Yoga: Hidup Seimbang dengan Yoga
SUARA gesekan daun yang diterpa angin terdengar merdu. Sejumput reranting jatuh menerpa kisi-kisi jendela. Hening. Ruang latih berlantai kayu dengan cermin seputar dinding itu masih hening.
Baru pukul tiga sore, terdengar musik klasik lembut menyapa telinga. Berbagai gerakan gemulai pun mengikutinya. Tenang, alami, dan sangat meditatif. Begitulah suasana di salah satu rumah yoga di Bandung. Di tempat ini, perempuan dewasa dan usia mapan melepaskan berbagai ketegangan hidupnya dengan mengikuti yoga. Mereka seakan ingin me-recharge energi yang dimilikinya untuk memulai hidup yang lebih bersemangat dan seimbang.
Berdasarkan catatan di Rumah Yoga On The Green, peserta yoga di tempat ini umumnya perempuan mapan. Mereka menghabiskan waktunya sekira 90 menit. Kelas yoga di tempat ini terbagi ke dalam dua sesi, pagi pukul 08.30 WIB dan sore pukul 15.00 WIB. Sambil menunggu putra-putri mereka sekolah, ibu-ibu kalangan menengah atas ini larut dalam irama musik yoga dan merelakskan tubuhnya. Untuk sesi week end (Sabtu), peserta yoga, umumnya perempuan dewasa berstatus wanita karier. Dengan jadwal latihan sama, para perempuan sibuk ini menghabiskan akhir pekannya dengan yoga. “Yoga membuat badan lebih ringan dan relaks. Perasaan pun jadi lebih tenang,” ujar Dinny yang menjadwalkan yoga setiap akhir pekan.
Di Rumah Yoga Swarga lain lagi. Karena lokasinya berdekatan dengan kampus, peserta yoga di tempat ini sebagian besar mahasiswa. “Kalau dilihat dari beban stres mereka, umumnya adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhir (TA). Mungkin mereka ingin lebih menenangkan pikiran dan merelakskan tubuhnya dari impitan TA,” ujar Yuli, instruktur Swarga.
Yoga memang dapat dilakukan siapa pun, gerakannya pun tidak ribet. Hanya, karena gerakan yoga cenderung lebih gemulai dibandingkan fitness dan aerobik, sebagian besar peserta yoga adalah perempuan. Kalaupun begitu, bagi Arbie Yakub, yang mengaku sudah menjalani yoga selama 3 bulan, yoga memberinya efek rasa segar. “Saya bisa tidur enak dan tidak cepat emosional dalam menghadapi masalah,” ujar pria wiraswasta ini.
Arbie mengikuti yoga karena tertarik iklan pelatihan yoga di surat kabar. Ia pun akhirnya mengunjungi pusat yoga di Bandung dan berlatih sebanyak dua kali dalam seminggu. Tak hanya di tempat latihan, di rumah pun ia tetap berlatih yoga pada pagi dan sore hari.
Diakuinya, setelah mempraktikkan yoga, Arbie merasa latihan-latihan yang dilakukannya membuat tubuh menjadi sehat dan mengaktifkan kelenjar tubuh, seperti kelenjar tiroid sehingga menyelaraskan hormon dalam tubuh. Selain itu, pikiran juga lebih relaks. “Tapi yang dibutuhkan, niat yang kuat. Tidak hanya mencari pengetahuan lewat yoga, tetapi juga mempraktikkannya,” ujar Arbie. Sama halnya dengan fitness, yoga dapat diikuti dengan cara per sekali datang atau dengan cara memilih paket-paket yang disediakan, seperti paket hatta yoga, iyengar yogvinyasa yoga, dan kids yoga. Tetapi pada umumnya, meskipun per sekali datang, peserta sudah dapat merasakan efek langsung dari yoga.
Kebutuhan hidup
Yoga memang sudah menjadi kebutuhan hidup. Bahkan sebuah website menyebutkan, di Amerika, seseorang yang membawa matras yoga, gengsinya dipandang lebih tinggi. Karena ia (orang tersebut- red.) dianggap sudah dapat menyeimbangkan hidupnya sesuai metode yoga.
Menurut Pujiastuti Sindhu CYT, YKA, Yogi Siromani (certified yoga teacher, yoga kids associate, dan yoga siromani), yoga mulai keluar dari India pada 1957 dibawa oleh seorang yoga acharya bernama Swami Wishnu Devananda. Ia membawa yoga ke dunia Barat, termasuk ke negara-negara di Asia Tenggara, di antaranya Indonesia. Pada tahun-tahun tersebut (zaman flower generation – new age) di Barat, banyak orang merasa “kosong” dan hampa secara spiritual. “Kehadiran yoga benar-benar bagaikan oasis di tengah gersangnya padang pasir pada saat itu hingga saat ini,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Puji.
