Dapatkan cara jitu menjadi LOVE and SEX MAGNET! Sudah terbukti dan sangat AMPUH! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘teosofi’

 Powered by Max Banner Ads 

Peradaban Tuhan, Peradaban Manusia, Tak Usai-usainya

August 22nd, 2009 No comments

Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu  wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap yang kau saksikan dalam kematian. Lalu mengapa harus kaupalingkan mukamu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita. Dan arahkan pandanganmu ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati terlebih dulu sebelum memperbaiki diri. Laksana sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang. (Masnawi, Jalaluddin Rumi, dari buku Reincarnation and Islam)


Pengantar

Setiap benda, wujud, atau materi yang tercipta, tentunya memiliki masa eksis keberadaannya, yaitu masa kelahiran dan kematian, kemunculan dan kemusnahan, terbit dan tenggelam. Seperti gelombang samudera yang mengalami pasang dan surut, tidak terhitung banyaknya berapa peradaban yang muncul kemudian mengalami masa kejayaan lalu sirna ditelan waktu. Bumi, alam semesta yang kita tempati saat ini, sebagai sesuatu yang tercipta tentunya memiliki masa awal penciptaan dan masa berakhirnya suatu ketika. Dalam buku Naradha bhakti Sutra, Bapak Anand Krishna menggunakan istilah kalpa untuk merujuk pada “satu masa penciptaan”. Awal dari kalpa disebut shristi, sedang akhir dari kalpa disebut pralaya (kiamat, armagedon). Bumi yang kita tempati ini tercakup dalam kalpa yang bermula pada suatu momentum dan suatu saat akan mengalami pralaya atau kiamat jika semesta ini sudah tidak bisa mempertahankan keberadaannya. Sesungguhnya kalpa kita kali ini adalah kelanjutan dari kalpa sebelumnya. Meskipun kiamat adalah akhir dari penciptaan keberadaan pada satu siklus penciptaan tertentu, namun kiamat bukanlah akhir dari segalanya. Sebab jika satu siklus penciptaan berakhir, maka akan segera diikuti dengan siklus penciptaan berikutnya.

Jadi saya yakin, sesungguhnya telah ada ribuan kali bumi seperti yang kita tempati atau justru tak terbatas  jumlahnya. Jika bumi dan semesta ini mengalami kehancuran alias kiamat, maka penciptaan baru akan dimulai lagi. Karena Tuhan tidak berawal dan berakhir, maka sifat maha mencipta yang inherent dalam wujudNya pun tidak  berawal juga tidak berakhir. Ia tak punya awal sehingga energi kreatifnya abadi di masa lalu. Ia  tak punya akhir sehingga energi kreatifnya pun abadi di masa depan. Dan berkehendak atau mencipta adalah sifat Tuhan yang maha utama. Mencipta adalah hobiNya yang tak bisa diganggu gugat, bahkan oleh diriNya sendiri. Tuhan tak pernah menganggur di masa lalu. Dan ia tak akan mengalami masa pensiun. Sebelum dunia yang kita tempati saat ini tercipta, Dia telah menciptakan dunia yang tak terbatas jumlahnya di masa lalu sebelum masa kita hari ini. Dan manusia yang hidup di bumi sekarang adalah kelanjutan dari manusia yang hidup di bumi masa lalu pada kalpa terdahulu. Jika manusia belum mengalami penyatuan dan penyucian energi murni dalam dirinya, maka ia akan terus melintasi kalpa demi kalpa sampai ia mengalami penyatuannya dengan semesta. Manusia yang tercerahkan dan moksha pada kalpa saat ini akan menjadi bahan bakar bagi penciptaan pada kalpa berikutnya.

Imajinasikanlah, bahwa Anda hidup dalam bumi di masa lalu sebelum terciptanya bumi yang Anda tempati hari ini. Dan di dalam bumi yang telah lalu, Anda naik kereta api dengan kekasih Anda sambil merokok dan minum teh dari bumi masa lalu. Bayangkanlah bagaimana bentuk tubuh manusia saat itu, bibir kekasih Anda, lentik jemarinya yang Anda belai saat itu. Mungkinkah itu terjadi? Mengapa tidak? Dalam pengetahuanNya, segalanya serba ada dan serba mungkin. Saya sering membayangkannya saat kecil, dan pikiran ini memberikan sensasi pada saya bahwa saya adalah keabadian yang tak berawal dan tak berakhir, seperti Anda semua, meskipun yang namanya tubuh ini terus mengalami kebaruan dalam proses perjalanannya. Dan pemahaman ini membuat saya bisa lagi tertawa-tawa menyaksikan kemahadahsyatan dan ketakterbatasan energi kehidupan. Dan kelahiran juga kematian adalah peristiwa kecil di dalamnya yang ditertawakan oleh keheningan yang ditingkahi berjuta-juta basa-basi keramaian.

Dalam setiap penciptaan, keberadaan membutuhkan proses untuk mengaktualisasikan potensialitasnya dalam dunia wujud. Sejak dari peristiwa dentuman besar, big bang, sebagai permulaan terbentuknya semesta (jika kita menggunakan teori itu) hingga terciptanya bumi dalam bentuknya yang masih awal dan panas, hingga munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang kita sebuat sebagai mineral, tumbuhan, hewan dan pada puncak kesadarannya sebagai manusia, maka proses aktualisasi penciptaan itu tidak bisa tidak memerlukan hukum evolusi, hukum perjalanan. Seperti dalam puisi Rumi di atas, wujud kedua adalah kelanjutan yang memperbaiki wujud yang pertama. Dan evolusi itu mencakup baik evolusi tubuh, evolusi pikiran, maupun evolusi kesadaran.

Asal Usul Manusia

Segala sesuatu berjalan dan berproses untuk mencapai penyempurnaanya. Segala sesuatu tidak bisa tercipta secara langsung dengan sendirinya seperti permainan sulap. Kehendak, dunia Ide, ketika direalisasikan dalam dunia riil harus menapaki waktu untuk melalui tahapan-tahapan sampai akhirnya mencapai tahapan yang diinginkannya. Ketika Tuhan berkehendak Kun! (jadilah!) maka  kehendaknya itu fayakun.. yang artinya tengah berproses dan akan teraktualisaisi sesuai dengan rencana keabadian (plan of logos) yang terkandung dalam kehendak itu sendiri. Dan hal itu membutuhkan waktu yang sangat panjang dan mengasyikkan.

Manusia adalah tujuan akhir penciptaan Tuhan (saya memaknai Tuhan sebagai energi keberadaan yang abadi dan tak terbatas, Logos). Karena apa? Dalam diri manusialah, Tuhan bisa menyadari diriNya sendiri. Ia bisa bercermin dalam hati manusia. Ia bisa menyaksikan ribuan sifatNya dalam pribadi manusia. Dalam bahasa Kristiani, Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citranya. Jika diijinkan, Tuhan adalah seorang narsis sejati yang sangat mencintai diriNya sendiri, cemburu pada diriNya sendiri sehingga Ia menciptakan imaji tentang keindahan saban malam, merindukan kekasihNya yang bernama manusia yang konsepnya telah ada dalam diriNya. Dan adakah yang lebih serupa ketimbang keserupaan pencinta dan kekasihnya?

Sebelum memulai penciptaan, tujuan akhir telah dibayangkan terlebih dulu olehNya. Ia menciptakan konsep manusia sejati, insan kamil, übermensch. Pada diri manusia yang telah mencapai puncak kesadaran itulah Tuhan mampu melihat wajahNya secara total. Namun sebelum mencapai bentuk fisik, pikiran, dan kesadaran manusia, berturut-turut kehidupan mengalami fase demi fase untuk menyempurnakan evolusinya. Dan itu membutuhkan waktu berjuta-juta tahun, dalam hitungan waktu fisikal pikiran. Dalam proses evolusi ini, ilmu pengetahuan modern telah menjelaskan dengan cukup baik meski masih ada unsur spekulatif di dalamnya. Dan sebelumnya, hukum evolusi ini telah dipahami dengan baik oleh para mistikus zaman dahulu dengan penyaksian langsung, knowledge by presence. Cermatilah kesaksian Jalaluddin Rumi setelah menyaksikan proses evolusi spiritualnya dalam alam meditasinya berikut ini:

Dulunya aku adalah mineral, lalu berkembang menjadi tumbuhan. Mati dari mineral aku lalu muncul sebagai binatang. Mati dari binatang aku lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti  takut kalau kematian akan merendahkanku? Kehidupan berikutnya akan menjadikanku sebagai seorang malaikat. Lalu akan berubah lagi dalam sesuatu yang tak terkatakan. Dan segala sesuatu seakan bersaksi: kepadaNya kita akan kembali.

