Lengkapi Rumah Anda dengan Orgonite 168. Klik disini !
Powered by MaxBlogPress 

Archive

Posts Tagged ‘yoga’

 Powered by Max Banner Ads 

Babaji Nagaraj

September 9th, 2009 No comments

Siapakah Babaji?

Oleh Marshall Govindan

Pada tahun 1946, Paramahansa Yogananda, salah seorang Yogi terbesar
India, melahirkan buku yang kemudiann menjadi klasik , “Autobiografi
seorang Yogi,” tentang eksistensi seorang suci seperti Kristus,
seorang Mahayogi yang hidup abadi, Mahavatar Babaji. Yogananda
menceritakan bagaimana Babaji selama berabad -abad hidup di Himalaya
memberi bimbingan kepada banyak tokoh suci dalam sejarah secara
rahasia dimana kerap kali mereka bahkan tidak menyadari bimbingan
itu.

Ia adalah seorang Siddha besar, orang yang telah melampaui batasan
manusia biasa dan bekerja di belakang layar bagi evolusi spiritual
umat manusia. Ia juga menyatakan bahwa Babaji mengajarkan
serangkaian teknik Yoga yang luar biasa, yang dikenal sebagai “Kriya
Yoga”, kepada Lahiri Mahasaya, sekitar tahun 1861, orang yang
kemudian pada gilirannya menginisisi banyak orang lainnya, termasuk
Guru Suci Paramahansa Yogananda sendiri yakni , Sri Yukteswar, 30
tahun kemudian. Yogananda menghabiskan 10 tahun dengan Gurunya
sebelum Babaji sendiri kemudian muncul sendiri di hadapannya, dan
memerintahkannya untuk membawa ilmu pengetahuan rahasia Kriya Yoga ke
dunia Barat. Yogananda memenuhi misi suci ini dari tahun 1920 sampai
1952 hingga ia mencapai mahasamadhi .

Sebagai bukti dari efektivitas Kriya Yoga dan berkah dari garis
perguruannya, jazadnya tidak membusuk selama 21 hari dibaringkan,
sebelum dikubur di sebuah monumen di Los angeles. Dan Maret 2002 ini
adalah peringatan 50 tahun wafatnya Yogananda. Sisa jazadnya memang
ditransfer dalam bentuk monumen “samadhi” yang permanen, namun
jutaan orang di seluruh dunia mengenang dengan penuh rasa terima
kasih sumbangsih Yogananda yang telah diberikan kepada mereka.

Namun demikian, keberadaan dan kesinambungan dari karya Babaji telah
dilupakan oleh banyak penerusnya. Yogananda mewariskan ajarannya
kepada organisasi yang ia dirikan: “The self Realization Fellowship.”
Organisasi ini telah mempublikasikan tulisan-tulisannya dalam bentuk
buku dan kuliah korespondensi, dan mereka tetap memberikan inisiasi
Kriya Yoga yang dikembangkan oleh Yogananda.

Setelah 5 tahun menjalankan misinya di Amerika, menurut putri Dr,
Lewes, dokter gigi yang mensponsori misi Yoghananda di Amerika,
Yogananda mulai memodifikasi dan mengadaptasikan ajaran-ajarannya
dengan ajaran-ajaran yang dikenal di Barat. Hal ini penting untuk
menghadapi resistensi alami dari kaum Kristen yang berburuk sangka
degan ajaran-ajaran asing dari seorang Svami (pendeta) India. Oleh
karena itu Svami Yogananda kemudian menjadi populer. Ia adalah salah
satu pionir Yoga terbesar di Barat, dan mampu mengatasi keacuhan dan
penolakan banyak pendengar. Akan tetapai dalam usahanya untuk
menarik orang Barat ke jalan Yoga, ia cenderung untuk menekankan
keajaiban, dan sebagian besar pembaca “autobiografi” -nya terkesan
oleh bagian-bagian yang romantik dari Sang Jalan. Mereka memperoleh
banyak harapan yang tak realistis, dan mereka tidak siap dengan
disiplin-disiplin Yoga yang dibutuhkan oleh seorang praktisi Yoga
yang tulus.

Dalam edisi asli dari ” Autobiography of A Yogi” sebelum direvisi
besar-besaran oleh SRF, para pembaca bisa menikmati kemnusiaan yang
lembut dari Yogananda, dan bisa memandang bahwa Babaji adalah satu-
satunya Guru dari tradisi yang hidup ini. Yogananda mengatakan bahwa
tidak seorangpun boleh menggantikannya sebagai Guru SRF, tapi kuliah
korespondensinya-lah yang akan menggantikan fungsi pengajarannya.Akan
tetapi sejak saat itu referensi (pedoman) dari RSF telah ditambah
lebih dari 150 kali, dan seluruh bagiannya telah berubah.Belakangan
ini SRF telah meredefinikan diri seperti layaknya sebuah agama, yang
tentunya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Yogananda
tentang Yoga.

Orang bertanya-tanya kenapa Yogananda tidak mempersiapkan seorang
pengganti untuk meneruskan fungsi otoritasnya sebagai Guru. Malahan,
ia memilih seri pelajarannya, dan menyuruh adminitrator SRF untuk
membagi-bagikannya. Hal ini karena Realisasi Diri biasanya
membutuhkan sebuah transmisi pribadi atau setidaknya hubungan
personal dalam jangka waktu yang panjang antara Seorang yang Telah
Mendapat Realisasi dengan seorang aspiran (murid) yang siap, dan
hukan dengan organisasi. Yogananda juga tidak memberikan SRF hak
cipta untuk tulisan-tulisannya.

Setelah enam tahun sidang pengadilan menyangkut perkara ini, dan
jutaan dollar dihabiskan untuk perkara, Mahkamah Agung California,
menguatkan keputusn pengadilan Tinggi California, bahwa keluarga
Yogananda adalah pemegang hak cipta dari tulisan-tulisannya. Fakta
di atas dan fakta-fakta lain yang tidak diungkapkan di sini
menunjukkan bahwa Yogananda telah mengetahui sebelumnya bahwa karya-
karyanya akan diteruskan orang lain, dan bahwa Babaji, Guru hidup
dari tradisi ini yang menentukan kapan dan dimana serta bagaimana.

Kenyataannya, Babaji telah menyiapkan, sejak tahun 1942, dua orang
dari Kenyaanany di Selatan India, tugas untuk menyebarkan Kriya Yoga-
nya: Yogi S.A. A. Ramaiah, seorang lulusan muda dari Universtiy of
Madras dan N.V. Neelakantan, seorang wartawan terkenal, dan murid
dekat dari Annie Bessant, Presiden dari Theosophical Society dan
mentor dari Krishnamurti. Pada tahun 1952 dan 1953, Babaji
mendiktekan tiga buku untuk mereka tulis: “The Voice of Babaji dan
Mysticism Un locked, ; Babaji is Masterkey to All
Ills, “dan “Babaji’s death of Death.” Mereka juga menerbitkan sebuah
jurnal.

Babaji muncul di depan mereka satu persatu secara independen dan
kemudian mengumpulkan mereka berdua. Babaji membabarkan asal
muasalnya, tradisinya, dan Kriya Yoga-nya. Atas perintah Babaji,
mereka kemudian mendirikan sebuah organisai baru , “Babaji Sangah,”
pada 17 oktober 1952 yang didedikasikan untuk pengajaran Kriya Yoga
Babaji sesuai dengan ajaran aslinya. Buku -buku tersebut kemudian
menimbulkan sensasi di seluruh India pada masanya. SRF berusah untuk
menguasai buku tersebut dan Kriya Bbaji Sangah tertekan, dan atas
intervensi PM India, Pandit Nehru, yang merupakan teman N.V.
Neelakantan-lah usaha mereka kemudian digagalkan. Dalam
buku “Masterkeys of All Ills, ` Babaji memberi jawabannya
tentang “Siapakah Aku ?”

