pelukis itu bisa kita ibaratkan sebagai pikiran Tuhan, dan lukisan di atas kanvas itu kita ibaratkan sebagai ciptaan yang lahir dari kehendak sang pelukis itu sendiri. Atau seperti benih sebuah tanaman, yang menyimpan akar, dahan, ranting, dedaunan, dan buah, dalam potensialitas dirinya sendiri. Dan benih itu harus ditanam dalam tanah, harus berproses untuk mendapatkan kesempurnaan seperti yang telah dikandung dalam benih tanaman itu.

Sebelum menciptakan semesta, Tuhan menciptakan prototipe kesadaran sejati diri-Nya yang akan mengejawantah dalam tubuh manusia utama  (insan kamil). Dalam Islam tasawuf, prototipe itu disebut sebagai nur muhammad. Atau energi murni sebelum mengejawantah dalam perwujudannya sebagai tokoh historis bernama Muhammad bin Abdullah, nabi yang lahir di kota Makkah itu. Dan  nur Muhammad itu sebetulnya ada dalam setiap ciptaan, karena segala macam ciptaan itu sesungguhnya adalah dari napas-Nya pula. Yang membedakan hanyalah tingkat keasadaran ciptaan itu akan jati dirinya yang tak terpisah dari Tuhan. Yang sesungguhnya tak terbatas dan omni present, hadir di mana-mana. Nur Muhammad mengalami beberapa fase dalam dunia untuk mencapai kesadaran tertingginya sebagai insan kamil, sebagai Muhammad. Dalam beberapa literatur agama, kebatinan, juga ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwasanya alam semesta terbentuk sebelum manusia seperti yang kita lihat sekarang ini, semesta tercipta sebelum adanya manusia yang memiliki kesadaran diri dan benda-benda maujud di dunia. Bahkan ketika proses itu sudah sampai pada manusia, kesadarannya masih harus terus berproses dan mengalami peningkatan dalam beberapa kelahiran hingga sampai pada kesadaran tunggal, kesadaran semesta seperti yang dimiliki oleh nabi Muhammad. Setiap nabi sesungguhnya pun tidak serta merta menjadi seorang nabi. Mereka dulunya pun berproses sebagaimana kita, babak belur dulu sebelum mencapai kesempurnaan sejati. Seperti kata Nietzsche yang juga memahami konsep insan kamil, puncak kebudayaan adalah berdiam diri dari naluri-naluri liar.

Dalam beberapa kesempatan, Muhammad seringkali menyatakan, Ana basyarum mitslukum (sesungguhnya aku ini seperti kalian semuanya). Yang membedakan hanya tingkatan kesadarannya saja, bahwasanya Muhammad telah mencapai kesadaran paripurna dalam kelahirannya yang terakhir. Dalam suatu kesempatan, Muhammad pernah mengatakan bahwa dalam dirinya terkandung jiwa Ibrahim. Atau dalam doa tahiyyat akhir ketika shalat, pujian kepada Muhammad selalu dihubungkan dengan pujian kepada Ibrahim. Sementara itu, kita masih berproses untuk mencapai kesadaran Muhammad. Dan kita saat ini sedang berproses ke sana. Kita akan dan pasti akan mencapainya. Suatu saat. Dan kelahiran para nabi, para wali, dan para master adalah untuk memberikan contoh kepada manusia tentang Tuhan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan dalam tubuh manusia. Muhammad pernah bilang, Ana Ahmad bilaa mim. Yang artinya sesungguhnya dialah Tuhan yang maujud. Atau seperti kata Yesus, Tiada seseorang pun bisa sampai pada Bapa tanpa melalui Aku. Jadi, sesungguhnya itulah pentingnya para nabi, para wali, para mursyid yang mengetahui betul apa yang harus kita lakukan dalam proses perjalanan kita menuju kesempurnaan sejati.

Keberadaan para master itu ditulis dalam al-Quran: Dan di antara keduanya, ada batas, dan di atas tempat tertinggi, A’raaf itu, ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. (7:46)

Ayat di atas menyiratkan pengetian bahwa, orang yang berdiri di tempat tertinggi itu adalah Para nabi yang melampaui dualitas, baik buruk, sorga neraka, kebaikan atau kejahatan. Dan para master itu sangat mengenal cici-ciri manusia yang masih terjebak pada dualitas baik dan buruk, karena sesungguhnya para master itu telah melewati, telah melampaui apa yang belum dilampaui oleh dua golongan tadi. Saat orang menjadi nabi, menjadi master, sesungguhnya dia hanyalah menjadi penyaksi, syahid, yang terus terjaga dalam keseimbangan. Yang selalu waspada layaknya Budha di antara peristiwa-peristiwa dunia yang hilir mudik terus berganti.

Life is Just a Game, be Joyful….