Dalam kesaksiannya itu, Rumi menuturkan pada kita bahwa dalam tubuh manusia sesungguhnya tersimpan jejak-jejak perjalanan kehidupan dari tingkatan materi rendah, di mana kesadaran Tuhan masih “terlelap” di sana, hingga tingkatan tumbuhan, dan hewan. Ada unsur mineral dan tumbuhan dalam tubuh manusia. Ada tersisa instink-instink hewani dalam karakter manusia. Dan sesungguhnya malaikat adalah manusia yang telah mengalami penyucian jiwa sampai pada taraf tertentu sehingga setelah mati, manusia suci itu masuk ke dalam alam astral, alam cahaya, alam dewa-dewi atau alam malaikat. Bisa pula manusia itu dikatakan masuk ke dalam dimensi shambala atau sorga. Namun malaikat masih belum sepenuhnya melebur dengan Tuhan sehingga ia musti lahir kembali ke dunia satu atau beberapa kali sampai mengalami penyatuan dengan semesta.

Demikianlah makna yang terkandung dari kalimat Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah). Kalimat itu adalah dalil reinkarnasi dan evolusi yang paling banyak diucapkan oleh orang, namun jarang yang memahaminya secara holistik. Manusia tidak kembali pada sorga atau neraka, namun mereka akan kembali lagi pada dekap hangat Tuhan betapapun lama dan melelahkannya proses itu. Untuk itu, sebelum sampai pada buaian Tuhan, manusia harus mengalami proses evolusi lewat reinkarnasi berulang-ulang sampai jiwanya menyatu dengan semesta, sampai mind yang membuat dia terikat dengan hukum karma terlampaui.

Makhluk hidup yang pertama kali mampu menyadari dirinya dan sesuatu di luar dirinya secara spiritual adalah manusia yang struktur otak dan tubuhnya memungkinkannya untuk berpikir reflektif. Mampu menyadari antara aku, kau, dan dia. Beberapa saintis yang menyatakan, manusia sadar pertama itu adalah homo sapiens. Jika al-Quran menyatakan manusia pertama itu adalah Adam, sudah barang tentu Adam itu adalah homo sapiens seperti yang dimaksudkan oleh ilmuwan. Karena penyebaran hidup ini begitu luas dan beragam di seluruh wilayah bumi, tentunya Adam, homo sapiens itu  tidak hanya satu. Hal itu dibuktikan dengan beberapa penemuan fosil manusia kuno di beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia. Jadi, ada Adam di Arab, di Afrika, Cina, Australia, juga tidak ketinggalan di Nusantara. Dan setiap suku bangsa, agama dan kepercayaan yang beragam mempunyai konsep sendiri-sendiri dalam bentuk cerita mitis tentang manusia pertama sebagai nenek moyangnya. Sebagai contoh, orang India menyebut nenek moyangnya sebagai Manu. Hal itu juga didukung dengan fakta bahwa warna kulit dan bentuk tubuh manusia di beberapa tempat berbeda-beda. Meskipun, mungkin pertumbuhan kesadaran kemanusiaan di satu tempat lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain, sehingga peradaban di daerah tertentu lebih tua dan menyimpan energi yang lebih besar dibandingkan dengan tempat lain. sebagai contoh adalah peradaban India dan Persia yang sudah sangat lamanya itu. Jadi menurut saya, Adam sebagai nama tokoh historis adalah manusia pertama di dunia Arab yang telah mencapai kesadaran kemanusiaan. Namun, Adam sebagai konsep banyak jumlahnya.

Pemaknaan Kembali Kejadian Adam dalam Kitab Suci

Konsep penciptaan Adam dalam al-Quran sebenarnya adalah cerita metaforis bergaya mitis untuk menjelaskan proses kemanusiaan secara universal. Jika cerita itu diterima sebagai fakta apa adanya tentunya akan menimbulkan banyak pertanyaan dan tidak reasonable. Sebenarnya kita semua adalah Adam. Tinggalnya Adam di surga saya maknai sebagai sebuah momen ketika manusia belum mengalami kesadaran diri, belum mengalami alam dualitas yang tercipta oleh mindnya. Ia masih menyatu dengan keberadaan. Ia belum bisa membedakan: baik dan buruk, cantik dan jelek, hitam dan putih. Jadi ia belum sadar. Ia belum bebas. Baik bebas untuk bertindak baik maupun bebas berbuat jahat. Surga adalah kondisi ketika pikiran belum beroperasi dalam diri manusia.  Manusia masih lelap dalam kedamaian purbanya. Kondisi adam ketika masih berada di surga saya ibaratkan sebagai seorang anak bayi hingga masa balitanya yang belum mengenal konsep baik dan buruk. Anak kecil yang masih suka berkejar-kejaran di lapangan menikmati jiwanya yang masih belum terkutuk oleh kebebasan ketika ia mengalami masa berpikir.

Buah khuldi, atau dalam Bibel disebut sebagai buah pohon larangan saya maknai sebagai  munculnya kesadaran dalam diri manusia. Ia sudah bisa membedakan realitas karena pikiran beroperasi dalam dirinya. Bisa pula dikatakan Adam tergoda oleh pohon pengetahuan, karena pikiran, atau pengetahuanlah yang membuat orang mulai teralienasi  dari kesatuan. Ia tercampak dari surga kesatuan, surga tauhid. Dalam bahasa Albert Camus, seorang eksistensialis keturunan Aljazair yang hidup di Perancis menyatakan: manusia dikutuk untuk bebas. Namun dengan kebebasan itu pulalah manusia bisa menyusun sejarah dan peradabannya di antara tegangan kebaikan dan kejahatan.

Iblis, ular, atau Hawa yang menggoda Adam saya maknai sebagai ego dalam diri manusia yang tersusun atas materi api. Karena ego, manusia terhempas dalam kehinaan. Namun, karena ego juga, sejarah manusia tercipta. Jadi semuanya ada gunanya. Hawa yang oleh banyak ulama dan teolog diartikan sebagai seorang wanita manja yang menggoda Adam hingga tergoda untuk makan buah laranngan itu, sebenarnya adalah hawa nafsu manusia. Karena dalam ayat lain dalam al-Quran, Tuhan memakai kata Hawa yang bermakna sebagai hawa napsu. Seperti kalimat: Wanahannafsu anil hawa (dan yang mampu menahan dirinya dari hawa napsu). Sangat  tidak adil jika wanita yang dijadikan kambing hitam, sebagai makhluk penggoda yang membangkitkan napsu sang Adam. Adam bisa saja lelaki, bisa wanita atau bahkan bisa pula banci. Bisa heteroseksual, homoseksual atau lesbian. Dalam al-Quran juga disebutkan: Tuhan mengajarkan nama-nama pada Adam. Nama-nama adalah kesadaran manusia untuk mengenali dunia semesta yang beragam sehingga muncullah ilmu pengetahuan yang beragam.

Namun saya tidak menolak konsep Adam sebagai tokoh historis, sebagai “manusia pertama”, homo sapiens pertama di wilayah Arab yang memiliki kesadaran kemanusiaan. Yang darinya kemudian melahirkan banyak keturunan, termasuk bangsa Israel dan 25 nabi bagi bangsa Arab.

Evolusi Manusia, Evolusi Peradaban

Annie Besant, seorang  Teosof, seperti yang dikutip dalam buku Reincarnation and Islam, karya Nadeer Baig Mezra, berkomentar dalam buku Introduction to Yoga: “Anda adalah pria dan wanita yang teruji, Anda telah menapaki tangga yang begitu panjang, yang memisahkan wujud Ketuhanan dalam dirimu dengan wujudNya dalam tanah liat…. Tuhan yang bermanifestasi masih “terlelap” dalam kehidupan mineral dan bebatuan. Kesadaran Tuhan menjadi lebih berkembang  dalam tumbuhan dan binatang sampai pada tahap akhir sebagai manusia. Tuhan telah mencapai apa yang tampak sebagai pencapaian akhir dalam wujudnya sebagai manusia pertama… tapi setelah berproses sedemikian lama dan tak terkira, akankah Anda tidak berproses lebih baik lagi?”