Pada intinya, dalam buku ini diungkapkan bahwa jika kita pada
akhirnya mengetahui siapakah diri kita, kita akan tahu siapa Babaji.
Jadi, Babaji tidak mengidentifiksikan diri dengan personalitas diri
yang terbatas, atau serangkaian masa kehidupan, atau bahkan tubuh
cahaya illahinya. Namun demikian, buku tersebut menceritakan secara
terperinci tetang kehidupan Babajii, untuk memberi arahan kepada kita
tentang jalan Realisasi Diri, yang bisa didapatkan orang lainnya
juga. Rincian ini telah didokumentasikan secara berurutan dalam
buku “Babajii dan Tradisi 18 Siddha Kriya Yoga.” (telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia oleh Protons Publicaton, bisa dicari di
Gramedia)

Babaji memperoleh gelar “Nagaraj” yang berarti “Raja Ular” yang
merujuk kepada “Kundalini”, kekuatan dan kesadaran potensial kita.
Beliau lahir pada 30 November 203 masehi, di sebuah desa yang dikenal
sebagai Parangipettai, Tamil Nadu , India, di dekat Sungai Cauvery
yang mengalir menuju Lautan india. Kelahirannya berbarengan dengan
naiknya bintang Rohini, yang juga muncul ketika Krishna lahir.
Kelahiran terjadi selama perigatan Kartikai Deepam, Festival Cahaya,
sehari sebelum Purnama pada bulan Tamil Kartikai. Orangtuanya adalah
brahmana Nambrudi yang berimigrasi dari pinggiran pantai Malabar ke
daerah bagian barat dari India Selatan. Ayahnya dulu adalah seorang
pendeta dari kuil Shiva di desa ini, yang sekarang merupakan kuil
Muruga ( Deity yang dalam mitologi adalah putra Shiva).

Pada usia lima tahun, ia diculik seorang pedagang dan dijadikan budak
di kota yang sekarang kita kenal sebagai Kalkuta. Seorang saudagar
kaya membelinya, namun kemudian membebaskannya tak lama kemudian. Ia
kemudian bergabung dengan sekelompok pendeta pengelana, dan berkat
mereka ia terdidik dalam kitab suci dan kesusastraan filosofis India
Namun ia tak puas. Ia mendengar bahwa ada seorang Siddha besar,
Master yang sempurna, bernama Agastyar, di selatan, ia kemudian
melakukan perjalanan ziarah ke kuil suci Katirgagma, dekat dengan
perbatasan paling utara dekat Srilangka, pulau besar di dekat India.
Di sana , ia bertemu murid Agastyar yang bernama Boganathar. Ia
belajar “dhyana” atau meditasi secara intensif dan `sidhantam’,
filsafat Sidha dari Boganathar selama empat tahun. Ia
mengalami “Sarvikalpa Samadhi” atau Kelarutan Sempurna, dan mendapat
vison tentang Lord Muruga.

Pada usia 15 tahun, Bogathar mengirimnya ke Gurunya sendiri,
Agasthyar yang legendaris, yang tinggal di Courtalam di Tamil Nadu.
Setelah belajar latihan Yoga secara intensif di Couralam selama 48
hari, Agastyar memunculkan dirinya, dan menginisiasinya ke dalan
latihan Kundalini Pranayama, suatu sistem pernafasn yang sangat
kuat. Ia mengarahkan anak muda bernama Nagaraj ini untuk pergi ke
Badrinat, jauh tinggi di Himalaya, dan melatih semua yang telah
didapatkannya secara intensif untuk menjadi seorang `Siddha”.
Setelah 18 bulan lebih, Nagaraj tinggal sendirian di dalam gua
melatih teknik Yoga yang diajarkan Boganatar dan Agastyar. Ia
menyerahkan seluruh “ego”nya, hinga ke sel-sel tubuhnya kepada Tuhan,
yang merasuk ke dalam dirinya. Ia menjadI Siddha, seorang yang telah
menyerahkan kekuatan dan kesadarannya kepada Tuhan! Tubuhnya tidak
lagi terpegaruhi oleh sakit dan kematian. Bertransformasi sebagai
Siddha, ia mengabdikan diri untuk mengangkat manusia dari penderitaan.

Sejak saat itu, Babaji terus- menerus memberikan bimbingan dan
inspirasi kepada beberapa tokoh suci terbesar dalam sejarah dan
banyak Guru spiritual, dalam pencapaian misi mereka. Termasuk di
antaranya adalah Adi Shankacarya, reformator Hindu besar India pada
abad ke 9, Kabir orang suci yang dicintai baik kaum muslim maupun
Hindu. Keduanya diinisiasi oleh Babaji, dan menceritakan tentang
Babaji dalam tulisan-tulisan mereka.

Ia mempertahankan penampilan seperti seorang muda berusia 16 tahun.
Semasa abad ke-19 Madam Blavatsky, pendiri Thesophical Society,
mengidentifikasikannya sebagai Maitreya, Buddha yang hidup, atau Guru
bagi Era yang Akan Datang, dan dideskripsikan oleh C.W. Leadbeter
sebagai “Master dan Sang Jalan.” Kontribusi terbesar dari Babaji bagi
dunia modern adalah kemunculan kembali Kriya Yoga pada awal 1861,
seperti yang direferenkan oleh Patanjali pada kitab “Yoga Sutras”
nya. Patanjali menulis teks klasik ini sekitar abad ke -3 Masehi. Di
sini ia mendefinisikan Kriya Yoga dalam bagian II.1, sebagai ”
praktek terus menerus, (terutama dengan melatih diri dalam
ketidakterikatan), swa -belajar, dan bakti kepada Tuhan.” Namun,
selain Kriya Yoga Babaji juga menambahkan ajaran-ajaran Tantra, yang
mencakup kultivasi Kundalini, kekuatan dan kesadaran poteisial,
dengan mengawasi nafas, mantra dan latihan-latihan kebaktian. l

Sebagian besar pengajar “Kriya Yoga” dewasa ini, hanya mengajarkan
beberapa teknik yang diadaptasi dari apa yang diajarkan Paramahansa
Yogananda kepada orang-orang Barat di hall auditorium yang besar
selama setengah jam “inisiasi”. Beberapa orang mempesona lainnya
mempromosikan teknik mereka sendiri yang didaptasi dari berbagai
sumber , dan menyebutnya sebagai “Kriya Yoga” tanpa adanya hubungan
apapun terhadap garis perguruan Babaji. Namun cinta dan bakti kepada
Babaji adalah hal yang paling esensial bagai efektivitas Kriya Yoga.
Atau latihan hanya akan menjadi mekanis dan steril. Seperti pohon,
hanya jika orang tidak memberi makan akarnya, maka ia hanya akan
menghasilkan sedikit buah atau tidak berbuah sama sekali. Jika para
pengajar telah melupakan sumber yang hidup dari ajaran-ajaran
mereka, Babaji harus mulai mengguankan alat-alat yang lainnya unutk
bekerja.

Selama 6 bulan di asharnmnya di dekat Badrinath, Babaji menginisiasi
S.S. Ramaiah ke dalam pelajaran lengkap Kriya Yoga, yang mencakup
asanas (Hatha Yoga, pernafasan, mantra dan teknik kebaktian. Orang
ini kemudian berkembang menjadi seorang Yogi, dan memulai sebuah misi
ke seluruh dunia untuk memasyarakatkan sistem ini, yang disebut
sebagai Kriya Yoga Babaji kepada banyak aspiran. Pada 1970 dan 1971
ia menginisiasn penulis artikel ini. M.Govindan, ke dalam 144 teknik
Kriya yoga. M. Govindan melatih mereka dengan intensif selama 8 jam
sehari selama 18 tahun di ashram Yogi Ramaiah di india, Amerika ,
dan Kanada. Pada tahun 1983, Yogi Ramaiah memberinya kewenangan utuk
menginisiasi orang lain. Setelah menempuh semua pelajaran, Babajii
sendiri kemudian menampakkan diri di depannya pada tahun 1988 dan
menugaskannya untuk mengajarkan Kriya Yoga kepada orang lain.

Sejak 1989, M Givindan telah menginisiasi lebih dari 7000 orang ke
dalam Kriya Yoga Babaji. Jika pelajaran-pelajaran ini dipraktekkan
dengan teratur dan sitematis, maka mereka akan memberikan
trasnformasi yang menyeluruh dalam diri individu dalam semua level.
Dalam sistem ini ada tiga jenjang inisisasi. Pada level pertama ,
orang belajar bagaimana berkomunikasi dengan Babaji dengan
teknik “Babaji Samyama Kriya,” yang melibatkan suatu kedekatan yang
mendalam dengan Satguru. Babaji secara perlahan menyingkapkan rahasia
dirinya kepada para murid dan pencintanya, memikat hati mereka dalam
berbagai jenis hubungan kasih di mana ia mengarahkan mereka ke arah
pengembangan diri. Hubungannya dengan setiap orang dari diri kita
adalah unik dan sesuai dengan kebutuhan serta sifat individual kita.
Ia adalah Guru personal kita. Ketika hati kita berkembang dimana
persatuan dengan Beliau mencapai “visi universal cinta,” maka orang
dapat melihat Babaji dalam segala sesuatunya.