Lalu kita mungkin bertanya, untuk apa penciptaan ini terjadi? Untuk apa kita harus lahir di dunia? Untuk apa Tuhan memendarkan, memerincikan diri-Nya, mengembangkan diri-Nya dalam alam yang bhinneka ini? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus terbetik dalam diri kita supaya kita bisa melewatkan hidup ini dengan keyakinan, dan tidak berputus asa atau pun jumawa. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits qudsi, Tuhan adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Ia menciptakan semesta agar diri-Nya dikenali. Jika Tuhan tanpa ciptaan, siapa yang bisa menyebutnya sebagai Tuhan? Tuhan tanpa manusia, tentu Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Jadi ada unsur game dalam penciptaan ini. Tuhan ingin bermain-main dengan diri-Nya sendiri agar tidak masyghul dalam kesunyian-Nya. Dalam diri-Nya, terkandung kesadaran murni yang mengandung segala macam potensialitas yang Dia kehendaki agar teraktualisasi dalam sejarah. Baik itu potensi kebaikan maupun kejahatan, baik itu potensi malaikati maupun potensi syaithani.

Itulah misteri Tuhan yang tiada seorang pun bisa memecahkannya. Kehendak-Nya begitu misteri. Dan karena Dia dan kehendak-Nya adalah misteri, maka ciptaannya yang mengandung energi-Nya pun misteri. Namun, ketika kita berbicara tentang Tuhan, yang harus disadari adalah, kita tak pernah terpisah dari-Nya. Kita ada di dalam-Nya. Dan Dia ada di dalam diri kita. Sehingga, ketika kita membenci atau memuji-Nya, sesungguhnya rasa benci dan pujian itu akan kembali pada kita sendiri.

Dalam al-Quran seringkali disebutkan bahwasanya hidup ini tak lain hanyalah permainan dan senda gurau (laibun wa lahwun). Jika Tuhan menciptakan dunia ini sebagai arena permainannya, maka, tak ada pilihan bagi kita untuk bermain dan menikmati permainan itu. Permainan baik dan buruk, cinta dan benci, protagonis dan antagonis yang membentuk sebuah cerita dalam sejarah. Hegel, seorang spiritualis dari Jerman menganggap bahwa, sejarah adalah otobiografi Tuhan, atau Tuhan bukan hanya yang memiliki sejarah, namun Dia adalah sejarah itu sendiri. (Hegel; Reason in History;1953)

Dan dalam permainan, game itu, pasti ada aturan permainannya. Aturan itu tak pernah berubah, abadi selamanya. Dalam Islam, aturan yang tak pernah berubah itu disebut sebagai Sunnatullah, bangsa Timur menyebutnya sebagai hukum karma, dan ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai hukum kausalitas. Secara sederhana hukum itu oleh nenek moyang kita diungkapkan dalam sebuah kata-kata indah: siapa yang  menanam dia yang akan menuai, siapa yang berhutang dia harus mengembalikan. Sunntullah itu tak bisa dilanggar oleh siapa pun bahkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan taat kepada aturan yang berada dalam diri-Nya sendiri. Hukum karma itulah yang membuat kita harus bereinkanasi terus menerus. Hukum permainan hidup itulah yang menciptakan rantai samsara, jika kita belum melampauinya dan menyatu dengan sang pemilik permainan: Tuhan. Tuhan yang ruh murni-Nya dikandung oleh para nabi dan para master selalu dalam kesadaran murninya, ketika bermain di muka bumi. Mereka sadar akan kekuatan maya hidup. Mereka telah melampaui samsara, rantai kelahiran dan kematian, dan mereka turun ke dunia untuk bermain, untuk memberikan contoh pada manusia bagaimana menikmati hidup, menunjukkan sebuah cara bagaimana manusia harus kembali ke haribaan-Nya.

Tuhan ingin agar ciptaan-Nya yang pada awal-awal terbentuknya semesta bermula sebagai makhluk sederhana serupa mineral dalam air dan bebatuan, mengalami penyempurnaan fisik dan kesadaran sehingga bisa mengenal diri-Nya, dalam wujud manusia melalui hukum evolusi. Dalam diri manusialah, kesadaran Tuhan mulai nampak. Manusia mampu memikul pikiran Tuhan yang mengandung dualitas baik dan buruk. Itulah maksud ayat dari al-Quran, bahwasanya amanat (kesadaran) Allah telah ditawarkan pada gunung, laut, dan makhluk lainnya, namun mereka semua menolaknya, karena kesadaran mereka belum mencukupi untuk menerimnaya, dan manusialah yang mampu mengemban amanat-Nya. Kata Tuhan selanjutnya, bahwa manusia benar-benar bodoh dan zalim. Makna sesungguhnya adalah bahwa, Dia menertawakan diri-Nya sendiri. Imajinasikanlah, betapa lucunya ketika  Tuhan mengutuk dan membodoh-bodohkan manusia yang merupakan tujuan akhir penciptaan-Nya sendiri. Dia telah memendarkan diri-Nya dari tingkatan tanah liat menuju kesadaran tertinggi dalam wujud manusia. Dia mengutuki dan menertawakan manusia untuk—suatu saat—didekap-Nya kembali karena kerinduan-Nya yang akut dalam penantiannya pada si anak hilang, yang juga adalah diri-Nya sendiri pula.