Pernyataan Besant adalah serupa dengan komentar para mistik di seluruh dunia yang memahami dan menyadari proses evolusi dirinya dalam penyaksian langsung melalui alam meditasi. Bahwa mula-mula Tuhan memanifestasikan diriNya dalam alam mineral berupa air, gas, dan materi-materi etherik. Lalu setelah alam mineral mengalami evolusi selama berjuta-juta tahun, kehidupan Ilahi memanifestasikan diri dalam bentuk tumbuhan, kemudian hewan, kemudian mencapai puncaknya ketika kehidupan dan kesadaran Ilahi memanifesasikan diri sebagai manusia. Meskipun manusia, usianya lebih muda dari ketiga bentuk kehidupan sebelumnya, namun manusialah yang menjadi penguasanya. Itulah makna ayat dalam al-Quran bahwasanya manusia ditahbiskan Tuhan sebagai khalifah, pemimpin, penguasa yang harus melestarikan kehidupan di muka bumi.

Dengan menjadi khalifah, dengan kesadarannya, manusia bisa bermain untuk mengaktualisasikan segala obsesi dan keinginannya untuk merangkai sejarah. Dan semua manusia punya hak yang sama untuk berperan dan menjadi masyhur dalam sandiwara besar yang dirancang sejak zaman asali itu. Tuhan punya kuasa, namun kuasanya itu dititipkan olehNya dalam kesadaran manusia. Permainan manusia itu yang akan menciptakan banyak peradaban, yang timbul tenggelam seperti gelombang pikiran manusia. Namun dalam permainan ini, manusia harus sadar akan jati dirinya yang tak terpisah dengan Tuhan, yang tak terpisah dengan makhluk lain di mayapada ini.

Malaikat yang tinggal di shambala iri kepada manusia dan berhasrat untuk turun ke dunia untuk bermain dalam geliat nafsu, meregang di antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi keniscayaan kehidupan. Itulah paradoksnya, manusia berproses untuk mencapai alam malaikat hingga alam Ilahi, namun malaikat sendiri tak sabar menanti gilirannya untuk turun ke dunia yang penuh napsu ini. Seorang manusia yang mengalami pensucian jiwa setelah kematiannya  akan tinggal di alam astral yang penuh kesenangan dan kemabokan untuk beberapa lamanya guna menikmati perbuatan-perbuatannya selama di dunia. Namun mereka tak punya tubuh sebagaimana manusia untuk menyempurnakan evolusinya guna bersatu dengan Tuhan—yang tidak tinggal di mana-mana namun meliputi semuanya. Jadi, betapa mahalnya harga sebuah tubuh yang kita gunakan ini hari. Untuk memperoleh tubuh seperti yang saya pakai hari ini, saya butuh waktu berjuta-juta tahun lamanya. Lalu, mengapa kita tidak mempergunakan ini tubuh untuk bermain sebaik-baiknya di dunia sekaligus akan menyempurnakan evolusi kita?

Evolusi manusia  yang bergerak menuju penyempurnaannya tak bisa tidak diikuti dengan evolusi peradaban sebagai sesuatu yang tercipta oleh tangan-tangan manusia. Dan kesadaran Tuhan selalu membimbing perjalanan peradaban ini melalui para nabi, atau avatara, yang menjadi wakilNya di dunia untuk mengarahkan perjalanan sejarah ini agar selaras dengan dharma (kebenaran universal). Para nabi menjaga kitab kehidupan agar tak cedera oleh gairah napsu manusia yang cenderung terpancar keluar, terpisah jauh dari pusat jati dirinya yang hening dan sunyata: Tuhan. Para tokoh inilah yang mengarahkan proses evolusi kehidupan biar bumi selalu layak untuk dihuni oleh sekalian makhluk yang hidup di dalamnya.

Kadang, dalam proses perjalanan dunia, muncul ketidakseimbangan yang terjadi di atas bumi. Seperti contoh, dalam kisah Ramayana, dunia masih banyak dihuni oleh makhluk-makhluk yang evolusi fisik dan kesadarannya masih kasar, makhluk-makhluk yang bisa mengancam keberadaan ras manusia. Makhluk itu dikenal sebagai sebagai kaum raksasa dan wanara. Raksasa  adalah makhluk yang evolusi fisiknya melebihi ukuran manusia, sifat alamnya sangat liar dan berkecenderungan hanibal. Wanara adalah kera yang berada dalam proses perjalanan menuju bentuk dan kesadaran manusia. Kedua makhluk itu sangat rendah kesadarannya, yang pada saat itu jumlah keduanya menyaingi keberadaan ras manusia. Lalu oleh kehidupan, diskenariokanlah sebuah perang yang akan mengurangi jumlah  kedua makhluk itu. Antara Sri Rama dan Hanuman yang berprajuritkan wanara dan Rahwana yang berprajuritkan raksasa.  Ras manusia sengaja tidak diikutkan dalam perang besar itu, agar tidak ikut musnah habitatnya. Dan agar jiwa-jiwa para wanara dan raksasa itu dalam kelahiran berikutnya bisa memakai raga manusia. Dan dunia layak dihuni kembali.

Cerita tentang raksasa ini dalam beberapa peradaban bisa ditemui. Seperti cerita raksasa Dewata Cengkar yang berperang dengan Aji saka dalam cerita pembukaan tanah Jawa. Atau raksasa Raja Baka yang berperang melawan Bandung Bondowoso. Dalam al-Quran, ada yang menengarai kaum raksasa ini adalah kaum ‘Ad yang bertubuh besar dan mampu membangun rumahnya pada dinding-dinding gunung, dan bukit sebelum dimusnahkan keberadaanya oleh Allah. Di Bibel pun sempat disebutkan tentang keberadaan makhluk itu.

Dalam kisah Mahabharata, dunia dipenuhi oleh para saintis sakti, yang tergabung dalam polaritas kelompok Pandawa dan Kurawa. Dunia menjadi terancam dengan perlombaan bersenjata. Lalu oleh Sri Krishna, dirancanglah sebuah perang besar antara dua kekuatan besar itu di medan Kuruksetra untuk mengurangi jumlah ksatria yang melebihi batas itu. Dan tak lebih dari dua minggu, perang itu selesai, dan prosers evolusi kehidupan bisa berjalan lagi dengan tenang. Sehingga dunia kembali aman, dihuni oleh orang-orang yang mulai memperhatikan kekayaan batin yang ada dalam dirinya masing-masing.

Demikian pula hikmah yang terkandung dalam kisah Nuh yang membawa serta banyak hewan, masing-masing sepasang dalam bahteranya, sebelum banjir besar menenggelamkan semuanya. Nuh ingin melestarikan makhluk-makhluk lain di muka bumi agar tidak musnah keberadaannya. Agar  wajah dunia tetap indah dengan penghuni yang beraneka. Bisa dikatakan, Nuh adalah seorang ekolog, pencinta alam yang memiliki wawasan tentang proses evolusi.

Penutup

Demikianlah proses evolusi manusia, yang mengalami berbagai perubahan, baik perubahan fisik, jiwa, maupun kesadaran. Manusia tidak bisa mengalami perubahan sebelum mengalami kematian dari bentuknya yang pertama. Kematian manusia adalah prasyarat untuk mencapai perubahan yang lebih baik dalam proses reinkarnasi berikutnya. Tumbuhan adalah kematian dari bentuk mineral. Hewan adalah kematian dari bentuk tumbuhan. Manusia adalah kematian dari bentuk hewan. Dan tak berlebihan jika dikatakan, bahwa Tuhan adalah kematian manusia dari egonya, hawa nafsunya. Hal ini senada  dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Syamsuddin Tabriz, guru spiritual dari Jalaluddin Rumi:

Kau hanya bisa menyaksikan malam tatkala mentari telah tenggelam. Apakah sekali-kali bulan pernah hilang pada saat matahari terbenam? Apa yang kau lihat sebagai tenggelam sesungguhnya terbit bersinar di tempat lain.  Sesungguhnya tanah kuburan tempat tubuhmu disemayamkan hanyalah penjara yang sempit. Tapi  itulah satu-satunya penjara yang membuatmu merdeka. Biji apakah yang tidak berkembang menjadi ribuan biji saat ia dikuburkan dalam tanah? Apa pula yang membuatmu ragu tentang biji kemanusiaan yang akan selalu berkembang di hari menjelang? (Syamsuddin Tabriz, Reincarnation and Islam)

Kematian terjadi kapan saja, setiap saat. Dan kematian yang paling sulit dialami oleh manusia adalah kematian ego sempitnya, hawa nafsunya. Karena egonya ini, manusia harus mengalami reinkarnasi berulang kali. Dalam banyak ajaran tasawuf dan kebatinan, manusia dianjurkan untuk “mati” selagi hidup: Muutu qabla mawtikum (matilah sebelum kematianmu). Atau dalam ajaran mistik Jawa yang menyatakan: Mati sajeroning urip, urip sajeroning pati (mati di dalam hidup dan hidup dalam kematian). Yang dimaksud dengan kematian di atas adalah kematian ego rendah kita yang tercipta oleh pikiran liar manusia yang membeda dalam dualitas, ego yang terpisah, dan ego yang membuat kita tidak bisa menyatu dengan keberadaan yang tak terbatas. Hidup dalam kematian adalah hidup dalam ketiadaan, keheningan yang menjadi istana Tuhan yang tidak di mana-mana, namun hadir di mana-mana.