Sekarang, keberadaan Babaji menjadi samar-samar karena oranisasi Self
Realization Fellowship dan banyak organisasi lainnya yang menyatakan
bahwa Babaji tidak eksis lagi dalam dunia fisik. Klaim ini sama
seperti halnya pernyataan bahwa: “Jepang itu nggak ada , karena aku
belum pernah melihatnya.” Babaji memberikan janjinya
dalam “Autobiography seorang Yogi” bahwa ia akan tetap hidup dalam
bentuk fisik hinga akhir jaman, beribu-ribu tahun mendatang. Sejak
tahun 1950, kebijaksannan SRF membuatnya seperti tidak tersentuh. Ia
hanya menjadi sejenis catatan kaki sejarah, atau paling banter
seorang suci sebagaimana halnya dalam Gereja Katolik, daripada sumber
abadi, Guru tunggal dalam tradisi Kriya Yoga

Resources:

  • Govindan, Marshall, “Babaji and the 18 Siddha Kriya Yoga Tradition,”2nd edition, Hans Nietsch Verlag, Freiberg, 1999
  • Govindan, Marshall, “Kriya Yoga Sutras of Patanjali and the Siddhas:Translation, Commentary and Practice,” Kriya Yoga Publications, Quebec, Canada, 2001. Available from Yoga Verlag, Kempten, Germany
  • Govindan, Marshall, “How I became a disciple of Babaji,” 2nd edition,1998. Kriya Yoga Publications. Available from Yoga Verlag, Kempten, Germany.
  • Sri Aurobindo, “The Synthesis of Yoga,” Sri Aurobindo Press, Pondicherry, India
  • Thirumoolar, Siddha, “Thirumandiram: A Classic of Yoga and Tantra,” 2nd edition, 1998, published by Kriya Yoga Publications, distributed by Yoga Verlag, Kempten, Germany
  • White, David Gordon, “The Alchemical Body,” University of Chicago Press, 1997.
  • Yogananda, Paramahansa, “The Autobiography of a Yogi” (German publisher: O.W. Barth).
  • Zvelebil, Kamil, “Poets of the Powers,” 1971, Ryder, reprinted by Integral Publications, 1990. Distributed by Yoga Verlag, Kempten, Germany

copy paste dari vishnumurti.blog.friendster.com. Lebih banyak tentang Babaji, silahkan download: Autobiography of a Yogi dari Paramhansa Svami Yogananda

Categories: Spiritualism

Puasa dan Yoga untuk Detoksifikasi yang Menyeluruh

August 21st, 2009 No comments

Tulisan ini adalah sedikit ’bocoran’ dari kegiatan workshop tahunan kami di Yoga Leaf yang bertema ‘ Mind and Body Detox Through Fasting and Yoga ‘, yang biasanya diadakan secara rutin setahun sekali – sejak tahun 2004 – bersamaan dengan momen bulan Ramadhan. Di tahun 2009 ini, sayang sekali acara tersebut harus ditiadakan dulu karena kondisi yang ’sedang tidak memungkinkan’ ( berhubung ibu guru-nya sedang hamil besar, jadi engga bisa maksain jalan – jalan mengajar workshop sampe ke luar kota ( karena biasanya workshop ini sekalian diadakan di beberapa kota di pulau Jawa, dan bahkan juga sempat diadakan di Kuala Lumpur Malaysia, sebelum ada heboh-heboh fatwa Yoga Haram disana, dan juga disini :D )).

Meskipun selalu diadakan bertepatan dengan bulan Ramadhan, acara ini bukanlah acara keagamaan yang diperuntukkan khusus bagi kaum muslimin ( saya sangat menyadari keterbatasan kapasitas saya untuk melakukan hal tersebut :D ). Puasa yang dimaksud dalam acara ini adalah puasa dengan makna yang umum dan ’meluas’, yakni puasa sebagai praktek universal yang telah dianjurkan secara turun temurun oleh semua kepercayaan di dunia sebagai terapi detox – pembersihan racun – yang baik bagi kesehatan. Jadi, harapan kami dengan mengadakan acara ini, teman-teman yang non muslim bisa ’lebih akrab’ dengan ritual puasa, dan kita-kita yang muslim – yang tengah berpuasa sebulan penuh – juga bisa mendapatkan pengetahuan tambahan serta kesadaran untuk melakukan ritual puasa dengan lebih ’benar’. Selain itu, ya tentu saja, untuk memperkenalkan beberapa teknik yoga yang bermanfaat untuk menunjang proses detox ( kalo untuk yang ini, kebetulan saya merasa ’agak sedikit lumayan’ percaya diri untuk melakukannya :D )

Jadi walaupun kita tidak bisa mengadakan workshop tersebut dalam tahun ini – namun tetap dengan semangat berbagi yang tinggi – saya akan coba share dalam bentuk tulisan, agar tetap banyak ( atau lebih banyak ? ) teman-teman yang bisa mendapatkan manfaat darinya. Amin

…………………………………………………………
PROSES DETOKSIFIKASI

Detoksifikasi/Detox adalah suatu tindakan pembersihan diri dengan cara membuang timbunan kelebihan sampah dan racun yang telah terkumpul dalam tubuh selama bertahun-tahun. Racun dalam tubuh kita kebanyakan berasal dari Makanan dan Minuman ( yakni bahan pengawet, bahan pewarna, junk food, makanan yang terlalu berlemak atau terlalu banyak gula, alcohol, kafein ), rokok , polusi udara, pestisida, dan lain – lain yang identik dengan gaya hidup tidak sehat.

Sebenarnya, setiap hari tubuh kita sudah melakukan proses detoksifikasi secara teratur dan alami, yakni melalui urin dan tinja. Selain itu, tubuh pun telah dilengkapi seperangkat ‘organ detoks’ yang canggih, yang berfungsi untuk membuang toksin, diantaranya :

1. HATI
Memiliki dua fungsi, sebagai pengatur metabolisme dan juga sebagai organ detoksifikasi. Hati bertugas menyaring bahan – bahan racun yang masuk kedalam tubuh melalui makanan atau lingkungan dan mengubahnya menjadi bentuk yang bisa digunakan oleh tubuh, menyimpannya, atau membuangnya untuk mencegah keracunan. Hati bertugas meng handle alkohol, obat-obatan, racun, dan kafein yang masuk kedalam tubuh dan mengubahnya menjadi bentuk yang bisa dibuang oleh tubuh.

2. GINJAL
Berfungsi menyaring sisa racun dari darah dan membuangnya dalam bentuk urin. Ginjal juga bertanggungjawab untuk menjaga cairan di dalam tubuh agar berada dalam jumlah yang tepat dan mengatur keseimbangan kalium dan natrium agar cairan dalam tubuh mengalir dengan benar. Jika darah mengandung terlalu banyak racun dan sampah, maka ginjal harus bekerja keras. Bila ginjal tidak optimal menjalankan tugasnya, tubuh menjadi lamban, lesu, dan mudah sakit.

3. KELENJAR GETAH BENING
Sistem ini bertindak sebagai ‘sarana pembuangan sampah’ bagi tubuh. Cairan getah bening, yang dihasilkan oleh kelenjar getah bening di berbagai bagian tubuh akan menyerap sel-sel mati, kelebihan cairan dan produk sisa lainnya dan membawanya ke nodus-nodus getah bening. Disini bahan sisa di saring dan akhirnya dimasukkan ke dalam darah untuk kemudian dialirkan ke salah satu sistem pembuangan: kulit, hati atau ginjal untuk dikeluarkan dari tubuh.

4. KULIT
Merupakan organ tubuh yang paling luas dan melayani banyak fungsi penting dalam tubuh. Kulit menjadi petunjuk tentang apa yang terjadi di dalam tubuh. Kulit yang pucat, bercahaya, segar atau kuning menjadi indikasi dari kondisi tubuh kita. Sebagai organ pembuangan, walaupun tidak sepenting hati, ginjal, atau kelenjar getah bening, tetapi kulit dengan sifatnya yang semi permeabel berfungsi sebagai ’saringan besar’ yang bertugas mengeluarkan sejumlah besar produk sisa dari tubuh melalui keringat. Bila fungsi organ pembuangan lainnya terganggu, kulit pun akan terganggu kesehatannya

5. PARU – PARU
Merupakan organ respirasi ( pernafasan ) yang mengangkut oksigen kedalam tubuh dan melepaskan karbon dioksida bersama senyawa pengotor dan racun dari dalam tubuh.

Namun, walaupun tubuh telah memiliki serangkaian organ detoksifikasi tersebut, jika ada salah satunya yang tidak berfungsi sempurna – misalnya karena stress sehingga efisiensinya terganggu, atau bila sampah racun yang masuk lebih banyak dari yang mampu untuk dikeluarkan – maka fungsi kerja organ detoksifikasi akan melambat, dan keseimbangan pembuangan racun pun akan terganggu.