Jadi reinkarnasi adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh Tuhan. Dan Tuhan tidak akan berhenti bermain, dia tak akan berhenti mencipta karena itulah sifat-Nya yang utama. Lalu mengapa kita harus terlalu serius memikirkan hidup? Hidup ini misteri dan sebuah misteri tetap akan menjadi misteri. Selamilah dan nikmatilah misteri itu. Karena Tuhan ingin melihat manusia bergembira. Tuhan ingin agar manusia memahami hakekat-Nya. Dan reinkarnasi akan terus dialami manusia sampai manusia mengenal kesejatian Tuhan.  Dan untuk itu, dia akan selalu mengutus wakil-Nya, untuk berbicara atas nama-Nya. Seperti sabda Krisna kepada arjuna di medan Kuruksetra:  Jika Dharma (kebenaran, aturan kehidupan) terancam, maka Aku akan turun kembali ke dunia untuk menegakkannya  dari masa ke masa (Bhagavadgita).

Mengapa Islam Tidak Terlalu Jelas Berbicara tentang Reinkarnasi?

Jika ditilik dari tingkat kesadaran umat yang dihadapi oleh nabi Muhammad masih dalam tingkatan jahiliyyah (kesadaran rendah), dan mempertimbangkan asas manfaat kalau seandainya ajaran reinkarnasi disampaikan pada masyarakat awam seperti itu, maka sepertinya nabi Muhammad “menunda” atau “menyamarkan” faham reinkarnasi dalam ungkapan-ungkapan metaforis dan implisit? Karena Nabi Muhammad pernah berkata pada para sahabatnya:

Al-Quran disampaikan dalam tujuh dialek; dan dalam setiap dialek ada makna luar dan makna dalamnya. (Hadits Nabi)

Atau dalam salah satu kesempatan, beliau menyatakan:

Aku menerima dua macam pengetahuan dari Utusan Tuhan (Jibril): salah satu darinya kuajarkan pada orang-orang dan jika saja pengetahuan yang satunya lagi kuajarkan pada mereka, tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka (membingungkan mereka-pen.) (Hadits Nabi)

Lalu, pertanyaannya, jika ajaran-ajaran Muhammad yang rahasia dan belum waktunya disampaikan pada saat itu seperti mungkin reinkarnasi belum pernah sampai pada kita, lalu pada siapakah ajaran rahasia itu disampaikan. Ada beberapa orang yang mempercayai, bahwa ajaran sejati Nabi Muhammad itu diwarisi oleh Hazrat Ali. Karena Muhammad pernah bilang:

Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya.

Dan, dari Hazrat Ali, kemudian pemahaman itu terwariskan kepada para sufi. Karena dalam genealogi tarekat tasawuf, hampir semuanya dari Muahammad langsung turun kepada Hazrat Ali.

Salah satu sufi dari banyak sufi yang telah sampai pada pengalaman reinkarnasi adalah Jalaluddin  Rumi. Ia sempat menyatakan dalam catatannya yang rahasia:

Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.

Dari sini, saya mencurigai bahwasanya nabi Muhammad masih belum menyingkap reinkarnasi dengan jelas pada umatnya saat itu, karena tingkat kesadaran masyarakat Arab pada saat itu masih belum memungkinkan jika ajaran itu diterima oleh mereka, sehingga ayat-ayat al-Quran cenderung mengungkapkan reinkarnasi dengan bahasa-bahasa simbolis. Seperti ayat berikut ini:

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan  siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup (Q.S. 3:27)

Jika Muhammad menyampaikan dengan terbuka ajaran reinkarnasi pada zaman jahiliyyah kala itu, bisa jadi masyarakat pada saat itu akan bermalas-malasan berusaha dalam meningkatkan kesadaran spiritualnya karena sangat mungkin mereka beranggapan, bahwa, hidup tidak hanya saat ini, dan bisa diperbaiki pada hari esok. Masyarakat  Arab pada saat itu harus diberikan peraturan yang sangat ketat agar mereka mau  berdisiplin. Pada hemat saya, Muhammad pun “terpaksa” berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya ketika beliau berbicara tentang hidup sesudah mati, hari kiamat, hari pengadilan, dan sorga-neraka.

*Salahuddien Gz, mantan mahasiswa Filsafat UGM  th. 1995-2000. Bekerja freelance sebagai penerjemah dan editor buku-buku sastra, spiritualitas, dan filsafat. Tinggal di Pondok Labu Jakarta Selatan.

Baca related artikel: Islam dan Reinkarnasi

Categories: Spiritualism