Matilah, karena Tuhan ada dalam kematian ego kita. Namun  setelah kita mati dari ego kita, sesungguhnya kita baru bisa dikatakan mengalami kehidupan sejati, kehidupan dalam kebebasan sejati, yang selaras dengan alam semesta. Sebuah tindakan dalam “ketiadaan” adalah tindakan yang tanpa pilihan. Karena itu, tidak mengakibatkan penyesalan dalam pikiran kita.

Nyanyian Evolusi

Jangan pergi lagi Sayangku….., seperti dulu ketika Kau melepaskan jiwaku dari dekapMu. Tinggal dan menetaplah dalam hatiku biar bisa kudekap selalu diriMu ketika angin dan dingin udara malam hari menggetarkan tulang-tulang rapuhku. Agar menetes keringatku di hamparan putih bersalju. Hingga bisa kunyalakan salju itu dengan namaMu yang Kaumantikkan dalam jiwaku.

Datanglah selalu Sayang……, dalam hatiku, agar tak bisa lagi jiwa berpaling muka dari wajah senduMu. Agar tak terbagi lagi rasa cinta yang akan membuatMu cemburu. Agar kaki-kaki kecil ini tak lagi berlari-lari seperti kanak-kanak di atas lumpur halaman kala hujan menjelang. Agar hanya tersedia satu alasan penolakan ketika mereka mengajakku berkencan selain denganMu. Apa dan siapapun itu.

Agar bermakna pekerjaanku sebab Kaulah yang kutuju ketika harus pulang ke rumah saat senjakala memerah, dan nyayian janjiMu menyucikan jiwaku dari debu-debu kelahiran dan kematian yang menyaput pandanganku.

Aku setia padaMu sayangku….., dan akan kujaga kuncup bunga rindu yang Kautanam di ladang hatiku sepanjang perjalananku. Akan kuabadikan bunga rindu ini dengan sembahyang dan puasa penantianku. Dan dengan pengorbanan diriku sampai jiwaku merasuk dalam kuncup bunga ini. Kuncup dari pohon yang Kau tanam di padang hatiku. Hanya satu pohon, keesaanMu, yang selalu bernyanyi untukku saat jiwa sedang sendiri dan sedih: bahwa dalam cinta, semua yang sepertinya terpisah sesungguhnya menyatu.

Walau di dunia ini tanaman ini tak berbuah, walau serbuk sari tiada pernah kawin dengan putiknya, namun akan kujaga selalu tanaman ini, bunga rinduMu ini. Akan kusiraminya dengan darah yang mengalir dari urat nadiku. Supaya tumbuh dan tumbuh bunga rahasia ini, tanpa ada satu mata pun yang menyaksikannya. Sampai tunasnya terus menjulur menembus dinding-dinding daging dan bertahan dibakar terik cahaya, sebab bunga ini adalah anak cahaya, anakMu juga. Tunas bunga ini akan terus melentik sampai menembus tujuh lapis langit kesadaranku. Sampai malaikat dan iblis pun segan dan berhasrat merebutnya untuk dijadikan anak angkatnya. Hingga para bidadari pun iri melihat keindahannya. Hingga terhenti aliran sungai di surga karena takzim padanya. Hingga padam seketika api neraka dan sejuk suasananya karena menyaksikan mahkota-mahkotanya yang merah menggoda. Hanya Kaulah yang berhak memetiknya dari tangkai kecilnya, duhai Pujaku. Karena Dikaulah yang menanam di hamparan keluasan hatiku.

Aku tak akan berpaling lagi, Sayangku. Dan bimbinglah kaki dan tangan bayangan yang penuh mimpi ini dengan ratusan pesona dari satu namaMu. Hingga kaki dan tubuhku ini serasa tak menginjak tanah yang pura-pura mencintaiku itu. Melayanglah aku dengan tarikan napasMu, seperti layang-layang yang Kautarik dan Kaudekatkan pada genggamMu. Sampai tak ada benang jarak lagi antara Kau dan aku. Hingga perangkap kata pun sirna. Hingga gantian Kau yang akan mendekapku dengan mesra di buaianMu rapat-rapat. Kau ayun diriku lembut-lembut sampai aku tidur tanpa mimpi dalam jemari lembut cintaMu, lelap di atas ranjang mawar keabadianMu.

Author:  Salahuddien Gz.

Categories: Spiritualism

Apakah Kita Musnah Ketika Kita Mati?

August 22nd, 2009 No comments

Apa itu kematian? Ada yang menganggap kematian merupakan
kemusnahan, dimana kehidupan dan kesadaran berakhir saat badan fisik
kita berhenti berfungsi. Ada lagi yang menganggap setelah kematian
kita akan melewati bentuk kehidupan yang lain. Walaupun tidak dapat
dibuktikan tetapi banyak orang yang percaya adanya kehidupan setelah
kematian. Kepercayaan ini bisa berdasarkan agama yang dianut tetapi
juga bisa tidak berdasarkan agama. Kalau benar ada bagian dari diri
kita yang tetap hidup setelah kematian, itu berarti yang
disebut “kematian” sebenarnya adalah transisi dari satu keadaan
menjadi keadaan yang lain dan bukannya `akhir’ itu sendiri. Proses
kelahiran, perkembangan, kematangan, usia tua dan kematian merupakan
siklus yang dijumpai pada tiap-tiap tingkat di Alam ini, mulai dari
atom sampai jagad raya. Rasa takut yang mengelilingi kematian mulai
tersingkirkan kalau kita memandangnya sebagai siklus yang berulang,
dan sesungguhnya, merupakan suatu awal bagi keadaan kesadaran yang
berbeda.

Ajaran bahwa kehidupan terus berlangsung dan tidak terhenti
pada kematian badaniah, merupakan kebijaksanaan spiritual yang telah
ada semenjak dulu. Gagasan-gagasan berikut ini kami sampaikan untuk
kau pertimbangkan yang kami kutip dari ajaran spiritual yg tidak
dapat diterakan usianya, yang dikenal sebagai Theosophy.

SIAPAKAH AKU?

Dalam diri kita banyak yang secara intuitif merasa bahwa
sebenarnya kita lebih dari sekedar badan fisik belaka. Lebih dari
orang yang harus makan untuk hidup, harus tidur dan berkembang biak
untuk menjaga kelangsungan spesies manusia ini. Sangat natural kalau
kita bertanya “Siapakah aku?” dan “Apakah aku lebih dari sekedar
badan ini?”

Theosophy mengajarkan bahwa manusia lebih dari sekedar badan
fisik saja dan kita berfungsi di tiga bidang utama sebagai:

1. Suatu Spirit yang bersemayam dalam diri yang telah ada sebelum kelahiran kita dan terus ada setelah kematian.
2. Suatu jiwa/pikiran yang juga ada sebelum kelahiran dan terus ada setelah kematian.
3. Suatu badan fisik.

Pertimbangkan gagasan bahwa jiwa/pikiran merupakan proyeksi
atau “kendaraan” bagi tempat bersemayamnya Spirit. Sang jiwa
berevolusi melewati masa yang panjang dengan menyatukan pengalaman-
pengalaman, secara berangsur mencapai kualitas unggul seperti sifat
welas-asih, inteligen murni, pemahaman dan kebijaksanaan. Sifat-sifat
ini dicapai dengan menggunakan tubuh dan kepribadian baru secara
berkala. Diproposisikan bahwa perjalanan evolusi manusia membutuhkan
banyak kehidupan agar kita dapat mengembangkan seluruh potensi
manusia dan potensi spiritual kita. Dengan demikian, sangat logis
bila dikatakan kita telah berkali-kali melalui proses kelahiran dan
kematian.

Yang lebih penting adalah menyadari (pada banyak orang
kesadaran intuitif ini kuat) keberlangsungan keberadaan kita. Kita
merasakan, pada diri kita terdapat lapisan-lapisan kesadaran yang
lebih dalam. Misalnya mereka yang secara reguler berlatih meditasi
yang memungkinkan mereka mengalami kesadaran yang berbeda dengan
kesadaran sehari-hari.