Oleh sebab itu, dianjurkan untuk secara rutin melakukan ‘usaha tambahan’ berupa program detoksifikasi yang akan mengembalikan kendali fungsi dan keseimbangan alami tubuh dan membuat tubuh sehat kembali dengan cara:
1. Berpuasa
2. Beryoga
3. Mengatur pola makan yang lebih baik
( Ketiga cara ini dapat dilakukan secara mandiri – satu persatu – atau dikombinasikan ketiganya untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal ).

……………………..……………………..……………………..……..

1. DETOKSIFIKASI DENGAN PUASA

Berpuasa adalah sebuah tindakan suka rela untuk tidak memakan apa pun untuk sementara waktu, yang telah dilakukan selama berabad-abad sebagai ibadah dalam agama serta merupakan terapi penyembuhan yang tertua dalam sejarah pengobatan manusia. Banyak ahli kesehatan yang menganjurkan praktek puasa dikarenakan puasa merupakan salah satu penyembuh alamiah yang terbaik ( bahkan, binatang pun akan ‘berpuasa’ saat mereka sakit, untuk mengeluarkan racun yang masuk ke dalam tubuhnya ). Saat berpuasa, organ-organ pencernaan dapat beristirahat sepenuhnya dan tubuh pun diberikan kesempatan untuk membersihkan diri dari segala kotoran dan racun yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun ( proses Detoksifikasi/Detoks ).

Secara tidak sadar, kita telah melakukan ritual puasa setiap hari. Saat kita tidur, sebenarnya kita sedang berpuasa hingga pagi harinya ( ini pula yang mendasari istilah makan pagi dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan sebagai breakfast atau berbuka puasa ). Dengan berpuasa, kita mengalihkan energi yang biasanya kita pergunakan untuk mencerna makanan ke arah otak, dan meningkatkan kemampuan otak untuk berkonsentrasi.

Ada banyak cara untuk berpuasa, termasuk diantaranya berpuasa selama 30 atau 40 hari penuh, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, Nabi Isa, Nabi Musa. Dengan berpuasa, kita akan meraih manfaat menyeluruh secara fisik, mental, dan spiritual, diantaranya:

1. Manfaat Fisik
Berpuasa akan mengistirahatkan organ pencernaan. Tubuh akan terasa lebih ringan. Energi tubuh yang biasanya di alirkan ke pencernaan akan berfungsi untuk perbaikan dan penyembuhan tubuh.

2. Manfaat Mental
Berpuasa menguatkan pikiran dan kemampuan will – power. Seperti halnya tubuh, dimana kita dapat menguatkannya dengan menambah tantangan fisik, kita juga dapat membuat pikiran bekerja dengan lebih baik dengan memberikan tantangan yang lebih berat pada pikiran. Berpuasa juga dapat meningkatkan konsentrasi dan kekuatan mental.

3. Manfaat Spiritual
Saat tubuh dan pikiran tidak dikuasai oleh energi vibrasi dari makanan, maka tubuh dan fikiran akan lebih mudah terpusat pada hal – hal spiritual.

# Berikut ini adalah tips berpuasa sehat ’ Detox ’ Bagi Umat Muslim selama bulan Ramadhan :

Selama bulan Ramadhan, silakan tetap berpuasa sesuai aturan agama, dari adzan subuh hingga maghrib. Berbuka puasa lah dengan makan sehat ala detox, misalnya susu kedelai hangat dan salad sayur daripada kolak pisang dan teh manis hangat. Jangan makan lebih malam dari pk21.00. Contoh menu makan malam misalnya beras merah, dengan tumis sayuran, sayur tahu dan jus buah/ buah potong. Saat sahur, awali dengan minum air jeruk lemon/nipis hangat dicampur madu, tunggu selama 15 menit, baru makan untuk sahur. Jangan lupa minum air sebanyak – banyaknya diantara waktu – waktu makan dan tambahkan multivitamin.

Bagi wanita yang sedang datang bulan bisa melanjutkan ‘ berpuasa ‘ dengan cara yang di peruntukkan bagi umat non muslim berikut ini.

# Dan ini tips berpuasa sehat ’ Detox ’ Bagi Non Muslim:

Cobalah untuk berpuasa mini selama 1 minggu. Berpuasa selama 10 jam dari pukul 7 malam sampai dengan pk. 3 siang besok harinya ( waktu tidur tidak dihitung ). Tetap diijinkan untuk minum air putih, teh hijau dan jus buah tanpa gula putih. Saat buka, bukalah dengan buah segar. Makan malam ringan ala vegetarian sebelum jam 7 juga disertai hidangan sayur dan buah. Nasi lebih baik berasal dari beras merah.

Bila kita tidak terbiasa berpuasa, dan tetap ingin mempertahankan makan 3 x sekali pilihlah menu makan sehat ala detox. Misalnya: makan pagi dengan youghurt dan buah segar. Usahakan makan pagi sebelum pk.9, makan siang sebelum pk. 2 dan makan malam sebelum pk.9, sebab umumnya tubuh perlu waktu kurang dari 24 jam untuk metabolisme dan sebelum kita isi kembali.

Pola puasa mini seperti ini baik dijalankan sewaktu-waktu kita perlukan, misalnya setelah pesta dan makan besar. Beri tubuh waktu untuk berisitirahat dan membersihkan diri. Kita bisa melakukannya 1 – 2 hari selama 1 atau 2 bulan sekali, atau kapanpun kita merasa perlu. Dan rasakan tubuh terasa lebih bersih dan bugar setelah proses detoksifikasi. Semakin bersih pembersihan yang kita lakukan, semakin optimal fungsi organ-organ tubuh, dan membuat kita makin sehat.

……………………..……………………..……………………..…..

2. DETOKSIFIKASI DENGAN YOGA

Dari semua definisi tentang yoga, yang paling saya ‘iyakan’ – karena paling sesuai dengan hati – adalah yang menyatakan bahwa, ‘ Yoga Chitta Vritti Nirodha ‘ yang bila diterjemahkan menjadi ‘ Yoga sebagai pemurni fluktuasi pikiran ‘. Artinya,semua teknik yoga – mulai dari yang paling physical hingga yang ‘hanya’ duduk mengheningkan cipta – bertujuan untuk mendamaikan dan ‘mendetoks’ racun – racun mental dan pikiran, yang laten serta berpotensi untuk mengganggu ketentraman hidup.

Secara umum, praktek yoga dapat dianggap ‘menyeluruh’ dan lengkap bila dilakukan sesuai dengan kaidah 5 Prinsip Yoga, diantaranya Proper Exercise ( berolah tubuh secara teratur ); Proper Breathing ( Bernapas dengan benar ); Proper Rest ( beristirahat yang cukup ); Proper Diet ( pola makan yang baik dan benar ), serta Positive Thinking Through Meditation ( berpikiran positif melalui meditasi ).

Ke-5 prinsip tersebut menekankan adanya harmonisasi dan keseimbangan di antara ke-5 tonggak penunjang kesehatan manusia. Bila satu saja tonggak tersebut terabaikan, maka akan mengganggu keseimbangan, dan kesehatan yang optimal pun tidak akan tercapai. Misalkan saja, seseorang telah rutin berlatih olah tubuh yoga ( asanas ), olah napas yoga ( pranayama ), makan makanan bergizi, dan bermeditasi, namun kekurangan waktu untuk beristirahat, maka akan mudah terkena penyakit karena energinya telah terkuras oleh aktivitasnya dan tidak ada peluang untuk me ‘ recharge ‘ nya dengan energi yang baru ( melalui proses istirahat ). Begitu pula dengan seseorang yang mengesampingkan pentingnya makan makanan bergizi – walaupun ia sudah melakukan asanas, pranayama, istirahat, dan meditasi – akan mudah terkena penyakit karena daya tahan tubuhnya lemah, dan lain sebagainya.

Untuk tujuan detoksifikasi – yang terpusat pada organ pencernaan, organ detoksifikasi, pengaturan makan serta pengaturan gaya hidup yang sehat – ke 5 prinsip yoga ini bisa ‘dimodifikasi’ sebagai berikut:

1. Berolah tubuh secara teratur

Melakukan teknik postur yoga yang dapat melancarkan proses pencernaan, meningkatkan gerakan peristaltik usus, menyeimbangkan hormon pankreas dan menstimulasi manipura chakra yang salah satu fungsinya adalah mengatur sistem pencernaan dan pembuangan ( menghindarkan dari sembelit ). Misalnya dengan melakukan Surya Namaskar, dan melakukan asanas dalam kategori forward bend series ( menekuk ke arah depan ), twisting series ( memuntir tulang punggung ),dan inversion ( postur2 terbalik ).