Sedangkan Yoga di Indonesia sudah dikenal sejak 1970. Menurut Yuli, tren yoga terjadi sepanjang 2-3 tahun terakhir. Pada saat kehidupan manusia sudah sangat diimpit banyak persoalan, stres tak terhindarkan, dan berbagai macam ketegangan hidup menghadang. Namun, tidak ada penyaluran untuk melepaskan ketegangan tersebut. “Maka, mereka mencari ketenangan pada yoga,” kata Yuli.
Hal senada disampaikan Puji, menurutnya, karena laju aktivitas kehidupan sekarang sudah menjadi lebih cepat, manusia butuh sesuatu yang dapat menenangkan sekaligus membuatnya menjadi kuat. Merelakskan sekaligus mengisi kembali cadangan energi.
Sebagai gaya hidup, menurut Puji, yoga terdiri atas beberapa aktivitas yang saling terkait satu sama lain. Yoga berasal dari bahasa sanskerta, yaitu yug atau yuj yang berarti union (penyatuan). Dengan yoga, seseorang berusaha untuk menguasai tubuh dan napas untuk menguasai lapisan yang lebih halus lagi dari tubuh, yakni pikiran, emosi, mental, dan jiwa.
Prinsip yoga terdiri dari 5 poin. Pertama, beraktivitas fisik secara teratur (proper exercise). Kedua, bernapas perlahan tetapi dalam (proper breathing). Melakukan pranayama (teknik mengolah napas dalam yoga). Ketiga, beristirahat cukup (proper rest). Keempat, menjaga pola makan (proper diet). Sangat baik untuk menjaga pola makan yang seimbang, baik secara gizi (kualitas) maupun porsi (kuantitas). Makan hanya yang memberikan kebaikan pada tubuh (sayuran, buah-buahan, dll) serta tidak mengonsumsi produk yang merusak tubuh (alkohol, dll). Bila memungkinkan, menjadi vegetarian adalah yang terbaik. Kelima, berpikir positif melalui meditasi (positive thinking through meditation).
Meski demikian, menurut Jivanmukta pelatih Yoga Asanas dari Yayasan Ananda Marga Indonesia Cabang Bandung, yoga bukan suatu agama atau kepercayaan. Setiap orang dari berbagai keyakinan dapat mempelajari teknik-teknik yoga yang ada.
Banyak manfaat
Manfaat yoga sangat banyak. Namun, bila dilihat secara garis besar, baik Yuli, Puji, Jivan, maupun instruktur di Rumah Yoga On The Green menyebutkan, ada dua besar manfaat yoga, untuk kesehatan fisik maupun nonfisik. Yoga membantu menjaga keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang cukup untuk mempertahankan kualitas emosi dan mental, serta menghindari penyakit.
Yoga juga merupakan metode sangat efektif untuk meningkatkan konsentrasi dan membawa kesadaran diri, menajamkan pikiran, dan menjauhkan seseorang dari emosi-emosi dan pikiran-pikiran negatif. Bermeditasi secara teratur dapat meningkatkan rasa percaya diri dan rasa tenteram yang menyeluruh.
Yoga berperan penting dalam meningkatkan asupan oksigen ke otak dan ke dalam sistem tubuh, meningkatkan kelenturan dan kekuatan tubuh, menstimulasi kelenjarhormonal (sistem endokrin) dalam tubuh, membuatnya stabil, melancarkan sirkulasi darah, menstimulasi syaraf pada tulang punggung, menstabilkan fungsi kerja tubuh, meningkatkan rasa nyaman, tenteram dan bebas stres, memperhalus rasa, memperbaiki perilaku (sifat dan sikap) yang kurang, meningkatkan rasa percaya diri, pola pikir yang lebih positif dan penghargaan terhadap diri (self esteem), memperlambat penuaan, dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh (holistik).
Bila dilihat dari metode, menurut Yuli, sangat bergantung pada kreativitas pelatih atau instruktur. Tetapi ada tiga gerakan utama dalam yoga, yakni pemanasan, latihan inti, dan relaksasi. Selain tiga gerakan tersebut, terdapat pula sesi-sesi, seperti sesi binatang (sikap sapi, monyet, kucing, gajah, dll), sesi prasanti, sesi yoga asli, dll. Dilihat dari tren, kecenderungan orang ikut yoga semakin tinggi. Meski demikian, para pengelola (sesuai dengan yoga yang mereka ajarkan), sangat percaya bahwa segala rezeki dan kebajikan sudah diatur oleh Tuhan.
“Kita tidak pernah berkeinginan untuk saling menarik mereka. Kalau mereka sudah meminatinya, ke mana pun tempat yoga yang dituju akan baik bagi dia,” ujar Yuli.
Bagaimana dengan Anda? Apakah stres dan impitan hidup menerpa? Yoga dapat menjadi pilihan untuk the beginning to change your life!” Begitu kata mereka. (Eriyanti/Ari Dwi/”PR”)***
source: Pikiran Rakyat