BERBAGAI MEDAN KESADARAN LAINNYA

Disekeliling kita ada berbagai jenis kepadatan materi. Dengan
adanya X-ray dan televisi di masa kini, kita lebih mudah menerima
realitas adanya dunia yang tidak dapat kita lihat. Sains mempelajari
konsep, yang makin lama makin luas, tentang hakikat materi dan
hakikat energi; sains memudahkan kita menangkap gagasan adanya
daya/kekuatan baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Oleh
karena itu tidak terlalu sukar untuk membayangkan bahwa manusia
memiliki aspek-aspek atau badan-badan selain badan fisik yang
dibentuk oleh materi yang lebih halus. Misalnya, badan ether/aura
kita dapat diamati dengan tehnik fotografi Kirlian.

APA PERBEDAAN KEMATIAN DAN TIDUR?

Theosophy mengajarkan bahwa kematian dan tidur tidak jauh
berbeda. Ketika tidur, kesadaran kita untuk sementara menjauh dari
tubuh fisik, tetapi kita tetap menjalani petualangan emosional dan
mental, yang seringkali dapat kita ingat saat kita terbangun. Dalam
mimpi, kita sampai pada alam kesadaran yang berbeda dengan alam
kesadaran kita sehari-hari.

Pertimbangkan gagasan ini, dengan kematian fisik, kesadaran
kita memulai perjalanannya menempuh dunia-dunia lain yang lebih luhur
dari yang mungkin kita jumpai saat kita tidur. Karena waktu kita
tidur kesadaran kita masih terikat dengan kesadaran tubuh-fisik dan
kita dapat kembali ke tubuh-fisik kita ini. Dengan kematian, ikatan
dengan tubuh-fisik putus secara permanen; para clairvoyant dapat
melihat daya kehidupan (life force) meninggalkan tubuh melalui ubun-
ubun/mahkota kepala dalam bentuk aliran sinar perak yang halus atau
sering disebut sebagai pita perak (silver cord).

APA YANG TERJADI SAAT KEMATIAN?

Ajaran kekal menyatakan bahwa setelah kematian fisik kita pergi
menuju dunia cahaya dimana kita kita semakin terbebas karena secara
bertahap kesadaran terlepas dari ikatan getaran materi fisik yang
padat. Dunia cahaya ini menginterpenetrasi (menembus) dunia fisik.
Kemudian jiwa mengalami proses pemurnian sebelum dapat memasuki
kedalaman dan kebahagiaan ilahi sesuai dengan perbuatannya di dunia
fisik.

Selama kehidupan di bumi sebagaian besar dari kita beridentifikasi
dengan hasrat-hasrat dunia fisik. Dinyatakan bahwa hasrat-hasrat ini
tidak hilang begitu saja setelah kematian badan, bahkan dapat
mengalami intensifikasi. Namun hasrat-hasrat ini harus ditanggalkan
sebelum jiwa dapat memulai tahap lanjut perjalanannya. Analogi
berikut kami berikan untuk memudahkan pemahaman. Ketika garam
ditambang dari air laut, air laut menguap dan meninggalkan residu,
yang belumlah merupakan garam murni. Agar garam menjadi murni,
partikel-partikel yang kotor harus dibuang. Inilah yang terjadi saat
jiwa meninggalkan tubuh fisik. Jiwa kita harus dimurnikan terlebih
dahulu. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk proses pemurnian
tersebut, terlebih bila emosi-emosi yang bersangkutan bersifat
intens, sangat kuat dan tidak konstruktif. Kita tidak bisa sekonyong-
konyong menjadi sempurna setelah kematian, karena perjalanan manusia
membutuhkan banyak kehidupan. Rasa takut, kerinduan-kerinduan,
kebahagiaan dan kedukaan kita tetap bersemayam dalam jiwa kita dan
emosi-emosi ini perlu dipahami dalam kehidupan setelah kematian.
Proses pemurnian berlangsung secara gradual dan dalam keadaan
kebebasan baru ini jiwa/pikiran akan mulai menghargai dunia-bercahaya
tempat ia tinggal sekarang. Dikatakan bahwa akhirnya kita akan
terbangun dalam keadaan bahagia-seperti-surga, penuh dengan
kenyamanan dan penghargaan dimana tidak ada rasa sakit dan kedukaan,
hanya ada kebahagiaan dan rasa kesejahteraan.

Penting diingat bahwa kita menciptakan pengalaman “surga” nanti lewat
kehidupan sekarang ini. Apa yang memotivasi hidup kita? Apakah kita
hanya menyibukkan diri dengan hal-hal sepele kehidupan sehari-hari
ataukah kita berpikir lebih mendalam? Apakah kita mementingkan diri
sendiri ataukah kita menolong orang lain? Apakah kita mudah marah
ataukah kita lebih tenang dan terfokus, dibantu oleh saat-saat
refleksi yang tenang dan meditasi? Kalau kita dapat mengkultivasikan
pelatihan yang tepat, dinyatakan bahwa setelah kematian fisik proses
transisi kita ke dunia “surgawi” akan lebih mudah. Bagaimana kita
menjalani kehidupan sekarang akan menentukan bentuk kehidupan yang
akan kita alami setelah kematian.

Terdapat berbagai sudut pandang yang berbeda-beda tentang berapa
lama kita akan tinggal di alam surga ini. Tetapi antara satu individu
dan lainnya rentang waktunya akan berbeda dan tidak dapat diukur
dengan waktu duniawi, karena keadaan di alam surga tidak terkait
dengan waktu seperti yang kita kenal. Setelah kita beristirahat penuh
dan diperbaharui, ajaran theosophy menyatakan bahwa kita akan kembali
merasakan dorongan untuk mengalami dunia materi. Kemudian kita akan
mengalami proses dilahirkan dalam badan fisik dan memulai siklus
kembali, tertarik dengan keadaan yang kita buat sendiri.

BUKTI-BUKTI EXISTENSI YANG BERLANJUT

Walaupun sulit dibuktikan adanya kelanjutan kesadaran manusia
diluar badan fisik, bukti-bukti konsep ini semakin meluas lewat
penelitian dalam disiplin sains yang ketat terhadap ESP (Extra Sensoy
Perception/Indera ke-6) dan out-of-body-experience/pengalaman-diluar-
tubuh. Apa yang dapat disebut sebagai bukti empiris dari konsep
reinkarnasi, atau banyak kehidupan berkali-kali, diberikan lewat
memori sejumlah subyek tentang kehidupan lain mereka di masa lalu.
Walaupun sulit untuk membuktikan semua kasus ini secara obyektif,
namun pada beberapa subyek telah dapat dibuktikan dengan nyata dan
ilmiah.

PENGALAMAN HAMPIR-MATI (NEAR-DEATH EXPERIENCES/NDE)

Yang paling relevan belakangan ini adalah testimoni dari
ratusan subyek yang menglami “mati klinis”, kasus-kasus ini di
kumpulkan dan dipublikasikan oleh sejumlah peneliti, antara lain: Dr.
Raymond Moody, Dr. Elizabeth Kuebler-Ross, dan penulis Australia Dr.
Cherie Sutherland.

Pengalaman orang-orang yang telah dihidupkan kembali dan
menceritakan kejadian yang mereka alami selama mereka mati secara
klinis amat mirip dengan yang dijumpai pada literatur theosophy. Bagi
kebanyakan orang, pengalaman mereka yang pertama adalah melewati
ruangan panjang atau terowongan gelap sebelum kesadaran mereka
kembali terfokus dan mereka menyadari diri mereka dalam “badan”
spiritual. Dari sini mereka mengawasi secara terpisah bagaimana badan
fisik mereka sedang dihidupkan kembali – misalnya, di ruang operasi
atau ketika diselamatkan dari tabrakan mobil. Banyak yang menemukan
diri mereka dalam alam cahaya dan kebebasan dimana mereka bertemu
dengan “makhluk bercahaya/beings of light” yang melambangkan
pemahaman dan cinta kasih sempurna. Biasanya mereka juga merasakan
kedamaian dan kesejahteraan yang mendalam. Seringkali orang-orang ini
mengalami pemutaran ulang dari kehidupan mereka dan mengerti bahwa
mereka harus kembali ke dunia fisik untuk menuntaskan urusan-urusan
yang belum diselesaikan dalam inkarnasi yang sekarang.