2. Bernapas dengan Benar

Bernafas adalah proses yang berkesinambungan antara menghirup oksigen ( yang berfungsi sebagai ‘ bahan bakar tubuh ‘ ) dan mengembuskan karbon dioksida ( yang membawa racun serta unsur pengotor dari dalam tubuh ). Teknik pernafasan yoga penuh ( full yogic breath ) menekankan pada kualitas hembusan nafas dengan cara melatih nafas secara berirama, dengan rasio 1:2 atau 1:3. Prinsipnya, semakin lama proses menghembuskan nafas maka semakin banyak racun dan unsur pengotor yang dikeluarkan tubuh. Bila dibantu dengan proses khumbaka ( menahan nafas ) maka akan lebih meningkatkan jumlah toksin yang dikeluarkan lewat paru – paru.

3. Beristirahat dengan Cukup

Beristirahat dengan cukup dan berkualitas setelah bekerja keras akan memperbaharui energi, meremajakan sel – sel tubuh, dan melancarkan aliran darah. Menjaga pola hidup teratur ( tidak sering bergadang dan keluar malam ) juga merupakan bagian darinya. Melakukan pijat dan scrubbing merupakan cara memanjakan diri yang sangat menyenangkan yang dapat meningkatkan kesehatan, melancarkan aliran darah, mengistirahatkan tubuh, membuat pori-pori kulit kembali ‘ bernafas ‘ dan mengaktifkan kelenjar getah bening. Berpuasa juga merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan organ perncernaan dan membersihkan tubuh.

4. Pola makan yang baik dan benar

Mengonsumsi makanan yang bergizi dan ber prana baik, melancarkan proses eliminasi kotoran, serta membantu proses detoksifikasi ( akan dijelaskan di bagian akhir dari tulisan ini ).

5. Berpikiran positif melalui meditasi

Menjaga pikiran agar tetap positif, tenang dan bahagia merupakan usaha untuk menjaga agar kesehatan tetap optimal. Pikiran bersumber dari otak, dan otak merupakan pusat koordinasi tubuh, maka dengan menjaga pikiran agar dapat hanya memikirkan hal – hal yang baik akan mengirimkan impuls nyaman dan bahagia ke setiap sel tubuh. Bermeditasi dan selalu mengingat kebesaran Tuhan merupakan jalan untuk membersihkan pikiran dari semua kotoran dan racun dari pikiran dan hati seperti rasa takut, cemas, kuatir, bersalah, malu, sedih, minder, dan lain – lain.

……………………..……………………..……………………....

3. DETOKSIFIKASI DENGAN POLA MAKAN YOGA

Yang tidak kalah penting dalam terapi detoksifikasi adalah memperhatikan kualitas makanan yang akan dimasukkan kedalam tubuh selama menjalani puasa.

Pikiran terbentuk dari makanan yang kita konsumsi setiap hari. You are what you eat, artinya bila makanan yang kita konsumsi berasal dari sumber yang murni, maka fikiran akan mampu mengembangkan intelektualitas yang kuat serta daya ingat yang baik, demikian pula sebaliknya. Kecenderungan mental seseorang dapat terlihat dari jenis makanan yang dipilihnya. Tidak hanya sekedar ‘you are what you eat’, namun ketertarikan kita terhadap suatu jenis makanan juga bisa menunjukkan tingkat dari kemurnian mental dan spiritual kita. Saat kita merasakan bahwa diri mulai berubah kearah yang lebih positif, kita juga akan menyadari bahwa pilihan makanan yang kita inginkan juga menjadi lebih baik dan sehat

Dikatakan bahwa seluruh alam semesta tergolong kedalam 3 kualitas, yang dalam bahasa sansekerta disebut trigunas, terdiri atas Sattvik ( Murni ), Rajasik ( over-stimulating, perangsang ), dan Tamasik ( rusak ). Semua hal memiliki ke tiga aspek ini, termasuk pola makan sehari – hari. Pola makan yoga adalah pola makan yang berdasarkan pada konsumsi bahan-bahan makanan satvik ( murni ) yang merupakan satu alternatif yang dapat membawa kebaikan pada tubuh, rasa nyaman dan ketenangan pada pikiran, serta membantu perkembangan spiritual.

A. Makanan Sattvic

Adalah makanan yang dapat meningkatkan vitalitas, energi, kekuatan, kesenangan, memberi rasa ‘ringan’ pada tubuh, dan bernilai nutrisi tinggi. Makanan jenis ini akan membentuk pikiran menjadi lebih murni, tenang, serta damai. Misalnya biji-bijian ( jagung, gandum, beras yang tidak mengalami proses pemutihan ), kacang-kacangan. buah – buahan dan sayur – sayuran segar, ramuan herbal, produk susu.

B. Makanan Rajasic

Adalah makanan yang menstimulasi tubuh dan pikiran secara berlebihan. Makanan jenis ini menyebabkan sulit tidur dan merusak keseimbangan tubuh dan fikiran. Makanan rajasic meningkatkan emosi, rasa marah, iri, serakah, egois dan lain – lain yang akan menjauhkan diri dari kesadaran akan Tuhan. Pola makan yoga membatasi atau bahkan menghindari penggunaan dari bahan – bahan makanan ini. Misalnya bawang merah dan bawang putih, kopi dan teh, tembakau, gula putih, soft drink, makanan yang terlalu berbumbu, dan makanan sattvic yang dimakan terlalu terburu – buru.

C. Makanan Tamasic

Adalah jenis makanan yang telah ‘ rusak ‘ dan berubah struktur kimiawinya. Makanan tamasik membuat seseorang menjadi malas, bebal, kurang berkonsentrasi, kehilangan kesadaran, dan meningkatkan terjangkitnya pernyakit kronis, depresi, serta membuat pikiran dipenuhi oleh pikiran dan emosi negatif. Misalnya makanan yang melalui proses fermentasi ( tape singkong, cuka, dll ), daging merah, daging ikan, daging unggas, telur. makanan yang terlalu matang ( busuk ) atau yang belum matang, gorengan, makanan yang terus menerus dipanaskan, makanan yang diawetkan, misalnya makanan kalengan, jamur , makanan sattvic yang dimakan terlalu banyak.

Penjelasan diatas dapat dibandingkan dengan pola makan kita sehari – hari. Untuk rencana pola makan yang lebih sehat, usahakan untuk memakan lebih banyak makanan sattvic, membatasi memakan makanan rajasic, dan berpantang makanan tamasic. Berikut ini adalah panduan cara makan yoga yang sehat dan baik, yang tidak hanya akan memengaruhi kesehatan tubuh, namun juga ketenangan pikiran dan ketentraman hati:

• Hormati makananmu. Selalu awali dengan berdoa.
• Jaga agar situasi makan dalam kondisi tenang. Jangan makan dalam keadaan marah. ‘Racun’ emosi akan dilepaskan oleh kelenjar dan kembali masuk lewat pembuluh darah saat kita marah.
• Jangan makan makanan yang terlalu panas, atau dingin, karena akan mengganggu proses pencernaan.
• Jangan memaksa diri untuk makan makanan yang tidak kita suka, dan jangan pula hanya makan makanan yang kita sukai saja.
• Hindari mencampur terlalu banyak jenis makanan dalam satu waktu makan. Terlalu banyak kombinasi makanan akan menyulitkan pencernaan untuk mengurainya.
• Makan sekurangnya satu menu makanan basa dalam satu waktu makan untuk menjaga kadar basa dalam darah.( Makanan sattvic masuk dalam kategori makanan basa/alkali )
• Jangan minum disaat makan karena akan melemahkan fungsi asam lambung, menyebabkan masalah pencernaan.
• Jaga agar mulut tetap bersih. Ini merupakan gerbang menuju proses pencernaan yang baik.
• Makan secara perlahan dan kunyah hingga benar-benar halus untuk mempermudah proses pencernaan di dalam lambung.
• Makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Kekenyangan akan mengganggu proses pencernaan, membuat organ pencernaan bekerja lebih keras untuk memproses makanan. Membuatnya stress dan mudah terkena penyakit. Isi lambung dengan setengah bagian makanan, seperempat bagian air, dan seperempat lainnya untuk pemuaian gas.
• Makan makanan yang telah di proses sesedikit mungkin.
• Makan di waktu-waktu tertentu saja, jangan makan di antara waktu makan. Berpuasalah dari satu waktu makan ke waktu makan lainnya.
• Masak makanan setengah matang ( untuk sayuran ) untuk menjaga kandungan nutrisi dan rasanya.
• Makan untuk tetap hidup, bukan hidup untuk tetap makan. Sederhana dalam makan dan pilihan makanan.
• Minum air hangat dicampur perasan jeruk lemon dan madu di pagi hari, untuk meningkatkan kesehatan pencernaan, memberikan energi dan membersihkan darah.
• Jangan berlatih asanas segera setelah makan.
• Coba untuk berpuasa sekali seminggu. Berpuasa melepaskan racun, memperbaiki mekanisme kerja organ dalam tubuh dan mengistirahatkan organ pencernaan.
• Selalu mengingat Tuhan, sang pemberi makanan, dan penjaga kehidupan. Ingat pada Tuhan disaat makan dan bersyukur atas nikmat makanan yang telah diberikannya, sebelum dan setelah makan.

