Cara Membuat Wanita anda Orgasme berkali-kali! Free tutorial and Video! Semua Gratis!! Klik disini!
Powered by MaxBlogPress 

 Powered by Max Banner Ads 

Walisanga Ternyata dari China

December 27th, 2009 Leave a comment Go to comments

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari jasa Walisanga (wali sembilan). Banyak versi mengenai kisah para wali ini, salah satunya versi yang menyatakan mereka berasal dari China. Tahun 1968, Profesor Slamet Mulyana menulis versi yang tidak populer itu dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”, namun dilarang beredar karena dinilai dapat memicu perdebatan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antaragama).

Menurut Mulyana, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu). Ia lah pendiri kerajaan Demak di Jawa Tengah.

Walisanga dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari sembilan orang wali; Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/ Tan Eng Hoat, dan Sunan Giri yang merupakan cucu dari Bong Swie Ho.

Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.

Belanda, yang sempat ‘berperang’ dengan para wali itu sempat tidak mempercayai bahwa sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Untuk memastikannya, pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menyelidikinya. Poortman lalu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa. Ia menemukan naskah kuno berusia ratusan tahun sebanyak tiga pedati.

Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial, Tuanku Rao. Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini. Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dalam Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berarti ‘orang kuat’. Cucu Raden Patah, Sunan Prawata atau Chen Muming/ Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak. Ia berambisi meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II), sebanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya.

Kata Walisanga yg selama ini diartikan sembilan (sanga) wali, ternyata masih memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Ada yang berpendapat bahwa kata ’sanga’ berasal dari kata ‘tsana’ dari bahasa Arab, yang berarti mulia. Pendapat lainnya menyatakan kata ’sanga’ berasal dari kata ’sana’ dalam bahasa Jawa yang berarti tempat.

Kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisanga, dipercaya berasal dari dialek Hokkian ‘Su’ dan ‘Nan’. ‘Su’ merupakan kependekan dari kata ‘Suhu atau Saihu’ yg berarti guru. Disebut guru, karena para wali itu adalah guru-guru Pesantren Hanafiyah, dari mazhab Hanafi. Sementara ‘Nan’ berarti berarti selatan, sebab para penganut aliran Hanafiah ini berasal dari Tiongkok Selatan.

Perlu diketahui juga bahwa sebutan ‘Kyai’ yang kita kenal sekarang sebagai sebutan untuk guru agama Islam, dulu digunakan untuk memanggil seorang lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan ‘Encek’.

Dan, sadar atau tidak, baju muslim yang kerap digunakan oleh laki-laki muslim Indonesia sangat mirip dengan pakaian ala China. Baju Koko dan penutup kepala putih dianggap berasal dari China, karena di negeri asal Islam, Timur Tengah, pakaian ini tidak dikenal.

Sumber:
- D. A. Rinkes “De heiligen van Java”
- Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang
- Utrecht: Den Boer – G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”
- “Islamic states in Java 1500 -1700?.
- Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia”
- Prof. Slamet Mulyana “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara

Ditulis Oleh Wal Suparmo (Suara Merdeka)
wal.suparmo@yahoo.com

Categories: Spiritualism
Share This Post To :
Facebook | Twitter | Digg | Technorati | Delicious | Google
Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Spiritualitas “New Age”
  2. Sebuah Refleksi Tentang Reinkarnasi
  3. G-spot Tuhan
  4. Indigo Children: Berbeda tapi Bukan Aneh
  5. Future Lives Progression
  6. Apa itu Zen?
  7. Segala Sesuatu Tentang Malaikat
  8. Peradaban Tuhan, Peradaban Manusia, Tak Usai-usainya
  9. Bertuhan dengan Marah
  10. Yoga: Suatu Studi dan Praktek
  1. January 1st, 2010 at 23:40 | #1

    Jika saja demikian, maka bangsa kita seharusnya memiliki semangat dan kualitas seperti orang Cina. Sayangnya, kita lupa akan semangat itu.

  2. Book frenzy
    January 2nd, 2010 at 06:39 | #2

    Artikel yg menggugah rasa penasaran kita!

  3. zujoe
    January 4th, 2010 at 13:10 | #3

    great info bro… baru tau dan makin penasaran pengen baca bukunya hehe…:sip:

  4. Daulat rakyat
    January 6th, 2010 at 04:20 | #4

    Apa yg ditulis di artikel ini memang benar. Sejarah acap kali ditulis secara bias dan sepihak oleh the rulling class. Mengenai baju ‘koko’ itu adalah bukti yg tidak terbantahkan tentang kebenaran bhw islam di indonesia disebarkan oleh etnis tionghoa. Koko merujuk pada ‘kakak’ lelaki, dan baju ini mirip dgn baju tradisional lelaki chinese.

  1. No trackbacks yet.