Kebanyakan dari mereka yang enggan kembali, bersaksi bahwa
pengalaman NDE mereka telah mengubah kehidupan mereka secara radikal.
Mereka tidak lagi takut mati, menyadari walaupun mereka sangka mereka
telah mati, keberadaan mereka tetap berlangsung dalam keadaan lain.
Orang-orang ini kembali pada kesadaran fisik mereka dengan hasrat
untuk menumbuh kembangkan cinta kasih bagi orang lain. Mereka juga
menghargai pentingnya mempelajari dan mengembangkan kebijaksanaan
lewat pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini.

PERTOLONGAN PADA SAAT KEMATIAN

Satu saran penting yang diberikan oleh pelajar ilmu
Kebijaksanaan adalah pada saat seseorang menghadapi sakratul maut,
mereka yang hadir dapat menolong jiwa yang tengah berangkat ini
dengan membiarkan terjadinya transisi dalam atmosphere setenang dan
sedamai mungkin. Sebuah langkah besar telah diambil belakangan ini
dengan pendirian yayasan perawatan (rumah sakit khusus) dimana pasien
yang sekarat menerima perawataan penuh cinta kasih dan kepercayaan
dari staff yang dilatih secara khusus.

HARUSKAH KITA BERDUKA?

Bayangkan bagaimana rasanya menyelip keluar dari tubuh dengan
tenang, barangkali keluar dari rasa sakit yang menghujam tubuh, dan
menemukan dirimu bebas, bahkan agak terpana pertamanya – dan
barangkali tidak menyadari bahwa alam kesadaran yang baru kau masuki
bukanlah alam fisik yang biasa kau hadapi. Diterangkan dalam buku The
Tibetan Book of the Dead dan dalam naskah-naskah lain dengan subyek
sejenis, bahwa penyesuaian diri bagi yang meninggal akan dipersulit
jikalau mereka yang mencintai orang yang meninggal memperpanjang
kedukaan dan kesedihan mereka. Sangat alami untuk bersedih dan
psikolog modern setuju bahwa tidak sehat kalau kita menekan duka cita
kita. Tetapi bagi mereka yang memandang bahwa kematian merupakan
bagian dari siklus kelahiran-kematian yang biasa bagi sang jiwa, dan
percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, mereka ini dapat
membuktikan bahwa kedukaan mereka banyak berkurang. Bagi mereka,
kematian dipandang sebagai proses siklik reguler dan mereka tidak
begitu takut menghadapi masa depan yang tidak jelas dari orang-orang
yang mereka cintai.

MEMPERSIAPKAN KEMATIAN KITA SENDIRI

Ketika bayi akan dilahirkan, kita mempersiapkan diri untuk
persalinan. Karena kita semua akan mati maka kita dapat juga menolong
diri kita sendri mempersiapkan transisi ini,. Seluruh proses akan
dipermudah kalau kita menjalani kehidupan yang melibatkan aspek-aspek
manusia yang lebih dalam.

· Tersedianya Informasi Tentang Kematian

Banyak buku tersedia, buku-buku yang mengupas peristiwa-peristiwa
menjelang, selama dan setelah kematian dialami. Beberapa didasarkan
pada pengamatan yang masuk akal tentang proses kematian; buku lainnya
adalah catatan mereka yang mengalami kematian dan kembali hidup.
Lainnya lagi seperti literatur theosophy, merupakan pencatatan ajaran
dari abad ke abad melewati waktu yang tak terukur tentang kematian
dan alam setelah dunia fisik.

· Belajar Beradaptasi

Kematian merupakan perubahan besar, jadi kita harus mempersiapkan hal-
hal sangat berbeda. Kita dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik
kalau kita mempelajari atau secara sadar meningkatkan kemampuan
adaptasi terhadap hal-hal yang baru.

· Menemukan Diri Kita Yang Sejati

Konsekuensi penting dari kematian adalah kita harus menyesuaikan
perasaan akan siapa dan apakah diri kita. Umumnya, dalam kehidupan
sehari-hari kita beridentifikasi dengan badan, perasaan, insting,
emosi, dan pikiran-dari-otak kita. Tetapi, pada saat atau segera
setelah kematian, kita harus menyesuaikan identitas-diri kita. Hal
ini akan merupakan shock kecuali bila kita telah bersiap-siap
sebelumnya. Meditasi secara reguler dapat menolong kita untuk
berhubungan dengan Diri kita yang sejati dan memudahkan transisi ini.

· Refleksi Diri Setiap Hari

Dikatakan bahwa pada saat kematian, kehidupan yang baru kita lalui
lewat didepan mata kita seperti film yang diputar ulang. Kita dapat
mempersiapkan diri terhadap pengalaman ini dengan merefleksikan
kegiatan kita dan peristiwa yang kita alami hari ini tiap malam,
usahakan memandangnya secara tidak berpihak seakan dari kacamata
orang lain. Hal ini juga akan meningkatkan kemampuan kita menghadapi
perubahan-perubahan hidup. Menulis diary merupakan gagasan yang baik
untuk mencatat impresi kita dan evaluasi terhadap apa yang kita alami
sehari-hari.

· Menetapkan Kerangka Pikiran yang Melampaui (Transending) Kehidupan
Sehari-hari

Afirmasi atau mantra tertentu dapat mengarahkan proses ini. Beberapa
orang merasa terangkat lewat kalimat di bawah ini :

Hidup tersembunyi, bergetar pada setiap atom,
Cahaya tersembunyi, bersinar pada setiap makhluk,
Cinta kasih tersembunyi, merengkuh semua dalam kesatuan,
Semoga setiap makhluk yang merasa satu denganmu,
Menyadari bahwa mereka satu dengan yang lainnya.

Orang-orang dari beragam tradisi memberikan reaksi yang berbeda pada
kutipan sejenis. Misalnya kaum Nasrani, memilih untuk berfokus pada
doa atau rosario.

· Mempertimbangkan Kehidupan dalam Konteks yang Lebih Luas

Jika gagasan yang diberikan dalam leaflet ini bermakna bagimu, akan
sangat membantu kalau kita melihat bahwa hidup kita yang sekarang
hanyalah merupakan satu tahap dari siklus besar keberadaan diri kita,
merupakan sebuah inkarnasi dari banyak inkarnasi sebelumnya, dan
seluruh inkarnasi ini diatur oleh Hukum Karma atau Hukum
Kesetimbangan. Siapa kita sekarang ditentukan oleh tindakan dan
pikiran kita di kehidupan-kehidupan yang lalu. Bagaimana kita
berpikir dan bertindak setiap hari menentukan kualitas kehidupan
setelah kematian kita dan juga menentukan kehidupan kita pada
inkarnasi mendatang.

· Visualisasikan Diri Kita Satu dengan Semesta

Bayangkan dirimu disirami dengan cahaya putih muni, yang bersirkulasi
di seluruh semesta, mengalir melaluimu dan menyatukanmu dengan semua
bentuk kehidupan, Seluruh tradisi spiritual besar mengacu pada
keadaan bersatu yang fundamental, kesatuan atau keseluruhan, esensi
spiritual umum yang melingkupi seluruh kehidupan.

PERJALANAN YANG PALING HEBAT

Supaya kita dapat secara penuh menghargai ajaran tentang
kematian, sangat penting kita mempertimbangkan konsep bahwa kita
tengah mengadakan perjalanan. Menurut ajaran kekal, kita merupakan
percikan individual dari sang Api Tunggal, sang Sumber darimana kita
berasal dan kemana kita akan menuju. Kita telah menjalani berbagai
kehidupan; kita telah menghadapi berbagai kematian. Dan akhirnya jiwa
kita akan kembali pada sang Sumber Agung atau pada sang Spirit/Roh
yang bersemayam dalam diri kita.

Jika gagasan-gagasan yang kita jabarkan di sini tampak logis,
maka masuk akal pula kalau kita memandang bahwa aspek fisik dari
perjalanan kita akan memberikan kesempatan mendapatkan berbagai
pengalaman; pengalaman-pengalaman ini akan kita murnikan dan kita
gabungkan dengan pengalaman-pengalaman dari kehidupan sebelumnya
demikian juga dengan dunia emosional dan dunia mental kita, sehingga
kita akan memiliki kapasitas dan kekuatan yang lebih besar untuk
melanjutkan perjalanan kita. Jadi kita sendirilah yang membangun
surga kita; surga bukan sesuatu yang abadi tetapi merupakan sebuah
periode untuk mengasimilasikan kehidupan yang baru kita lalui dengan
akumulasi pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan juga untuk
memberikan jiwa kita kesempatan beristirahat. Tiap-tiap kehidupan di
bumi membawa kita lebih dekat dengan akhir perjalanan, diakhir
perjalanan inilah jiwa individual telah mampu membebaskan diri dari
siklus kelahiran dan kematian. Dalam buku The Light of Asia karya Sir
Edwin Arnold dilukiskan dengan indah bahwa jiwa kita akan mengikuti
contoh-contoh Mereka-yang-Telah-Mencapai-Pencerahan dan bagaikan
sebutir embun, `menyelip kembali kedalam lautan yang bercahaya’,
akhirnya satu dengan Sumber Ilahi.