……………………..……………………..……………………..…….

Selamat berpuasa, semoga mendapatkan banyak manfaat, dan semoga diakhir masa berpuasa kelak kita semua dapat bertransformasi menjadi seorang manusia yang baru. Lahir dan bathin. Mind, body, and Spirit.

Namaste.

Author:  Pujiastuti Sindhu, Direktur Yoga Leaf (yogaleaf.com)
Detox Workshop 2008

Detox Workshop 2008

Categories: Mind, Body and Soul

Yoga: Suatu Studi dan Praktek

August 16th, 2009 No comments

Transformasi-diri dan pertumbuhan spiritual merupakan konsep penting
dalam filsafat agama manapun. Transformasi-diri dan pertumbuhan
spiritual juga merupakan konsep praktis, karena realisasinya
melibatkan pengintegrasian dan pengharmonisan aspek emosional,
mental dan spiritual dari hakikat kita. Salah satu cara yang dipilih
oleh banyak orang pada transformasi-dalam/Inner transformation adalah
melalui displin yoga.

Di masa ini banyak orang yang penuh pertimbangan berminat
mempelajari berbagai bentuk yoga dan merasakan hasrat mendalam untuk
menemukan ketenangan-dalam/Inner peace atau mencapai pertumbuhan
spiritual. Jadi mari kita lihat lebih jelas apakah yoga ini, apa
artinya, apa saja yg dilakukannya, dan bagaimana kita
mempraktekkannya sebagai jalan menuju pemenuhan-pemahaman-dir/Self Realization.

Apa itu Yoga?

Kata “Yoga,” berasal dari terminologi Sansekerta seperti
halnya “yoke” dalam bahasa Inggris berarti “menyatukan” dan
mengimplikasikan persatuan aspek pribadi kita dengan Sumber Ilahiah
darimana kita berasal. Jadi Yoga dapat diartikan sebagai transformasi
hakikat pribadi kita agar lebih responsif terhadap Diri-dalam/Inner
self, dan transformasi ini akan mengarahkan kita pada pencapaian
kebersatuan kesadaran-diri (at-one-ment) dengan esensi ilahi atau
spiritual: Prinsip Yang Maha Tunggal dalam semesta. Yoga mengacu pada
penyatuan diri yang lebih rendah dengan Diri yang lebih tinggi dan
juga pada cara-cara untuk mencapai penyatuan tersebut. Jadi Yoga
merupakan studi mendalam sekaligus merupakan disiplin pragmatis.

Unsur apa saja yang dilibatkan dalam Yoga?

Ada berbagai sistem yang berbeda dalam mempelajari yoga, tapi
kesemua metodenya melibatkan disiplin-diri dan penjelajahan-diri.
Semua sistem ini mengenali keabsahan pelatihan dasar tertentu :
pengendalian tubuh melalui postur dan pernafasan yang tepat;
pengendalian emosi dan pikiran; meditasi dan kontemplasi. Dalam tiap
pelatihan yoga unsur-unsur esensial tadilah yang dilibatkan.

Kebanyakan praktisi yoga menganggap Yoga Sutra dari Patanjali
sebagai buku pegangan yang paling penting. “Delapan anggota” atau
delapan aspek yoga, yang digarisbawahi oleh Patanjali dipertimbangkan
sebagai panduan seluruh bentuk pelatihan yoga. “Anggota” yang pertama
dikenal sebagai “yama” atau pelatihan pengekangan-diri dan yama yang
pertama disebut “ahimsa” atau tidak menyakiti makhluk lain. Dikatakan
bahwa ahimsa merupakan jantungnya disiplin yoga.

Buku pegangan yoga yang lain adalah naskah agung Hindu,
Bhagavad Gita. Mempelajari karya ini merupakan harga tak ternilai
bagi pelajar pemula.

Di bawah ini kami berikan penjabaran beberapa bentuk yoga
yang terkenal, namun perlu diingat bahwa tiap-tiap sistem yang
disebutkan di sini melibatkan banyak hal dalam hidup yang disiplin
dan pelatihan yang teratur, lebih dari yang bisa diberikan dalam
ulasan singkat ini.

Hatha Yoga

Kebanyakan yoga yang populer di dunia Barat adalah dua bentuk
yoga, salah satunya dikenal dengan Hatha Yoga. Sistem ini memberi
perhatian pada postur tubuh dan pengendalian pernafasan. Seringkali
orang melupakan bahwa sistem ini juga melibatkan pelatihan meditasi.
Jadi walaupun Hatha Yoga menitikberatkan pada pelatihan tubuh fisik,
sesungguhnya pelatihan tadi adalah untuk memungkinkan tubuh merespons
dorongan Kehadiran Ilahi dalam diri. Ketika tubuh didisiplinkan,
tubuh tidak lagi gelisah, kegelisahan ini merupakan gangguan saat
meditasi. Banyak praktisi menekankan nilai therapeutik (penyembuhan)
dari Hatha Yoga, karena kalau dilatih dengan baik akan meningkatkan
kesejahteraan fisik. Keadaan tubuh yang baik menunjang pertumbuhan
spiritual.

Mantra Yoga

Sistem Mantra Yoga sangat populer belakangan ini, dengan
merapalkan (chanting) kalimat suci atau kata-kata pemujaan dan
konsentrasi terpusat. Sistem ini melibatkan pengetahuan kekuatan
okultik dari suara. Tujuan dari Mantra Yoga adalah menyelaraskan
sifat pribadi dengan nada gelombang kesadaran yang jauh lebih tinggi
dan lebih halus sifatnya dari kesadaran sehari-hari (kesadaran waktu
kita bangun). Tujuan puncaknya adalah agar individu dapat “mendengar”
Suara Ilahi dalam-diri kita, bukan melalui telinga atau mekanisme
fisik melainkan melalui indera super kita.

Bhakti Yoga

Bhakti Yoga adalah jalan pengabdian. Sistem ini menekankan
cinta kasih, penyerahan-diri pada Spirit Ilahi atau Yang Tertinggi.
Seringkali kita menemui personifikasi Yang Tertinggi dalam bentuk-
bentuk tertentu pada individu yang mengambil jalan ini. Hal ini bisa
berupa inkarnasi ilahi/avatar seperti halnya Kristus, Krishna, Baba,
Babaji, ataupun gambaran mental dari Ilahi secara personal. Sistem
ini sering disebut sebagai yoga Nasrani, tapi sistem ini juga kita
jumpai dalam berbagai agama dimana ditekankan penyerahan diri pribadi
dan pengabdian sebagai tujuan ideal. Bhakti yoga adalah jalan yang
telah menolong banyak orang dalam pendakian ke puncak gunung
penyatuan spiritual. Seperti contoh yang diberikan oleh para santa-
santo/para nabi/para maha rishi/para wali dimana untuk mendaki lebih
tinggi ke arah Ilahi, maka kehidupan pribadi harus diserahkan pada
Kehidupan Ilahi secara mutlak. Oleh karenanya jalan ini adalah jalan
yang tepat bagi orang-orang yang bersifat pengabdi/bhakti, yang
dengan gembira melenyapkan diri mereka pada Yang Maha Tinggi.

Karma Yoga

Sesuai dengan namanya, yoga ini melibatkan karma (=tindakan).
Tujuan dari Karma Yoga adalah mencapai persatuan dengan Yang Maha
Tinggi melalui tindakan yang benar, yaitu tindakan yang dilakukan apa
adanya tanpa mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah
jalan bagi mereka yang digerakkan oleh rasa simpati, dan welas-asih
terhadap orang-orang yang menderita. Jalan ini adalah bagi mereka
yang dengan semangat berusaha meringankan beban penderitaan dan
kesedihan orang lain. Jalan ini menekankan kemurnian motif tanpa
dinodai oleh kepentingan pribadi. Melalui tindakan altruistik,
pengikut Karma Yoga akan sampai pada pemahaman kehidupan yang lebih
mendalam dan menjadi lebih dekat dengan Kehidupan Ilahi yang dijumpai
pada semua makhluk.

Jnana Yoga

Kalau Bhakti Yoga menggunakan jalan pengabdian dan Karma Yoga
menggunakan jalan tindakan, maka ada juga jalan lewat ilmu
pengetahuan Jalan ini dikenal dengan sebutan Jnana Yoga (sering
dieja “Gnana”); tujuannya adalah untuk mewujudkan kebenaran hidup.
Kata “jnana” terdengar familier, mirip dengan kata “gnosis”. Arti
kedua kata tersebut sama yaitu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud
di sini bukannya pengetahuan external tentang benda-benda melainkan
pengetahuan alam realitas. Guru agung Jnana Yoga, Shankaracharya, si
bijak dari India, menuliskan karyanya yang berjudul “Viveka
Chudamani”. Karyanya ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.
Secara harafiah berarti “permata puncak dari diskriminasi” namun
viveka dapat juga berarti “insight” atau bahkan “kebijaksanaan”.
Svami Shankaracharya membedakan antara mereka yang ingin memiliki dan
mereka yang ingin mengetahui. Di puncaknya hanya ada satu hal untuk
diketahui yaitu sang Diri Tunggal yang identik dengan Tuhan, Alloh,
Causa Prima atau Brahman, sebagai satu-satunya Sumber segala bentuk
keberadaan, seperti yang dikenal dalam filsafat Vedanta, yang menjadi
dasar dari Jnana Yoga.

Raja Yoga

Terkadang disebut sebagai bentuk yoga yang paling tinggi,
Raja Yoga – The Science of The Kings/Ilmu para raja – menggabungkan
aspek-aspek utama dari sistem yoga lainnya. Jalan ini menggunakan
disiplin dan pelatihan untuk memurnikan emosi, meluaskan intelek dan
mengendalikan tiap komponen hakikat kita dibawah kehendak (will).
Tujuan yoga ini adalah mengurangi dan akhirnya menghilangkan
identifikasi dengan personalitas sehingga timbul kesadaran bahwa Diri
Kekal kita itu identik dengan Hidup Ilahi Yang Tunggal.

Azas Raja Yoga dapat kita jumpai dalam aphorisme/perumpamaan
(“sutra”) dari Patanjali, yang karyanya telah diterjemahkan dalam
bahasa Inggris lengkap dengan komentar dan ulasan.Dalam perumpamaan
Patanjali terdapat langkah-langkah untuk mempersiapkan diri pada yoga
sejati berikut dengan latihan-latihannya. Untuk mempersiapkan diri,
kita harus bertindak benar dalam pikiran, perkataan dan perbuatan;
menjalankan kehidupan moral, dan mengekspresikan prinsip-prinsip etis
fundamental yang dijumpai di semua agama besar. Untuk melatihnya kita
harus melakukan introspeksi-diri dengan teratur secara berkala;
caranya adalah dengan menutup kesadaran dari panca indera kita
sehingga kesadaraan kita bisa bebas dari gangguan dunia untuk
sementara waktu. Ini sesuai dengan tujuan Raja yoga agar kita
mempersiapkan transisi dari kesadaran eksternal menuju pada kesadaran
internal.

Yoga & Meditasi

Meditasi merupakan bagian penting di setiap bentuk yoga.
Patanjali menekankan pentingnya pengendalian pikiran dan penenangan
untuk mencapai transendensi pikiran, lewat Raja yoga, Patanjali
meramunya dalam 3 langkah: konsentrasi, meditasi dan kontemplasi.
Pada prakteknya 3 langkah ini saling tumpang tindih tapi dalam yoga
sutra sengaja dituliskan terpisah untuk memudahkan studi.

Yoga dimulai dengan konsentrasi. Mengapa? Karena pikiran kita
selalu bergerak, liar dan tidak mau tinggal diam. Pikiran kita
dipenuhi dengan berbagai kenangan, memory dan berbagai keinginan
untuk menjadi atau untuk memiliki; pikiran sangat mudah terganggu
oleh hal-hal sepele. Oleh karena itu kita mulai dengan berkonsentrasi
pada hal-hal yang sederhana seperti misalnya sebuah benda atau sebuah
gagasan, dan membiarkan konsentrasi kita pada benda tersebut semakin
intens terserap olehnya, dan kita menolak memberikan perhatian bagi
hal-hal lainnya. Kalau pikiran mulai berkeliaran, dengan lembut
kembalikan konsentrasi pada benda tersebut.

Setelah mampu menguasai konsentrasi, langkah selanjutnya
adalah meditasi. Meditasi dijabarkan sebagai aliran pikiran yang
teratur dan terus-menerus terhadap sebuah obyek, misalnya sebuah
bunga, salib, cakra, nafas, atau kualitas yang tidak dapat terlihat
(misalnya, nama baik seorang Guru Agung/kata-kata Ilahiah lainnya),
gagasan abstrak, atau objek lainnya yang kita pilih sendiri. Proses
ini lebih mendalam dari sekedar konsentrasi dan mengarah menuju
keadaan dimana kita masuk menyadari bahkan menjadi apa yang kita
pikirkan dan konsentrasikan tadi. Ini melibatkan upaya menembus imaji
dan bentuk untuk dapat mengidentifikasikan diri dengan kehidupan
dalam obyek yang dipilih tadi.

Selanjutnya diikuti dengan proses kontemplasi. Dalam tahap
ini kita tidak lagi tertarik pada sebiah obyek, sebuah gagasan atau
seseorang, tetapi kita membawa pikiran kita pada keadaan ketenangan
absolut. Harus diperhatikan bahwa keadaan ini bukanlah keadaan pasif
melainkan keadaan dengan kesadaran positif; sebuah ketenangan yang
memberikan perasaan utuh dan kedamaian yang dinamis. Keadaan ini
tidak melampaui kesadaran, namun mentransformasi individu, dan
memberikan ketenangan sejati serta kepastian-dalam yang secara
praktis akan banyak membantu kehidupan kita sehari-hari. Dalam tahap
kontemplasi ini, amat mungkin kita mencapai pencerahan dan insight
dari Diri Spiritual dan perasaan menyebar akan kesatuan kehidupan
akan terwujudkan.

Tujuan Yoga

Semua bentuk disiplin/sistem Yoga merupakan jalan yang
mengarahkan indivdu mencapai persatuan dengan Atman/Spirit Tertinggi.
Persatuan ini disebut “Samadhi” dalam naskah-naskah yoga, “Kesadaran
Krishna” dalam Krishna Consciousness Movement, “Satori” dalam Zen
Buddhisme, “Kesadaran Kristus” dalam mistisisme
Nasrani, “Manunggaling Kawula Gusti” dalam Kejawen, dll. Apapun juga
istilah yang digunakan hal ini berarti pembebasan spirit individual
dari kesadaran sehari-hari dan Memasuki getaran-kebahagiaan Sang
Sumber yang dilambangkan secara indah lewat kalimat, “Sang butir
embun telah pulang pada lautan cahaya yang bersinar”.

BAHAN BACAAN LANJUTAN YANG DISARANKAN

o An Introduction to Yoga by Annie Bessant
o Seven Schools of Yoga by Ernest Wood
o Application of Yoga to Daily Life by Ianthe Hoskins
o Raja Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Hatha Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Integral Yoga by Haridas Chaudhuri
o The Science of Yoga by I.K. Taimni
o A Student’s Companion to Patanjali by Roger Worthington
o Yoga: The Art of Integration by Rohit Mehta
o The Universal Yoga Tradition by Radha Burnier
o Initiation into Yoga by Sri Krishna Prem
o A History of Yoga by Vivian Worthington
o Yoga: The Technology of Ecstasy by George Feurstein
o Viveka Chudamani translated by Mohini M Chatterji
o The Pinnacle of Indian Thought by Ernest Wood

Sumber note: Booklet Teosofi
Categories: Spiritualism

Yoga: Hidup Seimbang dengan Yoga

August 15th, 2009 No comments

SUARA gesekan daun yang diterpa angin terdengar merdu. Sejumput reranting jatuh menerpa kisi-kisi jendela. Hening. Ruang latih berlantai kayu dengan cermin seputar dinding itu masih hening.

Baru pukul tiga sore, terdengar musik klasik lembut menyapa telinga. Berbagai gerakan gemulai pun mengikutinya. Tenang, alami, dan sangat meditatif. Begitulah suasana di salah satu rumah yoga di Bandung. Di tempat ini, perempuan dewasa dan usia mapan melepaskan berbagai ketegangan hidupnya dengan mengikuti yoga. Mereka seakan ingin me-recharge energi yang dimilikinya untuk memulai hidup yang lebih bersemangat dan seimbang.