LEAFLET TEOSOFI LAINNYA YANG DISARANKAN SEBAGAI BACAAN LANJUTAN:

· REINCARNATION
Have we been here before?

· KARMA
The Universal Law of Harmony

· RELEASE INTO LIGHT
Meditations for Those Who Mourn

BUKU-BUKU YANG DISARANKAN SEBAGAI BACAAN LANJUTAN:

· THE MIRROR OF LIFE & DEATH
Laurence J. Bendit

· WHEN WE DIE
Geoffrey Farthing

· ON DEATH AND DYING
Dr. Elizabeth Kuebler-Ross

· LIFE AFTER LIFE
Dr. Raymond Moody

· THROUGH DEATH TO REBIRTH
James S. Perkins

· A PRACTICAL GUIDE TO DEATH AND DYING
John White

· OUR LAST ADVENTURE
E. Lester Smith

· DEATH AND AFTER
Annie Besant

· THROUGH THE GATEWAY OF DEATH
Geoffrey Hodson

· A MATTER OF PERSONAL SURVIVAL
Michael Marsh

· WITHIN THE LIGHT
Dr. Cherie Sutherland

· TRANSFORMED BY THE LIGHT
Dr. Cherie Sutherland

diupload oleh admin rahasiaotak.com dari leaflet Teosofi, grup yang pernah diikuti oleh admin pada 2005 lalu dan pertama kali diupload ke milis mayapada

Categories: Spiritualism

Yoga: Suatu Studi dan Praktek

August 16th, 2009 No comments

Transformasi-diri dan pertumbuhan spiritual merupakan konsep penting
dalam filsafat agama manapun. Transformasi-diri dan pertumbuhan
spiritual juga merupakan konsep praktis, karena realisasinya
melibatkan pengintegrasian dan pengharmonisan aspek emosional,
mental dan spiritual dari hakikat kita. Salah satu cara yang dipilih
oleh banyak orang pada transformasi-dalam/Inner transformation adalah
melalui displin yoga.

Di masa ini banyak orang yang penuh pertimbangan berminat
mempelajari berbagai bentuk yoga dan merasakan hasrat mendalam untuk
menemukan ketenangan-dalam/Inner peace atau mencapai pertumbuhan
spiritual. Jadi mari kita lihat lebih jelas apakah yoga ini, apa
artinya, apa saja yg dilakukannya, dan bagaimana kita
mempraktekkannya sebagai jalan menuju pemenuhan-pemahaman-dir/Self Realization.

Apa itu Yoga?

Kata “Yoga,” berasal dari terminologi Sansekerta seperti
halnya “yoke” dalam bahasa Inggris berarti “menyatukan” dan
mengimplikasikan persatuan aspek pribadi kita dengan Sumber Ilahiah
darimana kita berasal. Jadi Yoga dapat diartikan sebagai transformasi
hakikat pribadi kita agar lebih responsif terhadap Diri-dalam/Inner
self, dan transformasi ini akan mengarahkan kita pada pencapaian
kebersatuan kesadaran-diri (at-one-ment) dengan esensi ilahi atau
spiritual: Prinsip Yang Maha Tunggal dalam semesta. Yoga mengacu pada
penyatuan diri yang lebih rendah dengan Diri yang lebih tinggi dan
juga pada cara-cara untuk mencapai penyatuan tersebut. Jadi Yoga
merupakan studi mendalam sekaligus merupakan disiplin pragmatis.

Unsur apa saja yang dilibatkan dalam Yoga?

Ada berbagai sistem yang berbeda dalam mempelajari yoga, tapi
kesemua metodenya melibatkan disiplin-diri dan penjelajahan-diri.
Semua sistem ini mengenali keabsahan pelatihan dasar tertentu :
pengendalian tubuh melalui postur dan pernafasan yang tepat;
pengendalian emosi dan pikiran; meditasi dan kontemplasi. Dalam tiap
pelatihan yoga unsur-unsur esensial tadilah yang dilibatkan.

Kebanyakan praktisi yoga menganggap Yoga Sutra dari Patanjali
sebagai buku pegangan yang paling penting. “Delapan anggota” atau
delapan aspek yoga, yang digarisbawahi oleh Patanjali dipertimbangkan
sebagai panduan seluruh bentuk pelatihan yoga. “Anggota” yang pertama
dikenal sebagai “yama” atau pelatihan pengekangan-diri dan yama yang
pertama disebut “ahimsa” atau tidak menyakiti makhluk lain. Dikatakan
bahwa ahimsa merupakan jantungnya disiplin yoga.

Buku pegangan yoga yang lain adalah naskah agung Hindu,
Bhagavad Gita. Mempelajari karya ini merupakan harga tak ternilai
bagi pelajar pemula.

Di bawah ini kami berikan penjabaran beberapa bentuk yoga
yang terkenal, namun perlu diingat bahwa tiap-tiap sistem yang
disebutkan di sini melibatkan banyak hal dalam hidup yang disiplin
dan pelatihan yang teratur, lebih dari yang bisa diberikan dalam
ulasan singkat ini.

Hatha Yoga

Kebanyakan yoga yang populer di dunia Barat adalah dua bentuk
yoga, salah satunya dikenal dengan Hatha Yoga. Sistem ini memberi
perhatian pada postur tubuh dan pengendalian pernafasan. Seringkali
orang melupakan bahwa sistem ini juga melibatkan pelatihan meditasi.
Jadi walaupun Hatha Yoga menitikberatkan pada pelatihan tubuh fisik,
sesungguhnya pelatihan tadi adalah untuk memungkinkan tubuh merespons
dorongan Kehadiran Ilahi dalam diri. Ketika tubuh didisiplinkan,
tubuh tidak lagi gelisah, kegelisahan ini merupakan gangguan saat
meditasi. Banyak praktisi menekankan nilai therapeutik (penyembuhan)
dari Hatha Yoga, karena kalau dilatih dengan baik akan meningkatkan
kesejahteraan fisik. Keadaan tubuh yang baik menunjang pertumbuhan
spiritual.

Mantra Yoga

Sistem Mantra Yoga sangat populer belakangan ini, dengan
merapalkan (chanting) kalimat suci atau kata-kata pemujaan dan
konsentrasi terpusat. Sistem ini melibatkan pengetahuan kekuatan
okultik dari suara. Tujuan dari Mantra Yoga adalah menyelaraskan
sifat pribadi dengan nada gelombang kesadaran yang jauh lebih tinggi
dan lebih halus sifatnya dari kesadaran sehari-hari (kesadaran waktu
kita bangun). Tujuan puncaknya adalah agar individu dapat “mendengar”
Suara Ilahi dalam-diri kita, bukan melalui telinga atau mekanisme
fisik melainkan melalui indera super kita.

Bhakti Yoga

Bhakti Yoga adalah jalan pengabdian. Sistem ini menekankan
cinta kasih, penyerahan-diri pada Spirit Ilahi atau Yang Tertinggi.
Seringkali kita menemui personifikasi Yang Tertinggi dalam bentuk-
bentuk tertentu pada individu yang mengambil jalan ini. Hal ini bisa
berupa inkarnasi ilahi/avatar seperti halnya Kristus, Krishna, Baba,
Babaji, ataupun gambaran mental dari Ilahi secara personal. Sistem
ini sering disebut sebagai yoga Nasrani, tapi sistem ini juga kita
jumpai dalam berbagai agama dimana ditekankan penyerahan diri pribadi
dan pengabdian sebagai tujuan ideal. Bhakti yoga adalah jalan yang
telah menolong banyak orang dalam pendakian ke puncak gunung
penyatuan spiritual. Seperti contoh yang diberikan oleh para santa-
santo/para nabi/para maha rishi/para wali dimana untuk mendaki lebih
tinggi ke arah Ilahi, maka kehidupan pribadi harus diserahkan pada
Kehidupan Ilahi secara mutlak. Oleh karenanya jalan ini adalah jalan
yang tepat bagi orang-orang yang bersifat pengabdi/bhakti, yang
dengan gembira melenyapkan diri mereka pada Yang Maha Tinggi.