Berdasarkan catatan di Rumah Yoga On The Green, peserta yoga di tempat ini umumnya perempuan mapan. Mereka menghabiskan waktunya sekira 90 menit. Kelas yoga di tempat ini terbagi ke dalam dua sesi, pagi pukul 08.30 WIB dan sore pukul 15.00 WIB. Sambil menunggu putra-putri mereka sekolah, ibu-ibu kalangan menengah atas ini larut dalam irama musik yoga dan merelakskan tubuhnya. Untuk sesi week end (Sabtu), peserta yoga, umumnya perempuan dewasa berstatus wanita karier. Dengan jadwal latihan sama, para perempuan sibuk ini menghabiskan akhir pekannya dengan yoga. “Yoga membuat badan lebih ringan dan relaks. Perasaan pun jadi lebih tenang,” ujar Dinny yang menjadwalkan yoga setiap akhir pekan.

Di Rumah Yoga Swarga lain lagi. Karena lokasinya berdekatan dengan kampus, peserta yoga di tempat ini sebagian besar mahasiswa. “Kalau dilihat dari beban stres mereka, umumnya adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhir (TA). Mungkin mereka ingin lebih menenangkan pikiran dan merelakskan tubuhnya dari impitan TA,” ujar Yuli, instruktur Swarga.

Yoga memang dapat dilakukan siapa pun, gerakannya pun tidak ribet. Hanya, karena gerakan yoga cenderung lebih gemulai dibandingkan fitness dan aerobik, sebagian besar peserta yoga adalah perempuan. Kalaupun begitu, bagi Arbie Yakub, yang mengaku sudah menjalani yoga selama 3 bulan, yoga memberinya efek rasa segar. “Saya bisa tidur enak dan tidak cepat emosional dalam menghadapi masalah,” ujar pria wiraswasta ini.

Arbie mengikuti yoga karena tertarik iklan pelatihan yoga di surat kabar. Ia pun akhirnya mengunjungi pusat yoga di Bandung dan berlatih sebanyak dua kali dalam seminggu. Tak hanya di tempat latihan, di rumah pun ia tetap berlatih yoga pada pagi dan sore hari.

Diakuinya, setelah mempraktikkan yoga, Arbie merasa latihan-latihan yang dilakukannya membuat tubuh menjadi sehat dan mengaktifkan kelenjar tubuh, seperti kelenjar tiroid sehingga menyelaraskan hormon dalam tubuh. Selain itu, pikiran juga lebih relaks. “Tapi yang dibutuhkan, niat yang kuat. Tidak hanya mencari pengetahuan lewat yoga, tetapi juga mempraktikkannya,” ujar Arbie. Sama halnya dengan fitness, yoga dapat diikuti dengan cara per sekali datang atau dengan cara memilih paket-paket yang disediakan, seperti paket hatta yoga, iyengar yogvinyasa yoga, dan kids yoga. Tetapi pada umumnya, meskipun per sekali datang, peserta sudah dapat merasakan efek langsung dari yoga.

Kebutuhan hidup
Yoga memang sudah menjadi kebutuhan hidup. Bahkan sebuah website menyebutkan, di Amerika, seseorang yang membawa matras yoga, gengsinya dipandang lebih tinggi. Karena ia (orang tersebut- red.) dianggap sudah dapat menyeimbangkan hidupnya sesuai metode yoga.

Menurut Pujiastuti Sindhu CYT, YKA, Yogi Siromani (certified yoga teacher, yoga kids associate, dan yoga siromani), yoga mulai keluar dari India pada 1957 dibawa oleh seorang yoga acharya bernama Swami Wishnu Devananda. Ia membawa yoga ke dunia Barat, termasuk ke negara-negara di Asia Tenggara, di antaranya Indonesia. Pada tahun-tahun tersebut (zaman flower generation – new age) di Barat, banyak orang merasa “kosong” dan hampa secara spiritual. “Kehadiran yoga benar-benar bagaikan oasis di tengah gersangnya padang pasir pada saat itu hingga saat ini,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Puji.

Sedangkan Yoga di Indonesia sudah dikenal sejak 1970. Menurut Yuli, tren yoga terjadi sepanjang 2-3 tahun terakhir. Pada saat kehidupan manusia sudah sangat diimpit banyak persoalan, stres tak terhindarkan, dan berbagai macam ketegangan hidup menghadang. Namun, tidak ada penyaluran untuk melepaskan ketegangan tersebut. “Maka, mereka mencari ketenangan pada yoga,” kata Yuli.

Hal senada disampaikan Puji, menurutnya, karena laju aktivitas kehidupan sekarang sudah menjadi lebih cepat, manusia butuh sesuatu yang dapat menenangkan sekaligus membuatnya menjadi kuat. Merelakskan sekaligus mengisi kembali cadangan energi.

Sebagai gaya hidup, menurut Puji, yoga terdiri atas beberapa aktivitas yang saling terkait satu sama lain. Yoga berasal dari bahasa sanskerta, yaitu yug atau yuj yang berarti union (penyatuan). Dengan yoga, seseorang berusaha untuk menguasai tubuh dan napas untuk menguasai lapisan yang lebih halus lagi dari tubuh, yakni pikiran, emosi, mental, dan jiwa.

Prinsip yoga terdiri dari 5 poin. Pertama, beraktivitas fisik secara teratur (proper exercise). Kedua, bernapas perlahan tetapi dalam (proper breathing). Melakukan pranayama (teknik mengolah napas dalam yoga). Ketiga, beristirahat cukup (proper rest). Keempat, menjaga pola makan (proper diet). Sangat baik untuk menjaga pola makan yang seimbang, baik secara gizi (kualitas) maupun porsi (kuantitas). Makan hanya yang memberikan kebaikan pada tubuh (sayuran, buah-buahan, dll) serta tidak mengonsumsi produk yang merusak tubuh (alkohol, dll). Bila memungkinkan, menjadi vegetarian adalah yang terbaik. Kelima, berpikir positif melalui meditasi (positive thinking through meditation).

Meski demikian, menurut Jivanmukta pelatih Yoga Asanas dari Yayasan Ananda Marga Indonesia Cabang Bandung, yoga bukan suatu agama atau kepercayaan. Setiap orang dari berbagai keyakinan dapat mempelajari teknik-teknik yoga yang ada.

Banyak manfaat
Manfaat yoga sangat banyak. Namun, bila dilihat secara garis besar, baik Yuli, Puji, Jivan, maupun instruktur di Rumah Yoga On The Green menyebutkan, ada dua besar manfaat yoga, untuk kesehatan fisik maupun nonfisik. Yoga membantu menjaga keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang cukup untuk mempertahankan kualitas emosi dan mental, serta menghindari penyakit.

Yoga juga merupakan metode sangat efektif untuk meningkatkan konsentrasi dan membawa kesadaran diri, menajamkan pikiran, dan menjauhkan seseorang dari emosi-emosi dan pikiran-pikiran negatif. Bermeditasi secara teratur dapat meningkatkan rasa percaya diri dan rasa tenteram yang menyeluruh.

Yoga berperan penting dalam meningkatkan asupan oksigen ke otak dan ke dalam sistem tubuh, meningkatkan kelenturan dan kekuatan tubuh, menstimulasi kelenjarhormonal (sistem endokrin) dalam tubuh, membuatnya stabil,  melancarkan sirkulasi darah, menstimulasi syaraf pada tulang punggung, menstabilkan fungsi kerja tubuh, meningkatkan rasa nyaman, tenteram dan bebas stres, memperhalus rasa, memperbaiki perilaku (sifat dan sikap) yang kurang, meningkatkan rasa percaya diri, pola pikir yang lebih positif dan penghargaan terhadap diri (self esteem), memperlambat penuaan, dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh (holistik).

Bila dilihat dari metode, menurut Yuli, sangat bergantung pada kreativitas pelatih atau instruktur. Tetapi ada tiga gerakan utama dalam yoga, yakni pemanasan, latihan inti, dan relaksasi. Selain tiga gerakan tersebut, terdapat pula sesi-sesi, seperti sesi binatang (sikap sapi, monyet, kucing, gajah, dll), sesi prasanti, sesi yoga asli, dll. Dilihat dari tren, kecenderungan orang ikut yoga semakin tinggi. Meski demikian, para pengelola (sesuai dengan yoga yang mereka ajarkan), sangat percaya bahwa segala rezeki dan kebajikan sudah diatur oleh Tuhan.

“Kita tidak pernah berkeinginan untuk saling menarik mereka. Kalau mereka sudah meminatinya, ke mana pun tempat yoga yang dituju akan baik bagi dia,” ujar Yuli.

Bagaimana dengan Anda? Apakah stres dan impitan hidup menerpa? Yoga dapat menjadi pilihan untuk the beginning to change your life!” Begitu kata mereka. (Eriyanti/Ari Dwi/”PR”)***

source: Pikiran Rakyat

Categories: Mind, Body and Soul