Karma Yoga

Sesuai dengan namanya, yoga ini melibatkan karma (=tindakan).
Tujuan dari Karma Yoga adalah mencapai persatuan dengan Yang Maha
Tinggi melalui tindakan yang benar, yaitu tindakan yang dilakukan apa
adanya tanpa mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah
jalan bagi mereka yang digerakkan oleh rasa simpati, dan welas-asih
terhadap orang-orang yang menderita. Jalan ini adalah bagi mereka
yang dengan semangat berusaha meringankan beban penderitaan dan
kesedihan orang lain. Jalan ini menekankan kemurnian motif tanpa
dinodai oleh kepentingan pribadi. Melalui tindakan altruistik,
pengikut Karma Yoga akan sampai pada pemahaman kehidupan yang lebih
mendalam dan menjadi lebih dekat dengan Kehidupan Ilahi yang dijumpai
pada semua makhluk.

Jnana Yoga

Kalau Bhakti Yoga menggunakan jalan pengabdian dan Karma Yoga
menggunakan jalan tindakan, maka ada juga jalan lewat ilmu
pengetahuan Jalan ini dikenal dengan sebutan Jnana Yoga (sering
dieja “Gnana”); tujuannya adalah untuk mewujudkan kebenaran hidup.
Kata “jnana” terdengar familier, mirip dengan kata “gnosis”. Arti
kedua kata tersebut sama yaitu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud
di sini bukannya pengetahuan external tentang benda-benda melainkan
pengetahuan alam realitas. Guru agung Jnana Yoga, Shankaracharya, si
bijak dari India, menuliskan karyanya yang berjudul “Viveka
Chudamani”. Karyanya ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.
Secara harafiah berarti “permata puncak dari diskriminasi” namun
viveka dapat juga berarti “insight” atau bahkan “kebijaksanaan”.
Svami Shankaracharya membedakan antara mereka yang ingin memiliki dan
mereka yang ingin mengetahui. Di puncaknya hanya ada satu hal untuk
diketahui yaitu sang Diri Tunggal yang identik dengan Tuhan, Alloh,
Causa Prima atau Brahman, sebagai satu-satunya Sumber segala bentuk
keberadaan, seperti yang dikenal dalam filsafat Vedanta, yang menjadi
dasar dari Jnana Yoga.

Raja Yoga

Terkadang disebut sebagai bentuk yoga yang paling tinggi,
Raja Yoga – The Science of The Kings/Ilmu para raja – menggabungkan
aspek-aspek utama dari sistem yoga lainnya. Jalan ini menggunakan
disiplin dan pelatihan untuk memurnikan emosi, meluaskan intelek dan
mengendalikan tiap komponen hakikat kita dibawah kehendak (will).
Tujuan yoga ini adalah mengurangi dan akhirnya menghilangkan
identifikasi dengan personalitas sehingga timbul kesadaran bahwa Diri
Kekal kita itu identik dengan Hidup Ilahi Yang Tunggal.

Azas Raja Yoga dapat kita jumpai dalam aphorisme/perumpamaan
(“sutra”) dari Patanjali, yang karyanya telah diterjemahkan dalam
bahasa Inggris lengkap dengan komentar dan ulasan.Dalam perumpamaan
Patanjali terdapat langkah-langkah untuk mempersiapkan diri pada yoga
sejati berikut dengan latihan-latihannya. Untuk mempersiapkan diri,
kita harus bertindak benar dalam pikiran, perkataan dan perbuatan;
menjalankan kehidupan moral, dan mengekspresikan prinsip-prinsip etis
fundamental yang dijumpai di semua agama besar. Untuk melatihnya kita
harus melakukan introspeksi-diri dengan teratur secara berkala;
caranya adalah dengan menutup kesadaran dari panca indera kita
sehingga kesadaraan kita bisa bebas dari gangguan dunia untuk
sementara waktu. Ini sesuai dengan tujuan Raja yoga agar kita
mempersiapkan transisi dari kesadaran eksternal menuju pada kesadaran
internal.

Yoga & Meditasi

Meditasi merupakan bagian penting di setiap bentuk yoga.
Patanjali menekankan pentingnya pengendalian pikiran dan penenangan
untuk mencapai transendensi pikiran, lewat Raja yoga, Patanjali
meramunya dalam 3 langkah: konsentrasi, meditasi dan kontemplasi.
Pada prakteknya 3 langkah ini saling tumpang tindih tapi dalam yoga
sutra sengaja dituliskan terpisah untuk memudahkan studi.

Yoga dimulai dengan konsentrasi. Mengapa? Karena pikiran kita
selalu bergerak, liar dan tidak mau tinggal diam. Pikiran kita
dipenuhi dengan berbagai kenangan, memory dan berbagai keinginan
untuk menjadi atau untuk memiliki; pikiran sangat mudah terganggu
oleh hal-hal sepele. Oleh karena itu kita mulai dengan berkonsentrasi
pada hal-hal yang sederhana seperti misalnya sebuah benda atau sebuah
gagasan, dan membiarkan konsentrasi kita pada benda tersebut semakin
intens terserap olehnya, dan kita menolak memberikan perhatian bagi
hal-hal lainnya. Kalau pikiran mulai berkeliaran, dengan lembut
kembalikan konsentrasi pada benda tersebut.

Setelah mampu menguasai konsentrasi, langkah selanjutnya
adalah meditasi. Meditasi dijabarkan sebagai aliran pikiran yang
teratur dan terus-menerus terhadap sebuah obyek, misalnya sebuah
bunga, salib, cakra, nafas, atau kualitas yang tidak dapat terlihat
(misalnya, nama baik seorang Guru Agung/kata-kata Ilahiah lainnya),
gagasan abstrak, atau objek lainnya yang kita pilih sendiri. Proses
ini lebih mendalam dari sekedar konsentrasi dan mengarah menuju
keadaan dimana kita masuk menyadari bahkan menjadi apa yang kita
pikirkan dan konsentrasikan tadi. Ini melibatkan upaya menembus imaji
dan bentuk untuk dapat mengidentifikasikan diri dengan kehidupan
dalam obyek yang dipilih tadi.

Selanjutnya diikuti dengan proses kontemplasi. Dalam tahap
ini kita tidak lagi tertarik pada sebiah obyek, sebuah gagasan atau
seseorang, tetapi kita membawa pikiran kita pada keadaan ketenangan
absolut. Harus diperhatikan bahwa keadaan ini bukanlah keadaan pasif
melainkan keadaan dengan kesadaran positif; sebuah ketenangan yang
memberikan perasaan utuh dan kedamaian yang dinamis. Keadaan ini
tidak melampaui kesadaran, namun mentransformasi individu, dan
memberikan ketenangan sejati serta kepastian-dalam yang secara
praktis akan banyak membantu kehidupan kita sehari-hari. Dalam tahap
kontemplasi ini, amat mungkin kita mencapai pencerahan dan insight
dari Diri Spiritual dan perasaan menyebar akan kesatuan kehidupan
akan terwujudkan.

Tujuan Yoga

Semua bentuk disiplin/sistem Yoga merupakan jalan yang
mengarahkan indivdu mencapai persatuan dengan Atman/Spirit Tertinggi.
Persatuan ini disebut “Samadhi” dalam naskah-naskah yoga, “Kesadaran
Krishna” dalam Krishna Consciousness Movement, “Satori” dalam Zen
Buddhisme, “Kesadaran Kristus” dalam mistisisme
Nasrani, “Manunggaling Kawula Gusti” dalam Kejawen, dll. Apapun juga
istilah yang digunakan hal ini berarti pembebasan spirit individual
dari kesadaran sehari-hari dan Memasuki getaran-kebahagiaan Sang
Sumber yang dilambangkan secara indah lewat kalimat, “Sang butir
embun telah pulang pada lautan cahaya yang bersinar”.

BAHAN BACAAN LANJUTAN YANG DISARANKAN

o An Introduction to Yoga by Annie Bessant
o Seven Schools of Yoga by Ernest Wood
o Application of Yoga to Daily Life by Ianthe Hoskins
o Raja Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Hatha Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Integral Yoga by Haridas Chaudhuri
o The Science of Yoga by I.K. Taimni
o A Student’s Companion to Patanjali by Roger Worthington
o Yoga: The Art of Integration by Rohit Mehta
o The Universal Yoga Tradition by Radha Burnier
o Initiation into Yoga by Sri Krishna Prem
o A History of Yoga by Vivian Worthington
o Yoga: The Technology of Ecstasy by George Feurstein
o Viveka Chudamani translated by Mohini M Chatterji
o The Pinnacle of Indian Thought by Ernest Wood

Sumber note: Booklet Teosofi
Categories: Spiritualism